Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 3

Dansa dengan Kegelapan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, di sudut ruangan yang hanya diterangi oleh remang-remang lampu minyak dari dinding, sosok bayangan itu berdiri tanpa suara. Joko Saputra tidak berani bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia bisa merasakan kehadiran itu-bukan sekadar bayangan biasa, melainkan sesuatu yang hidup, yang bernapas, yang menatapnya dengan mata-mata yang tak kasat mata. Pecahan giok di dalam jubahnya berdenyut lebih cepat, seolah-olah bernyanyi dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh kekosongan.

Ruangan perpustakaan terlarang itu tiba-tiba terasa lebih dingin. Udara di sekeliling Joko seperti mengental, menjadi semacam cairan hitam pekat yang merayap di kulitnya. Ia bisa mendengar suara desisan halus, seperti angin yang berbisik melalui celah-celah kehidupan. Sosok itu tidak bergerak, namun Joko merasa bahwa ia sedang ditarik ke dalam pusaran sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dunia fisik. Di dalam dadanya, kehampaan mulai bergemuruh-bukan dalam bentuk suara, melainkan getaran yang merambat ke setiap sel tubuhnya.

"Kau... kau bukan sekadar bayangan biasa, bukan?" bisik Joko, suaranya nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri. Namun, entah bagaimana, ia tahu bahwa makhluk itu mendengarnya. Sosok itu sedikit miring, seolah mengangguk, lalu perlahan mulai mengambil bentuk yang lebih jelas. Dari kegelapan yang tak berbentuk, muncullah siluet seorang manusia-tinggi, kurus, dengan jubah panjang yang tampak terbuat dari kabut hitam. Wajahnya tidak terlihat, hanya ada dua titik merah menyala di mana seharusnya mata berada.

"Aku telah menunggumu, pewaris Kehampaan," suara itu bergema, bukan dari arah sosok, melainkan dari segala penjuru ruangan. Ia seperti bisikan seribu hantu yang berbicara serempak. Joko menggigil, namun rasa takutnya bercampur dengan keingintahuan yang tak terkendali. Ia telah hidup dalam kehinaan terlalu lama. Sekarang, di hadapannya, berdiri sesuatu yang mungkin memegang kunci jawaban atas semua penderitaannya.

"Siapa kau?" tanya Joko, berusaha menstabilkan suaranya. "Dan apa hubunganmu dengan pecahan giok ini?" Ia meraih giok di dadanya, merasakan denyut hangat yang aneh-bukan panas, melainkan kehangatan yang berasal dari kekosongan itu sendiri.

Sosok itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia mengangkat satu tangan-jika itu bisa disebut tangan-dan dari telapaknya, muncullah pusaran energi hitam pekat. Pusaran itu berputar perlahan, menyerap cahaya di sekitarnya, membuat ruangan semakin gelap. Joko merasa seolah-olah waktu melambat. Debu-debu di udara berhenti melayang. Api lampu minyak membeku dalam bentuk lidahnya. Segalanya menjadi hening, sunyi, seperti momen sebelum alam semesta tercipta.

"Aku adalah gema dari yang pertama," suara itu melanjutkan. "Sebelum elemen lahir, sebelum Dao diucapkan, hanya ada Kekosongan. Dan aku adalah bagian dari Kekosongan itu yang tersisa. Pecahan giok yang kau temukan bukanlah sekadar batu-ia adalah jendela menuju asal-usul segala sesuatu. Dan kau, Joko Saputra, adalah satu-satunya yang bisa membuka jendela itu. Tubuhmu... tubuhmu adalah kanvas yang sempurna."

Joko merasakan campuran antara ketakutan dan kebanggaan. Selama ini ia dikutuk, dihina, direndahkan karena tubuhnya yang tak bisa menyerap Qi. Namun, di hadapan entitas ini, kelemahannya justru menjadi kelebihan. Ia adalah satu-satunya yang bisa mendengar panggilan Kekosongan. Namun, pertanyaan besar masih menggelayuti pikirannya: apa harga yang harus dibayar?

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Joko dengan hati-hati. Ia sudah cukup lama hidup di dunia kultivasi untuk mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang gratis. Setiap kekuatan datang dengan beban, setiap pengetahuan dengan risiko.

Sosok itu mendekat, dan Joko bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menyelimutinya. Titik merah di wajahnya berpendar lebih terang. "Aku tidak menginginkan apa pun," jawabnya. "Aku hanya ada. Namun, kau yang membutuhkanku. Kekuatan yang kau cari tidak akan kau dapatkan dari teknik kultivasi biasa. Elemen-elemen dunia ini terlalu kecil untuk menampungmu. Hanya Kekosongan yang bisa memberimu apa yang kau inginkan-balas dendam, pengakuan, kejayaan. Tapi ingat, setiap langkah di jalan ini akan mengubahmu. Kau tidak akan pernah menjadi manusia yang sama lagi."

Joko menelan ludah. Pikirannya berputar cepat. Ia teringat pada semua penghinaan yang ia terima: tatapan sinis murid-murid bintang, cemoohan instruktur, bahkan pengabaian dari keluarganya sendiri. Ia ingat saat ia dipaksa membersihkan toilet para murid elit, saat ia dipukuli di halaman akademi tanpa ada yang membela, saat ia harus menerima makanan sisa karena tidak punya status. Semua itu membara di dadanya seperti api yang tak pernah padam.

"Aku tidak peduli," katanya akhirnya, suaranya tegas. "Aku sudah hidup dalam kegelapan terlalu lama. Jika Kekosongan adalah satu-satunya yang bisa memberiku cahaya, maka aku akan merangkulnya."

Sosok itu diam sejenak. Udara di sekitar Joko bergetar, dan kemudian, tanpa peringatan, bayangan itu menghilang. Ruangan kembali terang, lampu minyak menyala normal, debu kembali melayang. Seolah-olah tidak pernah ada apa pun. Namun, di dalam dada Joko, pecahan giok itu berdenyut lebih kencang, dan di dalam pikirannya, terukir sebuah kalimat: "Mulailah dari yang paling dasar. Kosongkan dirimu dari segala sesuatu yang kau ketahui. Hanya dengan menjadi hampa, kau bisa mengisi segalanya."

Joko terduduk lemas di lantai. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia baru saja berbicara dengan sesuatu yang berada di luar pemahaman manusia. Namun, alih-alih takut, ia merasakan sesuatu yang lain-sebuah kegembiraan yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki tujuan yang jelas. Ia tidak lagi menjadi sampah yang tak berguna. Ia adalah pewaris Kekosongan.

Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia duduk di sudut asramanya yang sempit, memegang pecahan giok di tangannya, dan mencoba memahami apa yang dimaksud dengan "mengosongkan diri". Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha melupakan semua teknik kultivasi yang pernah ia pelajari-karena semuanya sia-sia. Ia harus memulai dari awal, dari ketiadaan.

Butuh waktu berjam-jam, namun perlahan, ia mulai merasakan sesuatu. Di dalam tubuhnya, di titik di mana meridian seharusnya berada, ia merasakan ruang kosong yang luas-seperti lautan tanpa batas. Dan di dalam kekosongan itu, muncullah secercah cahaya hitam. Bukan hitam yang gelap, melainkan hitam yang menyerap segala warna, yang menjadi induk dari segala warna. Cahaya itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya, dan Joko tahu bahwa inilah awal mula segalanya.

Ia membuka mata. Tangannya gemetar. Kekuatan baru mengalir di dalam dirinya-meskipun masih sangat lemah, namun ia bisa merasakannya. Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa masa depannya tidak lagi gelap.

Keesokan paginya, Joko bangun dengan semangat baru. Ia melangkah ke luar asrama dengan langkah yang lebih mantap. Namun, begitu ia memasuki halaman akademi, suara-suara familiar kembali menyapa telinganya. "Lihat, si sampah datang!" teriak seseorang dari kejauhan. Joko menoleh dan melihat sekelompok murid-dipimpin oleh seorang pemuda berjubah biru dengan lambang api di dada-berjalan ke arahnya. Pemuda itu adalah Bayu Cakrawangsa, murid bintang dari Kelas Elemen Api, yang terkenal karena kekejamannya terhadap mereka yang lemah.

"Joko Saputra, kau masih berani muncul?" ejek Bayu, diiringi tawa para pengikutnya. "Kukira kau sudah kabur setelah dipermalukan di hari pembukaan. Atau mungkin kau memang tidak punya harga diri?"

Joko diam. Hatinya berteriak untuk membalas, namun ia menahan diri. Ia ingat kata-kata entitas itu: "Kosongkan dirimu." Kemarahan adalah bentuk pengisian. Ia harus belajar untuk menjadi hampa. Ia menatap Bayu dengan tenang, tanpa ekspresi.

Bayu tampak terkejut karena tidak mendapatkan reaksi yang diharapkan. Ia mendekat, dan tanpa peringatan, melayangkan tinju yang dibalut Qi api ke arah perut Joko. Serangan itu cukup kuat untuk membuat seorang kultivator tingkat rendah pingsan. Joko bisa merasakan panasnya mendekat, namun sesuatu di dalam dirinya bereaksi. Tanpa sadar, ia menggerakkan tangannya-bukan untuk memblokir, melainkan untuk membuka telapak tangan di depan tinju Bayu.

Yang terjadi selanjutnya membuat semua orang terkesiap. Tinju Bayu yang penuh dengan Qi api seolah tersedot ke dalam telapak tangan Joko. Api itu lenyap, tidak meninggalkan jejak, seolah-olah ditelan oleh kekosongan. Bahkan Bayu sendiri kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Ia menatap tangannya yang kosong dengan ekspresi tidak percaya.

"Apa... apa yang kau lakukan?" tuntut Bayu, matanya membelalak.

Joko sendiri terkejut. Ia tidak sengaja menggunakan kemampuannya. Namun, ia segera menyembunyikan keterkejutannya dan menggantinya dengan senyum tipis. "Mungkin kau harus lebih hati-hati dengan seranganmu, Seniormu. Api yang kau lepaskan tidak cukup kuat bahkan untuk membakar sampah," katanya, suaranya tenang namun menusuk.

Bayu memerah karena marah. Namun, sebelum ia bisa bertindak lebih jauh, bel tanda masuk kelas berbunyi. Ia menatap Joko dengan tatapan penuh kebencian, lalu berbalik pergi sambil menggertakkan gigi. Para pengikutnya mengikuti dengan ragu-ragu.

Joko berdiri di tempat, merasakan denyut di dadanya. Ia baru saja menggunakan kekuatan Kekosongan di depan umum. Ini berbahaya. Jika ada instruktur yang melihat, mereka pasti akan curiga. Namun, di sisi lain, ia juga merasakan kepuasan yang mendalam. Untuk pertama kalinya, ia tidak menjadi korban. Untuk pertama kalinya, ia membuat musuhnya mundur.

Ia mengepalkan tangan. "Ini baru permulaan," bisiknya pada diri sendiri.

Namun, di sudut lain halaman, di balik bayangan pohon kuno, dua mata merah menyala mengawasi semuanya. Sosok bayangan itu tersenyum-meskipun tidak ada mulut, Joko bisa merasakan senyum itu. Dan di dalam pikirannya, sebuah bisikan kembali terdengar: "Kau telah mengambil langkah pertama, pewaris Kekosongan. Namun, ingatlah: jalan ini penuh dengan mereka yang ingin menghentikanmu. Dan yang lebih berbahaya, mereka yang ingin memanfaatkanmu."

Joko menoleh, tetapi tidak melihat apa pun. Angin bertiup, membawa dedaunan kering berputar di udara. Ia menghela napas, lalu melangkah menuju kelas. Di balik bahunya, dunia seolah berbisik-bahwa pertempuran sejati baru akan dimulai, dan bahwa di dalam kehampaan, tersembunyi rahasia yang bisa mengguncang fondasi seluruh Kontinen Langit Sembilan. Dan Joko Saputra, pemuda yang lahir dengan kutukan, akan menjadi pusat dari semua itu.

~ Bab 3 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai