Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 17

Ritus Ketiga: Pintu Menuju Kehampaan Terbuka

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, di bawah langit Akademi Langit Tengah yang diselimuti kabut tipis, Joko Saputra berdiri sendirian di tengah reruntuhan perpustakaan terlarang. Dinding-dinding batu yang runtuh ditumbuhi lumut hitam, dan di celah-celahnya, gemerlap kristal Qi yang membusuk memancarkan cahaya merah redup. Angin malam berbisik seperti ratapan jiwa-jiwa yang hilang, menyapu dedaunan kering yang berputar di atas lantai batu berlumut. Tidak ada suara lain selain detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, dan desiran napasnya yang memburu. Di tangannya, pecahan giok kuno itu berdenyut dengan ritme yang aneh-tidak seperti detak jam, melainkan seperti denyut nadi dari sesuatu yang hidup, yang haus, yang telah menunggu selama ribuan tahun.

Pecahan itu tidak lagi sekadar benda mati. Ia adalah pintu, dan malam ini pintu itu terbuka. Sejak ia menyelesaikan ritus kedua-saat ia menyerap teknik tabuhan murid klan Li dan memuntahkannya kembali dalam bentuk kehampaan murni-sesuatu di dalam tubuhnya telah berubah. Meridiannya, yang dulu dianggap kosong, kini terasa seperti jurang yang tak berdasar. Dan kini, suara itu kembali, lebih jelas dari sebelumnya, bukan bisikan lagi melainkan gema yang mengguncang jiwanya. "Ritus ketiga telah tiba, Joko Saputra. Jika kau ingin memahami kehampaan sejati, kau harus masuk ke Pori Kehampaan." Suara itu dingin, absolut, seperti hukum alam yang tak terbantahkan.

Joko menelan ludah. Pori Kehampaan. Namanya saja sudah terdengar seperti akhir dari segalanya. Namun di dalam dirinya, kegembiraan aneh mulai merayap-kegembiraan yang lahir dari rasa sakit yang telah lama dipendam. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang penghinaan, setiap tetes keringat yang jatuh saat ia berlatih diam-diam, setiap kali ia menahan amarah saat murid-murid lain mengejeknya, semuanya bermuara pada momen ini. Ia bukan lagi bocah yang putus asa. Ia adalah petarung yang telah belajar bahwa kelemahan adalah ilusi, bahwa kekosongan bukanlah ketiadaan melainkan potensi tak terbatas. Dengan napas dalam-dalam, ia menggenggam pecahan giok itu erat-erat hingga buku jarinya memucat.

Di sekelilingnya, ruang mulai bergetar. Retakan-retakan halus muncul di udara, seperti kaca yang pecah tanpa suara. Dari retakan itu, kegeladan merembes keluar-bukan kegelapan biasa yang sekadar ketiadaan cahaya, melainkan kegelapan yang menyerap segalanya: suara, panas, bahkan waktu. Joko merasakan dingin yang bukan dari suhu, melainkan dari absennya segala sesuatu. Daun-daun kering di lantai tersedot ke dalam retakan, lenyap tanpa jejak. Batu-batu besar bergeser perlahan, seolah ditarik oleh gravitasi yang tak terlihat. Dan di tengah reruntuhan, tepat di depan Joko, terbentuklah sebuah pusaran hitam-lingkaran sempurna tanpa tepi, berputar dengan kecepatan yang membuat mata tidak bisa fokus. Itu adalah Pori Kehampaan.

Pusaran itu tidak mengeluarkan suara, tidak memancarkan cahaya, hanya kehampaan yang menggoda. Joko merasakan tarikan lembut di dadanya, seolah kehampaan di dalam tubuhnya mengenali pintu ini sebagai rumah yang telah lama ditinggalkan. Ia melangkah maju, namun kakinya terasa berat. Bukan karena takut-ia sudah melewati batas ketakutan-melainkan karena kesadaran bahwa langkah ini akan mengubah segalanya. Di balik pusaran itu, mungkin ada kebenaran tentang dirinya, tentang klannya, tentang dunia yang selama ini membencinya. Atau mungkin hanya ada kegilaan dan kehancuran. Tapi Joko Saputra bukanlah orang yang mundur. "Aku sudah terlalu lama hidup dalam diam," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya hampir tertelan oleh angin. "Kini, biarlah kehampaan menjadi saksi kebangkitanku."

Ia melangkah masuk. Tubuhnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa, lalu ditarik ke dalam pusaran dengan kekuatan yang tak tertahankan. Dunia di sekelilingnya berputar, warna-warna memudar menjadi abu-abu, lalu hitam pekat. Joko tidak bisa merasakan tangan atau kakinya-seolah tubuhnya telah larut menjadi partikel-partikel kesadaran yang melayang di lautan kehampaan. Lalu, tiba-tiba, ia berdiri di suatu tempat yang tidak bisa disebut tempat. Di sekelilingnya, ruang kosong yang tak berujung, tanpa bintang, tanpa planet, tanpa apa pun kecuali kegelapan yang hidup. Namun di kegelapan itu, ada pola-benang-benang cahaya redup yang berdenyut seperti urat nadi raksasa, membentuk jalinan rumit yang melintasi seluruh alam semesta yang tak terlihat.

"Ini adalah kehampaan sebelum segala sesuatu," suara itu bergema, kali dari segala arah sekaligus. "Di sini, tidak ada Dao, tidak ada elemen, tidak ada Qi. Hanya potensi murni. Dan kau, Joko Saputra, adalah satu-satunya makhluk dalam eon terakhir yang mampu berdiri di sini tanpa hancur." Joko menoleh, mencara sumber suara, namun tidak ada apa pun. Hanya kehampaan yang berbicara melalui dirinya sendiri. Ia mulai berjalan-atau setidaknya, ia merasa bergerak, meskipun tidak ada tanah di bawah kakinya. Setiap langkahnya menciptakan riak di kehampaan, seperti batu yang dijatuhkan ke kolam diam.

Tiba-tiba, di hadapannya, muncul bayangan. Bayangan itu berbentuk manusia, tingginya sama dengannya, namun dengan mata yang kosong dan senyum yang sinis. Bayangan itu adalah dirinya-versi dirinya yang dulu, yang lemah, yang tertunduk, yang menerima setiap hinaan dengan diam. "Kau pikir kau bisa melupakan aku?" bayangan itu berkata, suaranya persis seperti suaranya sendiri, namun dipenuhi rasa sakit dan kemarahan. "Aku adalah masa lalumu, Joko. Aku adalah semua momen saat kau membiarkan mereka menginjakmu. Aku adalah rasa takut yang kau sembunyikan di balik tekad palsu. Kau tidak akan pernah bisa menjadi penguasa kehampaan selama aku masih ada."

Joko mengepalkan tinjunya. Emosi membanjiri dadanya-marah, malu, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Namun ia ingat kata-kata Penguasa Kekosongan Pertama: kehampaan bukanlah pelarian, melainkan penerimaan. Ia menarik napas panjang, dan bukannya menyerang bayangan itu, ia justru membuka tangannya. "Kau bukan musuhku," katanya dengan suara gemetar namun mantap. "Kau adalah bagian dari diriku. Tanpamu, aku tidak akan pernah tahu betapa dalamnya kehampaan itu. Aku tidak akan pernah belajar bahwa penghinaan bisa menjadi bahan bakar." Bayangan itu terkejut, mulai bergetar, lalu perlahan luluh menjadi kabut hitam yang terserap ke dalam tubuh Joko. Rasa sakit yang tajam menusuk dadanya, namun diikuti oleh kelegaan yang mendalam, seolah beban yang telah ia pikul selama lima belas tahun akhirnya terangkat.

Belum sempat ia bernafas lega, kehampaan di sekelilingnya berubah. Ribuan suara tiba-tiba memenuhi pikirannya-ratapan, tangisan, jeritan kesakitan dari jutaan makhluk yang pernah hidup dan mati dalam kesedihan. Penderitaan seluruh alam semesta mengalir ke dalam jiwanya, mengancam akan menghancurkanya dari dalam. Joko terjatuh, menggenggam kepalanya, berusaha menahan gelombang emosi yang tak tertahankan. Ini adalah ujian kedua: kehampaan bukan hanya tentang kekuatan, tetapi juga tentang menanggung semua rasa sakit yang ditolak oleh dunia. Air mata mengalir di pipinya, namun di dalam kegelapan, ia merasakan sesuatu yang hangat-pecahan giok di tangannya menyala dengan cahaya redup, menyerap sebagian dari penderitaan itu, mengubahnya menjadi pemahaman. Ia tidak menolak rasa sakit itu; ia menerimanya, merasakannya, dan membiarkannya mengalir melalui meridiannya, memperkuat fondasi kehampaan di dalam tubuhnya.

Ketika gelombang itu mereda, Joko berdiri kembali, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Di hadapannya, kini muncul sosok lain-seorang lelaki tua berjubah putih, dengan janggut panjang yang menjuntai hingga ke dada. Wajahnya penuh keriput, namun matanya bersinar seperti bintang yang sekarat. Joko merasa mengenalnya, meskipun ia belum pernah melihatnya sebelumnya. "Kau... siapa?" tanyanya dengan suara serak. Lelaki itu tersenyum, senyum yang penuh kesedihan. "Aku adalah leluhur pertamamu, Joko Saputra. Pendiri Klan Joko yang asli. Bukan klan yang kau kenal sekarang-mereka telah melupakan warisan sejati, terbuai oleh kemuliaan palsu. Aku adalah yang pertama menemukan kehampaan, namun aku terlalu takut untuk menyelaminya. Aku memilih jalan aman, membangun klan berdasarkan elemen, dan menyegel pengetahuan ini di dalam pecahan giok yang kau temukan."

Joko terhenyak. Leluhurnya sendiri adalah pengguna kehampaan? Lalu mengapa klannya membencinya? Lelaki itu melanjutkan, "Karena kehampaan menuntut harga yang tidak bisa dibayar oleh kebanyakan orang. Kehampaan adalah kesendirian abadi. Kau harus merelakan segalanya-keluarga, teman, bahkan dirimu sendiri. Aku tidak sanggup, maka aku memilih mundur. Namun kau, Joko, memiliki hati yang berbeda. Kau telah merasakan pahitnya pengkhianatan, dinginnya penghinaan. Kehampaan tidak akan membuatmu lebih kesepian dari yang sudah kau alami. Sebaliknya, ia akan menjadi satu-satunya teman sejatimu."

Leluhur itu lalu mengulurkan tangan, dan di telapak tangannya muncul segel bercahaya gelap. "Ini adalah Mahkota Kehampaan-bukan mahkota sungguhan, melainkan simbol penguasaan atas kekosongan. Jika kau menerimanya, kau akan menjadi Penguasa Kehampaan yang sebenarnya. Namun ingat, setelah ini, tidak ada jalan kembali. Dunia di luar akan melihatmu sebagai ancaman, dan bahkan mereka yang dulu kau cintai akan berusaha menghancurkanmu. Apakah kau siap?" Joko menatap segel itu, lalu menatap kehampaan di sekelilingnya. Ia memikirkan semua yang telah ia lalui, semua rasa sakit yang telah membentuknya. Tidak ada keraguan di hatinya. Dengan tangan gemetar, ia meraih segel itu.

Saat jari-jarinya menyentuh segel, seluruh kehampaan bergetar. Ribuan benang cahaya melilit tubuhnya, memasuki pori-porinya, meridiannya, hingga ke inti jiwanya. Rasa sakit yang luar biasa membakar setiap serat saraf, namun diikuti oleh kekuatan yang tak terbayangkan. Joko merasakan dirinya meluas, seolah ia menjadi bagian dari kehampaan itu sendiri. Ia bisa melihat garis-garis takdir, titik-titik lemah dalam struktur realitas, dan di kejauhan, ia melihat sesosok bayangan raksasa-entitas yang mungkin adalah Penguasa Kekosongan Pertama yang asli, atau mungkin hanya bayangan dari ketakutannya sendiri. Entitas itu menatapnya, dan Joko merasakan persetujuan, sekaligus peringatan. "Kau telah lulus, Joko Saputra. Ritus ketiga telah usai. Namun ingat, ini baru awal. Musuh-musuhmu sudah bergerak. Di dunia nyata, seseorang telah mengetahui kebangkitanmu. Mereka tidak akan membiarkanmu hidup."

Dunia berputar lagi, dan Joko tersentak keluar dari pusaran. Ia kembali berdiri di reruntuhan perpustakaan, tubuhnya terasa ringan namun penuh kekuatan. Pecahan giok di tangannya telah berubah menjadi debu, diganti oleh segel hitam di punggung tangan kanannya. Angin malam masih bertiup, namun kini ia bisa merasakan setiap partikel udara, setiap getaran Qi di kejauhan. Ia tidak lagi sama. Namun suara langkah kaki di luar reruntuhan membuatnya tersentak. Beberapa sosok mendekat, bayangan mereka memanjang di bawah sinar bulan. Salah satu dari mereka berkata dengan suara dingin, "Jadi ini dia anak itu... Penguasa Kehampaan palsu. Tampaknya ramalan itu benar. Kita harus menangkapnya sebelum dia benar-benar terbangun." Joko mengepalkan tinjunya, segel di punggung tangannya berpendar gelap. Ritus ketiga mungkin telah usai, namun pertarungan sejati baru saja dimulai.

~ Bab 17 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai