Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Catatan Ide Cerita

Bab 3

Sungai Tidur

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pagi datang tanpa matahari. Hanya kabut yang berubah warna-dari kelabu gelap menjadi kelabu terang, seolah seseorang menyalakan lampu di balik kain basah yang m<enutupi seluruh langit. Kaelin sudah berpakaian sebelum fajar. Ia tidak yakin apakah ia benar-benar tidur atau hanya duduk diam cukup lama hingga tulangnya kaku.

Dorian menemukannya di dapur, sedang menatap cangkir teh yang sudah dingin.

"Kau belum minum," kata Dorian.

"Belum lapar."

"Bukan lapar. Minum." Dorian menuangkan teh panas ke cangkir itu tanpa bertanya. "Kau akan butuh tenaga. Perjalanan ke tepi sungai butuh hampir setengah hari."

Kaelin menatapnya. "Kau tahu aku akan pergi."

"Aku tahu kau tidak akan tinggal." Dorian duduk di seberang. Keriput di wajahnya tampak lebih dalam pagi ini, atau mungkin hanya cahaya yang membuatnya begitu. "Aku juga tahu kau akan bertanya hal yang sama berulang-ulang sampai kau menemukan jawaban yang kau inginkan. Jadi lebih baik kau pergi dan mencari tahu sendiri."

Kaelin mengangkat cangkir itu. Tehnya pahit, tanpa gula. Ia meminumnya sampai habis.

"Mengapa kau membantuku?" tanyanya. "Lima tahun. Kau tidak pernah menyebut tentang sungai itu sekali pun."

Dorian diam cukup lama hingga Kaelin mengira ia tidak akan menjawab.

"Karena kau belum siap," kata Dorian akhirnya. "Dan karena aku takut."

"Takut pada apa?"

"Pada apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu." Dorian berdiri, mengambil tongkatnya, dan berjalan ke pintu. "Ayo. Aku akan mengantarmu sampai batas hutan. Setelah itu, kau harus berjalan sendiri. Aku tidak bisa mendekati sungai itu lagi."

Batas hutan ternyata bukan dinding pepohonan yang tiba-tiba berakhir. Hutan itu memudar perlahan-pohon-pohon menjadi lebih pendek, lebih jarang, lalu berhenti sama sekali. Di luar itu, hamparan rumput kelabu membentang ke arah selatan, diselimuti kabut yang bergerak seperti napas makhluk besar yang tidur.

Dorian berhenti di pohon terakhir. Sebuah pohon tua dengan batang bengkok dan akar yang menyembul keluar tanah seperti jari-jari yang mencengkeram.

"Dari sini lurus ke selatan," kata Dorian. "Kau akan menemukan sungai setelah matahari melewati titik tertinggi. Ia tidak bergerak. Ia hanya ada."

"Kau bilang kau tidak bisa mendekatinya lagi. Mengapa?"

Dorian menatap ke arah kabut. Matanya yang keruh tampak lebih tua dari usianya.

"Karena aku pernah menyeberanginya," katanya. "Dan aku berjanji pada seseorang bahwa aku tidak akan kembali."

Kaelin menunggu. Dorian tidak melanjutkan. Ia hanya menepuk bahu Kaelin sekali-sentuhan singkat yang terasa seperti perpisahan-lalu berbalik dan berjalan kembali ke dalam hutan tanpa menoleh.

Kaelin berdiri sendiri di batas dunia yang ia kenal. Ia menarik napas, lalu melangkah ke dalam kabut.

Rumput kelabu itu lembut di bawah kakinya, tetapi setiap langkah terasa berat, seolah udara di sini lebih padat, lebih asing. Kabut tidak menempel di kulit, tidak membuatnya basah, tetapi ia menekan-di dada, di telinga, di belakang mata. Suara langkahnya sendiri terdengar jauh, seperti berasal dari orang lain.

Ia berjalan selama berjam-jam. Tidak ada burung. Tidak ada serangga. Bahkan angin pun tidak berhembus. Hanya keheningan yang bergerak bersamanya, setia seperti bayangan.

Menjelang tengah hari-ia hanya bisa menebak dari cahaya yang sedikit lebih terang di balik kabut-ia mulai mendengar sesuatu.

Bukan suara air. Bukan suara angin.

Suara seseorang bernyanyi. Pelan. Terpatah-patah. Seperti seseorang yang bernyanyi dalam tidurnya.

Kaelin berhenti. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Suara itu berasal dari arah selatan, dari tempat yang seharusnya hanya ada sungai.

Ia melanjutkan berjalan. Nyanyian itu semakin jelas, tetapi ia tidak bisa memahami kata-katanya. Bahasanya bukan bahasa yang ia kenal, atau mungkin itu bukan bahasa sama sekali-hanya nada yang disusun sedemikian rupa hingga terdengar seperti kata-kata.

Lalu kabut terbelah.

Sungai itu terbentang di hadapannya. Lebar, tenang, dan sehitam kaca yang belum pernah tersentuh cahaya. Ia tidak mengalir. Tidak ada riak. Tidak ada suara air. Permukaannya begitu tenang hingga Kaelin bisa melihat bayangan dirinya di dalamnya, jelas seperti cermin.

Dan di seberang sana, di tepi yang jauh, seseorang duduk di atas batu.

Seorang perem*puan. Rambut panjang yang tergerai, pakaian sederhana yang tampak basah. Ia bernyanyi dengan mata tertutup, suaranya mengalun pelan ke arah Kaelin seperti asap yang tertiup angin.

Kaelin membeku. Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Tetapi ada sesuatu dalam caranya memiringkan kepala, dalam lekuk bahunya, dalam cara tangannya bergerak saat bernyanyi-

"Kaelin."

Suara itu datang dari belakangnya.

Kaelin berputar. Dorian berdiri di sana, jauh dari tempat ia meninggalkannya. Wajahnya pucat, tongkatnya gemetar di tangannya.

"Aku bilang padamu untuk tidak mendekati sungai ini," kata Dorian. Suaranya serak. "Aku bilang aku tidak bisa kembali ke sini."

"Kau mengikutiku."

"Aku mengikutimu karena aku tahu apa yang akan kau temukan." Dorian melangkah maju, tetapi matanya tertuju pada perempuan di seberang sungai. "Kaelin. Dengarkan aku. Jangan dengarkan nyanyian itu."

"Kau tahu siapa dia?"

Dorian tidak menjawab. Tetapi ada sesuatu di wajahnya-sesuatu yang retak, sesuatu yang lama terkubur dan kini muncul ke permukaan.

"Kau berjanji pada seseorang," kata Kaelin pelan, menyadari. "Kau berjanji kau tidak akan kembali. Siapa?"

Dorian mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. Untuk pertama kalinya, Kaelin melihat sesuatu yang lain di mata orang tua itu. Bukan ketakutan. Bukan penyesalan.

Kehilangan.

"Ayahmu," kata Dorian. "Aku berjanji pada ayahmu."

Di seberang sungai, perempuan itu berhenti bernyanyi. Ia membuka mata, dan meskipun jarak memisahkan mereka, Kaelin bisa merasakan tatapannya-tajam, dingin, dan sangat, sangat tua.

Lalu ia tersenyum.

"Kaelin," panggilnya. Suaranya tidak lagi terdengar samar. Ia jelas, dekat, seolah perempuan itu berdiri tepat di sampingnya. "Akhirnya kau datang. Aku sudah menunggumu."

Kaelin menoleh ke Dorian. Orang tua itu menutup matanya, seperti seseorang yang mendengar kalimat terakhir sebelum hukuman dijatuhkan.

"Jangan," bisik Dorian. "Tolong. Jangan."

Tetapi Kaelin tidak bisa berhenti. Ia menatap perempuan di seberang sungai itu, dan entah mengapa, ia merasa bahwa ia mengenalnya. Bukan dari ingatan. Bukan dari cerita.

Tetapi dari sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah ada jauh sebelum ia belajar mengingat.

"Siapa kau?" tanya Kaelin.

Perempuan itu bangkit dari batu. Ia berdiri di tepi air hitam itu, dan untuk sesaat, Kaelin melihat sesuatu di wajahnya-sesuatu yang mirip dengan wajahnya sendiri.

"Aku ibumu," katanya. "Dan aku sudah lama menunggu untuk memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu."

Sungai Tidur tidak bergerak. Tetapi Kaelin merasakan sesuatu di dalam dirinya bergeser-sebuah pintu yang selama ini ia jaga tetap tertutup, kini terkuak sedikit.

Dan dari celah itu, sesuatu yang gelap mulai merembes keluar.

Ada jawaban yang membebaskan. Dan ada jawaban yang mengikat. Kaelin telah datang mencari satu, tetapi sungai itu tidak pernah memberi apa yang diminta-hanya apa yang ia simpan. Dan apa yang ia simpan jauh lebih berat daripada yang bisa ditanggung oleh seorang anak yang kehilangan ayahnya.

~ Bab 3 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai