Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 23

Bab 23: Gong Pembuka Takdir

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Gong turnamen bergema bagai suara batu raksasa yang dijatuhkan ke dalam sumur keheningan, getarannya merambat melalui tulang-tulang setiap murid yang berdiri di Arena Seribu Langkah-sebuah arena raksasa yang dibangun dari batu giok hitam yang mampu menyerap kelebihan energi Qi agar pertarungan tidak melukai penonton. Ribuan pasang mata terarah ke tengah panggung, tempat para peserta akan dipanggil satu per satu untuk memulai pertarungan penyisihan. Joko Saputra berdiri di barisan paling belakang, di antara mereka yang dianggap tidak layak mendapat tempat di barisan depan, di antara mereka yang namanya tidak pernah disebut dengan hormat. Namun di dalam dadanya, fragmen giok kuno berdenyut dengan irama yang sama dengan detak jantungnya-sebuah detak yang pelan tapi mantap, bagai genderang perang yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang sudah lama terbiasa dengan kesunyian.

Matahari pagi menyinari ujung-ujung pedang dan tombak yang berkilauan di tangan para peserta, menciptakan lautan cahaya yang berkedip-kedip seperti bintang jatuh di siang bolong. Aroma tanah basah bercampur dengan aroma logam dan keringat, membawa serta kenangan akan latihan malam yang tak terhitung jumlahnya. Joko menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin memasuki paru-parunya, dan untuk sesaat ia merasa bahwa dunia ini adalah sebuah panggung raksasa yang dipersiapkan untuk pertunjukan tunggalnya. Namun ia segera menekan pikiran sombong itu-ia sudah cukup lama hidup di bawah bayang-bayang penghinaan untuk tahu bahwa kesombongan adalah racun paling halus yang bisa menghancurkan seorang kultivator sebelum pertarungan dimulai.

"Peserta nomor 417, Joko Saputra dari Klan Joko, dipanggil ke Arena Tiga-Pertarungan Penyisihan Pertama!" Suara instruktur menggema melalui kristal amplifikasi yang dipasang di setiap sudut arena. Nama itu disambut oleh bisik-bisik yang langsung menyebar di antara penonton seperti api merambat di padang rumput kering. Beberapa tawa tertahan, beberapa gelengan kepala penuh iba, dan beberapa tatapan sinis dari murid-murid yang pernah berinteraksi dengan Joko di lorong-lorong akademi. Joko tidak peduli. Ia sudah melewati fase di mana suara orang lain bisa menggoyahkan langkahnya. Kini setiap desisan, setiap ejekan, hanya menjadi bara yang memperkuat api di dalam tubuhnya.

Ia melangkah maju, melewati kerumunan yang secara otomatis memberi jalan-bukan karena hormat, tetapi karena mereka tidak ingin terlalu dekat dengan seorang "sampah" yang mungkin akan kalah dalam hitungan detik dan memercikkan aib ke siapa pun yang berada di dekatnya. Joko tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa ditafsirkan oleh siapa pun kecuali mungkin Sera Wulan, yang berdiri di barisan penonton dengan rambut peraknya yang berkibar ditiup angin pagi. Sera menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal di samping tubuh, matanya menyala dengan campuran kekhawatiran dan keyakinan. Ia telah melihat sekilas apa yang mampu dilakukan Joko di malam-malam latihan rahasia, namun ia juga tahu bahwa turnamen adalah panggung yang berbeda-panggung di ribuan pasang mata bisa membuat seorang pejuang terbaik sekalipun goyah.

Di sudut lain arena, Artha Langit duduk di kursi khusus yang disediakan untuk murid peringkat atas. Wajahnya tenang, bahkan terlihat bosan, namun matanya tidak pernah lepas dari punggung Joko yang melangkah ke Arena Tiga. Di sudut mulutnya, sebuah senyum kecil terbentuk-senyum yang tidak hangat, melainkan senyum seorang pemangsa yang melihat mangsanya memasuki perangkap. Artha telah mengatur segalanya. Lawan pertama Joko adalah murid bernama Rendra Bayu, seorang kultivator tingkat Kondensasi Qi tahap awal dengan afinitas Elemen Api yang agresif, terkenal di kalangan akademi karena teknik tinju apinya yang mampu melelehkan baja. Rendra bukanlah lawan yang mustahil, tapi bagi seorang "sampah" tanpa Qi, ini adalah pertarungan yang seharusnya berakhir dalam tiga napas. Artha ingin Joko dihancurkan secara mental sejak awal, agar ia tidak pernah punya kesempatan untuk bangkit di babak-babak berikutnya.

Joko melangkah ke atas panggung Arena Tiga. Di hadapannya, Rendra Bayu sudah berdiri dengan kedua tangan terkepal, kepalan tinjunya sudah mulai memancarkan aura kemerahan-tanda bahwa Qi api sedang berkumpul di titik serangnya. Rendra tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi yang runcing, seolah ia sudah membayangkan kemenangan mudah yang akan memberinya poin dan sumber daya tambahan. "Hei, si sampah bermartabat palsu. Kudengar kau berhasil bertahan di akademi ini selama setahun tanpa dikeluarkan. Pasti kau pandai bersembunyi, ya?" ledeknya dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh barisan penonton terdekat, yang langsung menyambut dengan tawa.

Joko tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu, tangannya menggantung santai di samping tubuh, matanya setengah terpejam seolah ia sedang menikmati angin pagi. Postur ini membuat Rendra merasa dihina-ia sudah menyiapkan ejekan yang lebih tajam, namun ketidakpedulian Joko merusak ritme ejekannya. Rendra mendengus, lalu meludah ke samping. "Baiklah, kalau kau mau mati konyol, biar aku tunjukkan apa artinya menjadi kultivator sejati!"

Gong kecil di sisi arena berbunyi, menandakan pertarungan dimulai.

Rendra langsung melesat maju dengan kecepatan yang mengesankan-telapak kakinya meninggalkan jejak hangus di lantai batu giok hitam saat ia mengaktifkan teknik langkah api. Dalam sekejap, ia sudah berada dalam jarak serangan, tangan kanan ditarik ke belakang lalu dilontarkan ke depan dalam sebuah tinju lurus yang disertai dengan semburan api merah menyala. Serangan itu cepat, tepat, dan mematikan-cukup untuk melumpuhkan seorang kultivator biasa di tingkat yang sama. Namun Joko tidak biasa.

Pada detik terakhir, saat tinju Rendra nyaris menyentuh dadanya, Joko menggeser kakinya setengah langkah ke kanan. Gerakan itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat tinju api itu meleset melewati bahunya. Panasnya menyambar kulitnya, tetapi Joko tidak bergeming. Sebaliknya, tangan kirinya bergerak dalam lengkungan pendek, menyentuh pergelangan tangan Rendra dengan ujung jari-sentuhan yang lembut, tidak lebih dari tepukan ringan. Namun seketika itu juga, api yang membalut tangan Rendra... padam. Tidak meredup, tidak melemah, tetapi padam sepenuhnya, seolah-olah ada lubang tak terlihat yang menelan semua energi api di titik kontak itu.

Rendra tertegun. Matanya membelalak, mencari penjelasan yang tidak bisa ia temukan. Ia menarik tangannya dan melangkah mundur, mencoba mengaktifkan kembali teknik apinya. Namun saat ia mengonsentrasikan Qi, ia merasakan keanehan di area pergelangan yang disentuh Joko-seperti ada bagian dari tubuhnya yang menjadi "kosong", yang tidak merespons perintah Qi-nya. Rasa frustrasi mulai merayap di dadanya. Ia menyerang lagi, kali ini dengan dua tinju bergantian, menciptakan gelombang api berbentuk bulan sabit yang membelah udara. Joko bergerak seperti dedaunan yang ditiup angin-menghindari setiap serangan dengan gerakan minimal yang tidak pernah ia pelajari dari buku mana pun, tetapi ia pelajari dari malam-malam panjang berlatih dalam kegelapan di ruang bawah tanah perpustakaan, saat ia belajar merasakan riak Qi lawan sebelum serangan itu dilancarkan.

Setiap kali Joko menyentuh Rendra-di bahu, di siku, di pinggang-ada sebagian kecil energi api yang lenyap. Rendra mulai kehilangan kendali. Keringat bercucuran di dahinya, napasnya memburu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Lawannya tidak mengeluarkan satu pun serangan ofensif, hanya menghindar dan menyentuh ringan, namun ia merasa seperti sedang melawan bayangan yang mengisap kekuatannya setetes demi setetes. Penonton mulai gelisah. Beberapa dari mereka yang awalnya tertawa kini diam, alis berkerut bingung. "Apa yang dia lakukan?" bisik seorang murid di barisan depan. "Sepertinya Rendra tidak bisa mengenai sasarannya..."

Di sudut tribun, Artha Langit duduk tegak. Senyumnya telah memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang jarang terlihat di wajah tampannya. Ia memperhatikan setiap gerakan Joko dengan seksama, dan di dalam pikirannya, ia merangkai teka-teki yang mulai terbentuk. "Teknik penyerapan...? Tidak, itu bukan penyerapan Qi biasa. Qi api tidak berkurang, ia menghilang. Seperti... dihapus dari eksistensi." Artha menggigit bibir bawahnya. Instingnya yang tajam mengatakan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya di balik kemampuan aneh Joko. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Artha merasa bahwa ia mungkin telah meremehkan lawan yang ia anggap sampah.

Di arena, Rendra mulai panik. Ia melancarkan serangan serampangan, melepaskan gelombang api ke segala arah tanpa kendali, berharap setidaknya satu serangan akan mengenai Joko. Joko, yang sudah membaca kepanikan itu, akhirnya mengambil langkah maju. Tubuhnya melesat lurus ke depan, melewati hujan api yang tak terarah, dan dalam sekejap ia sudah berada tepat di depan Rendra. Joko mengangkat tangan kanannya, dan untuk pertama kalinya, ia mengeluarkan serangan. Bukan tinju, bukan tendangan, melainkan sebuah dorongan telapak tangan yang lembut ke tengah dada Rendra.

Tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang tiba-tiba memenuhi arena.

Namun Rendra terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah, kakinya menggores lantai batu giok hitam hingga meninggalkan dua alur dalam. Ia jatuh terduduk, mulutnya terbuka, matanya kosong. Seluruh Qi api di tubuhnya-yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun-telah lenyap dalam sekejap. Tidak berkurang, tidak terblokir, tetapi benar-benar lenyap, seolah-olah ada kekuatan yang menciptakan ruang hampa di dalam meridiannya. Rendra tidak bisa menggerakkan satu jari pun. Tubuhnya terasa ringan aneh, tetapi juga lemah, seperti bayi yang baru lahir.

Keheningan melanda seluruh arena. Tidak ada satu pun penonton yang bersorak. Tidak ada satu pun instruktur yang berteriak. Semua orang masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Joko menurunkan tangannya dan berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi. Ia menatap Rendra yang terbujur kaku di lantai, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tribun penonton. Di antara kerumunan itu, ia mencari satu wajah-dan ia menemukannya. Artha Langit. Mata mereka bertemu. Joko tidak tersenyum. Ia hanya menatap, dan di dalam tatapan itu ada pesan yang lebih jelas dari seribu kata: "Aku sudah siap."

Artha membalas tatapan itu dengan senyum dingin. Ia berdiri perlahan, lalu memberikan tepuk tangan yang lambat dan pelan-satu, dua, tiga-suara tepukan itu nyaring di tengah keheningan, seperti lonceng kematian yang dipukul untuk seseorang yang tidak akan pernah sadar bahwa maut sudah di ambang pintu. Artha berbalik dan berjalan pergi, namun sebelum ia benar-benar menghilang di balik tirai tribun, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Joko, lalu membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh siapa pun kecuali mungkin oleh angin yang setia menjaga rahasia: "Pertunjukan yang menarik. Tapi ingat, semakin tinggi kau terbang, semakin keras kau akan jatuh, sampah."

Joko tidak mendengar bisikan itu, tetapi ia merasakan gelombang niat jahat yang meninggalkan tubuh Artha seperti asap hitam. Genting. Ia membuang napas panjang, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasakan kemenangan kecil ini-manis, hangat, seperti seteguk air di tengah padang pasir. Namun ia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa pertarungan ini hanyalah langkah pertama dari ribuan langkah yang harus ia tempuh. Di sakunya, fragmen giok berdenyut lebih cepat, seolah ikut merayakan, tetapi juga memberinya peringatan: "Jangan lengah. Kegelapan belum berakhir. Dunia ini penuh musuh yang lebih kuat dari Rendra. Dan di antara mereka, ada yang lebih licin dari ular, lebih tajam dari pedang."

Sera Wulan melompat dari tribun dan berlari ke arah Joko, rambut peraknya berkibar di belakangnya seperti bendera kemenangan. "Kau melakukannya!" serunya, matanya berbinar-binar. "Aku tidak percaya... kau mengalahkannya tanpa satu pun pukulan keras!" Bimo Keras menyusul dari belakang, tertawa keras sambil menepuk punggung Joko. "Bro, kau benar-benar monster! Rendra sampai terbengong-bengong seperti ayam kena pusing!"

Joko tersenyum tipis, tapi matanya masih tertuju ke arah tribun tempat Artha berdiri. "Ini baru permulaan," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Masih ada yang lebih besar di depan."

Sera mengikuti arah pandangannya, dan senyumnya sedikit memudar. Ia mengerti. Di dunia kultivasi, kemenangan kecil sering kali menjadi umpan bagi kekalahan besar. Namun ia juga percaya pada Joko. Ia meletakkan telapak tangannya di lengan Joko-sentuhan ringan, namun penuh dukungan. "Apa pun yang terjadi, kau tidak akan sendirian."

Joko menatapnya, dan untuk sekejap, di tengah keramaian yang mulai kembali berisik dengan spekulasi dan gosip, ia merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan. Ada kehangatan. Ada persahabatan. Ada harapan. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, suara Penguasa Kekosongan Pertama berbisik pelan-bisikan yang mengingatkannya bahwa ikatan emosional adalah pedang bermata dua, yang bisa menjadi kekuatan atau kelemahan. Dan di dunia ini, kelemahan akan selalu dihancurkan.

Gong kembali berbunyi, menandakan pertarungan berikutnya. Nama Joko Saputra tidak lagi disebut dengan ejekan. Para penonton mulai melihatnya dengan tatapan baru-tatapan yang penuh keingintahuan, kekhawatiran, dan rasa hormat yang enggan diberikan. Dan di balik kanvas takdir yang masih terlipat rapi, tangan-tangan tak dikenal mulai bergerak, merajut benang-benang nasib yang akan membawa Joko lebih dalam ke pusaran perang kuno-perang di mana Void dan Tatanan Langit saling berhadapan, dan di mana seorang pemuda yang pernah dianggap sampah mungkin akan menjadi senjata paling dahsyat yang pernah dimiliki oleh salah satu pihak.

Saat Joko melangkah keluar dari arena dengan Sera dan Bimo di sisinya, ia menengadah ke langit. Bintang Merah Utara masih bersinar redup di siang hari, namun untuk sesaat, ia melihat tiga kedipan-seperti kode yang hanya bisa ia pahami. Dan di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru mulai terbentuk: ia tidak akan berhenti di sini. Ia akan terus melangkah, terus bertarung, terus menyerap setiap penghinaan dan menjadikannya kekuatan, hingga suatu hari, seluruh dunia yang pernah merendahkannya akan bertekuk lutut di hadapan Mahkota Kehampaan yang akan ia kenakan sebagai mahkota kehampaan. Namun sampai hari itu tiba, ia masih harus menempuh jalan panjang-dengan luka, dengan air mata, dan dengan api yang tidak terlihat namun tetap membara di dalam jiwanya.

~ Bab 23 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai