Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 18
Pengejaran di Bawah Cahaya Bulan: Pertempuran Pertama Sang Penguasa Kehampaan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Reruntuhan perpustakaan itu terhampar bagai kuburan raksasa yang menelan cahaya. Pecahan batu, buku-buku lapuk, dan debu berabad-abad bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan singkat. Namun di tengah kehancuran itu, Joko Saputra berdiri dengan tubuh yang terasa lain. Segel hitam di punggung tangan kanannya bukan sekadar tinta-ia adalah pintu yang baru saja terbuka, menghubungkan jiwanya dengan samudra Kehampaan yang tak berdasar. Setiap napas yang ia hirup kini membawa sensasi baru: ia bisa merasakan denyut Qi di udara, getaran kecil dari setiap makhluk hidup di sekitarnya, bahkan bisikan angin yang menyusup di antara celah-celah reruntuhan.
Namun kegembiraan itu hanya bertahan sekejap. Langkah kaki di luar reruntuhan bukanlah satu, melainkan tiga-tepat, terukur, dan dipenuhi niat yang jelas. Joko menoleh ke arah pintu masuk yang runtuh sebagian. Tiga bayangan memanjang di bawah sinar bulan purnama, memantul di dinding batu yang lembap. Sosok pertama bertubuh tinggi kurus, dengan jubah hitam panjang yang nyaris menyapu tanah. Sosok kedua lebih gempal, dengan tangan yang memegang pedang pendek. Dan sosok ketiga yang paling mengintimidasi: seorang pria bertopeng perak dengan ukiran naga melingkar di dahinya. Ia berjalan paling depan, dan saat ia bicara, suaranya seperti batu bergesekan dengan besi. "Jadi ini dia anak itu... Penguasa Kehampaan palsu. Tampaknya ramalan itu benar. Kita harus menangkapnya sebelum dia benar-benar terbangun."
Joko tidak bergerak. Ia hanya menatap mereka dengan sorot mata yang tenang-ketenangan yang lahir dari kekosongan jiwa yang telah berulang kali dihancurkan dan kini mulai merekat kembali. Ia ingat betul bagaimana ia dijuluki sampah, bagaimana instruktur menertawakannya, bagaimana teman-temannya menjauh. Namun kini ia merasakan sesuatu yang baru: bukan amarah, bukan dendam, melainkan semacam pengertian yang dalam. Kekuatan yang mengalir di nadinya bukanlah Qi, melainkan sesuatu yang lebih purba-ia bisa merasakannya sebagai kehampaan yang menanti untuk diisi.
"Kalian salah," kata Joko lirih, suaranya nyaris hilang dalam desahan angin malam. "Aku bukan penguasa palsu. Aku tidak memilih menjadi ini. Tapi jika kalian datang untuk menangkapku, kalian harus melewati tubuhku lebih dulu." Ia mengangkat tangan kanannya, dan segel hitam itu berpendar lebih terang-cahaya gelap yang menyerap bukan memancarkan, seperti lubang hitam kecil di punggung tangannya.
Pria bertopeng perak tertawa, tawa yang dingin dan tanpa humor. "Keberanian seorang anak yang tak tahu apa-apa. Kekuatan Void memang legenda, tapi kau baru saja membuka segel pertama. Tubuhmu belum siap. Jiwa pribumimu bahkan belum terbiasa dengan kegelapan. Serahkan dirimu, dan kami akan membimbingmu dengan cara yang benar." Ia melangkah maju, dan aura Qi yang keluar dari tubuhnya seperti gelombang panas yang menyapu reruntuhan. Joko merasakan tekanan itu-tekanan dari seorang kultivator di tahap Inti Emas, mungkin bahkan lebih tinggi. Dua sosok di belakangnya juga mulai mengeluarkan aura mereka, masing-masing setidaknya di tahap Pembentukan Dasar tingkat puncak.
Namun daripada takut, Joko justru merasakan getaran di dalam dirinya-Kehampaan merespons ancaman itu sebagai makanan. Ia merasa seperti ada mulut raksasa di dadanya yang terbuka lebar, menanti untuk menelan. Ia belum tahu cara mengendalikannya, tapi instingnya berkata bahwa ia harus bergerak.
Sosok gempal yang membawa pedang pendek menyerang lebih dulu. Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk tubuhnya, ia melesat seperti anak panah, pedangnya berkilauan dengan Qi api. Tebasan itu membelah udara, meninggalkan jejak panas yang membuat debu di sekitarnya terbakar. Joko tidak punya waktu berpikir. Ia hanya mengangkat tangan kirinya secara refleks, dan di depannya terbentuk perisai tipis-bukan dari Qi, melainkan dari kehampaan yang memadat. Pedang itu menabrak perisai, dan yang terjadi adalah sesuatu yang tak terduga: api di pedang itu lenyap begitu saja, seperti ditelan lubang tak terlihat. Pedangnya sendiri berhenti, seolah mengenai tembok baja. Sosok gempal itu terhenyak, matanya membelalak tak percaya.
"Apa?!" pekiknya. Ia mencoba menarik pedangnya, tapi perisai kehampaan seolah menempel, menyerap energi dari senjatanya. Joko merasakan aliran energi asing masuk ke tubuhnya-panas, liar, tapi segera diredam oleh Kehampaan. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah menyerapnya. Ia tidak mengerti mekanismenya, tapi ia tahu bahwa ia bisa melakukan ini.
Pria bertopeng perak mendesis, "Dia sudah bisa menyerap Qi? Mustahil! Tubuh Kehampaan Mutlak seharusnya butuh waktu berbulan-bulan untuk stabilisasi!" Ia melirik sosok kurus di sampingnya. "Kau, gunakan teknik pengikat jiwa. Cepat!"
Sosok kurus itu mengangguk. Ia mengangkat kedua tangannya, dan dari telapak tangannya keluar rantai-rantai Qi berwarna ungu-rantai yang terbuat dari energi jiwa, bukan elemen biasa. Rantai itu melesat seperti ular, mencoba melilit Joko. Joko mencoba menghindar, tapi rantai itu bergerak terlalu cepat. Satu lilitan mengenai pergelangan kaki kanannya, dan seketika ia merasa seperti ada ribuan jarum menusuk jiwanya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tersentak. Namun di saat yang sama, segel di punggung tangannya bersinar lebih gelap, dan rantai ungu itu mulai menggeliat-bukan menguat, melainkan melemah. Kehadiran Void di tubuhnya mulai mencerna rantai jiwa itu, seolah ia adalah predator yang memakan energi itu sendiri.
Sosok kurus itu memekik, wajahnya pucat pasi. "Dia... dia memakan teknikku! Kekuatan jiwaku berkurang!"
Pria bertopeng perak mengambil keputusan. Ia sendiri yang maju. Dengan kecepatan yang tak terlihat, ia sudah berada di depan Joko dalam sekejap. Tangannya yang bersarung hitam mencengkeram leher Joko, dan aura Inti Emas yang pekat menekan seluruh tubuh Joko. "Cukup," katanya dengan suara yang bergetar, marah namun juga penuh kekaguman. "Kau lebih berbahaya dari yang kukira. Segel pertama baru saja terbuka, tapi kau sudah bisa mengendalikan penyerapan? Mungkin ramalan itu benar-benar akan terwujud. Kita tidak bisa membiarkanmu bebas."
Joko tercekik, napasnya tersengal. Namun di dalam dadanya, Kehampaan justru semakin bergolak. Ia bukan hanya merasakan tekanan dari cengkeraman itu-ia juga merasakan Qi murni dari tubuh pria itu, dan tubuhnya seperti lapar. Tanpa sadar, ia meletakkan tangan kanannya di lengan pria itu. Segel hitam menyentuh kulitnya, dan seketika terjadi sesuatu yang mengerikan.
Qi Inti Emas pria itu mulai mengalir deras ke dalam tubuh Joko, seperti air sungai yang tersedot ke dalam pusaran raksasa. Pria bertopeng perak menjerit, melepaskan cengkeramannya dan melompat mundur. Namun aliran Qi tidak berhenti-ia terus tersedot melalui segel yang masih menempel di lengannya. Pria itu terhuyung, wajahnya di balik topeng perak terlihat ketakutan. "Hentikan! Hentikan!" teriaknya.
Joko juga terkejut. Ia tidak sengaja mengaktifkan kemampuan ini. Ia panik, mencoba menarik tangannya kembali, tapi segel seolah memiliki kemauan sendiri. Energi Qi Inti Emas terus mengalir masuk, dan Joko merasakan tubuhnya mulai kewalahan. Kekuatan itu terlalu besar untuk ditampung dalam waktu singkat-tubuhnya yang masih rapuh belum siap menerima lonjakan energi sebesar itu. Pembuluh darah di sekujur tubuhnya terasa seperti ingin pecah.
"Kau akan mati jika terus begini!" teriak sosok gempal yang pedangnya telah kehilangan api.
Joko sadar ia harus menghentikan ini. Dengan sisa kesadaran, ia memotong arus Qi dengan paksa-ia membayangkan sebuah dinding di dalam pikirannya, menutup pintu segel. Segel hitam itu berdenyut sekali lalu padam. Aliran berhenti. Pria bertopeng perak jatuh berlutut, napasnya memburu, kultivasinya turun drastis-setidaknya satu sub-tahap hilang disedot oleh Joko.
Joko sendiri terhuyung mundur, bersandar pada pilar reruntuhan yang hampir roboh. Tubuhnya panas dan dingin bergantian. Di dalam nadinya, energi asing mengamuk, berusaha mencari tempat untuk diredam. Namun Kehampaan di dalam dirinya mulai bekerja, menyerap kelebihan energi itu, menyimpannya ke dalam ruang hampa di inti jiwanya. Ia merasa mual, tapi juga lebih kuat.
Pria bertopeng perak berdiri dengan susah payah. Matanya di balik topeng perak memancarkan campuran kemarahan dan rasa hormat. "Kau... kau benar-benar memiliki potensi untuk menjadi ancaman yang disebut dalam ramalan." Ia menatap Joko dengan intensitas yang membuat bulu kuduk meremang. "Ramalan Langit Tua mengatakan bahwa ketika Segel Kehampaan Pertama terbuka, seorang anak yang lahir dari kegelapan akan bangkit, dan ia akan menjadi awal dari kehancuran tatanan lama. Aku pikir itu hanya metafora. Tapi sekarang kau di sini, nyata, dan kau baru saja menyerap sebagian Qi-ku."
Joko mengatur napas, suaranya serak, "Ramalan macam apa itu? Aku hanya ingin hidup tenang! Aku tidak ingin menjadi ancaman!"
"Kau tidak punya pilihan," potong pria itu. "Dunia kultivasi tidak akan pernah membiarkanmu tenang. Tubuh Kehampaan Mutlak adalah kutukan sekaligus berkah. Jika kau terus berkembang, kau bisa menjadi penguasa yang melampaui semua elemen-atau kau bisa menjadi monster yang melahap segalanya. Para tetua di Sekte Suci pasti akan mencarimu begitu berita ini menyebar. Akademi Langit Tengah hanya pintu masuk. Kau harus memilih: menyerah pada kami yang bisa membimbingmu dengan cara yang benar, atau kau akan menjadi buruan seluruh dunia."
Joko menunduk. Ia merasakan beratnya pilihan itu. Di satu sisi, ia ingin percaya pada mereka-mungkin mereka memang bisa membantunya mengendalikan kekuatan ini. Tapi di sisi lain, ia ingat bagaimana dunia memperlakukannya. Penghinaan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang terus-menerus. Apakah ia akan menyerahkan dirinya lagi pada otoritas yang belum tentu tulus?
Angin malam bertiup, menerbangkan debu dari reruntuhan. Joko mengangkat wajahnya. Matanya kini bersinar redup-bukan emas atau merah, melainkan hitam yang memantulkan kegelapan malam. "Aku memilih," katanya pelan. "Aku tidak akan menjadi boneka ramalan. Aku tidak akan menjadi monster atau penguasa yang ditakuti. Aku hanya akan menjadi diriku sendiri. Dan jika kalian menganggapku ancaman... maka tak perlu menungguku dewasa. Hadapi aku sekarang."
Pria bertopeng perak terdiam sejenak, lalu terkekeh getir. "Keberanian yang bodoh. Tapi mungkin itulah yang membuatmu layak disebut Penguasa Kehampaan." Ia melangkah mundur, memberi isyarat pada dua rekannya untuk mundur. "Kita sudahi untuk sekarang. Tapi ingat, Joko Saputra-setiap langkah yang kau ambil dari sekarang akan dipantau. Setiap tetes Qi yang kau serap akan meninggalkan jejak. Dunia tidak akan pernah melupakanmu, dan begitu juga kami."
Mereka bertiga berbalik dan menghilang ke dalam bayangan malam, meninggalkan reruntuhan yang kembali sunyi. Joko tetap berdiri di tempatnya, tubuhnya bergetar karena campuran antara kelelahan dan adrenalin. Ia mengepalkan tinjunya. Di punggung tangannya, segel hitam berpendar lembut, seperti mata yang terbuka setengah.
Ia tidak lagi sama. Segala sesuatu tentang dirinya telah berubah. Namun ketika ia menatap ke arah barat, di mana puncak Akademi Langit Tengah menjulang dengan cahaya lentera qinya, ia merasakan sesuatu yang aneh-rasa kehilangan. Tempat ini, meski penuh kepahitan, adalah satu-satunya rumah yang ia kenal. Dan sekarang ia tidak yakin apakah ia masih bisa kembali.
Joko berjalan keluar dari reruntuhan, melangkah di antara puing-puing. Bulan purnama di atasnya seperti saksi bisu. Angin malam berbisik, membawa debu dan aroma tanah yang basah. Di kejauhan, serigala meraung, suara yang terdengar seperti ratapan panjang akan awal yang baru.
Ia berhenti sejenak di tepi reruntuhan, memandangi segel di tangannya. 'Mungkin ramalan itu benar,' pikirnya dalam hati. 'Mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjadi kehampaan yang melahap segalanya. Tapi aku tidak akan menjadi seperti yang mereka takutkan. Aku akan menciptakan jalanku sendiri-jalan yang lahir dari kekosongan, namun berisi keputusan yang sejati.'
Ia melangkah maju, meninggalkan reruntuhan itu, meninggalkan Akademi Langit Tengah yang mulai bergerak dalam kegelapan. Di hadapannya, dunia luas terbentang, penuh misteri dan bahaya. Tapi dalam dadanya, Kehampaan berbicara-bukan dalam kata-kata, melainkan dalam denyut perlahan yang menenangkan. Ia tidak lagi sendirian. Kekuatan itu kini menjadi bagian dari dirinya, dan ia akan belajar untuk mengendalikannya, bukan dikendalikan.
Namun di balik bukit, bayangan lain mulai bergerak. Seorang lelaki tua dengan jubah putih duduk di atas batu, memegang kompas giok yang berputar tak karuan. Ia tersenyum tipis, matanya yang buta namun melihat menembus dimensi. "Dia telah bangkit," bisiknya. "Bintang Kehampaan mulai bersinar. Sekarang saatnya para pemain papan catur dunia bersiap untuk langkah selanjutnya." Dan di langit, sebuah bintang redup yang selama ribuan tahun tak terlihat mulai berkedip-pertanda bahwa zaman baru telah tiba.
Joko terus berjalan, tanpa tahu bahwa jejaknya sudah tertangkap oleh kekuatan-kekuatan yang telah lama menunggu. Namun dalam dadanya, sebuah tekad mulai kokoh: apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah kembali menjadi sampah yang terinjak. Mahkota Kehampaan mungkin adalah takdir yang dipaksakan, tapi ia akan memakainya dengan caranya sendiri-dengan kepala tegak, dan jiwa yang bebas.
~ Bab 18 Selesai ~