Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 11
Gema dari Keabadian yang Terpecah
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Dunia tidak pernah sama setelah malam itu. Joko Saputra berdiri di tepi jurang kecil di lereng Gunung Xuanwu, menatap hamparan hutan bambu yang bergoyang pelan diterpa angin fajar. Udara pagi terasa berbeda-lebih tajam, lebih bernyawa, seolah setiap molekul Qi di sekitarnya kini berbisik kepadanya dalam bahasa yang hanya ia mulai pahami. Kehampaan yang semula hanya berupa ruang kosong di dalam meridiannya kini berdenyut dengan ritme yang aneh, seperti jantung raksasa yang tertidur di kedalaman lautan. Ia mengangkat tangannya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan tipis-bukan cahaya, melainkan ketiadaan cahaya-berputar di ujung jarinya. Sebuah kegelapan yang lebih pekat dari malam, yang menyerap warna-warna di sekitarnya hingga segalanya tampak pudar.
"Kau telah menyentuh ambang," bisik suara itu lagi-suara Penguasa Kekosongan Pertama yang kini terdengar lebih jelas, seperti gemuruh guntur dari jarak yang tak terukur. "Tapi menyentuh bukan berarti menggenggam. Masih ada tujuh lapis lagi sebelum kau benar-benar berdiri di lorong antara ada dan tiada." Joko mengepalkan tangannya, dan kilatan itu lenyap. Ia merasakan kelelahan yang menggerogoti tulang-sumsumnya, seolah setiap tetes energi kehidupan telah diperas untuk menghasilkan pertunjukan kecil itu. Namun di balik letih, ada sesuatu yang lain-kegembiraan yang liar, rasa haus yang tak terpuaskan. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang kutukan, dan kini, untuk pertama kalinya, ia merasakan kekuatan mengalir dalam dirinya. Bukan kekuatan elemen yang mencolok seperti api atau petir, melainkan kekuatan yang lebih purba: kekuatan untuk membatalkan, untuk meniadakan, untuk menelan.
Perjalanan turun dari Gunung Xuanwu memakan waktu setengah hari, dan Joko memanfaatkannya untuk menguji batas-batas barunya. Ia duduk di bawah air terjun kecil, membiarkan derasnya air menerpa punggungnya, dan mencoba menarik Qi dari lingkungan. Seperti biasa, Qi tidak masuk-ia diserap, diurai, dan diubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Namun kini, ia bisa merasakan proses itu dengan sadar. Setiap partikel Qi yang menyentuh kulitnya seolah meleleh, kehilangan identitasnya, dan bergabung dengan kekosonan di dalam dirinya. Ia seperti pusaran air di dasar samudra-semakin banyak Qi yang berusaha mendekat, semakin kuat tarikan ke bawah. Dalam hitungan jam, area sekitar air terjun menjadi zona mati: tumbuhan layu, serangga menjauh, dan burung-burung menghilang. Joko tersentak, menyadari bahwa ia secara tidak sengaja telah menciptakan lingkaran kehampaan mini. Ia segera mengendalikan napasnya, menekan kekosonan itu kembali ke dalam inti meridiannya.
"Berhati-hatilah," suara itu bergema lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam. "Kekosonan tidak pernah netral. Ia lapar, anak muda. Dan kelaparan ini akan terus tumbuh seiring kau menggunakannya. Jangan biarkan ia melahapmu sebelum kau cukup kuat untuk mengendalikannya." Joko mengangguk, meskipun tidak ada yang melihat. Ia tahu bahwa peringatan itu bukan sekadar basa-basi. Ketika ia pertama kali menyentuh gerbang kekosonan, ia sempat merasa dirinya akan tercerabut dari eksistensi-seperti benang yang putus dari kain kehidupan. Hanya kemauan keras yang membawanya kembali.
Saat matahari tepat di atas kepala, Joko tiba di gerbang Akademi Langit Tengah. Dua penjaga berseragam biru meliriknya dengan pandangan merendahkan seperti biasa. "Lihat, si sampah bermartabat palsu sudah kembali. Apa kau mencari buku baru untuk dijadikan bantal tidur, Joko?" ejek salah satu penjaga, seorang pemuda berambut pendek dengan lambang kultivasi Lingkaran Ketiga di dadanya. Yang satu lagi tertawa kecil, matanya penuh cemoohan. Joko biasanya menunduk dan berjalan cepat, tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah penjaga itu. Matanya-yang biasanya redup dan penuh kepasrahan-kini berkilauan dengan fokus yang tajam. Untuk sesaat, penjaga itu tertegun. Ada sesuatu dalam tatapan Joko yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah ia tengah menatap jurang yang gelap tanpa dasar. Namun ia segera mengusir perasaan itu dan mendorong bahu Joko dengan kasar. "Pergilah, sampah! Jangan buang waktuku!"
Joko terguncang, hampir jatuh tersungkur, tetapi ia berhasil menahan diri. Dalam hatinya, ia merasakan gelombang kemarahan yang ingin meledak-keinginan untuk melepaskan kekosonan dan membuat penjaga itu lenyap dalam sekejap. Namun ia menahannya, menarik napas dalam-dalam, dan mengingat kata-kata Penguasa Kekosongan Pertama. Kekosonan itu lapar, dan jika ia memberinya makan tanpa kendali, ia sendiri yang akan menjadi mangsa. "Suatu hari nanti," bisiknya dalam hati, "kau akan berlutut di depanku, dan aku akan membiarkanmu tenggelam dalam kehampaan yang kau ejek hari ini."
Akademi Langit Tengah tetap sama seperti biasanya-megah, sibuk, dan penuh dengan murid-murid yang sibuk mengukur kekuatan satu sama lain. Di lapangan tengah, sekelompok murid sedang berlatih teknik pedang, kilatan Qi biru dan merah bertebaran di udara. Di sudut lain, seorang instruktur dengan jubah emas mengajari murid-muridnya cara memanipulasi elemen angin, menciptakan pusaran kecil yang berputar di telapak tangan mereka. Tidak ada yang menatap Joko lebih dari sekali-bagi mereka, ia hanyalah bayangan yang tidak berguna, pengingat bahwa dalam dunia kultivasi, beberapa orang dilahirkan untuk menjadi sampah.
Namun malam hari, ketika akademi sunyi dan hanya diterangi lampu lentera qi yang temaram, Joko berjalan menuju reruntuhan perpustakaan terlarang. Di sinilah semuanya dimulai, di antara rak-rak yang dipenuhi debu dan gulungan-gulungan yang setengah hancur. Ia duduk bersila di lantai batu yang retak, dan mengeluarkan pecahan giok kuno yang telah mengubah hidupnya. Sekarang, pecahan itu tidak hanya diam-ia berdenyut lembut, memancarkan panas yang aneh. Joko meletakkannya di lututnya, dan memejamkan mata.
"Ajar aku lebih banyak," katanya pelan. "Aku ingin tahu segalanya tentang kekosonan. Tentang bagaimana aku bisa menggunakannya tanpa kehilangan diriku sendiri."
Sesaat, tidak ada yang terjadi. Lalu, gelap mulai mengelilinginya-bukan gelap karena matanya tertutup, melainkan gelap yang meresap ke dalam kesadarannya. Ia merasa dirinya jatuh, terhempas ke dalam lorong tanpa ujung, di mana waktu dan ruang kehilangan maknanya. Suara itu kembali, sekarang terdengar seperti bisikan dari seribu arah sekaligus: "Kekosonan bukanlah kehampaan biasa, Joko Saputra. Ia adalah fondasi dari segala sesuatu. Ketika dao pertama kali diucapkan, ia muncul dari kekosonan. Ketika bintang pertama lahir, ia keluar dari rahim kehampaan. Dan ketika segalanya berakhir, mereka akan kembali ke kekosonan. Inilah siklus abadi yang tidak pernah berubah. Dan kau... kau adalah titik pertemuan antara dua ujung siklus itu."
Joko merasakan pemahaman meresap ke dalam tulangnya. Bukan pengetahuan yang ia peroleh dari buku, melainkan pengetahuan yang langsung terukir di jiwanya. Ia mulai mengerti bahwa kekosonan di dalam dirinya bukanlah kutukan-ia adalah anugerah yang lebih tua dari dewa-dewa kultivasi. Tubuhnya adalah wadah yang sempurna untuk kekuatan yang mendahului elemen, yang mendahului Qi, yang mendahului segalanya. Dan tugasnya sekarang adalah belajar mengisi wadah itu tanpa membuatnya retak.
Malam itu, Joko berlatih hingga fajar menyingsing. Ia belajar memanipulasi kekosonan dalam skala kecil-membatalkan nyala api lilin, menyerap energi dari batu Qi yang ia sembunyikan di sakunya, bahkan menciptakan bayangan yang lebih gelap dari bayangan biasa. Setiap latihan meninggalkan kelelahan yang luar biasa, tetapi juga rasa pencapaian yang manis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia memiliki tujuan, bahwa ia bukan lagi sekadar tumpukan daging yang tidak berguna.
Namun di luar sana, di menara tertinggi akademi, lelaki tua berjubah putih masih duduk di depan kompas giok yang kini berputar semakin kencang. Kompas itu bukan alat biasa-ia adalah artefak yang melacak fluktuasi Dao, dan selama seratus tahun terakhir, jarumnya tidak pernah bergerak lebih dari beberapa derajat. Sekarang, jarum itu berputar seperti gasing, menunjuk ke arah yang tidak menentu. Lelaki tua itu menyipitkan matanya, lalu beranjak berdiri. Ia melangkah ke balkon, menatap ke arah reruntuhan perpustakaan terlarang, di mana sinar aneh berkelebat redup di antara celah-celah dinding.
"Gerbang telah terbuka," gumamnya. "Dan anak muda itu... ia tidak tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian. Ada entitas lain yang juga telah terbangun. Entitas yang menunggu selama ribuan tahun untuk kembali."
Lelaki itu merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah koin kuno berwarna hitam pekat. Di salah satu sisi koin, terukir simbol mata yang tertutup. Di sisi lainnya, simbol api yang padam. Ia melempar koin itu ke udara, menangkapnya, dan melihat hasilnya. Mulutnya melengkung membentuk senyum yang tidak bisa diartikan-antara kekhawatiran dan antisipasi.
"Segera," bisiknya pada angin malam. "Segera anak itu harus dihadapkan pada ujian yang sesungguhnya. Bukan ujian melawan murid-murid sombong, melainkan ujian melawan dirinya sendiri. Dan hanya satu yang akan keluar hidup dari kehampaan: Joko Saputra, atau apa pun yang kini bersemayam di dalam dirinya."
Jauh di reruntuhan perpustakaan, Joko tiba-tiba menggigil. Ada sensasi aneh menjalari punggungnya, seolah seseorang tengah mengawasinya dari jarak yang tak terlihat. Ia membuka matanya, dan untuk sesaat, ia merasa ada bayangan di sudut ruangan yang tidak seharusnya ada. Bayangan itu tidak memiliki bentuk, tidak memiliki warna-ia hanya kehadiran, dingin dan lapar.
"Kau merasakannya juga, ya?" suara Penguasa Kekosongan Pertama bergema dengan nada yang berbeda, lebih gelap. "Itu dia. Makhluk yang lahir dari sisi lain kehampaan. Ia telah menunggu selama berabad-abad untuk pemilik baru. Dan kau, Joko Saputra, telah membuka pintu yang tidak akan pernah bisa kau tutup kembali."
Joko menelan ludah. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak membiarkan ketakutan menguasainya. Ia telah hidup dalam kehampaan selama tujuh belas tahun-ia tahu bagaimana rasanya menjadi kosong. Dan kini, saat ia mulai mengisi kekosonan itu dengan kekuatan, ia juga harus siap menghadapi apa pun yang ikut masuk melalui celah yang ia buka.
"Biarkan ia datang," kata Joko dengan suara yang lebih keras dari yang ia perkirakan. "Aku tidak akan lari. Aku telah lari sepanjang hidupku. Dan mulai sekarang, hanya ada satu jalan-jalan ke depan, meskipun itu berarti melangkah ke dalam kegelapan yang paling dalam."
Di luarnya, angin malam berhembus membawa aroma tanah basah. Bintang-bintang di langit Kontinen Langit Sembilan berkelap-kelip, tidak peduli dengan perubahan besar yang sedang terjadi di bumi. Namun di dasar reruntuhan, sebuah pecahan giok bersinar dengan cahaya hitam, dan di dalam kehampaan yang tak terjangkau, sesuatu yang purba membuka matanya untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.
~ Bab 11 Selesai ~