Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 16
Ritus Ketiga: Bisikan dari Kehampaan Abadi
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Arena itu masih gemuruh ketika Joko melangkah turun dari altar. Langkahnya mantap, namun di dalam dadanya, badai mengamuk. Ia baru saja melakukan sesuatu yang tak seharusnya mungkin-mengalahkan seorang kultivator tahap Pembentukan Dasar tanpa setetes Qi pun, tanpa satu teknik pun, hanya dengan kekosongan yang tiba-tiba merespons panggilan nalurinya. Kini, ribuan pasang mata tertuju padanya, sebagian kagum, sebagian penuh curiga, dan sebagian lagi-yang paling berbahaya-penuh perhitungan.
Di sudut tribun yang kosong, sekilas bayangan itu masih tersenyum. Joko tidak perlu menoleh untuk merasakannya. Senyum itu terpahat di udara, dingin seperti embusan dari jurang tak berdasar. Sebuah bisikan menggelitik tepi kesadarannya, halus bagai sayap ngengat menyentuh permukaan air: "Kau baru saja membuka pintu, Joko Saputra. Dan di balik pintu itu, ada yang menunggumu sejak awal mula." Kalimat itu berputar di kepalanya seperti pusaran, menarik pikirannya ke dalam labirin tanya yang tak berujung.
Ia berjalan melewati kerumunan yang mendadak hening saat ia lewat. Beberapa murid menunduk, beberapa lainnya menatap dengan campuran antara rasa hormat dan ketakutan. Wardhana berdiri di pinggir arena, wajahnya pucat pasi seperti mayat yang baru dibangkitkan. Bibirnya bergerak-gerak, ingin berkata sesuatu, namun suara seolah tersangkut di kerongkongannya. Joko hanya meliriknya sekilas-cukup untuk membuat Wardhana mundur selangkah, seolah tubuh Joko sendiri adalah kutukan yang menular.
Aula besar Akademi Langit Tengah terasa sempit tiba-tiba. Dinding-dinding marmer putih yang biasanya memantulkan cahaya giok kini seolah menyerap segala sinar, meninggalkan bayang-bayang yang bergerak aneh di sudut mata. Joko mempercepat langkahnya, meninggalkan arena menuju koridor belakang yang sepi. Ia butuh ruang-ruang di mana ia bisa mendengar suaranya sendiri tanpa dicampuri bisikan-bisikan asing.
Di ujung koridor, sebuah taman kecil tersembunyi di antara bangunan tua perpustakaan. Di sana, di bawah pohon sakura kuno yang bunganya selalu gugur sebelum mekar sempurna, Joko berhenti. Ia duduk di bangku batu yang ditumbuhi lumut, menekan telapak tangan ke dadanya yang berdebar kencang. Di dalam sana, sesuatu bergerak-bukan jantung, bukan Qi, melainkan kehampaan itu sendiri yang berdenyut seirama dengan nadinya yang semakin cepat.
"Apa yang kau inginkan dariku?" bisik Joko pada udara kosong.
Tidak ada jawaban. Namun angin yang bertiup terasa lebih dingin dari biasanya. Kelopak bunga sakura yang gugur melayang di depannya, berputar membentuk spiral kecil, lalu lenyap seolah ditelan oleh celah tak kasat mata. Joko menutup matanya. Ia mencoba merasakan ke dalam-ke dalam ruang gelap di mana ia pertama kali bertemu dengan jejak kesadaran Penguasa Kekosongan Pertama. Namun yang ia temukan bukanlah suara purba yang bijak, melainkan keheningan yang mencekik, keheningan yang justru lebih keras dari ribuan teriakan.
Pintu, kata bayangan itu. Aku baru saja membuka pintu. Tapi pintu menuju apa? Menuju kekuatan lebih besar? Atau menuju kehancuran yang tak terbayangkan?
Kenangan akan hari-hari penghinaan kembali mengalir deras-wajah-wajah yang mengejek, suara-suara yang menyebutnya sampah, tatapan iba yang lebih menyakitkan dari hinaan. Namun di balik semua itu, kini ada pula kenangan akan sensasi saat kekosongan merespons: saat tubuh murid bayangan itu membiru dan tak berdaya di hadapannya, saat energi Qi yang diproyeksikan lawan lenyap begitu saja tanpa jejak, saat seluruh arena membeku dalam keheningan mutlak. Itu bukan kemenangan biasa. Itu adalah pernyataan bahwa hukum alam yang mereka yakini selama ini hanyalah kulit tipis yang menutupi samudera kegelapan yang lebih purba.
"Joko Saputra!"
Suara itu memecah lamunannya. Seorang instruktur berjubah hitam muncul di ambang taman, diikuti oleh dua murid senior bersimbah aura menekan. Instruktur itu, yang dikenal sebagai Guru Ardhi, memiliki reputasi keras terhadap murid-murid yang dianggap menyimpang dari jalur kultivasi ortodoks. Matanya menyipit saat menatap Joko, seperti elang mengamati mangsa yang mencurigakan.
"Kau dipanggil ke Dewan Disiplin. Segera," kata Guru Ardhi tanpa basa-basi.
Joko bangkit perlahan. Lututnya terasa ringan, anehnya, seolah beban yang selama ini menekannya mulai menguap. Ia menatap instruktur itu tepat di mata, tanpa rasa takut. "Atas dasar apa, Guru?"
"Atas dasar penggunaan kekuatan terlarang yang tidak tercatat dalam kurikulum akademi," jawab Guru Ardhi dengan nada dingin. "Teknik yang kau gunakan di arena tadi... itu bukan kultivasi normal. Kami perlu memastikan kau tidak terinfeksi oleh patologi spiritual yang membahayakan."
Patologi spiritual. Joko hampir tertawa pahit. Mereka menyebutnya patologi, padahal itu adalah hakikat paling murni dari eksistensi. Tapi ia menahan diri. Ia hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Guru Ardhi dengan kepala tegak, meskipun di dalam hatinya, badai semakin mengamuk.
Mereka berjalan melintasi koridor panjang yang diterangi lampion giok. Hiasan dinding berupa lukisan para pendiri akademi bergantian dengan prasasti teknik kultivasi kuno. Joko bisa merasakan tatapan murid-murid lain yang mengintip dari balik pilar, berbisik-bisik dengan nada campuran antara kagum dan takut. Namanya kini telah menjadi buah bibir-dari sampah menjadi misteri. Tapi misteri itu rapuh, dan di dunia kultivasi, misteri biasanya dihabisi sebelum sempat berkembang.
Ruang Dewan Disiplin terletak di lantai tertinggi menara pusat akademi. Ruangan itu bundar, dengan dinding dari batu obsidian yang memantulkan cahaya redup dari kristal di langit-langit. Lima tetua duduk di kursi melingkar, masing-masing dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di tengah ruangan, sebuah lingkaran emas terukir di lantai, memancarkan energi yang menekan jiwa.
Joko berdiri di dalam lingkaran itu. Guru Ardhi mundur ke samping, memberi isyarat agar Joko tetap diam.
Tetua tertua, seorang wanita berambut perak dengan mata biru pucat seperti es, membuka suara. "Joko Saputra, kau dituduh telah menggunakan teknik yang tidak dikenal, yang melanggar aturan akademi tentang batasan penggunaan kekuatan di luar kurikulum. Apakah kau memiliki penjelasan?"
Joko menarik napas dalam. Udara di ruangan ini terasa berat, sarat dengan Qi padat yang mencoba menekan kehampaan di dalam dirinya. Tapi kehampaan itu tidak bisa ditekan-ia justru menyerap tekanan itu, mengubahnya menjadi kekuatan yang lebih dalam. Joko bisa merasakan kehampaan itu berdenyut, seperti makhluk hidup yang mulai sadar akan keberadaannya.
"Yang saya lakukan, Tetua, hanyalah menggunakan apa yang alam berikan pada saya," jawab Joko dengan suara tenang. "Tubuh saya tidak bisa menyimpan Qi seperti kebanyakan kultivator. Tapi ia bisa... menetralkan. Itu bukan teknik. Itu naluri."
"Menetralkan?" Tetua lain, seorang pria berjanggut hitam, menyeringai sinis. "Kau menghilangkan seluruh energi lawan seolah mereka tidak pernah memiliki Qi sama sekali. Itu bukan sekadar menetralkan. Itu memusnahkan."
"Saya tidak tahu bagaimana itu terjadi," kata Joko jujur. "Saya hanya merasakan dorongan, dan kehampaan itu merespons."
"Kehampaan?" Mata tetua wanita berambut perak menyipit. "Apa yang kau maksud dengan kehampaan?"
Joko terdiam. Ia bisa saja berbohong, mengarang cerita tentang teknik rahasia yang ia temukan di perpustakaan. Tapi di hadapan para tetua ini, kebohongan akan mudah terbongkar. Dan lebih dari itu, ia merasa bahwa untuk pertama kalinya, ia tidak perlu menyembunyikan siapa dirinya. Kehampaan itu bukan kutukan-itu adalah identitasnya yang sejati.
"Di dalam tubuh saya, sejak lahir, tidak ada Qi. Tidak ada elemen. Tidak ada resonansi dengan Dao. Para tetua klan saya menyebutnya Tubuh Kehampaan Mutlak. Mereka mengira itu adalah kutukan. Tapi saya mulai percaya... bahwa itu adalah anugerah yang mereka tidak pahami."
Ruangan hening. Para tetua saling pandang. Joko bisa merasakan mereka berkomunikasi secara mental, menimbang-nimbang kata-katanya. Akhirnya, tetua wanita itu berdiri. Langkahnya lembut namun penuh wibawa saat ia mendekati Joko. Ia tidak menyentuh Joko, namun tiba-tiba Joko merasakan energi hangat menyapu tubuhnya-seperti gelombang air yang mencoba menembus gua gelap. Tapi gua itu tak berdinding; gelombang itu lenyap begitu saja.
Wajah tetua wanita itu berubah. Untuk sesaat, tampak kilatan keheranan, bahkan ketakutan, di matanya. Lalu ia kembali ke ekspresi tenangnya.
"Aku tidak bisa mendeteksi apa pun di dalam dirimu, Joko Saputra. Tidak ada blokade, tidak ada penyakit spiritual. Yang ada... kekosongan. Kekosongan yang absolut." Ia berhenti sejenak. "Ini pertama kalinya aku melihat yang seperti ini dalam seribu tahun hidupku."
"Jadi, apa keputusan Dewan?" tanya Joko langsung.
Tetua wanita itu kembali ke kursinya. Setelah berdiskusi singkat melalui tatapan, ia berkata, "Kami tidak akan menghukummu saat ini. Namun kau akan diawasi. Setiap langkahmu, setiap pertarunganmu, akan dicatat. Jika kekuatan ini menunjukkan tanda-tanda korupsi spiritual atau ancaman terhadap akademi, kau akan diasingkan. Apakah kau mengerti?"
"Saya mengerti, Tetua."
Joko meninggalkan ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia bebas-untuk saat ini. Namun ia juga menjadi subjek pengawasan. Setiap gerakannya akan diperhatikan. Dan di luar sana, masih ada bayangan misterius yang berbisik tentang ritus ketiga. Ritus apa lagi yang menunggunya?
Malam itu, di kamar asramanya yang sempit, Joko duduk bersila di lantai. Cahaya bulan masuk melalui jendela kecil, membentuk garis perak di atas lantai kayu. Ia membuka pecahan giok yang selama ini ia simpan di balik bajunya. Batu itu dingin, lebih dingin dari es, dan ketika ia menyentuhnya, kegelapan di dalam ruangan seolah mengental.
"Tunjukkan padaku," bisik Joko. "Tunjukkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya."
Pecahan giok itu bergetar. Dari dalamnya, suara itu kembali-bukan suara yang bisa didengar telinga, melainkan getaran yang merambat langsung ke jiwanya. "Ritus ketiga bukanlah turnamen, Joko Saputra. Ritus ketiga adalah ujian dari kekosongan itu sendiri. Kau harus menghadapi bayanganmu, bayangan yang telah lama kau hindari."
"Bayanganku?"
"Bayangan yang lahir dari rasa takutmu, dari keraguanmu, dari semua penghinaan yang kau telan. Ia telah tumbuh, menjadi entitas yang mandiri. Dan ia tidak akan membiarkanmu melangkah maju tanpa pertempuran."
Joko merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia menoleh ke belakang-dan di dinding, bayangannya sendiri bergerak terpisah. Bayangan itu tersenyum, senyum yang sama seperti yang ia lihat di arena. Senyum yang bukan miliknya.
"Siapa kau?" tanya Joko, suaranya bergetar.
"Aku adalah kau, Joko Saputra. Aku adalah semua yang kau benci tentang dirimu sendiri. Aku adalah sampah yang mereka cela. Dan aku tidak akan membiarkan kau melupakanku."
Bayangan itu melangkah keluar dari dinding, membentuk sosok hitam pekat dengan mata merah menyala. Joko melompat berdiri, tangannya terangkat secara naluriah. Namun sebelum ia sempat bertindak, bayangan itu sudah lenyap, meninggalkan hanya bisikan yang menggema di ruangan: "Ritus ketiga dimulai saat kau berani menatapku. Dan kau belum siap, Joko. Belum siap."
Ruangan kembali terang. Bulan bersinar tenang di luar. Namun di dalam dada Joko, kehampaan berdenyut lebih kencang, seperti jantung yang baru saja menyadari bahwa ia hidup. Dan di sudut ruangan, pecahan giok itu bersinar redup, seolah menunggu jawaban yang tak kunjung datang.
Joko jatuh berlutut. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia baru saja menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekuatan-ia menyentuh kegelapan di dalam dirinya, dan kegelapan itu menjawab. Apakah ini yang dimaksud dengan penguasaan sejati? Ataukah ini awal dari kehancuran yang tak terelakkan?
"Aku tidak akan mundur," desis Joko pada dirinya sendiri. "Apapun ritus ketiga itu, apapun bayangan itu, aku akan menghadapinya. Aku sudah terlalu lama menjadi sampah. Kini, biarlah kehampaan menjadi mahkotaku."
Di luar, angin malam bertiup membawa aroma tanah basah dan bunga sakura yang gugur. Namun di balik keindahan itu, sesuatu yang jauh lebih purba tengah terjaga. Dan Joko Saputra, bocah yang dulu dianggap kutukan, kini berdiri di ambang pintu menuju realitas yang lebih dalam dari mimpi tergelap para kultivator.
Ritus ketiga telah diumumkan-bukan oleh akademi, bukan oleh klan, melainkan oleh kekosongan itu sendiri. Dan pertarungan sejati baru akan dimulai.
~ Bab 16 Selesai ~