Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 13

Ritus Kedua: Menjadi Kekosongan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu adalah malam yang berbeda. Bukan karena langit tiba-tiba kehilangan bintang-bintangnya, melainkan karena bagi Joko Saputra, seluruh alam semesta seolah berbisik dalam satu nada yang sama: kehampaan. Ia berdiri di tengah reruntuhan perpustakaan terlarang, tubuhnya masih bergetar oleh sisa-sisa energi yang baru saja ia serap dari tiga makhluk kegelapan. Mereka telah lenyap-bukan terbunuh, bukan dikalahkan, melainkan ditelan oleh kekosongan yang lahir dari ujung jarinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Joko merasakan sesuatu yang aneh: bukan kekuatan, melainkan keheningan yang maha dahsyat di dalam dadanya.

Di sekelilingnya, pecahan batu giok kuno yang tersembunyi di dalam lipatan jubahnya mulai berdenyut pelan, memancarkan aura yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah tersentuh oleh kegelapan purba. Joko menunduk, melihat giok itu bersinar redup seperti mata yang terbuka di dalam kegelapan. Ia ingat kata-kata yang terukir di dalam kesadarannya saat pertama kali menyentuh pecahan itu: “Ritus pertama telah kau lewati. Sekarang, persiapkan dirimu untuk ritus kedua-menjadi kekosongan itu sendiri.”

Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh oleh manusia biasa. Tubuh Kehampaan Mutlak yang selama ini ia kutuk sebagai kutukan ternyata adalah gerbang menuju realitas yang lebih dalam-sebuah realitas di mana Qi, elemen, dan bahkan Dao hanyalah permukaan dari samudra yang tak bertepi. Dan ia, Joko Saputra, si sampah yang tak bisa kultivasi, kini berdiri di tepi samudra itu.

Namun, malam tidak memberinya waktu untuk bermeditasi. Dari kejauhan, suara langkah kaki bergema di koridor reruntuhan. Joko menegang, indranya yang tiba-tiba menjadi tajam menangkap dua aura-bukan aura kultivator biasa, melainkan sesuatu yang lebih gelap, lebih licin. Ia buru-buru menyembunyikan pecahan giok di balik jubahnya dan berusaha mengatur napas. Namun, tubuhnya masih memancarkan sisa-sisa energi void yang baru saja ia gunakan, seperti tinta hitam yang tak bisa dihapus dari kain putih.

“Hei, kau! Murid sampah dari Klan Joko!” Sebuah suara keras memecah keheningan. Dua sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pilar batu yang runtuh. Mereka adalah murid Akademi Langit Tengah-Joko mengenali mereka. Yang satu bernama Ling Feng, seorang kultivator di tahap Inti Emas tingkat menengah, terkenal karena kekejamannya terhadap murid-murid lemah. Yang satunya lagi adalah Bao Shi, seorang murid bertubuh besar dengan senyum sinis yang selalu menghiasi wajahnya.

“Kami mendengar suara aneh dari sini,” kata Ling Feng, matanya menyipit menatap Joko dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Biasanya, tempat ini angker. Tapi malam ini, ada bau... bau kegagalan yang busuk. Dan kau, sapah, kau satu-satunya yang cukup bodoh untuk berkeliaran di sini.”

Joko tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, mencoba mengendalikan detak jantungnya yang berpacu. Ia tahu bahwa dalam situasi seperti ini, setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya akan menjadi bahan ejekan. Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergolak-bukan amarah, melainkan keheningan yang lapar. Void di dalam dirinya merespons kehadiran dua kultivator itu, seolah mencium mangsa.

“Kau pura-pura tuli, hah?” Bao Shi melangkah maju, tangannya sudah bersiap mengeluarkan teknik elemen tanah. Debu-debu di sekitarnya mulai berputar membentuk pusaran kecil. “Atau mungkin kau sudah gila karena terlalu sering duduk di tempat sampah ini?”

Ling Feng menyeringai. “Sudahlah, Bao. Biarkan dia menggigil ketakutan. Lagipula, besok adalah hari ujian praktik meditasi. Pasti dia akan gagal lagi seperti biasa. Lihat saja, dia bahkan tidak bisa mengumpulkan cukup Qi untuk membuat sehelai daun bergoyang.”

Mereka tertawa. Tawa yang kasar, penuh penghinaan. Namun, Joko tidak bergeming. Di dalam pikirannya, ia mendengar bisikan samar dari pecahan giok: “Biarkan mereka meremehkanmu. Semakin dalam mereka merendahkanmu, semakin besar kejatuhan mereka kelak.” Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan bagaimana void di dalam tubuhnya menjilat-jilat dinding meridiansnya, siap meledak jika ia kehilangan kendali.

“Aku hanya mencari ketenangan,” kata Joko akhirnya, suaranya datar namun tegas. “Jika kalian sudah selesai menghinaku, aku akan kembali ke asrama.”

Ling Feng mengerutkan kening. Biasanya, Joko akan menunduk dan pergi begitu saja. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Nada suaranya... terlalu tenang. Seperti air yang diam sebelum badai. Namun, Ling Feng menganggapnya hanya sebagai kebodohan belaka. “Hmph. Dasar sampah. Pergilah sebelum kami membuatmu menyesal lahir di dunia ini.”

Joko berbalik dan melangkah pergi. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah gravitasi tidak lagi memegang erat tubuhnya. Ia meninggalkan reruntuhan itu dengan perasaan aneh-campuran antara kemenangan kecil dan kesadaran bahwa pertempuran sebenarnya baru akan dimulai. Di belakangnya, Ling Feng dan Bao Shi masih tertawa, tetapi tawa itu mulai terdengar seperti gema dari dunia lain, semakin redup seiring langkah Joko menjauh.

Sesampainya di asrama, Joko langsung mengunci pintu kamarnya. Kamar itu kecil, hanya berisi dipan bambu usang, meja kayu yang penuh goresan, dan satu lilin yang menyala redup. Ia duduk bersila di lantai, mengeluarkan pecahan giok dari balik jubah. Di bawah cahaya lilin, giok itu tidak memantulkan cahaya-sebaliknya, ia menyerapnya, menciptakan titik gelap di tengah ruangan.

“Ritus kedua,” bisik Joko, matanya menatap permukaan giok yang seolah bergerak seperti air hitam. “Apa yang harus kulakukan?”

Tidak ada jawaban verbal. Sebaliknya, kesadarannya tiba-tiba ditarik ke dalam giok. Ia merasa tubuhnya melayang, lalu jatuh ke dalam kekosongan yang tak berujung. Di sana, ia melihat ribuan titik cahaya yang berkedip-kedip seperti bintang, namun semuanya redup, seolah mati. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah suara bergema-dalam, purba, tanpa emosi:

“Ritus pertama adalah menelan kegelapan. Kau telah melakukannya dengan memakan tiga makhluk kegelapan yang dikirim oleh bayang-bayang dari luar. Namun, menelan bukanlah tujuan. Menelan adalah persiapan. Sekarang, kau harus menjadi kegelapan itu sendiri. Kau harus meleburkan diri ke dalam kehampaan, hingga tidak ada lagi perbedaan antara dirimu dan kekosongan.”

Joko menggigil. “Maksudmu... aku harus kehilangan diriku?”

Suara itu tidak menjawab, tetapi Joko merasakan pemahaman mengalir ke dalam jiwanya. Ia sadar bahwa ini bukan tentang kehilangan identitas, melainkan tentang melampaui batas bentuk dan wujud. Selama ini, kultivator bergantung pada Qi, pada elemen, pada tubuh fisik mereka. Namun, apa yang diajarkan oleh Penguasa Kekosongan Pertama adalah bahwa kekuatan sejati berasal dari ketiadaan-dari ruang di antara partikel, dari keheningan di antara suara, dari kegelapan di antara cahaya.

“Bagaimana caranya?” tanya Joko, suaranya bergetar.

“Duduklah. Pusatkan seluruh kesadaranmu pada satu titik di bawah pusarmu. Bayangkan semua Qi yang pernah kau serap, semua kegelapan yang kau telan, mengalir ke titik itu. Lalu, lepaskan semuanya. Jangan menahan. Jangan mengendalikan. Biarkan ia mengalir ke luar tubuhmu, menyelimutimu seperti selimut malam.”

Joko mengikuti instruksi itu. Ia menutup matanya dan menarik napas panjang. Di dalam tubuhnya, ia bisa merasakan pusaran energi gelap yang berputar liar akibat penyerapan tiga makhluk tadi. Perlahan, ia mengarahkan energi itu ke titik di bawah pusar-dantiannya. Namun, dantiannya tidak seperti dantian kultivator biasa. Ia bukanlah pusat penyimpanan Qi, melainkan lubang hitam yang tak pernah kenyang. Setiap kali energi masuk, ia langsung lenyap. Tapi kali ini, Joko tidak menahannya. Ia justru mendorong energi itu keluar dari tubuhnya melalui pori-pori kulitnya.

Proses itu terasa seperti dikuliti hidup-hidup. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dalam tulang hingga ke ujung rambut. Joko meringis, tetapi tidak berhenti. Ia ingat semua penghinaan, semua pukulan, semua malam-malam panjang yang ia habiskan dalam kesendirian. Itu semua adalah bahan bakar yang membuatnya terus bergerak. Sekarang, ia harus membakar semuanya untuk lahir kembali.

Di luar tubuhnya, kegelapan mulai terkumpul. Bukan kegelapan biasa yang disebabkan oleh ketiadaan cahaya, melainkan kegelapan yang hidup, yang bergerak, yang bernapas. Ia merayap di lantai kamar, menaiki dinding, hingga akhirnya menyelimuti seluruh ruangan. Lilin yang semula menyala tiba-tiba padam, tetapi Joko tidak perlu cahaya. Ia bisa melihat segalanya dalam kegelapan-setiap butir debu, setiap retakan di dinding, setiap hembusan napasnya sendiri.

Kemudian, sesuatu terjadi. Joko merasa tubuhnya larut. Tangannya, kakinya, dadanya-semuanya terasa menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Ia bukan lagi Joko Saputra yang berdiri di kamar. Ia adalah ruang itu sendiri, ia adalah udara, ia adalah keheningan. Dan dalam keadaan itu, ia bisa merasakan denyut kehidupan di seluruh akademi-para murid yang tidur, para instruktur yang bermeditasi, bahkan hewan-hewan malam yang berkeliaran di halaman. Semua terhubung oleh satu benang tipis: energi. Dan ia, Joko, berada di luar benang itu, menjadi latar belakang dari segala sesuatu.

“Ini... ini luar biasa,” bisiknya, atau mungkin hanya pikirannya yang bergema.

Suara purba itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat, lebih hangat: “Kau telah memahami ritus kedua. Namun, pemahaman saja tidak cukup. Kau harus mempraktikkannya dalam pertempuran. Besok, dalam ujian praktik meditasi, kau akan dihadapkan pada lawan yang lebih kuat. Gunakan apa yang kau pelajari malam ini. Biarkan mereka melihat sampah yang mereka hinakan berubah menjadi kehampaan yang menelan segalanya.”

Joko tersentak dari trance-nya. Ia kembali menyadari tubuh fisiknya, duduk bersila di lantai kayu yang dingin. Lilin di sampingnya menyala kembali, seolah tidak pernah padam. Namun, di dalam dirinya, ada perubahan yang tak terbantahkan. Ia merasa lebih ringan, lebih tenang, dan lebih berbahaya. Ia bangkit berdiri, melangkah ke jendela, dan memandang langit malam yang bertabur bintang. Biasanya, ia merasa kecil di bawah langit itu. Namun malam ini, ia merasa bahwa bintang-bintang itu hanyalah titik-titik kecil yang bisa ia padamkan jika ia mau.

“Besok,” gumamnya, “besok semua akan berubah.”

Ia berbalik, berniat untuk beristirahat. Namun, saat matanya beralih ke cermin di sudut kamar, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Di dalam cermin, bayangannya sendiri tersenyum-bukan senyumnya, melainkan senyum yang lebih tua, lebih licik, dengan mata yang hitam pekat tanpa putih mata. Dan di belakang bayangan itu, di kegelapan ruangan, ada sosok lain berdiri: sesosok wanita berpakaian putih kusam, rambutnya panjang terurai menutupi wajah, dan di tangannya ia memegang sebuah lilin yang apinya berwarna biru.

Joko menoleh dengan cepat, tetapi tidak ada siapa pun di belakangnya. Ia kembali menatap cermin-bayangannya sudah normal, tersenyum biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, di sudut cermin, ada tulisan tipis yang muncul seolah digores oleh kuku: “Ritus ketiga menunggumu. Waspadalah terhadap mereka yang berpura-pura tidur.”

Detak jantungnya kembali berpacu. Ia tidak tahu apa artinya, tetapi satu hal yang pasti: malam ini bukanlah malam yang tenang. Dan besok, ketika matahari terbit, ia akan melangkah ke arena ujian dengan kekuatan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Di luar jendela, angin malam berhembus membawa bisikan janji dan ancaman. Joko Saputra, si sampah bermartabat palsu, telah memulai perjalanan yang tidak akan pernah bisa ia hentikan-perjalanan menjadi kehampaan itu sendiri.

~ Bab 13 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai