Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 14

Saksi Bisu dari Kegelapan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Fajar belum sepenuhnya merangkak naik di atas puncak Akademi Langit Tengah, namun udara sudah dipenuhi oleh dengung kecemasan yang hampir teraba. Joko Saputra berdiri di ambang asramanya, telapak tangan masih menyisakan sensasi dingin dari sentuhan cermin malam tadi. Tulisan tipis yang muncul di permukaan kaca-Ritus ketiga menunggumu. Waspadalah terhadap mereka yang berpura-pura tidur-terukir jelas di dalam kesadarannya, lebih tajam dari pedang mana pun yang pernah ia lihat. Ia menghela napas panjang, menghirup aroma tanah basah setelah hujan malam, dan merasakan denyut Kehampaan di dalam dadanya berdetak seirama dengan jantung. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Tubuhnya terasa lebih ringan, namun pikirannya lebih berat. Seolah-olah setelah menyelesaikan Ritus Kedua, lapisan tipis antara dirinya dan realitas mulai mengabur, memperlihatkan jahitan-jahitan halus di balik tirai dunia.

Langkahnya menuju arena ujian terasa seperti berjalan di atas permadani yang ditenun dari ketidakpastian. Koridor batu putih yang biasanya ramai dengan murid-murid yang berlomba menunjukkan kekuatan, hari ini terasa lebih sepi. Atau mungkin hanya persepsinya yang berubah. Beberapa murid yang berpapasan dengannya melemparkan tatapan yang sama seperti biasa-hinaan yang disembunyikan di balik senyum, ejekan yang dibisikkan dalam sela-sela napas. Namun Joko tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman. Ia melihat mereka sebagai bayang-bayang yang bergerak dalam panggung sandiwara, boneka yang tidak sadar akan tali yang menarik gerak mereka. Dan di antara kerumunan itu, ia mencari. Mencari seseorang yang mungkin tidak tidur semalaman, yang matanya mungkin terbuka lebar di dalam kelopak yang terpejam.

Arena ujian hari ini adalah Lapangan Seribu Bayangan, sebuah tempat yang konon dibangun di atas pusaran energi kuno. Dikelilingi oleh pilar-pilar giok hitam yang menjulang setinggi lima puluh meter, lantainya terbuat dari batu obsidian yang dipoles hingga memantulkan langit seperti cermin gelap. Di sinilah para murid akan diuji kemampuannya dalam mengendalikan elemen, memanipulasi Qi, dan bertahan di bawah tekanan. Bagi Joko, ini adalah panggung pertama di mana ia akan menunjukkan bahwa Kehampaan bukanlah kutukan-melainkan anugerah yang melampaui segala pemahaman.

Instruktur Guntur Langit, seorang lelaki paruh baya dengan janggut perak dan mata yang menyala-nyala seperti petir yang terpenjara, berdiri di tengah arena. Suaranya bergema, menggetarkan pilar-pilar giok hingga bergemuruh rendah. "Ujian hari ini adalah simulasi pertempuran. Kalian akan berhadapan satu lawan satu, menggunakan seluruh teknik yang telah kalian pelajari. Tidak ada batasan. Tidak ada ampun. Hanya kemenangan atau kekalahan." Matanya menyapu barisan murid, dan ketika tatapannya bertemu dengan Joko, ada kilatan skeptis yang nyaris tidak tersembunyi. Joko sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Ia tersenyum dalam hati.

Pasangan pertamanya adalah seorang murid dari Klan Bayu, bernama Rendra-seorang pemuda dengan rambut biru kehijauan yang selalu mengalun tertiup angin, bahkan ketika tidak ada angin sama sekali. Ia terkenal sebagai ahli Elemen Angin, mampu menciptakan tornado kecil di ujung jari dan melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Ketika nama Joko dipanggil, Rendra tertawa kecil. "Sampah bermartabat palsu, kau yakin ingin naik ke arena? Atau kau lebih suka menyerah sekarang dan menghemat waktuku?" Beberapa murid lain ikut tertawa, suara mereka seperti derai air yang memecah kesunyian pagi.

Joko tidak menjawab. Ia melangkah ke tengah arena, dan saat kakinya menyentuh obsidian hitam, ia merasakan getaran halus-seperti bisikan dari dalam bumi. Kehampaan di dalam tubuhnya merespons, menjalar ke ujung jari, ke pori-pori kulit, menciptakan lapisan tipis yang tidak kasatmata. Ia tidak perlu menjelaskan. Ia hanya perlu menunjukkan.

Instruktur Guntur Langit mengangkat tangan. Tanda dimulai. Rendra segera melesat, tubuhnya berubah menjadi pusaran angin yang menyambar ke arah Joko. Tornado kecil terbentuk di telapak tangannya, berputar dengan kecepatan yang memekakkan telinga. Murid-murid lain berteriak memberi semangat, beberapa bahkan bersorak melihat betapa mengesankannya serangan itu. Namun Joko tetap diam. Ia berdiri tegak, kedua tangan di samping tubuh, matanya setenang danau di malam tanpa angin.

Saat tornado itu hendak menyentuh dadanya, sesuatu terjadi. Udara di sekitar Joko seolah mengental, menjadi kental seperti molase. Pusaran angin Rendra kehilangan arah, berputar tidak menentu, lalu-dalam sekejap-lenyap. Tidak menghilang, tidak terpantul, tetapi benar-benar lenyap, seolah ditelan oleh lubang hitam yang tak kasatmata. Rendra terhuyung, kehilangan keseimbangan. Matanya membelalak. "Apa... apa yang kau lakukan?"

Joko tidak menjawab. Ia melangkah maju, satu langkah, dua langkah. Setiap langkahnya menghasilkan dentuman rendah yang beresonansi di dada setiap orang yang hadir. Bukan dentuman fisik, melainkan dentuman yang terasa di jiwa, seperti genderang perang dari alam lain. Rendra mencoba mengumpulkan Qi, membentuk tameng angin di depannya. Namun setiap kali ia melepaskan energi, energi itu mengalir ke arah Joko-dan lenyap begitu saja. Seolah Joko adalah sumur tanpa dasar yang menelan segala sesuatu.

Dalam kepanikan, Rendra melancarkan serangan terakhirnya-Badai Seribu Pisau, sebuah teknik yang menciptakan ribuan bilah angin tajam yang menyerang dari segala arah. Ini adalah serangan pamungkas yang bahkan murid senior pun sulit bertahan. Namun Joko hanya mengangkat satu tangan. Telapak tangannya terbuka, dan dari pusatnya, kegelapan yang nyaris tak terlihat menyebar seperti riak air. Setiap bilah angin yang memasuki radius itu langsung hancur menjadi partikel-partikel kecil yang kemudian ikut lenyap. Tidak ada ledakan, tidak ada kilatan cahaya. Hanya kehampaan yang merangkul segala sesuatu dan menjadikannya tiada.

Keheningan menyelimuti arena. Murid-murid yang tadinya tertawa kini terdiam, mulut mereka terbuka setengah, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Instruktur Guntur Langit menatap Joko dengan sorot mata yang berubah-dari skeptis menjadi penuh perhitungan, seperti seorang ahli yang melihat sesuatu yang melampaui pemahaman umum. Namun Joko tidak peduli. Ia hanya fokus pada satu hal: mencari di antara kerumunan, mencari seseorang yang mungkin tidak tertidur semalam.

Dan kemudian ia melihatnya. Di barisan paling belakang, di balik bayangan pilar giok hitam, berdiri seorang murid berpakaian serba kelabu. Wajahnya tidak jelas, seolah selalu tertutup kabut tipis. Namun matanya-matanya terbuka lebar, dan di dalamnya terpantul kilatan aneh yang tidak seperti murid biasa. Murid itu tersenyum, tipis, lalu perlahan mengangkat tangan dan memberi isyarat: dua jari menunjuk ke arah Joko, lalu ke arah langit, lalu ke arah tanah. Sebuah pesan yang hanya dimengerti oleh mereka yang telah melewati ritus.

Joko merasakan dadanya bergetar. Ritus ketiga. Ia tahu bahwa ini baru permulaan. Namun di hadapan semua orang, ia harus tetap tenang. Ia menurunkan tangannya, dan obsidian di bawah kakinya kembali memantulkan langit yang mulai cerah. Rendra tergeletak di lantai, napasnya tersengal, kekalahannya mutlak dan tanpa ampun. Tidak ada yang berani bersorak. Tidak ada yang berani mengejek.

Instruktur Guntur Langit akhirnya bersuara, suaranya serak. "Joko Saputra... menang." Kata-kata itu terasa berat, seperti gumpalan timah yang jatuh ke dalam sumur. Sejarah telah berubah di pagi itu, dan semua orang yang hadir menyadarinya-meskipun belum ada yang mampu memahami sepenuhnya apa yang baru saja terjadi.

Joko berbalik, meninggalkan arena. Di belakangnya, ia mendengar bisik-bisik yang mulai tumbuh seperti api di padang rumput kering. "Apa itu tadi?" "Bagaimana caranya?" "Dia bukan sampah... dia monst". Namun ia tidak menoleh. Langkahnya mantap, menuju perpustakaan terlarang di mana pecahan giok kuno menunggu, di mana jejak Penguasa Kekosongan Pertama berbisik lebih keras dari sebelumnya. Di luar, matahari akhirnya menembus kabut pagi, namun bagi Joko, cahaya itu hanya ilusi. Kegelapan sejati adalah rumahnya, dan ia baru saja mengambil langkah pertama untuk membuktikan bahwa dalam kehampaan, segala sesuatu dimulai dan berakhir.

Di kejauhan, di bawah naungan pohon beringin tua, bayangan kelabu itu masih berdiri. Dan dari bibirnya, nyanyian lirih yang hanya terdengar oleh angin menggema: "Ritus ketiga... semakin dekat. Waspadalah terhadap mereka yang berpura-pura tidur, karena mereka yang benar-benar terjaga adalah yang paling berbahaya."

~ Bab 14 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai