Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 24
Tiga Kedipan dalam Hampa
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Keyakinan baru yang terbentuk di hati Joko Saputra bukanlah api yang berkobar liar-ia adalah bara yang membara diam-diam di bawah lapisan abu, menunggu saat yang tepat untuk meledak menjadi kobaran yang tak terpadamkan. Saat ia melangkah keluar dari arena, ditemani Sera Wulan dan Bimo Keras, langkahnya terasa berbeda. Bukan karena sombong, bukan pula karena puas-melainkan karena ia kini melihat dunia dengan perspektif yang telah berubah selamanya. Langit di atasnya, yang sebelumnya terasa sebagai atap yang membatasi, kini terasa seperti kaca tipis yang siap dipecahkan. Dan tiga kedipan Bintang Merah Utara yang baru saja ia saksikan di siang bolong-sebuah fenomena yang seharusnya mustahil-terus bergema di dalam benaknya seperti kode yang hanya bisa diuraikan oleh jiwa yang telah tersentuh Kehampaan.
"Kau yakin itu bukan halusinasi?" tanya Bimo sambil menyeka keringat di dahinya. Wajahnya masih merah karena euforia kemenangan yang baru saja mereka raih dalam pertandingan eksibisi. "Maksudku, Bintang Merah Utara di siang hari? Itu... itu nggak masuk akal."
"Banyak hal yang tidak masuk akal di dunia ini, Bimo," jawab Joko pelan. Matanya masih tertuju pada titik di langit di mana bintang itu muncul, meskipun kini hanya biru kosong yang terlihat. "Termasuk seorang 'sampah' yang tadi hampir mengalahkan murid peringkat tiga."
Sera yang berjalan di samping mereka, dengan rambut peraknya yang tergerai lembut tertiup angin, mengerutkan kening. "Itu bukan kedipan biasa, Joko. Aku merasakan gangguan pada persepsi spasialku saat itu terjadi. Rasanya seperti... ada seseorang yang menarik sebagian realitas di sekitarmu, lalu membiarkannya kembali."
Kata-kata Sera membuat Joko menghentikan langkah. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang lebih tajam. Sera Wulan, dengan afinitas Elemen Ruangnya, mungkin memiliki akses pada frekuensi persepsi yang tidak dimiliki kultivator biasa. Jika ia mengatakan ada gangguan spasial, maka itu berarti tiga kedipan tadi bukan sekadar ilusi optik atau fenomena alam. Itu adalah pesan. Tapi dari siapa? Dan untuk tujuan apa?
Di dalam dadanya, Kehampaan Mutlak berdenyut pelan. Bukan sebagai respons terhadap ancaman, melainkan seperti detak jantung kedua yang berdetak seirama dengan ritme yang lebih purba. Joko merasakan sesuatu-sebuah tarikan lembut dari arah utara, dari balik pegunungan yang membatasi wilayah akademi. Seolah-olah ada sesuatu di sana yang menunggunya, memanggilnya dengan diam-diam.
"Kita harus bicara di tempat yang lebih aman," kata Sera tiba-tiba. Ia melirik ke sekeliling. Lorong akademi mulai dipenuhi murid yang keluar dari arena, sebagian menatap mereka dengan campuran rasa ingin tahu dan permusuhan yang samar-samar. Nama Joko kini mulai dikenal-bukan lagi sebagai 'sampah bermartabat palsu', melainkan sebagai kejutan turnamen yang layak diwaspadai. Dan dalam dunia kultivasi, perhatian adalah pedang bermata dua.
Bimo mengangguk setuju. "Perpustakaan Lantai Tiga sayap barat. Tempat itu sepi jam segini."
Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor batu putih yang dihiasi relief para kultivator legendaris. Di balik setiap pilar, Joko bisa merasakan tatapan-tatapan yang mengikuti mereka. Beberapa tatapan itu dingin, penuh kalkulasi-mungkin dari murid-murid yang melihatnya sebagai ancaman potensial. Lainnya penuh rasa ingin tahu, seolah mereka baru menyadari bahwa seorang anomali telah lama bersembunyi di depan mata mereka. Namun satu tatapan yang paling ia rasakan berasal dari arah balkon tingkat dua, di mana sesosok pria berjubah hitam berdiri dengan tangan bersedakap. Guru Veda Sunyi. Instruktur tua yang wajahnya seperti pria enam puluhan namun auranya kosong bagaikan jurang tak berdasar. Ia hanya menatap Joko dengan senyum tipis yang tidak bisa diartikan, lalu mengangguk pelan seolah memberikan restu yang tidak diminta.
Begitu mereka memasuki perpustakaan sayap barat dan menemukan sudut yang dikelilingi rak-rak tinggi berisi manuskrip kuno berdebu, Bimo langsung merebahkan diri di kursi kayu jati. "Baiklah, sekarang bicara serius. Joko, apa yang sebenarnya terjadi di arena tadi? Aku melihatmu... kau seperti melangkah ke dimensi lain saat serangan terakhir lawanmu datang. Kau bergerak di luar bayangan."
Joko duduk di seberang Bimo, dengan Sera yang memilih berdiri di dekat jendela, matanya mengawasi luar. Untuk sesaat, Joko diam. Di dalam pikirannya, ia merenungkan bagaimana cara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa membuat teman-temannya terkejut atau takut. Namun Kehampaan di dalam dirinya telah mengajarinya satu hal: kebenaran, bagaimanapun pahitnya, adalah fondasi yang lebih kokoh daripada kebohongan yang manis.
"Tubuhku tidak bisa menyimpan Qi," katanya akhirnya. "Tapi bukan berarti ia kosong. Ia menyerap segalanya-termasuk teknik lawan, momentum, bahkan niat mereka. Saat lawanku melancarkan serangan api tadi... aku tidak menghindar. Aku menelan apinya."
Bimo terhenyak. "Menelan... api? Joko, itu tidak mungkin. Api adalah elemen ofensif paling mendasar. Jika kau menelannya, seharusnya kau-"
"Terbakar?" potong Joko dengan nada datar. "Tepat. Tapi apiku berbeda. Apiku tidak membakar-ia menetralkan. Tubuhku mengubah elemen itu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak memiliki nama."
Sera berbalik dari jendela. Matanya yang perak berkilau dalam cahaya remang. "Void," bisiknya nyaris tak terdengar. "Kau memiliki afinitas Void murni, bukan? Aku sudah menduga sejak lama, tapi sekarang aku yakin."
Kata itu membuat Bimo hampir terjatuh dari kursi. "Void? Elemen yang dilarang? Yang dihapus dari semua kitab suci? Joko, kau... kau gila? Jika para tetua tahu, kau akan dihukum mati! Atau lebih buruk, diserahkan pada Penjaga Tatanan Langit!"
"Aku tahu," jawab Joko tenang. "Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak punya pilihan lain. Sejak lahir, tubuhku telah ditakdirkan untuk menjadi wadah Kehampaan. Bukan kutukan-seperti yang dikatakan ayahku, seperti yang dipercaya seluruh klan. Ini adalah warisan. Warisan leluhur yang lebih tua dari sejarah yang tercatat."
Sera mendekat dan duduk di kursi di samping Joko. Tangannya mengambil sebuah buku lusuh yang tergeletak di atas meja. "Aku juga mencari sesuatu. Ayahku... ia diusir dari akademi karena menemukan fakta tentang Void. Ia meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa di bawah akademi ini, ada reruntuhan kuno dari era sebelum Penjaga Tatanan Langit memurnikan pengetahuan. Dan di sana, konon tersegel sebuah artefak yang bisa menghubungkan pewaris Void dengan Penguasa Kekosongan Pertama."
Joko menatap Sera dengan intensitas baru. "Kau tahu tentang Penguasa Kekosongan Pertama?" gitanya.
"Hanya dari potongan-potongan catatan ayahku. Tapi aku yakin satu hal: kedipan Bintang Merah Utara tadi bukanlah kebetulan. Di dalam mitologi kuno, Bintang Utara dianggap sebagai pusat poros alam semesta, tempat di mana kekuatan Void terkonsentrasi. Tiga kedipan berarti... panggilan. Atau peringatan."
Suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin. Joko merasakan sesuatu merayap di punggungnya-bukan ketakutan, melainkan kesadaran bahwa ia kini berdiri di persimpangan yang sangat tipis. Di satu sisi, ia bisa terus berlatih dalam bayang-bayang, menggunakan Void secara diam-diam untuk naik peringkat di turnamen, dan mungkin suatu hari mendapatkan kembali pengakuan dari Klan Joko. Namun di sisi lain, ada panggilan yang lebih besar-panggilan untuk menggali rahasia yang telah dikubur oleh seluruh peradaban kultivasi. Dan dengan setiap langkah ke arah itu, bahaya dari Penjaga Tatanan Langit akan semakin mendekat.
"Kita harus ke reruntuhan itu," kata Joko akhirnya. "Malam ini juga."
Bimo menggeleng-gelengkan kepala. "Kau benar-benar gila. Reruntuhan di bawah akademi? Itu adalah zona terlarang yang dijaga oleh formasi sihir kuno. Semua murid yang mencoba memasukinya tidak pernah kembali dengan ingatan yang utuh. Bahkan ada yang hilang selamanya."
"Maka kita harus bersiap dengan baik," timpal Sera. Ia membuka buku lusuh di tangannya dan menunjukkan sebuah peta yang digambar dengan tinta pudar. "Aku sudah mempelajari pintu masuknya selama berbulan-bulan. Ada sebuah lorong rahasia di belakang patung naga di aula barat. Jika kita bergerak setelah tengah malam, ketika patroli instruktur berkurang, kita bisa masuk."
Joko memandang kedua temannya. Di mata Bimo ia melihat kegelisahan yang bercampur dengan loyalitas yang enggan diakui. Di mata Sera ia melihat tekad yang membara-kegilaan yang sama yang mungkin menggerakkan ayahnya hingga akhir hayat. Dan di dalam dadanya sendiri, Kehampaan berdenyut lebih cepat, seperti jantung yang mulai balapan.
"Aku tidak akan memaksa kalian," kata Joko. "Ini jalanku sendiri. Jika kalian memilih mundur, aku akan mengerti."
Bimo menghela napas panjang. Lalu ia tersenyum getir. "Dengar, jangan harap aku akan meninggalkan sahabatku yang gila sendirian dalam petualangan bunuh diri. Lagipula, kalau kau mati, siapa yang akan membuat hidupku menarik? Kultivasi biasa itu membosankan."
"Dan aku tidak akan berhenti sebelum menemukan apa yang terjadi pada ayahku," tambah Sera tegas. "Jika kenyataan itu ada di reruntuhan bawah, maka aku akan pergi ke sana bersamamu."
Joko tidak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala, sebuah gestur yang mungkin diartikan oleh orang lain sebagai kerendahan hati, namun bagi yang mengenalnya, itu adalah bentuk rasa terima kasih yang tidak bisa diucapkan. Dalam dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya mata uang, memiliki dua orang yang bersedia berdiri di sisinya tanpa mengharapkan imbalan adalah anugerah yang tidak ternilai.
Mereka bertiga kemudian merencanakan langkah-langkah selanjutnya dengan bisikan-bisikan hati-hati. Di luar jendela perpustakaan, matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan-bayangan yang menari di lantai batu. Dan di langit yang mulai memerah, bagi yang memiliki indra yang cukup peka, Bintang Merah Utara berkedip sekali lagi-sebuah sinyal bahwa waktu semakin mendesak, dan bahwa takdir sedang menunggu di ujung jalan yang gelap.
Saat malam tiba dan akademi tenggelam dalam kesunyian buatan yang rapuh, tiga sosok bergerak seperti hantu melalui koridor, melewati patung naga yang matanya seolah mengikuti setiap langkah mereka. Dan di bawah sana, di kedalaman yang belum tersentuh oleh cahaya peradaban, sesuatu yang telah tidur selama ribuan tahun mulai membuka matanya, menyambut kedatangan pewaris yang telah lama dinantikan.
~ Bab 24 Selesai ~