Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 21
Saat Kegelapan Berbisik: Jejak Pertama Sang Pewaris
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Fajar menyingsing di Akademi Langit Tengah dengan cara yang berbeda pagi ini. Kabut tipis yang biasanya menyelimuti puncak bukit terasa lebih pekat, seolah-olah malam enggan pergi, meninggalkan sisa-sisa kegelapan yang menggantung di antara celah-celah pepohonan cemara. Joko Saputra duduk di tepi ranjang kayu di kamar asramanya yang sempit, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, telapak tangan menghadap ke atas. Ia menatap jemarinya sendiri-bukan dengan kebanggaan, melainkan dengan keheranan yang bercampur ketakutan. Semalam, di puncak bukit, ia telah menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya mungkin terjadi. Bayangan yang ia ciptakan membeku di udara, menyerap cahaya, dan untuk sesaat, ia merasa seolah-olah dirinya bukan lagi bagian dari dunia ini, melainkan sebuah lubang hitam yang menarik segala sesuatu ke dalam pusaran kehampaan.
Getaran halus masih terasa di ujung sarafnya, semacam dengungan listrik yang tidak berwujud namun nyata. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat-ringan karena kehampaan itu seolah meniadakan gravitasi, berat karena ia harus menahan diri agar tidak tenggelam ke dalam jurang yang terus memanggil dari dalam dirinya. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma damar dan tanah basah yang meresap dari celah jendela. Di luar, suara langkah kaki para murid mulai terdengar, bersahutan dengan tawa dan teguran instruktur. Dunia berjalan seperti biasa. Namun Joko tahu, segalanya telah berubah. Ia tidak lagi menjadi sampah yang tak berdaya. Ia menjadi sesuatu yang lain-sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Pintu kamar diketuk tiga kali, dengan irama yang akrab. Bimo Keras muncul dengan wajah cerah khasnya, rambut acak-acakan dan senyum yang tak pernah pudar, meskipun matanya sembab pertanda ia baru saja bangun. "Hei, Joko. Kau sudah bangun sejak kapan? Aku hampir tidak bisa membuka mata, tapi kau sudah duduk seperti patung. Apa kau tidur sama sekali?" tanyanya sambil menggeledah lemari kecil di sudut ruangan, mencari jubah akademi yang kusut. Joko hanya menggeleng pelan, tersenyum tipis. Ia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi semalam-bukan karena tidak percaya pada Bimo, melainkan karena ia sendiri belum sanggup merangkai kata-kata yang mampu menggambarkan pengalaman itu. Kehampaan yang berbicara dalam mimpi, bayangan yang membeku, dan suara entitas purba yang berbisik di batas kesadaran. Semua itu terlalu absurd untuk diungkapkan kepada siapa pun, bahkan kepada sahabatnya sendiri.
"Kau kelihatan lelah," lanjut Bimo sambil meraih sabuk kultivasinya. "Aku dengar hari ini ada sesi latihan meditasi bersama di Aula Timur. Guru Veda akan memimpin. Mungkin kau bisa ikut dan sedikit bersantai. Daripada kau terus-terusan merenung sendirian, lebih baik kau duduk di antara kami dan berpura-pura tenang." Joko menatap Bimo dengan sedikit rasa haru. Di tengah hiruk-pikuk akademi yang penuh penghinaan dan tekanan, Bimo adalah satu-satunya yang masih peduli dengan cara yang tulus, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ia mengangguk, lalu bangkit dari ranjang. "Baik. Aku ikut."
Aula Timur adalah sebuah bangunan melingkar yang terbuat dari batu putih kebiruan, dengan atap setengah terbuka yang memperlihatkan langit abu-abu perak. Di dalamnya, puluhan murid duduk bersila dalam formasi lingkaran konsentris, menghadap ke tengah tempat sebuah altar kecil bertahtakan kristal bening. Guru Veda Sunyi duduk di altar itu dengan kaki bersilang, punggung tegak lurus, mata terpejam. Wajahnya yang keriput tidak menunjukkan usia yang pasti; kadang ia tampak seperti pria sembilan puluh tahun, kadang seperti pemuda empat puluh yang kelelahan. Yang paling mencolok adalah ketiadaan aura Qi di sekelilingnya-sebuah kehampaan yang justru membuatnya menonjol di antara para kultivator yang gemerlap dengan energi. Joko mengambil tempat di lingkaran terluar, bersila dengan hati-hati. Ia meniru postur meditasi yang diajarkan, menutup mata, dan berusaha mengosongkan pikirannya.
Namun, begitu kelopak matanya tertutup, dunia di sekitarnya berubah. Ia tidak lagi mendengar suara napas murid-murid lain atau desir angin yang menyusup dari celah atap. Yang ia dengar hanyalah bisikan-bisikan yang datang dari dalam, dari kedalaman hampa yang mengalir di setiap sel tubuhnya. "Kau telah membuka pintu pertama," kata bisikan itu, bukan dengan suara, melainkan dengan getaran yang langsung menyentuh inti jiwanya. "Sekarang, kau harus belajar berjalan di dalam kegelapan. Jangan takut pada apa yang tidak terlihat. Takutlah pada apa yang mengaku terlihat namun palsu." Joko menggigit bibir bawahnya, berusaha tetap tenang. Ia merasakan Kehampaan di dalam dirinya mulai bergerak, seperti air laut yang pasang, naik perlahan dan siap menelan daratan. Ia sadar bahwa meditasi biasa tidak akan berhasil. Ia harus menghadapi bisikan ini, bukan menolaknya.
"Tenangkan pikirannya, muridku," suara Guru Veda tiba-tiba terdengar jernih, seolah-olah ia berbicara langsung di telinga Joko, meskipun mulut sang guru tidak bergerak. "Jangan melawan apa yang datang. Biarkan ia mengalir. Kau adalah sungai, bukan batu yang menghalangi arus." Joko tersentak. Apakah Guru Veda mengetahui apa yang terjadi di dalam dirinya? Ataukah itu hanya kebetulan-kata-kata bijak yang biasa diucapkan kepada semua murid yang gelisah? Ia tidak yakin. Namun, ia mengikuti nasihat itu. Perlahan, ia melepaskan ketegangan di bahu dan rahangnya. Ia membiarkan Kehampaan itu mengalir, seperti air yang merembes ke dalam pasir. Dan ketika ia melakukannya, sesuatu yang menakjubkan terjadi-ia merasakan keberadaan setiap murid di aula itu sebagai titik-titik cahaya kecil yang berdenyut di lautan gelap. Ada yang terang dan stabil, ada yang redup dan bergetar. Dan di tengah lingkaran, tepat di tempat Guru Veda duduk, ia melihat sesuatu yang lain-sebuah kehampaan yang bukan kosong, melainkan padat, seperti inti bintang yang mati. Guru Veda bukanlah seorang kultivator tanpa kekuatan. Ia adalah sebuah lubang hitam yang menyamar sebagai manusia biasa.
Joko membuka matanya mendadak, napasnya tersengal. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Beberapa murid di dekatnya menoleh heran, tetapi segera kembali memusatkan perhatian pada meditasi mereka. Di altar, Guru Veda masih duduk dengan mata terpejam, tidak bereaksi. Namun, di sudut bibirnya, Joko bisa melihat-hampir tidak terlihat-seulas senyum tipis. Senyum yang mengatakan bahwa ia tahu. Ia tahu segalanya.
Sesi meditasi berakhir satu jam kemudian. Para murid bangkit satu per satu, membentuk kerumunan kecil di luar aula, bergosip tentang turnamen yang akan datang dan tentang murid-murid populer seperti Artha Langit yang baru saja mencapai puncak Kondensasi Qi tingkat ketujuh. Joko berjalan perlahan, masih merasakan sisa-sisa getaran Kehampaan di ujung jarinya. Ia ingin berbicara dengan Guru Veda, mencari jawaban tentang apa yang baru saja ia alami. Namun, ketika ia menoleh ke arah altar, sang guru telah menghilang tanpa jejak. Hanya aroma dupa yang samar, bercampur dengan sesuatu yang lebih berat, seperti logam terbakar.
"Joko!" suara Sera Wulan memanggil dari samping. Gadis berambut perak itu berjalan menghampirinya, jubah akademi berkibar lembut ditiup angin. Mata biru keperakannya tampak tajam, seperti sedang mengamati sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. "Kau kelihatan pucat. Apa yang terjadi di meditasi tadi?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris berbisik. Joko menggeleng, berusaha tersenyum. "Hanya lelah. Kurang tidur." Sera menatapnya lama, lalu menghela napas. "Jangan bohong. Aku juga merasakannya. Getaran aneh saat kau duduk di lingkaran terluar. Seperti... seperti gelombang pasang yang menarik napas dari udara. Aku hampir kehilangan konsentrasi." Joko tertegun. Jadi Sera bisa merasakannya? Ia mengamati gadis di hadapannya dengan lebih saksama. Sera Wulan selalu menjadi misteri-seorang murid dengan afinitas Angin dan Ruang yang dianggap anomali. Mungkin, pikir Joko, mereka memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang ia duga.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Joko akhirnya, jujur. "Tapi aku merasa ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan." Sera mengangguk pelan. "Mungkin kau perlu menemui Guru Veda secara pribadi. Ia adalah satu-satunya instruktur yang tidak pernah mengejek murid tanpa bakat. Dan entah kenapa, aku merasa ia lebih tahu daripada yang ia tunjukkan." Joko mengangguk setuju. Tepat yang ia pikirkan. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara berat dan angkuh terdengar dari belakang. "Hei, Sampah Bermartabat Palsu. Kau masih berkeliaran di sini? Kupikir kau sudah seharusnya bersembunyi di pojokan seperti biasa."
Joko dan Sera menoleh bersamaan. Artha Langit berdiri di ambang pintu aula, dikelilingi oleh tiga pengikut setianya. Wajahnya yang tampan dihiasi senyum sinis, rambut hitam legamnya tergerai rapi di bahu. Api-Petir di kultivasinya membuatnya tampak berkilau-ia seperti dewa kecil di antara manusia biasa. Artha melangkah maju, dan kerumunan di sekitar mereka otomatis membuka jalan. Ia adalah pusat perhatian yang tak terbantahkan. "Aku dengar kau ikut meditasi hari ini. Menarik. Sampah sepertimu pikir meditasi bisa mengubah apa pun?" ledeknya, suaranya terdengar jelas di seluruh area. Beberapa murid tertawa kecil. Yang lain hanya menunduk, tidak ingin terlibat.
Joko berdiri diam, menatap Artha tanpa ekspresi. Di dalam dirinya, Kehampaan bergetar, marah-bukan karena takut, melainkan karena ia merasakan provokasi sebagai sebuah tantangan yang harus dijawab. Namun, ia ingat bisikan dari entitas purba itu: "Kau harus belajar berjalan di dalam kegelapan. Jangan takut pada apa yang tidak terlihat." Jadi, ia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Artha mengerutkan kening. "Apa yang kau senyumkan, Sampah?" tanya Artha, nada suaranya sedikit meninggi.
Sera melangkah maju, berdiri di samping Joko. "Artha, turnamen masih dua minggu lagi. Simpan energimu untuk sesuatu yang lebih berguna daripada mengganggu murid lain," katanya dengan suara datar, namun tajam. Artha mendengus, matanya beralih ke Sera. "Ah, Sera Wulan. Gadis anomali dengan rambut perak. Kau membela sampah ini? Atau mungkin kau juga sama-sama sampah?" ledeknya. Sera tidak terpengaruh. Ia hanya menatap Artha dengan mata dingin, dan untuk sesaat, udara di sekitar mereka terasa sedikit mendingin. Joko bisa merasakan kekuatan Ruang yang samar berdenyut di sekitar Sera, seperti riak air di kolam yang dilempari batu.
Sebelum situasi semakin memanas, lonceng Akademi berbunyi-tanda dimulainya sesi kelas berikutnya. Artha mendengus sekali lagi, lalu berbalik. "Kita selesaikan ini di turnamen, Sampah. Dan kau, Sera Wulan, kuharap kau tidak menyesali pilihanmu." Ia pergi dengan langkah angkuh, diikuti oleh pengikutnya yang berbisik-bisik. Kerumunan mulai bubar, meninggalkan Joko dan Sera di tengah halaman yang mulai sepi.
"Terima kasih," kata Joko pelan. Sera menggeleng. "Tidak perlu. Aku hanya tidak suka melihat orang sombong seperti Artha merasa paling hebat. Lagipula, aku punya urusan sendiri denganmu." Joko menatap heran. "Urusan?" Sera mengangguk, lalu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah fragmen giok kecil, berwarna hitam pekat, hampir menyerap cahaya di sekitarnya. "Aku menemukan ini di reruntuhan perpustakaan terlarang seminggu yang lalu. Ada ukiran kuno di atasnya. Aku tidak bisa membacanya sepenuhnya, tapi ada satu kata yang muncul berulang kali: 'Void'. Dan entah kenapa, saat aku memegangnya, aku merasakan... hubungan denganmu. Seolah-olah fragmen ini mencari sesuatu, dan sesuatu itu ada di dalam dirimu."
Joko mengambil fragmen itu dengan tangan gemetar. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan giok hitam, Kehampaan di dalam tubuhnya melonjak seperti ombak besar. Fragmen itu bersinar redup, dan bisikan di kepalanya tiba-tiba menjadi lebih keras, lebih jelas. "Akhirnya... bagian pertama dari warisan telah ditemukan. Bersiaplah, pewaris. Perjalananmu baru saja dimulai."
Joko menatap Sera, dan di matanya, ia melihat pantulan dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar turnamen akademi-sebuah jejak yang menghubungkan mereka berdua pada takdir yang sama, takdir yang telah lama terkubur di bawah debu sejarah. Dan di kejauhan, dari balik pepohonan cemara yang rimbun, sepasang mata merah kembali memantul, tersenyum tipis, sebelum larut dalam bayangan siang yang tak pernah sepenuhnya terang.
~ Bab 21 Selesai ~