Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 1
Saat Langit Menjadi Hitam
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Di bawah sinar mentari yang menusuk laksana ribuan pedang cahaya, Lapangan Latihan Pusat Akademi Langit Tengah dipenuhi oleh riuh rendah para murid yang berjejer rapi seperti barisan prajurit giok. Udara panas bergetar oleh gelombang Qi yang terpancar dari ribuan kultivator muda, menciptakan atmosfer yang begitu pekat hingga hampir terasa seperti air raksa mengalir di antara celah-celah jari. Di tengah-tengah kerumunan itu, sebuah panggung marmer putih menjulang setinggi sepuluh meter, dihiasi ukiran naga berekor sembilan yang melilit tiang-tiang giok merah. Di atas panggung itulah Joko Saputra berdiri-sebatang kara di hadapan lautan mata yang memancarkan kebencian, ejekan, dan penghinaan yang tak terperi.
Inspektur Akademi, seorang pria paruh baya dengan jubah ungu bersulam emas yang melambai-lambai ditiup angin, mengangkat tangan kanannya yang bersinar redup. “Saudara-saudara sekalian,” suaranya menggema seperti guntur di lembah sunyi, “hari ini kita menyaksikan demonstrasi kultivasi dari murid-murid angkatan baru. Namun, sebelum kita lanjutkan, ada satu murid yang... istimewa.” Ia menjeda sejenak, menyunggingkan senyum sinis yang langsung disambut tawa rendah dari barisan penonton. “Joko Saputra, dari Klan Joko yang katanya pernah berjaya. Silakan maju ke depan panggung dan perlihatkan kepada kami apa yang kau bisa lakukan dengan... Tubuh Kehampaan Mutlakmu.”
Tawa itu kini meledak menjadi gelak keras bagaikan air bah yang menghantam bendungan. Joko merasakan telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang membeku di kulitnya. Ia melangkah maju, setiap langkah terasa seperti menginjak duri beracun yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di sudut matanya, ia melihat Ling Tian-murid berbakat dari Klan Ling yang selalu menjadi pusat perhatian-sedang bersandar di pilar, mulutnya membentuk kata-kata tanpa suara: “Sampah.”
“Baiklah,” kata Joko dengan suara serak yang hampir tak terdengar. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan, mencoba mengumpulkan Qi seperti yang diajarkan dalam teknik dasar. Namun, seperti ribuan kali sebelumnya, tidak ada apa pun yang terjadi. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada gemuruh energi, tidak ada getaran elemen. Hanya kehampaan yang menari-nari di ujung jemarinya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, lalu tawa pecah lagi-lebih keras, lebih kejam.
“Lihat! Lihat!” teriak seorang murid perempuan dari barisan depan, jubah birunya berkibar. “Dia bahkan tidak bisa memanggil setitik pun Qi! Apa yang dia lakukan di sini? Menjadi pembersih toilet?”
Inspektur menggelengkan kepala dengan ekspresi jijik yang tak disembunyikan. “Sudah cukup. Turunlah, Joko. Kau hanya mempermalukan akademi ini dan klanmu sendiri.”
Namun sebelum Joko sempat bergerak, Ling Tian melompat ke atas panggung dengan enteng, tubuhnya mendarat tanpa suara seperti daun jatuh. Ia seorang kultivator di tahap Inti Emas-peringkat yang sudah sangat tinggi untuk seusianya. “Inspektur,” katanya dengan suara manis berlapis racun, “izinkan saya memberi saran kepada saudara Joko. Mungkin dia butuh... motivasi.”
Tanpa menunggu izin, Ling Tian mengangkat satu jari dan melecutkan sebuah bola api kecil seukuran kelereng ke arah Joko. Bola api itu terbang lambat, namun dengan kecepatan yang bisa dihindari oleh kultivator biasa mana pun. Bagi Joko yang bahkan tak memiliki Qi untuk memperkuat refleksnya, bola itu mengenai bahunya dan langsung membakar jubahnya. Api menjilat kulitnya, meninggalkan luka bakar yang menganga seperti mulut setan.
Joko berusaha menahan tangis, tetapi rasa sakit itu terlalu nyata, terlalu manusiawi. Ia terjatuh berlutut, tangan memegang bahu yang membara, sementara tawa penonton meraung-raung bagaikan badai di samudra. Darah mengalir dari bibirnya yang tergigit-bukan karena luka, melainkan karena amarah yang ia telan paksa.
“Kau lihat?” Ling Tian berjalan mendekat, bayangannya menutupi tubuh Joko yang meringkuk. “Inilah kenyataan, Joko. Dalam dunia kultivasi, kelemahan adalah dosa yang tak terampuni. Dan kau adalah dosa paling hina yang pernah hidup.” Ia menunduk, berbisik di telinga Joko, “Pergilah dari akademi ini. Kembali ke klanmu yang sudah hancur. Atau teruslah menjadi bahan tertawaan sampai kau mati.”
Joko mengangkat kepalanya. Air mata bercampur keringat mengalir di pipinya, namun matanya-matanya menyala dengan api yang tak bisa dipadamkan oleh ejekan mana pun. Ia bangkit perlahan, tubuhnya gemetar, namun tatapannya lurus ke depan. “Aku... tidak akan pergi,” desisnya lirih, nyaris tak terdengar.
“Apa?” Ling Tian tertawa terbahak. “Kau pikir kau bisa jadi pahlawan? Dengan tubuh kosong sepertimu?”
“Aku tidak perlu menjadi pahlawan,” jawab Joko dengan suara yang tiba-tiba tenang, anehnya tenang. “Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.”
Ling Tian memiringkan kepala, lalu mengangkat tangan lagi, bersiap melecutkan serangan kedua yang jauh lebih besar. Namun Inspektur menghentikannya dengan lambaian tangan. “Sudah cukup. Biarkan dia pergi. Kita tidak ingin membuang terlalu banyak waktu pada sampah.”
Joko berjalan turun dari panggung dengan langkah limbung, setiap langkah disertai desisan sakit dari luka bakarnya. Ribuan pasang mata mengikutinya dengan ejekan, namun tak satu pun yang melihat kerlip aneh di sudut matanya-sebuah tekad yang lahir dari abu kehancuran.
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang memanjang bagai tangan-tangan hitam yang meraih dunia, Joko menyelinap ke reruntuhan Perpustakaan Terlarang di sudut barat laut akademi. Bangunan itu telah lama ditinggalkan, atapnya runtuh di beberapa bagian, dindingnya ditumbuhi lumut yang mengeluarkan aroma busuk. Konon, perpustakaan ini pernah menjadi pusat pengetahuan terbesar di kontinen, sebelum sebuah bencana misterius menghancurkannya ribuan tahun lalu. Sekarang, hanya serpihan buku dan pecahan batu yang tersisa.
Joko berjalan di antara puing-puing, jari-jarinya menyusuri debu yang menumpuk setebal jari. Ia tidak tahu apa yang ia cari. Mungkin ia hanya ingin bersembunyi dari dunia yang begitu kejam. Atau mungkin, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih percaya bahwa ada sesuatu-apa pun-yang bisa mengubah takdirnya.
Di sudut ruangan yang paling gelap, di bawah tumpukan bata yang hampir rata dengan tanah, ia melihat seberkas cahaya-bukan cahaya, melainkan ketiadaan cahaya. Sebuah pecahan giok seukuran kepalan tangan tertanam di antara reruntuhan, warnanya hitam pekat seperti lubang yang menelan bintang. Joko mendekat, hatinya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ia meraih pecahan itu, dan saat ujung jarinya menyentuh permukaannya yang dingin seperti es purba...
Semua Qi di seluruh akademi padam.
Bukan padam seperti lampu yang dimatikan, melainkan lenyap-seolah-olah sesuatu telah menelan keberadaan energi itu dari akar-akarnya. Di Lapangan Latihan, tabung-tabung Qi yang biasa bersinar terang tiba-tiba menjadi gelap gulita. Di Ruang Meditasi, para instruktur yang sedang mengolah energi terhenti, wajah mereka pucat pasi. Di Menara Pengawas Tertinggi, lonceng peringatan berbunyi sendiri-suara yang tidak pernah terdengar selama tiga ribu tahun terakhir.
Dan di atas langit akademi, awan-awan yang berarak perlahan berhenti. Matahari yang bersinar terang lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kegelapan total selama satu tarikan napas. Tiga detik. Tidak lebih. Namun tiga detik itu terasa seperti keabadian bagi setiap makhluk yang merasakannya.
Di reruntuhan perpustakaan, Joko terjatuh ke belakang, tubuhnya gemetar hebat. Pecahan giok itu masih menggenggam erat di tangannya, dan ia bisa merasakan sesuatu mengalir dari benda itu ke dalam dirinya-bukan Qi, bukan energi, melainkan sesuatu yang lebih purba, lebih gelap, lebih murni dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Sebuah suara bergema di dalam benaknya, bukan dalam kata-kata melainkan dalam getaran yang merobek kesadarannya:
“Akhirnya... kau datang, pewaris Kehampaan.”
Langit di atas akademi kembali terang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun di tangan Joko, pecahan giok itu mulai memancarkan cahaya-cahaya yang justru menelan semua cahaya di sekitarnya, menciptakan lingkaran kegelapan yang berdenyut seperti jantung yang baru lahir. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Joko Saputra tersenyum-bukan senyum keputusasaan, melainkan senyum seorang yang baru saja menemukan jawaban atas teka-teki yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun.
Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu apa arti semua ini. Namun satu hal yang ia yakini: dunia ini tidak akan pernah sama lagi. Dan orang-orang yang merendahkannya hari ini, esok, atau lusa, akan segera menyadari bahwa di awal segala sesuatu, hanya ada Kekosongan. Dan Kekosongan itu kini telah menemukan tuan barunya.
~ Bab 1 Selesai ~