Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 1

Langit yang Tidak Pernah Miliknya

Pena: @aikasaja • Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Hujan tidak pernah peduli kepada siapa ia jatuh.

Itu adalah satu-satunya kebenaran yang Joni yakini sejak ia cukup tua untuk memahami bahwa dunia ini dibangun di atas hierarki yang lebih keras dari batu granit dan lebih dingin dari besi yang tidak pernah melihat matahari. Hujan jatuh ke jubah sutra para bangsawan, dan hujan yang sama jatuh ke punggung retak seorang bocah yang tidak punya nama keluarga untuk dibanggakan. Tidak ada perbedaan dalam cara langit menurunkan airnya. Hanya manusia yang menciptakan perbedaan itu - dengan tangan mereka sendiri, dengan sistem yang mereka sebut suci, dengan panel status yang bersinar di atas kepala mereka seperti mahkota yang tidak bisa dilepas.

Joni tidak punya mahkota semacam itu.

Ia berdiri di depan Kedai Roti Margon - sebuah bangunan bata merah yang hangat cahayanya merembes lewat celah jendela kaca berembun - dengan perut yang sudah tiga hari tidak mengenal isian selain air got yang ia saring lewat kain usang. Aroma tepung yang dipangang, kayu manis, dan mentega cair mengapung keluar dari balik pintu kayu itu seperti ejekan yang dikemas dalam wewangian. Ia tidak bermaksud masuk. Ia tidak pernah punya uang untuk itu. Ia hanya berdiri - mungkin terlalu lama, mungkin terlalu dekat - membiarkan hangat yang merembes dari celah pintu itu menyentuh kulnya yang basah kuyup, seolah tubuhnya sendiri sedang memohon sesuatu yang tidak berani diminta oleh birnya.

Itulah kesalahannya.

"Hei. Bangkai."

Suara itu datang seperti halintar yang tidak didahului mendung - tajam, sombong, penuh dengan keyakinan bahwa dunia ini memang diciptakan untuk dinjak oleh orang-orang seperti pemiliknya. Joni mengangkat kepalanya perlahan. Seorang pejabat kota berdiri tiga langkah darinya, mengenakan jubah biru tua dengan lambang Vareneth di dada kirinya - seekor elang berkepala dua yang mencengkeram rantai emas. Diatas kepala pria itu, panel status melayang dengan cahaya putih kebiruan yang sopan dan teratur.

[BURDOC HALIN - RANK D - PEJABAT PENGAWAS DISTRIK 7]

Rank D. Bukan sesuatu yang besar di skala kosmik Arcadia. Bukan Pahlawan, bukan Ksatria Tingi, bukan siapa-siapa yang namanya akan diukir dalam tugu. Namun di Kota Bawah Vareneth, Rank D adalah langit itu sendiri. Cukup untuk memerintah lorong-lorong batu berlumut ini. Cukup untuk membuat semua orang menunduk.

"Kau tuli atau kau bodoh?" Burdoc melangkah maju, sepatu botnya yang berkilap memercikan genangan air ke udara. "Aku sudah melihat kau berdiri di sini sejak setengah jam lalu. Blank sepertimu mengotori pandangan tamu-tamu kedai Margon. Pergi."

"Aku hanya-"

Joni tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Kepalan bersarung kulit itu menghantam sisi rahangnya dengan kecepatan yang tidak pernah diantisipasi oleh tubuh yang terlalu lapar untuk waspada. Dunia berputar. Ia merasakan batu jalanan menyambut lututnya terlebih dahulu - kasar, dingin, menghancurkan - sebelum telapak tangannya mencoba menahan sisa tubuhnya dari jatuh sepenuhnya. Darah memenuhi mulutnya, besi dan garam, rasa yang sudah terlalu ia kenal.

"Sudah kubilang pergi."

Sepatu botitu datang lagi. Kali ini ke tulang rusuknya. Joni mendengar suara retak yang mungkin berasal dari tulangnya sendiri atau mungkin dari sesuatu di dalam dadanya yang lebih abstrak - sesuatu seperti martabat, jika ia pernah punya cukup banyak untuk bisa dipatahkan. Ia mengulung ke samping secara refleks, napasnya tercabut, pandangannya kabur oleh campuran hujan dan air mata yang tidak ia akui sebagai tangis.

"Dasar Blank hina." Burdoc membungkuk, menarik kerah baju Joni yang sudah lebih mirip sobekan karung daripada pakaian, memaksanya bertatap muka dari jarak yang terlalu dekat untuk nyaman. Bau tembakau dan anggur mahal menyerang hidung Joni. "Sistem bahkan tidak mau mencatatmu. Kau tahu apa artinya itu? Artinya kau bahkan bukan manusia yang lengkap. Kau cat kosmik. Sampah yang terlupa diciptakan dengan benar."

Ia dilempar.

Bukan dilepaskan - dilempar, seperti sebuah benda, seperti batu yang tidak lagi berguna untuk digengam. Tubuh Joni meluncur di atas batu jalanan yang licin dan terhenti hanya ketika got di sisi jalan itu menerimanya dengan mulut terbuka lebar. Air kotor, bau, penuh dengan endapan yang lebih baik tidak didentifikasi, menyambutnya hinga setingi pingang. Tawa pecah dari berapa pejalan kaki yang berhenti sejenak untuk menyaksikan tontonan gratis itu - tawa ringan, tawa yang segera dilupakan, tawa orang-orang yang tahu bahwa mereka tidak akan pernah jadi yang terbaring di selokan sehingga mereka bisa tertawa dengan tenang.

Burdoc tidak menoleh lagi. Ia berjalan masuk ke kedai Margon, membunyikan lonceng pintunya dengan riang, dan dunia melanjutkan putaranya seolah tidak ada yang terjadi.

Karena memang tidak ada yang terjadi. Bukan di mata dunia ini.

Joni berbaring dalam keheningan got itu - merasakan air dingin meresap ke setiap luka, setiap memar, setiap sel tubuhnya yang sudah lama berhenti mengharapkan sesuatu yang lebih baik. Langit di atas Vareneth berwarna abu-abu pekat, penuh dengan awan badai yang bergulir dari arah pegunungan Selethir di utara. Tidak ada bintang malam ini. Tidak ada bulan. Hanya kegelapan yang jujur dan hujan yang, seperti yang pernah ia yakini, tidak peduli kepada siapa ia jatuh.

Diperlukan waktu yang lama sebelum Joni akhirnya bangkit.

Bukan karena ia kuat - ia tidak kuat, tidak malam ini, mungkin tidak pernah dalam definisi yang dirayakan dunia. Ia bangkit karena alternatifnya adalah membusuk di gotitu, dan bahkan di titik paling gelap dalam hidupnya yang pendek dan menyedihkan ini, ada sesuatu di dalam ronga dadanya yang menolak untuk menyerah dengan cara yang sedengki itu. Sesuatu kecil. Sesuatu keras kepala dan primitif, seperti akar pohon yang tumbuh menembus fondasi batu hanya karena tidak ada yang memberitahunya bahwa itu mustahil.

Ia berjalan. Tanpa arah yang jelas. Tanpa tujuan yang diverbalisasikan.

Lorong-lorong Kota Bawah Vareneth menelanya kembali - jalanan sempit yang diapit tembok-tembok berlumut setinggi tiga lantai, gang-gang gelap yang berbau campuran sampah dan asap sihir murah, lampu-lampu minyak yang bergoyang-goyang dalam angin badai seperti jiwa-jiwa yang tidak yakin apakah mereka masih ingin bersinar. Sesekali ia melewati kerumunan kecil: para pedagang kaki lima yang tergesa-gesa membereskan dagangan mereka sebelum hujan deras benar-benar turun, anak-anak dengan panel status bercahaya hijau dan kuning bermain di bawah teras, sepasang kekasih berteduh di bawah lengkungan batu dengan tawa yang kecil dan hangat.

Semua orang punya panel status mereka masing-masing.

Semua orang terdaftar. Semua orang tercatat oleh Divine Registry - sistem kosmik purba yang telah ada sejak sebelum dinasti pertama Arcadia berdiri, sejak sebelum Dewa-dewa pertama mengangkat kepala mereka dari lautan kekacauan primordial dan memutuskan bahwa tatanan adalah sesuatu yang lebih baik dari kekosongan. Sistem itu tidak bisa dibohongi, tidak bisa disuap, tidak bisa dimohon. Ia hanya mencatat - dan jika kau tidak tercatat, kau tidak ada dalam arti yang paling fundamental.

Blank. Cacat kosmik. Sampah yang terlupa diciptakan dengan benar.

Kata-kata Burdoc berputar dalam kepalanya bukan karena mereka baru -Joni telah mendengar variasinya selama delapan belas tahun - melainkan karena malam ini, dengan rusuk yang mungkin retak dan darah yang mengering di sudut birnya, kata-kata itu terasa lebih berat dari biasanya. Seperti batu yang ditumpuk satu per satu diatas tulang dada selama bertahun-tahun, dan malam ini seseorang menambahkan satu batu terakhir.

Ia tidak tahu bagaimana ia sampai di sini.

Kuil itu berdiri - atau lebih tepatnya, reruntuhan kuil itu berdiri - di ujung paling terpencil dari Distrik 7, di titik di mana jalanan batu berubah menjadi tanah basah dan lampu-lampu minyak berhenti karena tidak ada yang peduli untuk mengisinya. Bangunanya sudah tidak bisa disebut bangunan: atap yang runtuh setengahnya, dinding yang retak dan dijalar tanaman parasit, altar di tengah ruangan yang hancur dan penuh dengan dedaunan busuk serta genangan air hujan. Tidak ada yang tahu dewa apa yang pernah disembah di sini, atau sejak kapan tempat ini ditinggalkan. Di Kota Bawah Vareneth, tidak ada yang cukup peduli untuk mencatat sejarah dari sesuatu yang sudah tidak bernilai.

Joni masuk karena satu-satunya alasan yang bisa ia pertangungjawabkan: atapnya yang setengah runtuh itu masih cukup untuk menghalangi sebagian hujan. Dan tubuhnya sudah tidak punya energi tersisa untuk mencari tempat yang lebih baik.

Ia meringkuk di sudut paling kering yang bisa ia temukan, membelakangi tembok yang terasa seperti es melalui kainya yang basah, dan membiarkan matanya terpejam. Rasa sakit di rusuknya berdenyut dalam ritme yang hampir seperti musik - keras, teratur, tanpa belas kasih. Perutnya sudah melewati fase perih dan masuk ke fase hampa, sesuatu yang lebih buruk karena hampa tidak menghasilkan suara, tidak menghasilkan sinyal darurat, hanya kekosongan yang diam dan dalam.

Mungkin ini malam itu, pikirnya tanpa drama. Mungkin tubuh iniakhirnya memutuskan bahwa cukup.

Dan kemudian - di antara retak-retak langit-langit yang hancur, di antara suara hujan yang kini jatuh dengan amarah penuh, di antara batas terakhir kesdaranya yang perlahan larut seperti gula dalam air - sesuatu muncul.

Bukan cahaya putih. Bukan emas.

Hitam.

Hitam pekat seperti ruang di antara bintang-bintang, dengan tepi-tepi yang bercahaya merah darah - merah yang tidak seperti api, lebih seperti luka segar yang menolak untuk membeku - dan panelitu melayang tepat di depan wajah Joni dengan keheningan yang lebih mencekam dari suara apun yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

[RANK TERDETEKSI: SS - SOVEREIGN BEYOND DIVINITY] [KEMAMPUAN TERBUKA: DIVINE DOMINION] [IDENTITAS PEMILIK: DIRAHASIAKAN]

Joni tidak bersukacita.

Joni membeku.

Karena baris berikutnya yang muncul di panel hitam itu bukan sambutan. Bukan penjelasan. Bukan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Baris itu muncul dalam huruf-huruf merah yang lebih terang dari semua yang lain, berdenyut seperti jantung yang berdetak terlalu cepat, dan bunyinya dalam kepala Joni seperti suara yang tidak datang dari luar melainkan dari kedalaman tulang-tulangnya sendiri:

[⚠ PERINGATAN SISTEM: 3 ENTITAS RANK SS TELAH MENDETEKSI ANOMALI KOSMIK DI LOKASI INI.] [PERKIRAAN KEDATANGAN: 4 MENIT 17 DETIK.]

Darah yang sudah mulai mengering di sudut birnya terasa segar kembali ketika rahangnya terbuka.

Tiga entitas Rank SS. Makhluk-makhluk yang namanya hanya diucapkan dalam bisikan, bahkan oleh para bangsawan. Makhluk-makhluk yang dengan satu tatapan bisa menghapus seorang manusia biasa dari permukaan dunia lebih bersih dari cara kain menghapus debu. Dan mereka sedang datang ke sini - ke reruntuhan berlumut ini, ke sudut paling terlupakan di kota paling terlupakan di Arcadia - dalam waktu empat menit dan tujuh belas detik.

Untuk apa?

Untuk siapa?

Joni menatap panel hitam itu, dan panel hitam itu menatap balik dengan tepi-tepinya yang merah dan dingin, dan di dalam dadanya sesuatu yang kecil dan keras kepala itu - sesuatu yang menolak membusuk di got tadi - sekarang berteriak dengan suara yang sama sekali tidak ia kenal: bukan keberanian, bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih purba dan lebih jujur dari keduanya.

Rasa takut yang hidup.

Dan empat menit tujuh belas detik itu sudah mulai berkurang.

~ Bab 1 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai