DI HINA KARNA BUDAK, JADI TERKUAT DI DUNIA KULTIVASI
Bab 1
Cincin yang Menolak
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam itu, langit di atas Kota Qingyun berwarna merah darah.
Lin Feng berlari di gang sempit yang basah oleh hujan, napasnya memburu, kakinya yang telanjang menghantam genangan air kotor. Di belakangnya, suara langkah kaki puluhan orang bergema seperti genderang perang. Dia tidak berani menoleh. Setiap detik yang dia gunakan untuk menoleh adalah satu detik yang bisa membuatnya mati.
"Tangkap dia! Jangan biarkan anak haram itu lolos!"
Suara itu-suara yang tidak asing lagi bagi Lin Feng-membuat darahnya mengalir dingin. Suara Ji Wuye, komandan Pengawal Sekte Surgawi Abadi. Pria yang lima hari lalu menyerbu kediaman Keluarga Lin dengan pedang yang masih meneteskan darah ayahnya.
Lin Feng menggigit bibir hingga darah keluar. Lari. Jangan berpikir. Lari.
Gang itu berakhir di tepi tebing yang menjulang di atas Jurang Buangan-neraka tanpa dasar yang dipercaya sebagai tempat para dewa menjatuhkan hukuman kepada mereka yang tidak layak hidup. Dari bawah, kabut hitam bergelombang naik seperti napas binatang buas yang lapar.
"Tidak ada jalan keluar, bocah."
Lin Feng berbalik. Ji Wuye berdiri sepuluh langkah darinya, pedangnya disandarkan di bahu. Di belakangnya, dua puluh pengawal berseragam hitam-putih menutup mulut gang. Mata Ji Wuye menyipit, memandang Lin Feng seperti sampah yang mengganggu pandangannya.
"Kau membuat kami sibuk," kata Ji Wuye dengan nada bosan. "Seharusnya aku mengejar seseorang yang lebih penting. Tapi Tuan Mo Yuan berkeras-seluruh garis keturunan Keluarga Lin harus dihapus. Tidak ada pengecualian."
"Kenapa?" Lin Feng merasakan suaranya serak, tapi dia tidak peduli. "Keluarga kami tidak pernah mengganggu Sekte Surgawi Abadi. Kami hanya pedagang. Kami-"
"Kalian adalah keturunan." Ji Wuye meludah. "Itu sudah cukup."
Pedang itu bergerak lebih cepat dari yang bisa ditangkap mata Lin Feng.
Kriiing!
Rasa sakit meledak di rusuk kirinya. Lin Feng tersungkur, darah mengalir deras dari luka yang membuka dagingnya. Sebelum dia bisa bangkit, tendangan kedua menghantam wajahnya, membuatnya terlempar ke belakang-dan kakinya menyentuh tepi jurang.
Batu-batu kecil jatuh ke dalam kegelapan. Tidak ada suara yang kembali.
"Sudah kubilang," Ji Wuye melangkah maju, mengangkat pedangnya untuk menebas terakhir. "Tidak ada jalan keluar."
Lin Feng merasakan tangannya secara refleks menggenggam sesuatu di dalam saku bajunya. Cincin itu. Cincin perunggu tua dengan ukiran naga yang saling melingkar, satu-satunya benda yang berhasil dia selamatkan dari reruntuhan kediaman keluarganya. Ayahnya pernah berkata benda itu adalah warisan turun-temurun, tapi tidak pernah menjelaskan lebih lanjut.
Jika aku akan mati, pikir Lin Feng, setidaknya aku mati memegang sesuatu milik keluargaku.
Dia mengangkat cincin itu ke depan dadanya, darah dari luka di tangannya merembes ke permukaan logam tua itu.
Dan dunia berhenti.
"Berhenti."
Suara itu tidak datang dari telinga. Suara itu muncul langsung di dalam tulang Lin Feng, bergetar seperti guntur yang terkubur di bawah tanah selama ribuan tahun. Dia merasakan cincin di tangannya menjadi hangat-lalu panas-lalu terbakar.
Ji Wuye tertegun. Pedangnya berhenti beberapa inci dari leher Lin Feng. Matanya membelalak.
"Cincin itu-" Dia mundur satu langkah. "Itu... itu tidak mungkin. Kau seharusnya tidak bisa-"
"Kau," suara itu kembali, dan kali ini Lin Feng tahu itu berasal dari cincin. Suara seorang pria tua, berat, penuh kekuatan yang bisa meremukkan gunung. "Kau mengecewakanku."
Lin Feng terkesiap. "Apa-"
"Kau terlalu lemah," kata suara itu, dan Lin Feng merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulangnya, seperti air es yang dijatuhkan ke dalam sumsumnya. "Tulangmu rangka rapuh. Dantianmu kering. Jiwamu belum terbentuk. Kau bukan pewaris yang layak."
Cahaya yang tadinya menyala di sekitar cincin mulai meredup.
"Aku menolak."
"Tunggu-" Lin Feng mencoba menggenggam cincin itu lebih erat, tapi tangannya terasa mati rasa. "Tolong. Aku-"
"Kau bukan siapa-siapa," suara itu dingin. "Kau adalah kesalahan perhitungan. Satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena aku menunggu seseorang yang lebih pantas. Dan kau... bukan dia."
Cahaya di cincin itu padam sepenuhnya.
Ji Wuye tertawa. Tawanya keras, penuh kemenangan, dan sedikit histeris. "Ha! Bahkan pusaka keluarga busukmu pun tahu kau tidak layak! Sungguh menyedihkan, Lin Feng. Bahkan benda mati pun mengkhianatimu."
Dia mengangkat pedangnya.
"Selamat tinggal."
Lin Feng merasakan udara mendorongnya ke belakang-bukan dari tebasan pedang, tapi dari tendangan Ji Wuye yang mengenai dadanya. Dia terlempar ke belakang, ke dalam kabut hitam yang menganga di bawahnya.
Dan saat dia jatuh, dia mendengar suara Ji Wuye dari atas:
"Katakan pada ayahmu di neraka-Mo Yuan mengirim salam. Dia bilang, 'jangan pernah kembali.'"
Jatuh.
Lin Feng tidak tahu berapa lama dia jatuh. Detik terasa seperti tahun, dan tahun terasa seperti kekekalan. Angin meraung di telinganya, mencabik-cabik kulitnya, sementara bebatuan tajam di dinding jurang mencabik dagingnya menjadi pita. Dia merasakan tulang rusuknya patah-satu, dua, tiga-dan darah mengalir dari lusinan luka.
Tapi dia tidak mati.
Kenapa aku tidak mati?
Kesadaran itu datang dengan rasa sakit yang begitu hebat hingga dia hampir muntah. Dia menabrak sesuatu-suatu permukaan yang tidak keras, tapi tidak lunak juga. Seperti terjatuh ke atas ribuan jarum yang menahan tubuhnya sebelum akhirnya dia terhempas ke batu datar di dasar jurang.
Dia berbaring di sana, darah menggenang di bawah tubuhnya, dan menatap langit yang tidak bisa dia lihat. Kegelapan di sekelilingnya begitu pekat hingga dia tidak bisa membedakan apakah matanya terbuka atau tertutup.
Matilah, pikirnya. Kau sudah tidak punya apa-apa.
Tapi tubuhnya menolak. Jantungnya berdetak. Paru-parunya mencari udara kotor di dasar jurang. Dan darahnya-darah yang mengalir dari lusinan lukanya-mulai bersinar.
Lin Feng menatap lengan tangannya dengan mata yang hampir tidak bisa fokus. Darahnya. Itu... itu bercahaya. Cahaya keemasan samar, seperti kunang-kunang yang sekarat, berdenyut mengikuti detak jantungnya.
"Kau..."
Suara itu kembali. Suara dari cincin itu-tapi kali ini tidak dingin. Kali ini ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah Lin Feng dengar sebelumnya. Bingung. Takut.
"Kau..." Suara itu terhenti. Cincin di tangan Lin Feng-yang tadi padam-kembali menyala, tapi tidak dengan paksa. Cahaya itu bereaksi terhadap darah yang mengalir di tangannya, menyerapnya, dan berdenyut seperti jantung kedua.
"Tidak mungkin," bisik suara itu. "Darah ini... aura ini... ini adalah tulang akar sekte Sekte Surgawi Abadi. Tapi itu hilang sepuluh ribu tahun yang lalu. Bagaimana-"
Lin Feng mencoba berbicara, tapi yang keluar hanya batuk darah.
"Kau," suara itu sekarang penuh ketegangan, "kau bukan anak siapa-siapa. Kau adalah keturunan langsung dari... dari orang yang mencuri rahasia Surgawi Abadi. Dari orang yang membuat Mo Yuan-"
Suara itu terdiam. Untuk pertama kalinya, Lin Feng merasakan sesuatu yang tidak dia duga dari entitas kuno itu: rasa takut yang murni.
"Mo Yuan tidak membantai keluargamu karena ramalan," kata suara itu pelan. "Dia membantai mereka karena dia takut. Dia sudah takut selama sepuluh ribu tahun. Dan kau... kau adalah alasan dia tidak pernah bisa tidur tenang."
Cahaya di sekitar tubuh Lin Feng semakin terang. Luka-lukanya mulai menutup-tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk menghentikan pendarahan. Tulang-tulangnya yang patah mulai menyatu kembali dengan bunyi berderak yang menyakitkan.
"Aku menolakmu," kata suara itu, dan sekarang ada nada getir di dalamnya. "Aku menolakmu karena aku pikir kau tidak layak. Tapi aku salah. Aku salah selama sepuluh ribu tahun."
Lin Feng merasakan sesuatu yang hangat merayap di dalam dadanya. Bukan kehangatan fisik-tapi kehangatan yang lebih dalam, seperti api yang menyala di dalam jiwanya untuk pertama kalinya.
"Namaku Xiao Tianhen," kata suara itu. "Aku adalah roh yang terkurung di dalam cincin ini. Aku pernah menjadi salah satu dari Tujuh Leluhur Sekte Surgawi Abadi. Dan aku... aku menunggumu selama sepuluh ribu tahun, Lin Feng."
Lin Feng membuka matanya. Darahnya masih bercahaya, menerangi kegelapan jurang dengan cahaya keemasan yang tidak seharusnya ada di tempat seperti ini. Dia menatap cincin di tangannya-cincin yang tadi menolaknya, cincin yang sekarang berdenyut seperti jantung.
"Kau..." Suara Lin Feng serak, hampir tidak terdengar. "Kau bilang aku lemah."
"Kau memang lemah," jawab Xiao Tianhen. "Tapi kau bukan tidak layak. Kau adalah keturunan orang yang mencuri rahasia terbesar Surga. Dan karena itu... kau adalah kunci yang kubutuhkan untuk keluar dari kutukan ini."
Cahaya di sekitar Lin Feng berdenyut sekali lagi, dan di dalam kegelapan Jurang Buangan, sesuatu yang lain mulai bergerak. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang telah menunggu di dasar jurang selama ribuan tahun, merasakan darah yang tidak seharusnya ada di sini.
"Bangunlah, Lin Feng," kata Xiao Tianhen. "Karena sekarang... kau punya alasan untuk hidup."
Lin Feng menggenggam cincin itu. Kali ini, cincin itu tidak menolaknya.
Dan di atas mereka, di tepi jurang, Ji Wuye masih berdiri, menatap ke dalam kegelapan dengan ekspresi yang mulai berubah dari kemenangan menjadi keraguan.
Dia tidak tahu bahwa di bawah sana, sesuatu yang telah tidur selama sepuluh ribu tahun baru saja membuka matanya.
Catatan Penulis: Bab 1 selesai. Bab 2 akan berfokus pada adaptasi Lin Feng dengan Xiao Tianhen dan sistem kultivasi tersembunyi yang tersegel di dalam cincin-serta bagaimana Ji Wuye melaporkan "kematian" Lin Feng kepada Mo Yuan, yang mulai merasa tidak nyaman tanpa tahu mengapa.
Cahaya itu tidak datang seperti fajar.
Cahaya itu datang seperti luka yang pecah-mendadak, menyakitkan, dan mengungkapkan segalanya.
Lin Feng tergeletak di dasar jurang, tubuhnya hancur, tulang-tulangnya remuk di setidaknya tujuh tempat, dan darah mengalir dari puluhan luka. Seharusnya dia sudah mati. Seharusnya dia sudah menjadi mayat yang membusuk di antara batu-batu hitam ini, makanan bagi cacing dan kegelapan.
Tapi dia belum mati.
Dan itu, lebih dari apa pun, yang membuatnya takut.
Matanya terbuka. Atau setidaknya, dia merasa matanya terbuka-tapi yang dia lihat bukanlah kegelapan jurang. Yang dia lihat adalah ingatan. Kilatan-kilatan yang bukan miliknya. Seorang pria berdiri di puncak gunung yang tidak dia kenal, mengenakan jubah putih dengan sembilan matahari bersulam emas di punggungnya. Pria itu menatap langit, dan langit... langit mundur. Awan-awan terbelah. Bintang-bintang meredup. Seolah-olah alam semesta sendiri takut untuk menatapnya.
"Kau mencuri dari kami," bisik sebuah suara-bukan suara Xiao Tianhen, tapi suara yang lebih tua, lebih dalam, seperti gempa yang berbicara. "Kau mencuri Api Surgawi, dan kau akan membayarnya dengan darah seluruh keturunanmu."
Pria itu tertawa. Tawanya seperti belati yang menggores langit.
"Aku tidak mencuri apa pun," katanya. "Aku hanya mengambil kembali apa yang kalian curi dari manusia."
Lalu ingatan itu pecah, dan Lin Feng terlempar kembali ke tubuhnya sendiri.
Dia terkesiap. Napas pertamanya setelah sekian lama-entah berapa lama-penuh dengan darah dan debu. Dia batuk. Batuk itu mengguncang seluruh tubuhnya, mengirim gelombang rasa sakit yang begitu hebat hingga dia hampir kehilangan kesadaran lagi.
Tapi dia tidak kehilangan kesadaran.
Karena cincin itu-cincin di jari tangannya-sedang membara.
"Jangan bergerak," kata Xiao Tianhen. Suaranya berbeda sekarang. Tidak lagi dingin dan menghakimi seperti saat pertama kali berbicara. Ada nada lain di sana. Sesuatu yang hati-hati. Sesuatu yang... penasaran.
Lin Feng menoleh ke arah suara itu. Dan dia melihatnya.
Seorang pria tua berdiri beberapa langkah darinya-atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai pria tua. Wujudnya tembus pandang, seperti kabut yang dipadatkan menjadi bentuk manusia. Jubahnya panjang dan robek di ujungnya, rambutnya putih seluruhnya, dan matanya... matanya tidak memiliki pupil. Hanya cahaya keperakan yang berputar-putar seperti pusaran air.
"Kau...," Lin Feng mencoba berbicara, tapi tenggorokannya terasa seperti diisi pasir. "Kau bilang... aku tidak layak."
"Aku masih berpikir begitu," jawab Xiao Tianhen. "Tapi ada hal yang lebih penting daripada kelayakan."
Dia melangkah maju-atau melayang maju; Lin Feng tidak yakin mana yang lebih tepat-dan berjongkok di sampingnya. Tatapan matanya jatuh ke tangan Lin Feng. Ke cincin itu. Ke darah yang mengalir dari luka-luka Lin Feng, membasahi batu-batu di bawahnya.
Darah itu... bercahaya.
Lin Feng menyadarinya untuk pertama kali. Darahnya tidak berwarna merah biasa. Ada rona keemasan di dalamnya, tipis tapi tak terbantahkan, seperti benang-benang emas yang tercampur dalam cairan merah. Dan darah itu tidak merembes ke dalam batu. Darah itu bertahan di permukaan, berkilau di bawah cahaya bulan yang entah bagaimana menembus kegelapan jurang.
"Apa... apa yang terjadi pada tubuhku?" Lin Feng berbisik.
"Bukan tubuhmu yang berubah," kata Xiao Tianhen. "Kau selalu seperti ini. Kau hanya tidak pernah tahu."
Dia mengulurkan tangan-tangan hantu yang tembus pandang-dan menyentuh luka terbesar di dada Lin Feng. Lin Feng tersentak, bersiap merasakan rasa sakit yang baru. Tapi yang dia rasakan justru... hangat. Seperti tangan ibunya ketika dia masih kecil, ketika dia sakit demam dan ibunya tidak pernah tidur semalaman, menempelkan kain basah ke dahinya.
Lin Feng hampir menangis. Hampir.
"Jangan," kata Xiao Tianhen tajam. "Jangan menangis. Air mata tidak akan membantu kita keluar dari sini."
"Keluar...?" Lin Feng menatap sekelilingnya. Kegelapan. Batu-batu. Dinding jurang yang menjulang tinggi di kedua sisinya, terlalu curam untuk dipanjat, terlalu licin untuk dicengkeram. "Kau bilang aku punya alasan untuk hidup. Kau bilang aku kunci untuk keluar dari kutukan. Tapi bagaimana? Aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku."
"Kau tidak perlu menggerakkan kakimu. Belum." Xiao Tianhen berdiri dan mundur selangkah. "Kau perlu mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, aku akan menceritakan kebenaran. Bukan versi yang diputarbalikkan oleh Sekte Surgawi Abadi. Bukan dongeng yang membuat Mo Yuan tampak seperti pahlawan. Kebenaran."
Lin Feng menelan ludah. Tenggorokannya masih terasa seperti diisi pasir, tapi rasa sakit itu mulai mereda-pelan-pelan, seperti air yang surut dari pantai. Dia mengangguk. "Aku mendengarkan."
Xiao Tianhen menatapnya lama. Lalu dia mulai berbicara.
"Sepuluh ribu tahun yang lalu, sebelum Sekte Surgawi Abadi berdiri, sebelum Mo Yuan mengambil nama keluarganya, ada seorang pria bernama Xiao Tianhen. Bukan nama yang megah, bukan gelar yang menggetarkan. Hanya nama seorang kultivator yang, pada usia tiga puluh tahun, mencapai tingkat yang bahkan para tetua sekte butuh seratus tahun untuk mencapainya."
Dia berhenti. Matanya yang tanpa pupil itu menatap ke atas, ke tepi jurang yang jauh di atas sana.
"Aku adalah penjaga Api Surgawi. Api yang, menurut legenda, diberikan oleh langit kepada manusia pertama sebagai hadiah. Api yang bisa menghanguskan segalanya-termasuk dewa. Aku menjaganya selama tiga ratus tahun. Dan selama tiga ratus tahun itu, aku tidak pernah sekali pun menggunakannya untuk kepentingan pribadi."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Lin Feng.
"Apa yang terjadi," ulang Xiao Tianhen, dan suaranya tiba-tiba pahit, "adalah bahwa seorang pria datang kepadaku. Seorang kultivator muda yang ambisius, cerdas, dan-aku akui-sangat karismatik. Namanya Ji Kong. Kau mungkin mengenalnya dengan nama lain. Mo Yuan."
Lin Feng merasakan darahnya berhenti mengalir. Atau mungkin itu hanya imajinasinya. "Mo Yuan... pendiri Sekte Surgawi Abadi?"
"Pendiri. Pencuri. Pembohong." Xiao Tianhen mengucapkan setiap kata seperti kutukan. "Dia datang kepadaku sebagai teman. Sebagai murid. Selama lima puluh tahun, dia belajar di bawah bimbinganku. Dia menyebutku 'Guru'. Dia menangis di pemakaman istriku. Dia bersumpah di depan altar leluhurku bahwa dia akan menjaga Api Surgawi seperti nyawanya sendiri."
"Dan kau percaya padanya."
"Aku percaya padanya," koreksi Xiao Tianhen. "Dan itulah kesalahanku. Karena pada suatu malam-malam tanpa bulan, malam di mana langit sendiri tampak menahan napas-Ji Kong masuk ke ruang suci. Dia tidak sendiri. Dia membawa sepuluh kultivator terkuat dari sektenya. Mereka menyerangku saat aku sedang bermeditasi. Aku tidak sempat melawan. Tidak sepenuhnya."
Dia menunjuk ke dadanya sendiri. "Ji Kong menusukkan belati ini ke jantungku. Belati yang sama yang kupakai untuk menyelamatkannya dari racun saat dia masih murid. Dia mengambil Api Surgawi. Dia mengambil segalanya. Dan sebelum aku mati, aku mengucapkan kutukan."
"Kutukan?"
"Kutukan yang menghabiskan seluruh sisa kekuatanku. Kutukan yang mengikat darahku ke cincin ini." Xiao Tianhen menatap cincin di jari Lin Feng. "Kutukan yang mengatakan: 'Selama darahku masih mengalir di dunia ini, Ji Kong dan seluruh keturunannya tidak akan pernah menemukan kedamaian. Api Surgawi yang mereka curi akan membakar mereka dari dalam. Dan suatu hari, seorang anak dari darahku akan datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik manusia.'"
Lin Feng terdiam. Otaknya bekerja keras, menyusun potongan-potongan puzzle yang selama ini berserakan di kepalanya.
"Keluargaku," katanya akhirnya. "Keluarga Lin. Kau bilang kami bukan korban kebetulan."
"Kau bukan korban kebetulan," konfirmasi Xiao Tianhen. "Keluargamu adalah keturunan langsung dari adik perempuanku. Satu-satunya anggota keluargaku yang selamat dari pembantaian malam itu, karena dia tidak tinggal di sekte. Dia menikah dengan seorang pedagang biasa. Dia menyembunyikan identitasnya. Dia melarikan diri ke desa terpencil di perbatasan, dan di sana, dia melahirkan anak-anak. Dan anak-anak itu melahirkan anak-anak lagi. Dan begitu seterusnya, selama sepuluh ribu tahun."
"Tapi kenapa Mo Yuan membantai keluargaku?" Lin Feng mengepalkan tangannya. Luka-lukanya menjerit, tapi dia mengabaikannya. "Kalau kami hanya keturunan pedagang, kalau kami tidak punya kekuatan, kalau kami tidak tahu apa-apa-kenapa?"
Karena Xiao Tianhen tersenyum. Senyum yang tidak hangat. Senyum yang penuh dengan rahasia yang terlalu lama disimpan.
"Bagaimana kau tahu dia membantai keluargamu?" tanya Xiao Tianhen.
Lin Feng membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi. Pertanyaan itu-sederhana, tapi menusuk seperti jarum-menembus sesuatu yang selama ini dia anggap remeh.
"Karena... karena itulah yang semua orang katakan," jawabnya pelan. "Orang-orang bilang Mo Yuan melihat ramalan. Ramalan tentang seorang anak yang akan menggulingkannya. Dan dia memutuskan untuk membunuh semua yang mungkin menjadi ancaman."
"Ramalan," ulang Xiao Tianhen. "Kau percaya itu?"
"Aku..." Lin Feng berhenti. Dia mengingat malam itu. Malam ketika rumahnya terbakar. Malam ketika dia bersembunyi di bawah ranjang dan mendengar ibunya berteriak, ayahnya mengutuk, dan para kultivator Sekte Surgawi Abadi berjalan melalui api seperti berjalan melalui taman. "Tidak. Tidak, aku tidak percaya."
"Bagus. Karena itu memang kebohongan." Xiao Tianhen melangkah lebih dekat. "Tidak ada ramalan. Tidak pernah ada. Mo Yuan membantai keluargamu karena dia takut. Bukan takut pada kekuatan yang mungkin kau miliki. Tapi takut pada kebenaran yang mungkin kau ungkap."
"Kebenaran tentang apa?"
"Tentang dirinya. Tentang bagaimana dia menjadi pendiri sekte terkuat di dunia. Tentang Api Surgawi yang dia curi dan tidak pernah bisa sepenuhnya kendalikan." Xiao Tianhen menunjuk ke cincin. "Cincin ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah segel. Segel yang menahan sebagian kekuatanku, ya. Tapi juga segel yang menyimpan bukti. Bukti yang cukup untuk menghancurkan reputasi Mo Yuan, menghancurkan sektenya, dan mengembalikan Api Surgawi kepada manusia."
Lin Feng menatap cincin itu. Benda kecil, kusam, tidak menarik. Selama ini dia mengira itu hanya pusaka keluarga yang tidak berguna. "Dan kau bilang... cincin ini hanya menyala untuk orang yang punya tulang akar Sekte Surgawi Abadi."
"Aku bilang itu," jawab Xiao Tianhen. "Dan kau baru saja membuktikannya."
Dia menunjuk tangan Lin Feng. Darah yang bercahaya itu mengalir lebih deras sekarang, membasahi cincin, membasahi batu, dan... meresap. Batu-batu di bawah Lin Feng mulai bergetar. Retakan-retakan tipis muncul di permukaan mereka, dan dari dalam retakan itu, cahaya keemasan yang sama mulai keluar.
"Tulang akar Sekte Surgawi Abadi," kata Xiao Tianhen, "bukanlah sesuatu yang bisa diwariskan melalui pelatihan. Itu adalah sifat bawaan. Sebuah tanda. Dan kau-Lin Feng, anak yatim dari desa yang tidak bernama-memilikinya. Kau memiliki tulang akar yang sama dengan Ji Kong. Tulang akar yang sama dengan Mo Yuan. Tulang akar yang sama dengan... dengan orang yang kau kenal sebagai pendiri Sekte Surgawi Abadi."
Lin Feng merasakan dunia berputar. "Tunggu. Kau bilang... aku keturunan adikmu. Tapi Mo Yuan-Ji Kong-dia bukan keturunanmu. Dia bukan keluarga kita. Jadi bagaimana aku bisa punya tulang akar yang sama dengannya?"
"Karena Ji Kong bukan pencuri pertama," jawab Xiao Tianhen. "Sebelum dia, ada orang lain. Orang yang mencuri rahasia Api Surgawi dari guruku. Orang yang, kebetulan, adalah kakek buyut Ji Kong sendiri. Dan orang itu... adalah kakek buyutku juga."
Hening.
Lin Feng menatap Xiao Tianhen. Xiao Tianhen menatap balik.
"Kau bilang...," Lin Feng berbisik, "Mo Yuan dan aku... kita... berkerabat?"
"Jauh. Sangat jauh. Tapi ya." Xiao Tianhen mengangguk. "Darah yang mengalir di nadimu adalah darah yang sama yang mengalir di nadinya. Kalian berdua adalah keturunan dari orang yang sama-seorang kultivator jenius yang, sepuluh ribu tahun lalu, mencuri rahasia Api Surgawi dari langit. Dia adalah leluhur kita bersama. Dan Mo Yuan membantai keluargamu... bukan karena kau ancaman bagi kekuasaannya. Tapi karena kau adalah pengingat. Pengingat bahwa dia bukan yang pertama. Pengingat bahwa kekuatannya bukan miliknya. Pengingat bahwa, suatu hari, seseorang dari darahnya sendiri akan datang dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik semua orang."
Lin Feng menutup matanya. Dia bisa merasakan detak jantungnya-cepat, kacau, seperti burung yang terperangkap di dalam kandang tulang. Semua yang dia ketahui tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang dunia ini... runtuh seperti menara yang kehilangan fondasinya.
"Jadi...," katanya akhirnya, suaranya serak. "Aku ini apa? Keturunan pencuri? Anak dari keluarga yang dibantai karena leluhurnya mencuri sesuatu yang bukan miliknya?"
"Kau adalah korban," jawab Xiao Tianhen tegas. "Seperti aku. Seperti adikku. Seperti semua orang yang pernah tersentuh oleh Api Surgawi. Kau tidak meminta darah ini. Kau tidak memilih untuk dilahirkan dalam keluarga ini. Tapi kau ada di sini. Dan sekarang... kau harus memutuskan."
"Memutuskan apa?"
Xiao Tianhen berlutut di hadapannya. Seorang pria yang pernah menjaga Api Surgawi selama tiga ratus tahun, yang pernah dikhianati oleh muridnya sendiri, yang telah menunggu selama sepuluh ribu tahun di dalam cincin yang kusam-pria itu berlutut di hadapan Lin Feng.
"Memutuskan apakah kau akan menjadi korban selamanya," kata Xiao Tianhen, "atau apakah kau akan menjadi sesuatu yang lain."
Lin Feng menatapnya. Lalu dia menatap cincin itu. Lalu dia menatap darahnya sendiri-darah yang bercahaya keemasan, darah yang menolak untuk mati, darah yang telah menunggu selama sepuluh ribu tahun untuk menemukan seseorang yang bisa membangkitkannya.
"Aku tidak tahu bagaimana menjadi 'sesuatu yang lain'," akunya. "Aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak bisa berjalan."
"Kau tidak perlu berjalan. Belum." Xiao Tianhen mengulurkan tangan. "Ambil tanganku."
Lin Feng ragu. "Kau bilang cincin itu menolak aku. Kau bilang aku tidak layak."
"Aku salah."
Dua kata itu-sederhana, tapi mereka menghantam Lin Feng seperti gelombang. Dia menatap Xiao Tianhen, mencari jejak kebohongan, mencari tipu daya, mencari apa pun yang bisa menjelaskan mengapa pria ini tiba-tiba berubah pikiran.
Yang dia temukan hanyalah kelelahan. Kelelahan sepuluh ribu tahun. Kelelahan seorang pria yang telah menunggu terlalu lama, yang telah melihat terlalu banyak, yang telah kehilangan terlalu banyak.
Kelelahan itu, bagi Lin Feng, lebih menakutkan daripada amarah. Amarah bisa dilawan. Kelelahan-kelelahan yang telah mengendap selama sepuluh ribu tahun-tidak bisa dilawan oleh bocah yang bahkan belum bisa berdiri sendiri. Tapi tangan itu tetap terulur. Dan Lin Feng, dengan sisa-sisa keberanian yang ia temukan di suatu tempat di antara rasa sakitnya yang retak-retak, meraihnya.
Tangan Xiao Tianhen dingin. Bukan dingin seperti mayat, tapi dingin seperti batu di dasar sungai-dingin yang telah menyentuh terlalu banyak air, terlalu banyak waktu.
Begitu kulit mereka bersentuhan, seluruh tubuh Lin Feng menegang.
Darahnya-darah yang selama ini hanya terasa hangat dan biasa saja, darah yang ia lihat menetes dari luka-lukanya tanpa arti apa pun-mendadak menyala. Bukan terbakar. Bukan mendidih. Menyala, seperti benang-benang cahaya keemasan yang mengalir di bawah kulitnya, menyusuri lengan, menuju dada, menuju jantung. Lin Feng ingin menjerit tapi tidak ada suara yang keluar. Rasa itu bukan sakit. Rasa itu seperti sesuatu yang telah lama tertidur di dalam dirinya akhirnya terbangun-dan bangunnya begitu keras hingga seluruh tubuhnya bergetar.
Xiao Tianhen menarik tangannya seolah tersengat.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Lin Feng terhuyung, jatuh berlutut di tanah batu, kedua tangannya mencengkeram dadanya. Cahaya keemasan itu masih berdenyut di bawah kulitnya, samar tapi nyata, seperti urat tambang emas yang menemukan cahaya pertama setelah terkubur ribuan tahun. Dia menatap Xiao Tianhen. Pria tua itu mundur satu langkah. Wajahnya-wajah yang sejak tadi hanya menunjukkan kelelahan-kini menunjukkan sesuatu yang lain. Ketakutan.
"Apa ini?" Lin Feng menatap lengannya sendiri, pada cahaya yang berdenyut itu. "Apa yang kau lakukan padaku?"
"Aku tidak melakukan apa pun." Suara Xiao Tianhen serak. "Cincin itu yang melakukannya. Aku hanya... menyentuhmu. Aku hanya memberimu tangan." Dia menatap Lin Feng seperti menatap hantu. "Sepuluh ribu tahun. Sepuluh ribu tahun aku menunggu seseorang yang darahnya bisa membangunkan Akar Ilahi. Aku sudah menguji ratusan orang. Ribuan. Semuanya mati begitu cincin itu menyentuh mereka. Tapi kau-" Dia berhenti. Menelan ludah. "Kau tidak mati."
Lin Feng menunduk ke dadanya. Di bawah kain yang robek dan berdarah, di bawah luka-luka yang ia kira akan membunuhnya, cahaya itu terus berdenyut. Teratur. Seperti detak jantung kedua.
"Kenapa aku tidak mati?" tanyanya.
Xiao Tianhen tidak langsung menjawab. Dia berjalan-tidak, dia melayang, karena kakinya yang bengkok dan tongkatnya tidak ia gunakan, tapi tubuhnya bergerak seperti daun yang tertiup angin-mendekati Lin Feng. Kali ini dia tidak menyentuh. Dia hanya berlutut di depannya, mata tuanya meneliti setiap inci wajah Lin Feng.
"Siapa namamu?"
"Lin Feng."
"Lin." Xiao Tianhen mengulang nama itu seperti mengunyah sesuatu yang pahit. "Keluarga Lin dari mana?"
"Desa Lin. Di kaki Gunung Canglan."
Xiao Tianhen memejamkan mata. Untuk sesaat, Lin Feng pikir pria itu akan menangis. Tapi ketika Xiao Tianhen membuka matanya lagi, yang ada di sana bukan air mata-melainkan pemahaman yang mengerikan. Pemahaman yang datang terlambat sepuluh ribu tahun.
"Keluarga Lin," ulangnya pelan. "Darah Lin. Aku seharusnya tahu. Aku seharusnya tahu." Dia tertawa-tawa yang kering dan pahit. "Sepuluh ribu tahun aku menyalahkan diriku sendiri, mengira aku gagal menjaga rahasia itu. Tapi bukan aku yang gagal. Bukan aku yang membocorkannya." Matanya menatap Lin Feng dengan intensitas yang membuat bocah itu ingin mundur. "Keluarga Lin bukan korban kebetulan. Kalian bukan sekadar orang-orang tak berdosa yang tertimpa amarah Mo Yuan."
"Apa maksudmu?" Lin Feng merasakan dingin merambat di tengkuknya, dingin yang sama sekali berbeda dari dingin tangan Xiao Tianhen.
"Mo Yuan tidak membantai keluargamu karena ramalan," kata Xiao Tianhen. "Dia membantai mereka karena ketakutan. Ketakutan yang dia pendam selama sepuluh ribu tahun. Ketakutan yang membuatnya tidak pernah bisa tidur nyenyak, yang membuatnya membangun sekte di atas tulang-belulang, yang membuatnya mengubah dirinya menjadi monster yang bahkan dia sendiri tidak kenali lagi." Dia menunjuk ke dada Lin Feng. "Darahmu, Lin Feng. Darah yang menyala itu. Itu bukan darah orang biasa. Itu adalah darah pencuri. Darah seseorang yang sepuluh ribu tahun lalu mencuri rahasia terbesar Sekte Surgawi Abadi-rahasia yang seharusnya hanya dimiliki oleh pendiri sekte. Dan Mo Yuan tahu. Dia selalu tahu. Dia hanya butuh sepuluh ribu tahun untuk menemukan keluargamu."
Lin Feng merasakan dunia miring. Atau mungkin itu hanya dia, karena tubuhnya lemas, dan cahaya di dadanya terus berdenyut, dan kata-kata Xiao Tianhen masuk ke kepalanya seperti pecahan kaca.
"Kakekku..." Suaranya tersendat. "Kakekku bilang kita hanya petani. Dia bilang kita tidak punya masa lalu. Dia bilang-"
"Dia berbohong," potong Xiao Tianhen. "Atau dia tidak tahu. Tidak masalah. Yang penting adalah ini." Dia mencondongkan tubuh, dan untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar seperti orang tua yang lelah. Suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menemukan alasan untuk hidup. "Kau, Lin Feng, adalah keturunan langsung dari orang yang mencuri Inti Surgawi Abadi. Kau adalah keturunan orang yang membuat Mo Yuan menjadi apa yang dia sekarang. Dan lebih dari itu-" Dia menyentuh cincin tua di tangannya sendiri, cincin yang sama yang dikatakan telah menolak Lin Feng. "Kau adalah kunci."
"Kunci untuk apa?"
"Untuk keluar dari kutukan ini." Xiao Tianhen berdiri, dan kali ini dia benar-benar berdiri tegak, punggungnya yang bengkok menegak seperti pedang yang ditarik dari sarungnya. "Selama sepuluh ribu tahun aku terikat di sini, di Jurang Buangan ini, menunggu seseorang yang darahnya bisa membangunkan Akar Ilahi. Bukan karena aku memilih menunggu. Karena aku dikutuk untuk menunggu. Dan kau-" Dia menatap Lin Feng dengan mata yang kini menyala, mata yang tidak lagi menunjukkan kelelahan. "Kau adalah orang pertama yang darahnya bereaksi. Orang pertama yang tidak mati. Orang pertama yang..." Dia berhenti. Menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak akan menyebutnya kebetulan. Tidak ada kebetulan dalam hal ini."
Lin Feng mencoba berdiri. Kakinya gemetar hebat, tetapi cahaya di dadanya-cahaya yang kini ia sadari telah menyatu dengan detak jantungnya, seolah telah menjadi bagian dari dirinya-memberinya kekuatan yang aneh. Kekuatan yang bukan berasal dari otot, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam.
"Kau bilang tadi aku tidak layak," katanya, suaranya lebih kuat dari yang ia harapkan. "Kau bilang cincin itu menolak aku."
"Benar."
"Lalu kenapa sekarang berbeda?"
Xiao Tianhen menatapnya lama. Lalu dia tersenyum-senyum pertama yang Lin Feng lihat dari wajahnya, dan senyum itu tidak indah. Itu senyum seseorang yang telah menunggu terlalu lama untuk membalas dendam.
"Karena tadi aku menguji cincin itu padamu seperti aku menguji ratusan orang sebelumnya," kata Xiao Tianhen. "Aku menguji apakah kau cukup kuat untuk menerimanya. Kau tidak. Kau bahkan tidak bisa berdiri." Dia berjalan mendekat, dan kali ini ketika dia mengulurkan tangan, tangannya tidak dingin. Tangannya hangat. "Tapi aku salah menguji. Aku menguji kekuatanmu. Seharusnya aku menguji darahmu."
Dia meletakkan tangannya di dada Lin Feng-tepat di atas cahaya yang berdenyut itu-dan kali ini, tidak ada sengatan. Hanya kehangatan.
"Dan darahmu," lanjutnya pelan, "telah menunggu sepuluh ribu tahun untuk menemukan seseorang yang bisa membangkitkannya. Sama sepertiku. Kita sama, kau dan aku. Kita berdua adalah sisa-sisa dari sesuatu yang seharusnya sudah lama mati." Dia menarik tangannya. "Sekarang, apakah kau masih ingin tahu bagaimana menjadi sesuatu yang lain?"
Lin Feng menatapnya. Di kejauhan, di atas bibir jurang, dia bisa mendengar suara-suara-suara para murid Sekte Surgawi Abadi yang mungkin sedang mencari mayatnya, atau mungkin sudah melupakannya. Dia tidak tahu mana yang lebih buruk.
"Aku tidak tahu apa-apa," katanya lagi, tapi kali ini suaranya berbeda. Kali ini suaranya memiliki tepi yang tidak ada sebelumnya. "Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak akan mati di sini."
Xiao Tianhen menatapnya, dan untuk sesaat, Lin Feng melihat sesuatu yang mirip harapan di mata tua itu. Harapan yang patah, harapan yang retak, tapi harapan yang masih menyala.
"Bagus," katanya. "Karena aku tidak berencana membiarkanmu mati di sini. Bukan sekarang. Bukan setelah sepuluh ribu tahun." Dia menoleh ke arah dinding jurang yang menjulang tinggi di sekeliling mereka. "Sekarang, kita punya pekerjaan. Kau perlu belajar berjalan. Kau perlu belajar bertarung. Dan yang terpenting-" Dia menoleh kembali ke Lin Feng, dan senyumnya memudar, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih serius. "Kau perlu belajar bagaimana darahmu bekerja. Karena jika kau tidak belajar mengendalikannya, darah itu akan membunuhmu. Sama seperti ia membunuh semua orang yang mencoba mengambilnya sebelum kau."
Lin Feng menelan ludah. Cahaya di dadanya berdenyut, seolah setuju.
"Berapa lama aku punya?"
Xiao Tianhen tidak menjawab langsung. Dia menatap ke atas, ke tepi jurang yang jauh di atas sana, di mana langit malam mulai berubah warna menjadi abu-abu fajar.
"Mo Yuan akan tahu," katanya akhirnya. "Cepat atau lambat, dia akan merasakan getaran ini. Dia akan tahu bahwa kuncinya telah ditemukan. Dan ketika dia tahu-" Dia menatap Lin Feng dengan mata yang gelap. "Dia akan datang. Bukan dengan pasukan. Bukan dengan murid-muridnya. Dia akan datang sendiri, karena ini terlalu penting untuk dipercayakan kepada orang lain."
"Berapa lama?"
"Kita punya waktu sebanyak yang dia butuhkan untuk menyadari," kata Xiao Tianhen. "Mungkin sebulan. Mungkin seminggu. Mungkin lebih cepat." Dia mengangkat tongkatnya - yang entah kapan telah kembali ke tangannya - dan menancapkannya ke tanah. "Tapi apa pun itu, kau tidak akan menghadapinya sebagai Lin Feng yang lemah. Kau akan menghadapinya sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah dilihat dunia ini selama sepuluh ribu tahun."
Lin Feng menatap tangannya sendiri. Cahaya keemasan yang berdenyut itu kini merambat ke ujung-ujung jarinya, samar tapi nyata. Dia menggenggam tangannya, dan merasakan denyut itu menguat, seperti jantung kedua yang berdetak di bawah kulitnya.
"Apa yang akan aku menjadi?"
Xiao Tianhen tersenyum lagi, dan senyum itu masih tidak indah, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di dalamnya. Sesuatu yang mirip dengan harapan.
"Kau akan menjadi Lin Feng," katanya. "Tapi Lin Feng yang darahnya tidak akan pernah berhenti menyala. Lin Feng yang tidak akan pernah bisa kembali menjadi bocah desa yang bodoh dan tak berguna." Dia berbalik, mulai melangkah ke kedalaman jurang, di mana kegelapan menelan segalanya. "Sekarang ikuti aku. Ada sesuatu yang perlu kau lihat. Sesuatu yang telah menunggu sepuluh ribu tahun untuk dilihat oleh mata yang tepat."
Lin Feng ragu. Kegelapan di depannya begitu pekat, begitu dalam, begitu asing. Dia bisa merasakan sesuatu di dalamnya-sesuatu yang bukan batu, bukan air, bukan udara. Sesuatu yang hidup.
Tapi dia juga merasakan cahaya di dadanya, dan cahaya itu tidak takut.
Dia melangkah maju, dan kegelapan menelannya.
*
Di atas bibir jurang, di tengah reruntuhan desa yang masih berasap, seorang pria berdiri sendirian. Dia mengenakan jubah putih Sekte Surgawi Abadi, dan wajahnya-wajah yang tampan dan dingin-menatap kosong ke arah jurang yang sekarang sunyi.
"Tuan Mo Yuan," kata seorang murid yang berlutut di belakangnya. "Kami telah mencari mayat bocah itu. Tidak ditemukan."
Mo Yuan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada kegelapan di bawah. Ada sesuatu-sesuatu yang samar, seperti getaran yang tidak seharusnya ada-merambat naik dari kedalaman jurang. Sesuatu yang dia kenali, tapi berharap tidak pernah dia rasakan lagi.
Getaran itu terasa seperti darah yang menyala.
"Tinggalkan aku," perintahnya.
Murid itu langsung mundur tanpa pertanyaan. Ketika dia pergi, Mo Yuan mengangkat tangannya, dan di atas telapak tangannya, sebuah simbol bercahaya terbentuk-simbol yang sama yang terukir di gerbang sekte, simbol yang telah ada selama sepuluh ribu tahun. Simbol itu berdenyut lemah, seperti jantung yang sekarat.
"Jadi itu benar," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya mengandung campuran antara amarah dan ketakutan yang telah dia pendam begitu lama hingga dia lupa bagaimana rasanya. "Darah itu masih ada. Setelah semua ini. Setelah semua yang kulakukan." Dia menggenggam tangannya, memadamkan simbol itu. "Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan pencuri kedua berjalan di dunia ini."
Dia menatap jurang sekali lagi, dan matanya-mata yang telah melihat sepuluh ribu tahun kehancuran-menyala dengan cahaya yang dingin dan mematikan.
"Aku akan datang sendiri," katanya, suaranya bergema di keheningan malam. "Dan aku akan mengakhiri ini. Sekali dan untuk selamanya."
Dia berbalik, dan jubahnya berkibar seperti sayap burung pemakan bangkai, dan dia menghilang ke dalam kegelapan malam.
Di bawah, di kedalaman jurang, Lin Feng tidak tahu bahwa kalimat terakhir Xiao Tianhen bukanlah ancaman kosong. Dia tidak tahu bahwa fajar yang akan datang adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah dia bayangkan. Dia tidak tahu bahwa di suatu tempat di atas sana, seorang pria yang telah membunuh keluarganya sedang menuju ke arahnya.
Yang dia tahu hanyalah bahwa darahnya menyala, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak merasa seperti sampah.
Dia merasa seperti awal dari sesuatu.
Dan Xiao Tianhen, yang berjalan di depannya, tersenyum dalam kegelapan.
"Selamat datang di Jurang Buangan, Lin Feng," bisiknya. "Selamat datang di tempat di mana legenda dimulai."
Jurang Buangan tidak memiliki dasar.
Setidaknya, itulah yang dikatakan orang-orang. Sebuah retakan raksasa di perut bumi yang konon menelan siapa saja yang dibuang ke dalamnya-tidak ada yang pernah kembali, tidak ada yang pernah ditemukan. Beberapa tetua di Sekte Pedang Berkabut mengatakan bahwa dasar jurang itu adalah gerbang menuju alam lain, tempat iblis-iblis kuno dikurung. Yang lain berbisik bahwa itu hanyalah kuburan massal, tempat tulang-tulang para pembangkang berserakan seperti jerami.
Lin Feng tidak tahu mana yang benar. Yang dia tahu, dia sedang jatuh.
Angin meraung di telinganya, menusuk seperti jarum es, merobek jubah compang-camping yang menempel di tubuhnya. Tubuhnya berputar-putar di udara, tanpa kendali, seperti boneka yang dilempar dari menara. Darah menetes dari puluhan luka-ada yang dangkal, ada yang dalam sampai terlihat tulang. Rusuknya patah setidaknya tiga. Matanya bengkak, hampir tidak bisa terbuka.
Ini akhirnya, pikirnya.
Dia menutup mata, menunggu benturan yang akan mengakhiri segalanya.
Tapi tidak ada benturan.
Dia menabrak sesuatu yang dingin. Sangat dingin sampai-sampai kulitnya terasa terbakar. Air. Dia jatuh ke dalam air-sebuah danau bawah tanah atau sungai yang mengalir deras di dasar jurang. Arusnya menggila, membanting tubuhnya ke batu-batu tajam, memutar-mutarnya seperti daun kering.
Lin Feng tidak bisa berenang. Dia tidak pernah belajar. Di keluarga Lin, hanya anak-anak yang dianggap berbakat yang diajari berenang-dan dia, sejak awal, sudah ditakdirkan untuk menjadi sampah.
Air memenuhi paru-parunya. Panik meledak di dadanya. Dia meronta, mencakar-cakar, tapi arusnya terlalu kuat.
Jadi begini rasanya mati, pikirnya, sementara kesadarannya mulai memudar. Tidak seburuk yang kubayangkan.
Lalu tangannya menyentuh sesuatu.
Tidak, bukan menyentuh. Tangannya terbakar.
Sebuah cincin di jarinya-cincin yang dia temukan di reruntuhan rumahnya, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari keluarganya-menyala. Panasnya bukan panas biasa. Panas itu merambat ke tulangnya, ke sumsumnya, ke darahnya. Seperti api yang menyala dari dalam.
Dan air di sekelilingnya mendidih.
Lin Feng terbangun di tepi sungai.
Tubuhnya tergeletak di atas batu-batu kerikil, setengah terendam air. Dia batuk, memuntahkan air dari paru-parunya, dan rasa sakitnya langsung meledak di seluruh tubuh. Rusuknya, lengannya, kepalanya-semuanya terasa seperti dihancurkan dan disatukan kembali dengan lem yang buruk.
Dia menatap langit. Atau apa yang dia harap adalah langit.
Di atasnya bukan langit. Ada batuan yang menjulang tinggi, jauh, sangat jauh, dan di ujungnya-celah tipis cahaya keemasan. Matahari. Jauh di atas sana, dunia yang dia tinggalkan masih berputar. Dia terjebak di dasar jurang, terkubur hidup-hidup.
Bagus, pikirnya pahit. Setidaknya aku tidak mati.
Dia duduk dengan susah payah, menahan erangan. Matanya menyapu sekeliling. Jurang itu ternyata bukan sekadar lubang kosong-ada kehidupan di sini. Lumut bercahaya biru menempel di dinding batu, menerangi area seluas beberapa puluh meter. Ada pohon-pohon aneh dengan daun berwarna perak yang berdesir tanpa angin. Dan di kejauhan, sebuah lorong gelap yang mungkin adalah jalan keluar-atau jalan menuju kematian yang lebih buruk.
Cincin di jarinya masih hangat.
Lin Feng mengangkat tangannya, menatap cincin itu. Sebuah cincin logam biasa, tanpa permata, dengan ukiran samar yang tidak bisa dia baca. Dulu, saat dia menemukannya di antara puing-puing rumah keluarganya, cincin itu tidak melakukan apa-apa. Hanya perhiasan murahan yang mungkin bekas milik ibunya.
Sekarang cincin itu berdenyut. Pelan, seperti detak jantung kedua.
"Kau... apa kau yang menyelamatkanku?" bisiknya, suaranya serak.
Cincin itu tidak menjawab. Tapi denyutnya semakin kuat. Dan tiba-tiba-
"Tidak."
Lin Feng tersentak. Suara itu-suara itu datang dari dalam kepalanya. Sebuah suara berat, tua, seperti batu yang bergesekan dengan batu. Suara yang mengandung kebencian dan kelelahan dalam jumlah yang sama.
"Aku tidak menyelamatkanmu. Aku mencoba membunuhmu. Tapi kau tidak mau mati."
Lin Feng menelan ludah. "Kau... kau berbicara."
"Tentu saja aku berbicara." Suara itu terdengar muak. "Aku sudah berbicara selama sepuluh ribu tahun, tapi tidak ada yang mendengarkan. Sampai sekarang. Sayangnya, yang mendengarkan justru seorang anak lemah yang bahkan tidak bisa berenang."
Lin Feng merasakan darahnya naik. "Siapa kau?"
"Kau tidak perlu tahu namaku. Yang perlu kau tahu adalah-aku tidak ingin kau mati di sini. Bukan karena aku peduli. Tapi karena kalau kau mati, aku akan terjebak selamanya di tempat ini."
Suara itu berhenti. Lin Feng merasakan sesuatu-seperti tatapan yang mengukur, menilai, menghakimi. Sebuah tatapan yang tidak sabar.
"Jadi dengarkan baik-baik, anak lemah. Aku akan memberimu kekuatan. Aku akan mengajarimu cara bertahan hidup. Tapi ada syaratnya."
Lin Feng mengepalkan tangannya. "Syarat apa?"
"Kau harus punya tulang akar Sekte Surgawi Abadi."
Hening.
Lin Feng tidak mengerti. Dia tidak tahu apa itu Sekte Surgawi Abadi. Dia tidak tahu apa itu tulang akar. Dia hanya tahu bahwa sedetik kemudian, cincin itu menyala-dan seluruh tubuhnya terbakar.
Rasa sakitnya berbeda.
Ini bukan rasa sakit dari luka atau patah tulang. Ini rasa sakit yang lebih dalam, lebih tua, seperti sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidur dibangunkan paksa. Lin Feng menjerit, tubuhnya membusur, tangannya mencengkeram batu di sekitarnya sampai kuku-kuku pecah.
Cincin itu menyala terang. Cahayanya bukan cahaya biasa-cahayanya berwarna merah. Merah seperti darah.
Dan darah Lin Feng merespons.
Dia bisa merasakannya-darah di dalam tubuhnya bergolak, berdenyut, seolah-olah ada sesuatu di dalamnya yang sudah lama menunggu momen ini. Sesuatu yang kelaparan. Sesuatu yang telah terkurung selama ribuan tahun.
Cahaya merah itu menjalar dari cincin ke tangannya, ke lengannya, ke dadanya. Lin Feng bisa melihat urat-urat di kulitnya menyala seperti kawat panas. Dan untuk sesaat-hanya sesaat-dia merasa seperti bukan dirinya sendiri.
"Ini... tidak mungkin."
Suara itu terdengar terkejut. Untuk pertama kalinya, tidak ada nada menghina. Hanya kejutan yang tulus.
"Darahmu... kau... kau benar-benar keturunan Sekte Surgawi Abadi."
Lin Feng tidak mendengar. Dia terlalu sibuk menahan rasa sakit yang membakar seluruh sarafnya. Tapi kata-kata itu menembus kesadarannya.
Keturunan. Darah.
"Kau... apa maksudmu?" desisnya melalui gigi yang terkatup.
Cincin itu tidak menjawab. Tapi suara itu-suara Xiao Tianhen-terdengar seperti sedang menahan napas. Seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang dia cari selama hidupnya.
"Sepuluh ribu tahun," bisiknya. "Sepuluh ribu tahun aku menunggu. Dan akhirnya..."
Cahaya merah itu menghilang. Lin Feng terjatuh ke batu, tubuhnya lemas, napasnya terengah-engah. Dia menatap tangannya-urat-uratnya masih berpendar samar, seperti bara api yang tinggal sisa.
"Dengarkan aku, Lin Feng."
Suara itu sekarang berbeda. Tidak lagi seperti orang tua yang lelah. Sekarang terdengar seperti raja yang baru bangun dari tidur panjang.
"Keluargamu tidak mati karena ramalan. Mo Yuan tidak membantai keluargamu karena dia melihat masa depan. Dia membantaimu karena dia takut."
Lin Feng membeku.
"Dia membunuh keluargamu karena kalian adalah keturunan langsung dari orang yang mencuri rahasia Sekte Surgawi Abadi. Darah kalian-darahmu-adalah kunci untuk membuka kekuatan yang dia sembunyikan selama sepuluh ribu tahun. Dia menghancurkan keluargamu bukan untuk mencegah ramalan. Dia menghancurkannya untuk mencegah siapa pun mengetahui bahwa dia-yang mengaku sebagai dewa-sebenarnya bukan apa-apa tanpa rahasia yang dia curi."
Dunia Lin Feng hancur dan dibangun kembali dalam satu tarikan napas.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun dia percaya bahwa keluarganya mati karena takdir. Bahwa dia adalah sampah karena dia ditakdirkan untuk menjadi sampah. Bahwa Mo Yuan adalah dewa yang tidak bisa dilawan.
Tapi bukan itu.
"Kau... kau bohong," bisik Lin Feng, tapi suaranya bergetar. "Kau hanya ingin keluar dari kutukan ini."
"Benar. Aku ingin keluar. Tapi aku tidak berbohong." Suara itu terdengar seperti tersenyum. "Darahmu bereaksi terhadap cincin ini. Itu bukti. Tidak ada orang biasa yang bisa bertahan hidup dari proses ini. Kau... bukan anak siapa-siapa, Lin Feng."
Cincin di jarinya berdenyut sekali lagi-pelan, tenang, seperti detak jantung yang baru ditemukan.
"Kau adalah kunci yang kubutuhkan untuk keluar dari kutukan ini. Dan aku... adalah satu-satunya orang yang bisa mengajarimu cara menggunakan darah itu."
Lin Feng menatap cincin itu lama. Darahnya masih terasa hangat, aneh, asing. Di atasnya, jauh di atas, dunia yang dia tinggalkan masih berputar tanpa dia. Xiao Tianhen sedang menuju ke arahnya-pria yang telah menghancurkan hidupnya. Mo Yuan masih duduk di singgasananya, mengira dia sudah mati.
Dan Lin Feng, di dasar jurang, dengan tulang yang patah dan darah yang menyala, tersenyum.
"Syaratnya," katanya, suaranya serak tapi jelas. "Kau ajari aku. Dan aku akan menjadi kuat."
Cincin itu berdenyut.
"Bagus."
Dan di kegelapan Jurang Buangan, sesuatu yang telah lama mati mulai hidup kembali.
Di atas, di bibir jurang, angin malam bertiup dingin. Xiao Tianhen berdiri di tepi, menatap ke bawah ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Jubahnya berkibar, wajahnya kosong.
Di belakangnya, seorang anak buah berlutut. "Tuan, apakah dia sudah mati?"
Xiao Tianhen tidak menjawab. Dia menatap lama ke dalam jurang. Dia tidak bisa merasakan apa pun-tidak ada aura kematian, tidak ada sisa energi. Hanya kekosongan.
Tapi sesuatu di dalam dirinya tidak tenang.
"Kembali ke sekte," perintahnya akhirnya. "Laporkan bahwa Lin Feng sudah mati."
"Dan mayatnya, Tuan?"
"Tidak ada mayat." Xiao Tianhen berbalik. "Jurang Buangan tidak mengembalikan apa pun. Itu sudah cukup."
Dia melangkah pergi, tapi langkahnya terhenti sesaat.
Untuk sesaat-hanya sesaat-dia merasa seperti mendengar detak jantung. Bukan detaknya sendiri. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tua dan kelaparan.
Dia menggelengkan kepala dan melanjutkan perjalanan.
Khayalan, pikirnya. Pasti khayalan.
Tapi jauh di bawah, di dasar jurang, Lin Feng membuka matanya-dan matanya tidak lagi cokelat. Mereka berwarna merah, seperti darah yang baru mengalir.
Dan di dalam dadanya, suara Xiao Tianhen tertawa pelan.
"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Lin Feng. Sekarang... mari kita mulai pelajaran pertama."
~ Bab 1 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.