Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 15

Arena Takdir: Di Bawah Sorotan Penghinaan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Fajar belum sepenuhnya merobek selubung malam ketika gong perunggu di puncak Menara Lonceng Akademi Langit Tengah bergema, menggetarkan udara yang masih lembap oleh embun. Suaranya bukan sekadar penanda waktu-ia adalah panggilan perang bagi seluruh murid yang terdaftar dalam Ujian Kenaikan Peringkat Musim Semi. Di lorong-lorong batu hitam yang berkilauan akibat sinar mentari pertama, langkah kaki bergemuruh seperti derap naga muda. Namun di antara hiruk-pikuk itu, satu sosok berjalan pelan, seolah tidak terburu-buru menuju takdirnya sendiri.

Joko Saputra merasakan denyut aneh di dadanya-bukan rasa takut, melainkan getaran seperti samudra yang menahan napas sebelum tsunami. Semalam, setelah ritual kedua selesai dan pesan misterius di cermin pudar, ia tidak bisa tidur. Pikirannya berputar di sekitar kata-kata itu: "Ritus ketiga menunggumu. Waspadalah terhadap mereka yang berpura-pura tidur." Siapa yang berpura-pura tidur? Instruktur? Tetua? Atau mungkin sesama murid yang selama ini diam-diam mengamat dari bayang-bayang? Ia tidak punya jawaban, hanya kepekaan baru yang tumbuh di setiap pori kulitnya-kemampuan untuk merasakan getaran Qi, bahkan getaran niat, dari makhluk di sekitarnya.

Ketika ia tiba di Lapangan Seribu Pedang, tempat upacara pembukaan ujian digelar, kerumunan sudah membentuk lingkaran raksasa. Di tengah, panggung giok putih menjulang setinggi tiga tombak, dihiasi ukiran naga dan burung api yang seolah hidup. Di atasnya berdiri Kepala Instruktur Agung, Fajar Wicaksana, seorang kultivator tahap Inti Emas yang rambutnya telah memutih namun matanya masih menyala seperti bara. Di sekeliling panggung, spanduk-spanduk sembilan klan besar berkibar, termasuk spanduk Klan Joko-yang kini tampak kusam, tanpa cahaya.

Dari sudut matanya, Joko melihatsepupunya, Joko Wardhana, berdiri di barisan depan bersama kelompok murid elit. Wardhana melempar senyum sinis, lalu berbisik kepada teman di sampingnya. Joko tidak perlu mendengar untuk tahu isinya: "Sampah bermartabat palsu datang juga. Pasti hanya jadi bulan-bulanan." Dulu, kata-kata seperti itu bisa menghancurkan semangatnya. Kini, ia hanya merasakan gelombang dingin di perutnya-bukan amarah, melainkan semacam kesabaran yang aneh. Kekosongan dalam dirinya tidak marah; ia hanya menunggu.

Acara pembukaan berlangsung megah namun hampa bagi Joko. Ia mendengar Fajar Wicaksana menyampaikan aturan: setiap murid akan melewati tiga tahap ujian-Lorong Api Jiwa, Medan Petir Seratus Langkah, dan terakhir, Duel Batu Sakti. Hanya mereka yang lulus ketiganya berhak naik peringkat. Namun ada satu aturan tak tertulis: cedera parah diperbolehkan, kematian adalah risiko yang dimaklumi. Dunia kultivasi tidak pernah main-main.

Saat namanya dipanggil-"Joko Saputra, Klan Joko, peringkat Besi Rusak"-tawa kecil bergema di antara penonton. "Besi Rusak" adalah ejekan untuk murid yang tidak memiliki Qi sama sekali. Joko melangkah maju, wajahnya datar. Ia tidak melihat ke arah penonton, tidak ke arah Wardhana, tidak ke arah instruktur. Matanya hanya tertuju pada pintu masuk Lorong Api Jiwa yang menganga seperti mulut naga hitam. Di ambang pintu itu, ia berhenti sejenak. Udara di sekitarnya terasa panas-api nyata dari lorong telah menyala sejak malam hari. Murid lain yang masuk sebelumnya sudah berteriak kesakitan.

"Jangan buang waktu," desis seseorang di belakangnya. Itu adalah Ling Mo, murid dari klan bayangan yang terkenal licik. "Atau kau takut meleleh seperti lilin?"

Joko menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mata Ling Mo. Untuk sesaat, Ling Mo tampak tersentak-seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di Joko. Tapi ia segera mengedip dan tertawa sinis. Joko tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke lorong.

Suhu di dalam menyambutnya seperti tinju raksasa. Api berwarna biru dan ungu menjilat dinding, mengeluarkan suara mendesis seperti ular marah. Murid lain yang masuk sebelumnya sudah berlari setengah terbakar, melindungi diri dengan perisai Qi. Joko tidak punya Qi. Tubuhnya telanjang terhadap elemen. Atau begitulah yang semua orang kira.

Langkah pertama: ujung sepatunya menyentuh tanah yang membara. Langkah kedua: hembusan api menerjang wajahnya. Langkah ketiga: ia merasakan panas yang seharusnya membakar kulitnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Api itu tidak membakar-ia tersedot, seolah ada pusaran di setiap pori Joko. Panas berubah menjadi sensasi listrik yang mengalir ke dalam tulangnya, lalu lenyap. Tubuhnya menyerap api.

Joko tertegun. Ia belum pernah mencoba ini di depan umum. Dalam latihan rahasia di malam hari, ia belajar bahwa Kekosongan bisa menelan elemen, tapi ia tidak yakin sampai benar-benar dihadapkan pada api hidup. Kini, keyakinan itu mengalir deras. Ia berjalan lebih cepat. Api di sekitarnya mulai meredup-bukan karena padam, tetapi karena ditarik ke dalam dirinya. Lorong yang sebelumnya terang membara, menjadi gelap di tempat ia lewati. Jejaknya meninggalkan bayangan di atas bara.

Di luar lorong, para instruktur yang mengawasi melalui batu pemantau mulai gelisah. "Lihat! Energi api di Lorong menurun drastis!"

"Mungkin ada yang menggunakan artefak penyerap? Tidak, itu dilarang keras."

"Atau mungkin... ada yang meledakkan dirinya?"

Fajar Wicaksana, sang Kepala Instruktur, mengerutkan dahi. Ia menatap bayangan yang bergerak di dalam lorong. Bayangan itu terlalu tenang, terlalu teratur. Tidak seperti murid yang berlari panik. Ia menekan rasa curiga. Mungkin hanya kebetulan.

Sementara itu, Joko sudah keluar dari lorong di sisi lain. Tubuhnya tidak hangus, bajunya masih utuh, tidak setetes keringat pun mengalir. Ia berdiri di ujung lorong dengan napas normal. Beberapa murid yang sudah menunggu di zona aman menatapnya dengan mulut terbuka. Mereka melihatnya masuk tanpa Qi, dan keluar tanpa luka. Mustahil.

"Dia pasti menyembunyikan pil tahan api," bisik seorang murid perempuan kepada temannya.

"Tapi tidak ada pil yang bisa menyerap api seperti itu. Lihat lorongnya-api di sana hampir mati!"

Joko tidak peduli pada bisik-bisik. Ia berjalan melewati mereka menuju stasiun kedua: Medan Petir Seratus Langkah. Di sana, seratus tiang besi setinggi manusia berbaris dalam labirin. Di puncak setiap tiang, petir biru melompat-lompat seperti monyet gila. Murid harus berlari melewati labirin tanpa tersambar petir-atau jika tersambar, harus memiliki tubuh yang cukup kuat untuk bertahan.

Wardhana sudah berada di depan, menunggu giliran. Ketika melihat Joko mendekat, ia menyeringai. "Hei, sampah. Kau berhasil selamat dari api? Mungkin beruntung. Tapi petir tidak kenal ampun. Bahkan aku yang sudah di tahap Pembentukan Dasar harus hati-hati. Kau? Kau akan menjadi abu."

Joko menatapnya. Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya tatapan kosong-kosong yang dalam, seperti jurang yang tidak berdasar. Wardhana merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba ia merasa dirinya kecil. Ia mendengus untuk menutupi rasa tidak nyaman, lalu berbalik.

Belum sempat Wardhana melangkah, petir dari tiang terdekat tiba-tiba melompat keluar dari jalurnya, menyambar tanah di depan Joko. Bukan untuk menyerang-hanya untuk menciptakan percikan. Namun semua orang melompat kaget. Joko sendiri hanya mengedip. Ia merasakan sesuatu: petir itu seperti mencoba berkomunikasi. Seperti ingin mendekat, tetapi ragu.

"Ayo, kau duluan, sampah!" teriak seorang instruktur muda yang tidak sabar. "Tunjukkan apa yang kau bisa! Atau kau akan didiskualifikasi!"

Joko menghela napas. Ia mulai berjalan ke dalam labirin tiang-tiang besi. Petir-petir di sekitarnya seperti sadar-intensitasnya menurun, lompatannya melemah. Beberapa petir bahkan berhenti total saat ia lewat, seolah menahan napas. Di belakangnya, instruktur dan murid-murid saling pandang. Ini bukan normalitas.

Ketika ia mencapai ujung labirin tanpa satu sambaran pun, hening total menyelimuti area. Kemudian, dari kejauhan, suara tepuk tangan yang lambat dan sarcastic. Semua menoleh. Di atas tribun khusus, duduk seorang pemuda berjubah hitam dengan wajah yang terlalu sempurna, terlalu dingin. Ia dikenal sebagai Elang Bayangan, murid misterius yang jarang muncul, namun peringkatnya selalu di puncak. Tidak ada yang tahu klannya. Ia hanya dikenal sebagai bayangan.

"Hebat," kata Elang Bayangan, suaranya seperti batu yang bergesekan. "Tapi bukankah terlalu dini untuk pamer? Simpan untuk babak terakhir." Ia tersenyum-senyum yang tidak hangat. Lalu tubuhnya memudar menjadi kabut dan menghilang.

Joko merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Kata-kata Elang Bayangan terasa seperti tusukan. "Waspadalah terhadap mereka yang berpura-pura tidur." Mungkinkah Elang Bayangan adalah salah satu dari mereka? Atau justru ia sendiri yang sedang diamati? Ia tidak punya waktu untuk berpikir. Instruktur sudah memanggilnya untuk tahap akhir: Duel Batu Sakti.

Batu Sakti adalah altar persegi empat seukuran sepuluh langkah, terbuat dari giok hitam yang digosok hingga mengkilap. Dua murid akan berdiri di atasnya. Batu akan mengukur kekuatan kultivasi, teknik, dan jiwa. Tidak ada senjata, tidak ada artefak-hanya murni kemampuan. Yang kalah akan terpental keluar altar.

Nama lawan Joko diumumkan: Ling Mo, murid bayangan yang tadi mengejeknya di depan lorong. Ling Mo melompat ke altar dengan ringan, matanya menyipit. "Kau beruntung di dua babak pertama. Tapi di sini, keberuntungan tidak cukup. Aku akan menunjukkan bahwa peringkat Besi Rusak memang tempatmu."

Joko naik ke altar. Kaki telanjangnya menyentuh giok dingin. Ia bisa merasakan energi altar mengalir, mencoba membaca tubuhnya. Namun yang terbaca hanyalah kehampaan. Altar bergetar. Angka-angka mulai muncul di permukaan batu: Qi Ling Mo tercatat 7.200 unit, elemen bayangan intensitas tinggi. Sedangkan Joko: 0 unit. Kosong.

Tawa meledak di antara penonton. "Bahkan binatang pun punya Qi!" seru seseorang. "Dia benar-benar sampah!"

Namun Joko tidak mendengar. Ia hanya fokus pada lawannya. Ling Mo mulai bergerak, bayangan di kakinya memanjang seperti ular hitam. "Rasuk Bayangan!" teriaknya. Ular-ular itu melesat ke arah Joko, mencoba melilit tubuhnya.

Joko tidak menghindar. Ia membiarkan ular-ular itu menyentuh kulitnya. Saat kontak terjadi, ia merasakan tarikan-Kekosongan dalam dirinya merespons. Ular-ular itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya, lenyap tanpa jejak. Ling Mo terbelalak. "Apa?!"

Sebelum Ling Mo sempat bereaksi, Joko melangkah maju satu langkah. Tidak ada serangan balik, tidak ada teknik. Hanya langkah. Namun saat kakinya menginjak altar, getaran aneh menyebar. Altar giok hitam mulai memancarkan cahaya kebiruan-bukan biru api, melainkan biru hampa, seperti warna langit yang hilang. Angka Qi Ling Mo mulai turun drastis: 7.200, 7.000, 6.500. Sementara angka Joko tetap 0.

"Ini... ini tidak mungkin!" teriak instruktur. "Altar tidak bisa salah!"

Ling Mo merasakan kekuatannya mengalir keluar. Ia panik, mengeluarkan teknik bayangan tingkat tinggi-Seribu Bayangan Pembunuh. Ribuan bayangan siluman melesat dari tubuhnya, memenuhi altar. Tapi Joko masih berdiri di tempat. Bayangan-bayangan itu tidak bisa mendekat. Seperti ada dinding tak kasat mata yang menyerap semuanya.

Kemudian Joko mengangkat tangannya. Tidak untuk menyerang, melainkan untuk meraih sesuatu yang tidak terlihat. Udara di sekitarnya berputar, membentuk pusaran kecil. Ling Mo tersedot ke pusaran itu-bukan secara fisik, melainkan energinya. Tubuh Ling Mo mulai melemah. Lututnya gemetar. Ia jatuh berlutut di altar, terengah-engah.

"Cukup!" teriak Fajar Wicaksana dari tribun. "Ling Mo kalah!"

Altar berhenti bergetar. Joko menurunkan tangannya. Ling Mo terbaring di altar, tidak sadarkan diri. Semua mata tertuju padanya-Joko Saputra, si sampah yang baru saja mengalahkan murid bayangan tahap Pembentukan Dasar tanpa mengeluarkan satu teknik pun. Hening. Lalu gemuruh percakapan.

Joko turun dari altar dengan kepala tegak. Ia tahu ini baru awal. Di balik sorakan dan pertanyaan, ia merasakan pandangan-pandangan tajam: instruktur yang curiga, Wardhana yang pucat, dan yang paling mengganggu-sekali lagi, dari sudut tribun yang kosong, secercah bayangan dan bisikan:

"Ritus ketiga akan segera dimulai. Kau baru saja membuka pintu, Joko Saputra. Dan di balik pintu itu, ada yang menunggumu sejak awal mula."

Joko menoleh cepat, tapi tidak ada siapa pun. Hanya bayangannya sendiri di lantai marmer. Namun bayangan itu tersenyum. Senyum yang bukan miliknya.

~ Bab 15 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai