Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 22
Fragmen Takdir: Panggilan dari Kekosongan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Fragmen giok hitam itu terasa panas di telapak tangannya, namun bukan panas seperti api-lebih seperti kehangatan yang merambat dari kedalaman yang tak berujung, seolah-olah benda kecil itu memiliki denyut nadi sendiri. Joko Saputra menatapnya dengan mata yang tak bisa berkedip, sementara Kehampaan di dalam tubuhnya bergemuruh seperti lautan yang terbangun dari tidur panjang. Di sampingnya, Sera Wulan berdiri dengan sikap waspada, rambut peraknya tertiup angin senja yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering.
“Kau yakin ini aman?” tanya Sera, suaranya nyaris berbisik. “Aku tidak tahu apa yang terjadi saat kau menyentuhnya, tapi aku bisa merasakan perubahan di udara. Seperti ada sesuatu yang menatap kita dari balik tirai.”
Joko mengangguk perlahan, jari-jarinya mencengkeram fragmen itu lebih erat. “Ini bukan sekadar benda mati, Sera. Ini... hidup. Atau setidaknya, pernah hidup. Ada kesadaran di dalamnya, seperti gema dari masa lalu yang masih bergema.”
Bisikan di kepalanya kini bukan lagi sekadar desau angin-ia berubah menjadi kata-kata yang samar namun jelas, seperti seseorang yang berbicara dari dasar sumur yang dalam. “Pewaris... kau telah menemukan kuncinya. Namun kunci tanpa pintu hanyalah logam tak berguna. Carilah pintunya di tempat di mana cahaya pertama kali padam.”
Joko mengerjapkan mata, berusaha menangkap makna dari pesan itu. Tempat di mana cahaya pertama kali padam-apakah itu merujuk pada reruntuhan perpustakaan terlarang tempat Sera menemukan fragmen ini? Atau mungkin sesuatu yang lebih dalam, lebih kuno? Ia menoleh ke arah Sera yang masih menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan kekhawatiran.
“Ada apa?” tanya Sera. “Wajahmu berubah.”
“Bisikan itu,” jawab Joko, suaranya serak. “Ia mengatakan sesuatu tentang tempat di mana cahaya pertama kali padam. Mungkin itu adalah petunjuk tentang lokasi bagian lain dari warisan ini.”
Sera menggigit bibir bawahnya, matanya menyipit memikirkan sesuatu. “Aku pernah membaca catatan ayahku tentang sebuah ruang bawah tanah di bawah perpustakaan terlarang, sebuah ruangan yang tidak tercatat dalam peta akademi mana pun. Ayahku menyebutnya ‘Ruang Asal Mula’-tempat di mana para leluhur pertama kali menyembunyikan pengetahuan tentang Void. Mungkin itu yang dimaksud.”
Joko merasakan dadanya berdegup lebih kencang. “Kau tahu cara masuk ke sana?”
“Tidak secara pasti,” Sera mengakui. “Tapi aku punya peta parsial yang ditemukan ayahku. Ia meninggalkannya untukku sebelum... sebelum ia menghilang. Aku belum pernah benar-benar berani menggunakannya, tapi mungkin sekarang adalah waktunya.”
Dari kejauhan, terdengar suara lonceng akademi yang menandai pergantian waktu kultivasi malam. Sepasang burung bangau salju terbang melintasi langit senja yang memerah, sayap mereka memotong awan tipis seperti pisau melalui sutra. Joko menatap fragmen di tangannya sekali lagi, lalu menyimpannya di dalam saku bagian dalam jubahnya, tepat di atas jantung. Benda itu terasa hangat menempel di kulitnya, seperti janji yang menunggu untuk ditepati.
“Kita tidak bisa pergi sekarang,” kata Joko akhirnya. “Malam ini adalah malam sebelum turnamen dimulai. Semua orang akan waspada, termasuk instruktur dan mungkin juga... mata-mata.” Ia melirik ke arah pepohonan cemara di kejauhan, tempat di mana ia yakin melihat sepasang mata merah sebelum Sera datang. “Ada yang mengawasi kita, Sera. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi mereka tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.”
Sera mengikuti arah pandangannya, tangannya secara naluriah bergerak ke gagang pedang pendek di pinggangnya. “Aku juga merasakannya. Sejak beberapa hari terakhir, ada aura asing yang mengintai di sekitar akademi. Bukan murid biasa, mungkin seseorang yang dikirim oleh Penjaga Tatanan Langit.”
“Penjaga Tatanan Langit?” Joko mengulang nama itu dengan rasa penasaran yang bercampur kewaspadaan.
“Organisasi misterius yang bertugas memusnahkan segala jejak Void,” jelas Sera, suaranya menurun hampir menjadi bisikan. “Ayahku pernah bercerita tentang mereka. Mereka percaya bahwa Void adalah ancaman bagi keseimbangan alam semesta, bahwa membiarkan kekuatan itu bangkit akan menyebabkan kehancuran total. Mereka telah memburu pewaris Void selama ribuan tahun, dan mereka tidak akan berhenti sampai semua jejak terhapus.”
Joko merasakan hawa dingin merambati punggungnya. “Jadi, jika mereka tahu tentang fragmen ini, tentang apa yang ada di dalam diriku...”
“Kita harus bergerak dengan sangat hati-hati,” potong Sera. “Turnamen ini mungkin akan menjadi panggung yang sempurna bagi mereka untuk menyerang, karena semua perhatian akan tertuju pada pertarungan.”
Mereka terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Angin malam mulai bertiup lebih kencang, membawa serta aroma tanah dan sedikit bau belerang yang aneh-seperti sesuatu yang terbakar di kejauhan. Joko mengangkat kepalanya, menatap langit yang mulai gelap. Bintang-bintang pertama mulai muncul, namun satu bintang di ufuk barat tampak lebih terang dari yang lain, berkedip-kedip dengan warna merah yang tidak wajar.
“Ada sesuatu yang tidak beres dengan langit malam ini,” gumam Joko.
Sera mengikutinya menatap ke atas. “Itu adalah Bintang Merah Utara. Konon, bintang itu hanya muncul ketika terjadi perubahan besar di dunia kultivasi. Terakhir kali ia muncul adalah seribu tahun yang lalu, saat perang antara Sekte Suci dan para pengikut Void.”
“Perang?” Joko menatapnya. “Aku tidak pernah mendengar tentang itu.”
“Karena semua catatan tentang perang itu telah dimusnahkan,” jawab Sera getir. “Yang tersisa hanyalah legenda yang diwariskan secara lisan. Ayahku pernah mengatakan bahwa perang itu bukan sekadar pertempuran biasa-ia adalah perang yang mengubah struktur Dao itu sendiri. Ribuan kultivator tingkat Transendensi Langit gugur, dan bahkan Penyuatu Dao pun ada yang tewas. Void dianggap sebagai ancaman eksistensial, dan para pemenang memastikan bahwa tidak ada yang akan mengingat kebenaran tentangnya.”
Joko merasakan fragmen di sakunya bergetar, seolah merespons kata-kata Sera. Bisikan di kepalanya kembali, kali ini lebih kuat, lebih mendesak. “Pewaris... waktu semakin sempit. Mereka yang menjaga rahasia kelam telah mengetahui keberadaanmu. Bintang Merah adalah tanda bahwa pintu-pintu takdir mulai terbuka. Kau harus bersiap.”
Joko mengepalkan tangannya, kukunya menusuk telapak tangan hingga hampir berdarah. “Aku tidak akan lari,” katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Sera. “Aku telah diinjak-injak, direndahkan, dan dianggap sampah sepanjang hidupku. Jika ini adalah takdir yang harus kupikul, maka aku akan memikulnya. Aku akan membuktikan bahwa Kehampaan bukanlah kutukan-ia adalah mahkota yang menanti untuk dikenakan.”
Sera tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. “Itulah yang aku takutkan. Keyakinanmu terlalu kuat, Joko. Terkadang, keyakinan yang terlalu kuat bisa menjadi bumerang.”
“Maksudmu?”
“Ayahku juga memiliki keyakinan yang sama,” bisik Sera, suaranya bergetar. “Ia percaya bahwa Void adalah kunci untuk membebaskan dunia dari rantai tatanan yang kaku. Ia percaya bahwa kebenaran harus diungkapkan, apa pun risikonya. Dan pada akhirnya, keyakinan itu yang membawanya pada kehancuran. Ia menghilang suatu malam, meninggalkan aku hanya dengan peta dan catatan yang setengah terbakar. Hingga hari ini, aku tidak tahu apakah ia masih hidup atau telah menjadi korban dari para pemburu.”
Joko menatap Sera, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kerapuhan di balik topeng ketenangan gadis itu. Sera Wulan, yang selalu tampak begitu tenang dan terkendali, ternyata menyimpan luka yang sama dalamnya dengan dirinya. Mereka berdua adalah anak-anak dari rahasia yang terkubur, terikat oleh benang takdir yang sama.
“Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi padaku,” kata Joko lembut namun tegas. “Dan aku tidak akan membiarkanmu kehilangan lebih banyak lagi. Apapun yang ada di dalam ruang bawah tanah itu, apapun yang menanti kita, kita akan menghadapinya bersama.”
Sera menunduk, rambut peraknya menutupi sebagian wajahnya. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, matanya berkaca-kaca, namun tidak ada setetes air pun yang jatuh. “Kau benar. Kita tidak punya pilihan selain maju. Tapi ingat, Joko-jalur Void adalah jalur kesendirian. Mereka yang berjalan di atasnya sering kali kehilangan diri mereka sendiri dalam prosesnya. Jangan biarkan kekuatan itu mengubahmu menjadi monster.”
Joko tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Sera, merasakan kehangatan yang samar namun nyata, sebuah pengingat bahwa meskipun Kehampaan di dalam dirinya terasa begitu luas dan dingin, masih ada secercah cahaya yang menahannya tetap pada kemanusiaannya.
Mereka berpisah di persimpangan jalan menuju asrama, masing-masing tenggelam dalam pikiran masing-masing. Joko berjalan melewati barisan pohon cemara yang berdiri tegak seperti prajurit bisu, dedaunan mereka berbisik dihembus angin malam. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari tidak menentu.
Saat ia hampir tiba di asramanya, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya-tidak samar, sengaja dibuat terdengar. Joko berhenti, namun tidak berbalik. “Keluarlah. Aku tahu kau ada di sana.”
Dari balik rumpun bambu hitam, muncullah sesosok pria jangkung berjubah panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya tersembunyi di balik topeng kayu yang diukir dengan pola aneh-lingkaran-lingkaran yang saling bertautan tanpa ujung atau awal. Matanya, satu-satunya yang terlihat, bersinar merah redup di kegelapan, sama seperti yang Joko lihat sebelumnya di kejauhan.
“Kau lebih waspada dari yang kuduga,” kata pria itu, suaranya serak seperti batu bergesekan. “Namun kewaspadaan saja tidak akan menyelamatkanmu, Pewaris Kehampaan. Aku datang untuk memberimu peringatan terakhir: tinggalkan fragmen itu, lupakan apa yang kau temukan, dan hidupmu akan tetap seperti sebelumnya-hina, namun setidaknya utuh. Jika kau terus menggali rahasia yang seharusnya tetap terkubur, konsekuensinya akan lebih buruk dari kematian.”
Joko menatap pria bertopeng itu tanpa rasa takut. “Siapa kau? Utusan Penjaga Tatanan Langit?”
Pria itu terkekeh, suara tawanya seperti logam berkarat. “Penjaga Tatanan Langit? Mereka hanyalah boneka. Ada kekuatan yang lebih tua, lebih gelap, yang mengawasi keseimbangan alam semesta. Aku hanyalah salah satu dari mereka. Cukup untuk mengatakan bahwa jika kau tidak mengindahkan peringatanku, maka bukan hanya dirimu yang akan binasa-orang-orang di sekitarmu, termasuk gadis berambut perak itu, akan ikut hancur.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Joko merasakan amarah yang murni, amarah yang tidak berasal dari penghinaan atau perasaan rendah diri, tetapi dari kebutuhan untuk melindungi. Kehampaan di dalam tubuhnya bergemuruh, dan tanpa ia sadari, fragmen di sakunya mulai bersinar, memancarkan cahaya hitam yang menyerap semua cahaya di sekitarnya.
“Coba saja,” desis Joko, suaranya berubah menjadi lebih dalam, lebih tua, seolah-olah ada makhluk lain yang berbicara melalui dirinya. “Coba sentuh satu helai rambutnya, dan aku akan menunjukkan kepadamu apa arti sebenarnya dari kehampaan.”
Pria bertopeng itu mundur selangkah, matanya yang merah menyipit. Ada getaran samar-hampir seperti rasa hormat-di balik topengnya. “Menarik. Warisan itu telah meresap lebih dalam dari yang kuduga. Namun jangan berpikir bahwa kau telah menang. Ini baru awal, Pewaris. Aku akan menunggumu di Ruang Asal Mula, jika kau berani datang. Di sana, kau akan melihat sekilas kebenaran yang akan membuatmu merindukan kebodohan masa lalumu.”
Dengan kata-kata itu, pria itu melangkah mundur ke dalam bayangan, dan dalam sekejap, ia menghilang seolah-olah tidak pernah ada. Hanya angin malam yang tersisa, berputar-putar di sekitar Joko, membawa bisikan-bisikan yang tidak bisa ia pahami.
Joko berdiri diam untuk waktu yang lama, jantungnya berdegup kencang, fragmen di sakunya masih hangat menempel di dadanya. Ia menyadari bahwa perjalanannya tidak lagi sekadar tentang turnamen atau membuktikan harga diri. Ada jaringan takdir yang jauh lebih besar, yang mengaitkan hidupnya dengan perang kuno, organisasi misterius, dan warisan yang bisa menghancurkan-atau menyelamatkan-seluruh dunia.
Saat ia akhirnya melangkah masuk ke asramanya, langit di atasnya bergemuruh, dan untuk sesaat, Bintang Merah Utara berkedip tiga kali, seolah-olah memberi kode bahwa sesuatu yang besar akan segera dimulai. Dan Joko, yang pernah dianggap sebagai sampah bermartabat palsu, kini sadar bahwa ia memegang kunci dari sesuatu yang tidak pernah ia minta, namun harus ia lindungi dengan seluruh keberadaannya.
Keesokan paginya, saat matahari terbit di balik puncak-puncak gunung yang berselimut salju, suara gong turnamen bergema di seluruh Akademi Langit Tengah. Ribuan murid berkumpul di arena utama, menantikan pertarungan yang akan menentukan peringkat, sumber daya, dan harga diri. Di tengah kerumunan itu, Joko berdiri dengan mata terpejam, merasakan denyut Kehampaan yang makin kuat, bersiap untuk langkah pertamanya dalam pertarungan yang akan mengubah segalanya.
~ Bab 22 Selesai ~