Catatan Ide Cerita
Bab 2
Perjalanan ke Pegunungan Erath
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Mereka berangkat sebelum fajar, saat langit masih berwarna biru tua dan bintang-bintang terakhir belum padam.
Dorian menunggu di luar kedai dengan dua kuda yang sudah siap dan seekor bagal yang membawa perbekalan. Kaelin tidak bertanya dari mana ia mendapatkannya. Ada hal-hal tentang Dorian yang lebih baik tidak dipersoalkan terlalu dalam.
"Kau membawa semua yang kau miliki?" tanya Dorian ketika Kaelin m:uncul dengan karung kecil di punggungnya.
"Ini semua yang tersisa."
Dorian menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Naik."
Mereka berkuda dalam diam melewati jalan-jalan sempit Vireth yang masih tidur. Rumah-rumah batu berdiri seperti bayangan-bayangan bisu, jendela-jendela gelap tanpa cahaya. Kaelin mengenal setiap sudut kota ini-setiap gang, setiap batu yang menonjol, setiap sudut di mana ia pernah bersembunyi dari hujan atau dari orang-orang yang ingin menyakitinya.
Ia tidak menyangka akan meninggalkannya.
Di gerbang utara, penjaga malam mengangkat kepala dari api unggun kecil. Ia mengenali Dorian, dan hanya melambaikan tangan tanpa bertanya. Kaelin menoleh ke belakang sekali, melihat siluet Vireth yang semakin mengecil di belakangnya.
Kota itu tidak melepaskan apa pun dengan mudah.
Jalan setapak menuju pegunungan berkelok melalui hutan pinus yang lebat. Udara semakin dingin seiring mereka mendaki, dan aroma tanah basah serta getah pohon mengisi paru-paru Kaelin dengan sesuatu yang terasa asing.
Kebebasan.
"Kau belum bertanya tentang upah," kata Dorian setelah hampir dua jam berkuda dalam diam.
"Aku tidak punya apa-apa untuk membayarmu."
"Aku tahu." Dorian menepuk leher kudanya. "Tapi pertanyaan itu tetap penting. Orang yang tidak pernah bertanya tentang harga biasanya sedang melarikan diri dari sesuatu, atau mengejar sesuatu yang lebih berharga dari nyawa mereka sendiri."
Kaelin tidak menjawab.
"Kau mengejar sesuatu," lanjut Dorian. "Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar siap dengan apa yang akan kau temukan."
"Kau tidak perlu tahu."
"Tidak." Dorian tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Tapi aku akan tetap bersamamu sampai kau menemukannya."
Kaelin menatapnya. "Kenapa?"
Karena pertanyaan itu, untuk sesaat, membuat Dorian terdiam. Kuda-kuda mereka terus melangkah, dan kabut mulai turun dari puncak-puncak gunung di kejauhan, mengambang di antara batang-batang pinus seperti roh yang belum selesai dengan urusan dunia.
"Aku memiliki utang," katanya akhirnya. "Kepada seseorang yang pernah menolongku ketika aku tidak pantas ditolong. Aku tidak pernah bisa membayarnya kembali. Mungkin dengan membantumu, aku bisa membayar sebagian kecil dari utang itu."
"Kepada siapa?"
"Itu cerita lain." Dorian mempercepat kudanya. "Kita harus sampai di penginapan berikutnya sebelum malam. Ada hal-hal yang bergerak di hutan ini ketika gelap."
Kaelin ingin mendesak lebih jauh, tapi sesuatu dalam nada suara Dorian memberitahunya bahwa itu bukan pertanyaan yang akan dijawab hari ini.
Mereka tiba di sebuah pondok kayu yang hampir runtuh tepat saat matahari mulai tenggelam. Pondok itu kosong-atau setidaknya, penghuninya sudah lama pergi atau sudah lama mati. Dorian menyalakan api di perapian batu yang masih utuh, sementara Kaelin duduk di dekat jendela, menatap kabut yang semakin tebal di luar.
"Makan," kata Dorian, melempar sepotong roti keras dan keju kering ke arahnya. "Kau belum makan sejak kemarin."
Kaelin menangkapnya. "Aku tidak lapar."
"Lapar atau tidak, kau harus makan. Perjalanan ke Erath bukan perjalanan santai. Kalau kau pingsan di tengah jalan, aku akan meninggalkanmu."
Kaelin menggigit roti itu. Rasanya seperti kayu, tapi perutnya menerimanya dengan syukur yang tidak ia sadari.
Mereka duduk dalam diam untuk sementara waktu, hanya ditemani suara api yang menampar-nampar kayu dan angin yang berdesir melalui celah-celah dinding.
"Ayahmu," kata Dorian akhirnya. "Ceritakan tentang dia."
Kaelin menelan rotinya dengan susah payah. "Kenapa?"
"Karena kau menempuh perjalanan ini untuknya. Aku perlu tahu apa yang kita hadapi. Dan karena..." Dorian menatap api. "Karena aku ingin tahu seperti apa orang yang bisa membuat seseorang tetap setia selama lima tahun meski semua bukti mengatakan ia sudah mati."
Kaelin menatap tangannya. Jari-jarinya kurus, penuh bekas luka kecil dari pekerjaan-pekerjaan kasar yang ia lakukan untuk bertahan hidup. Tangannya tidak seperti tangan anak laki-laki berusia dua puluh tahun. Tangannya seperti tangan seseorang yang sudah hidup terlalu lama.
"Dia bukan orang baik,"; kata Kaelin pelan. "Setidaknya, bukan dengan cara yang mudah dipahami orang."
"Justru itu yang menarik."
Kaelin menarik napas panjang. Api itu memantul di matanya, membuatnya terlihat lebih tua dari usianya.
"Ayahku adalah seorang penjaga perbatasan. Bukan tentara, bukan ksatria-hanya penjaga. Dia mengawasi jalur-jalur gunung yang tidak ada di peta, memastikan tidak ada yang masuk atau keluar tanpa diketahui. Pekerjaan yang tidak diakui, tidak dibayar dengan baik, tapi penting."
"Penjaga bayangan."
"Ya." Kaelin mengangguk. "Aku tumbuh besar di pos-pos perbatasan. Tidak pernah tinggal di satu tempat lebih dari beberapa bulan. Aku tidak pernah bersekolah, tidak punya teman, tidak tahu bagaimana rasanya memiliki rumah yang benar-benar milik sendiri."
Dorian tidak menyela.
"Ibuku meninggal ketika aku berusia tujuh tahun. Demam. Tidak ada tabib di dekat perbatasan, dan ayahku tidak bisa meninggalkan posnya. Dia harus memilih antara keluarganya atau tugasnya." Kaelin menelan ludah. "Dia memilih tugasnya. Ibuku meninggal dalam pelukanku."
Api di perapian berderak. Di luar, angin bertiup lebih kencang.
"Aku membencinya untuk waktu yang lama," lanjut Kaelin. "Bertahun-tahun. Tapi kemudian aku mulai mengerti. Ayahku bukan orang yang bisa memilih. Dia sudah terikat sejak lama, sebelum aku lahir, sebelum ibuku. Ada sesuatu yang mengikatnya-sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri."
"Apa?"
"Aku tidak tahu." Kaelin mengangkat kepala, menatap Dorian. "Itulah masalahnya. Aku tidak pernah tahu. Ayahku tidak pernah memberitahuku apa yang sebenarnya ia jaga di perbatasan itu. Dia hanya bilang bahwa ada hal-hal di dunia ini yang harus tetap tidur, dan tugasnya adalah memastikan mereka tidak pernah terbangun."
Dorian terdiam cukup lama. Ketika ia akhirnya berbicara, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
"Kau tahu apa yang ada di Pegunungan Erath?"
"Kata orang, sebuah biara tua. Tempat pertapaan. Tempat orang-orang pergi untuk menemukan jawaban."
"Itu yang dikatakan orang." Dorian mencondongkan tubuh ke depan. "Tapi ada yang lain. Di bawah biara itu, ada jaringan gua yang tidak pernah selesai dipetakan. Gua-gua itu sudah ada jauh sebelum biara dibangun. Dan di dalam gua-gua itu..." Ia berhenti.
"Apa?"
"Ada sungai," kata Dorian. "Sungai yang tidak mengalir ke mana-mana. Tidak ke laut, tidak ke danau, tidak ke sungai lain. Airnya hanya berputar di dalam kegelapan, selama ribuan tahun, tanpa tujuan. Orang-orang di desa-desa sekitar menyebutnya Sungai Tidur."
Kaelin merasakan sesuatu menggeliat di dalam dirinya. Sesuatu yang dingin dan gelap, seperti ingatan yang belum sepenuhnya terbentuk.
"Ayahmu," lanjut Dorian, "adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah mencapai ujung sungai itu. Dan sejak saat itu, ia tidak pernah sama lagi."
"Kau tahu tentang ayahku?"
"Aku tahu tentang banyak hal yang tidak seharusnya aku ketahui." Dorian berdiri, berjalan ke arah jendela. Kabut di luar kini begitu tebal hingga ia tidak bisa melihat apa pun selain putih. "Tapi ada satu hal yang tidak aku ketahui. Apakah ayahmu masih hidup atau tidak. Dan jika hidup-apakah ia masih dirinya sendiri."
Kaelin berdiri juga. "Apa maksudmu?"
Dorian menoleh. Wajahnya setengah gelap, setengah diterangi api. "Sungai Tidur tidak hanya diam. Ia mengingat. Dan kadang-kadang, ia memberikan kembali apa yang pernah ia ambil. Tapi tidak selalu dalam bentuk yang sama."
Malam itu, Kaelin tidak tidur. Ia duduk di dekat jendela, menatap kabut yang tidak pernah berakhir, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa bahwa keputusannya untuk mencari ayahnya mungkin bukan tentang menemukan jawaban.
Mungkin tentang bertahan dari apa yang akan ia temukan.
Ada perjalanan yang mengubah tujuan. Dan ada perjalanan yang mengubah orang yang berjalan. Kaelin belum tahu yang mana yang sedang ia lalui-tapi ia akan segera mengetahui bahwa keduanya bisa terjadi sekaligus.
~ Bab 2 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.