Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 20
Gema Pertama dari Jurang: Saat Kehampaan Menggenggam Dunia
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam itu, langit di atas Akademi Langit Tengah terhampar seperti samudra hitam yang tak berujung, dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelip bagai mata-mata kosmik yang mengawasi setiap langkah Joko Saputra. Ia duduk di sudut barak tempat tinggalnya yang kumuh, sebuah ruangan sempit dengan dinding kayu lapuk yang berbau apek dan lembab. Di luar, suara tawa para murid lain masih terdengar samar-mereka sedang berpesta merayakan kenaikan peringkat salah satu senior. Bagi Joko, tawa itu adalah belati yang terus menikam, mengingatkan bahwa ia adalah sampah yang tak layak untuk bersinar. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Di dalam dadanya, tepat di pusat meridian yang hancur itu, sesuatu berdetak-tidak dengan debaran jantung, melainkan dengan denyut kehampaan yang dingin dan purba.
Joko memejamkan mata, mencoba merasakan kembali jejak kesadaran yang sempat berbicara padanya di reruntuhan perpustakaan. Suara itu tidak lagi terdengar jelas, namun getarannya masih terpatri dalam jiwanya, seperti gema lonceng yang telah lama berdentang namun gaungnya tak kunjung padam. Ia menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya sejak upacara pembukaan meridian yang malang itu, ia mencoba melakukan meditasi kultivasi. Bukan untuk menyerap Qi-karena ia tahu tubuhnya tidak bisa-tetapi untuk mendengar lebih dalam apa yang ada di dalam kekosongannya.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada perubahan. Barak tetap sunyi, hanya angin malam yang berdesir di sela-sela celah dinding. Joko hampir menyerah ketika tiba-tiba ia merasakan sensasi aneh-seolah ruang di sekelilingnya melipat, memampat, lalu mengembang kembali. Matanya terbuka lebar. Udara di depannya berkilauan seperti kaca yang retak, dan dari celah-celah retakan itu, kabut ungu kehitaman mulai merembes keluar. Kabut itu tidak hangat, tidak dingin-ia adalah ketiadaan suhu, ketiadaan rasa, ketiadaan segala sesuatu yang dikenal oleh indra manusia. Dan di dalam kabut itu, samar-samar, Joko melihat bayangan: sosok tinggi kurus dengan mahkota duri yang menghiasi kepalanya, mata yang bukan mata melainkan dua pusaran kegelapan, dan senyuman yang seolah mengatakan bahwa ia telah menunggu selama ribuan tahun untuk momen ini.
"Kau mendengar panggilanku," suara itu bergema bukan di telinga, melainkan langsung di dalam pikirannya. "Tapi mendengar saja tidak cukup. Kau harus percaya. Kau harus menerima. Atau kau akan binasa seperti debu yang terbakar oleh cahaya palsu."
Joko merasakan tenggorokannya kering. Ia ingin berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Sebaliknya, rasa hangat-atau sesuatu yang mirip hangat-menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. Ia melihat tangannya sendiri mulai memancarkan cahaya ungu redup, seperti bara api yang membara di bawah lapisan abu. Rasa takut, heran, dan kegembiraan bercampur aduk dalam satu pusaran emosi yang sulit dijelaskan. Selama bertahun-tahun ia dihina karena tubuh kehampaannya, dan kini tubuh yang sama itu mulai merespons dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Ia tidak menyerap Qi-ia menelannya, atau lebih tepat, ia membiarkan Qi masuk dan kemudian ia menghancurkannya, mengubahnya menjadi energi kekosongan yang murni dan liar.
"Jangan melawan," bisik suara itu pelan, hampir seperti desahan ibu yang menenangkan anaknya yang ketakutan. "Biarkan kekosongan mengalir. Biarkan ia menari dalam diam. Biarkan ia mengingatkanmu bahwa kau bukanlah ketiadaan-kaulah yang menaungi segala ketiadaan."
Namun sebelum Joko sempat tenggelam lebih dalam ke dalam pengalaman itu, pintu barak tiba-tiba terbuka dengan suara keras. Seorang murid senior bertubuh kekar dengan jubah hijau-lambang peringkat Inti Bumi-melangkah masuk, diikuti oleh dua murid lainnya. Wajahnya penuh dengan kebencian dan olok-olok yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Joko. Ia adalah Damar Wiraguna, murid yang paling sering mempermalukan Joko di depan umum, dan kini ia datang untuk mencari hiburan malam.
"Hei, sampah! Masih hidup?" Damar tertawa, lalu melangkah mendekat. "Kedengarannya kau bicara sendiri. Sudah gila karena terlalu sering bermimpi menjadi kultivator, ya?"
Joko buru-buru menekan energi ungu yang mulai memancar dari tangannya, namun terlambat. Damar melihatnya. Sorot matanya berubah dari olok-olok menjadi curiga. "Apa itu?" tanyanya, suaranya tiba-tiba serius. "Cahaya di tanganmu? Jangan-jangan kau mencuri artefak dari gudang akademi?"
Tanpa menunggu jawaban, Damar melayangkan tendangan ke arah lutut Joko. Sebuah serangan rendah yang biasanya akan membuat Joko terjerembab dalam rasa sakit. Namun kali ini, sesuatu terjadi. Saat kaki Damar hendak menyentuh lutut Joko, seolah-olah ruang di antara mereka mengembang. Tendangan itu meleset-bukan karena Joko menghindar, melainkan karena kekosongan di sekelilingnya seakan menolak untuk disentuh. Damar terhuyung, hampir jatuh, dan kedua temannya terbelalak.
"Apa?" Damar menggeram, matanya memerah karena malu di depan teman-temannya. Ia mengumpulkan Qi di telapak tangannya, menciptakan bola api merah yang berdenyut-denyut dengan kekuatan. "Kau berani melawan, sampah? Akan kubakar kau hingga menjadi abu!"
Bola api itu melesat ke arah Joko, dan insting bertahan hidup membuat Joko mengangkat kedua tangannya secara refleks. Ia tidak punya teknik, tidak punya mantra, tidak punya apa pun selain keyakinan buta pada apa yang baru saja ia rasakan. Dan saat bola api itu menyentuh telapak tangannya, keajaiban terjadi. Api itu tidak meletup, tidak membakar, tidak juga memantul. Api itu lenyap-seolah ditelan oleh lubang hitam mikroskopis yang tiba-tiba muncul di ujung jari Joko. Ruangan menjadi gelap sesaat, bahkan cahaya dari lentera minyak di sudut tampak meredup, seakan semua cahaya di dunia ini enggan bersinar di hadapan kehampaan.
Damar dan kedua temannya mundur beberapa langkah, wajah mereka pucat pasi. "A-apa yang kau lakukan?" Damar berteriak, suaranya berubah menjadi cempreng. "Ini sihir hitam! Kalian lihat itu? Dia menggunakan ilmu terlarang!"
Joko menatap tangannya sendiri dengan tidak percaya. Energi yang baru saja ia telan terasa berdenyut di dalam meridiannya, seperti sungai bawah tanah yang mencari jalan keluar. Ia bisa merasakan api itu masih ada-bukan sebagai panas, melainkan sebagai memori, sebagai pengetahuan, sebagai potensi yang kini menjadi miliknya. Ia tidak menghancurkan api itu; ia mengubahnya, menyerap esensinya, dan sekarang api itu adalah bagian dari dirinya.
"Pergi!" suara Joko keluar lebih dalam dari biasanya, ada gema aneh yang membuat kata-katanya terasa berat. "Atau aku akan menunjukkan lebih banyak lagi."
Damar yang biasanya angkuh kini gemetar. Ia menatap Joko dengan campuran takut dan benci, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia dan kedua temannya berlari keluar dari barak, meninggalkan pintu yang terbuka lebar. Angin malam masuk, membawa suara jangkrik dan bisikan dedaunan. Joko berdiri sendiri di tengah ruangan, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya.
Ia baru saja melakukan sesuatu yang mustahil. Seorang kultivator bertubuh kehampaan, yang dianggap tidak memiliki bakat, berhasil membatalkan serangan teknik api tingkat menengah. Bukan hanya membatalkan-ia menelannya. Dan di dalam dirinya, sesuatu yang telah lama terkubur mulai terjaga. Desiran halus, seperti angin yang berbisik di dasar jurang, terus menggema di benaknya. Ia merasakan kegembiraan yang meluap, namun juga ketakutan yang tak kalah besarnya. Jika dunia tahu apa yang baru saja ia lakukan, ia tidak akan dianggap sampah lagi-ia akan dianggap monster, ancaman yang harus dimusnahkan sebelum terlalu kuat.
Tiba-tiba, dari luar jendela, Joko melihat kilatan cahaya ungu di langit. Bintang yang sempat meledak dalam ramalan lelaki tua buta itu kini bersinar lebih terang, dan seolah menuntun matanya ke suatu arah: ke puncak bukit di timur akademi, tempat sebuah kuil kecil berdiri di antara pepohonan kuno. Joko merasa ada panggilan-lebih kuat dari sebelumnya, lebih jelas, seperti tali tak kasat mata yang menariknya keluar dari barak.
Ia mengenakan jubah lusuhnya dengan cepat, melangkah pelan-pelan meninggalkan barak yang kini terasa seperti kandang yang terlalu sempit. Langkahnya mantap, meski tanah di bawah kakinya mulai bergetar, seakan bumi sendiri merasakan kehadirannya. Ia berjalan melewati gerbang akademi yang dijaga oleh dua patung singa batu, yang matanya seolah menyala ungu sesaat saat ia lewat. Tanpa sadar, jejak kakinya meninggalkan bekas hangus di rerumputan-bukan karena api, melainkan karena kehampaan yang mengeringkan kehidupan di sekitarnya.
Di puncak bukit, kuil itu tampak tua dan ditinggalkan. Lumut menutupi dinding batu, dan atap gentingnya sebagian telah runtuh. Namun di dalamnya, tepat di tengah lantai, tergores sebuah lingkaran besar dengan simbol-simbol yang tidak dikenal Joko. Lingkaran itu berkilauan samar, seolah baru saja digunakan. Di tengah lingkaran, tergenggam sebuah gulungan kuno yang tampak tidak tersentuh debu.
Joko mengambil gulungan itu dengan hati-hati. Saat ia membukanya, bukan aksara yang terlihat, melainkan sebuah gambar-sebuah mata yang terbuka, dengan pupil berbentuk spiral hitam dan putih. Mata itu seolah menatap langsung ke jiwanya, dan Joko merasakan getaran yang begitu kuat hingga lututnya gemetar. Di bawah gambar itu, perlahan, huruf-huruf mulai muncul dengan sendirinya, terbentuk dari bayangan yang menari-nari:
"Langkah pertama telah kau ambil. Kekosongan telah menerima sentuhanmu. Tapi ingat, kekuatan tanpa disiplin adalah api yang membakar pemiliknya. Kembalilah ke perpustakaan terlarang saat bulan purnama ketiga. Di sana, di ruang yang tidak terlihat oleh mata biasa, kau akan menemukan guru sejatimu. Atau kau akan menemukan kematian. Hanya satu yang kau pilih: terus maju, atau tenggelam dalam kehampaan yang kau panggil."
Gulungan itu tiba-tiba terbakar dengan sendirinya, api ungu yang tidak meninggalkan abu, hanya menghilang ke udara. Joko menatap sisa-sisa api itu, lalu mengepalkan tangannya. Dunia yang selama ini merendahkannya kini gemetar di hadapannya. Tapi ia belum siap. Ia harus belajar lebih banyak. Ia harus menguasai kehampaan ini sebelum ia menghancurkan dirinya sendiri-atau sebelum para tetua akademi mencium kekuatan aneh yang mulai bersemi di dalam tubuh sampah yang mereka anggap tak bernilai.
Dari kelebatan pohon di kejauhan, sepasang mata merah mengawasi. Sosok itu bersandar pada batang pohon cemara, jubah hitamnya menyatu dengan malam. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan gigi yang sedikit runcing. "Akhirnya... pewaris sejati mulai melangkah. Tapi apakah ia akan menjadi dewa atau kehancuran?" desisnya pelan, lalu menghilang dalam pusaran kegelapan, meninggalkan hanya aroma belerang tipis yang segera diterbangkan angin malam.
Joko tidak menyadari bahwa ia telah menjadi pusat permainan catur yang jauh lebih besar dari sekadar turnamen akademi. Di balik layar, kekuatan-kekuatan kuno-baik yang berasal dari alam kultivasi maupun dari jurang yang lebih dalam-mulai bergerak. Dan di puncak bukit itu, di bawah gemerlap bintang ungu yang semakin terang, Joko Saputra, si sampah yang dianggap tak memiliki masa depan, membuka pintu pertama menuju takdir yang akan mengguncang fondasi dunia.
~ Bab 20 Selesai ~