Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 10

Gerbang Menuju Kekosongan Abadi

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, langit di atas Gunung Xuanwu bagaikan kain beludru hitam yang sobek di sana-sini, memperlihatkan jaringan urat perak dari bintang-bintang yang enggan bersinar. Joko Saputra melangkah di antara akar-akar pohon purba yang menjulur seperti jari-jari kerangka raksasa, setiap langkahnya meninggalkan jejak samar di tanah lembap yang dipenuhi lumut fosforesen. Cahaya pucat dari lumut itu menerangi wajahnya yang tegang, mempertegas garis-garis keputusan yang mengukir di sudut matanya. Di belakangnya, bayangan itu terus mengiring-bukan bayangan biasa, melainkan entitas dari pecahan giok yang kini terjalin dengan jiwanya, berdenyut dalam ritme yang sama dengan detak jantungnya.

"Kau ragu," bisik bayangan itu, suaranya seperti gemerisik daun kering yang tertiup angin tak berarah. Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang menusuk langsung ke inti keraguan yang selama ini dipendam Joko. Ia tidak menjawab. Mulutnya terasa kering, dan setiap tarikan napas membawa aroma tanah basah bercampur sesuatu yang lebih tua-aroma batu yang telah menyaksikan ribuan tahun kesunyian.

Hutan di lereng Gunung Xuanwu bukanlah hutan biasa. Pepohonannya tidak mengenal musim; daun-daunnya selalu hitam keunguan, mengkilap seperti obsidian yang dipoles. Di antara dahan-dahan, sesekali terlihat mata-mata kecil bercahaya-mungkin serangga, mungkin roh penjaga, mungkin sesuatu yang lebih gelap. Joko tidak berani menengadah terlalu lama. Ia hanya fokus pada jalan setapak yang nyaris tak terlihat, bekas tapak kaki binatang buas atau mungkin jejak para murid yang pernah tersesat dan tidak pernah kembali. Legenda akademi mengatakan bahwa Gunung Xuanwu adalah tempat bersemayamnya roh-roh kuno yang tidak terima dengan siklus reinkarnasi. Mereka yang nekat mendaki tanpa persiapan akan kehilangan arah, terjebak dalam labirin waktu, menjadi bagian dari hutan itu sendiri.

Namun Joko tidak punya pilihan. Sejak ia menemukan pecahan giok di reruntuhan perpustakaan, sejak bisik-bisik Kehampaan mulai meresapi mimpinya, ia tahu bahwa takdirnya telah menyimpang dari jalur yang biasa. Tubuh Kehampaan Mutlak yang selama ini dianggap kutukan ternyata adalah kunci menuju sesuatu yang jauh lebih besar-tapi kunci tanpa pintu tidak berarti apa-apa. Puncak Gunung Xuanwu, kata bayangan itu, adalah salah satu dari tujuh pintu menuju Inti Kehampaan. Jika ia berhasil membukanya, ia akan mendapatkan fragmen kekuatan yang cukup untuk mengubah segalanya. Jika gagal, rohnya akan terkoyak oleh kekosongan yang ia coba kuasai.

Semakin tinggi ia mendaki, semakin dingin udara yang menyelimuti. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang meresap ke dalam sumsum, membuat tulang-tulangnya terasa seperti kaca yang rapuh. Joko menggigil, namun ia tidak berhenti. Ia telah melewati batas ketahanan fisiknya sejak satu jam yang lalu; sekarang ia hanya bertumpu pada tekad yang membara di dadanya. Setiap langkah adalah perlawanan terhadap gravitasi yang seolah bertambah berat, seolah gunung itu sendiri menolak kehadirannya.

"Kau harus melepaskan dirimu dari ilusi," bayangan itu berkata lagi, kali ini lebih lantang. "Apa yang kau anggap sebagai dingin, apa yang kau anggap sebagai lelah-semua itu adalah konstruksi dari pikiran yang terikat pada hukum dunia. Kehampaan tidak mengenal dingin atau panas. Kehampaan adalah ketiadaan, dan kau harus menjadi ketiadaan untuk memahaminya."

Joko menghentikan langkahnya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan mencoba merasakan Kehampaan di dalam tubuhnya. Pada awalnya, yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang menakutkan-sebuah lubang hitam di ulu hati yang menelan semua energi Qi yang pernah ia coba serap. Tapi perlahan, setelah berminggu-minggu berlatih dalam kerahasiaan, ia mulai merasakan sesuatu yang lain. Kehampaan itu tidak pasif; ia hidup, ia bernapas, ia menunggu. Seperti lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan riak dari kedalaman yang tak terselami.

Ia membuka matanya. Dunia di sekelilingnya tampak berubah. Pohon-pohon hitam keunguan kini tampak seperti tiang-tiang raksasa yang menopang langit yang retak. Lumut fosforesen berkedip dalam pola yang teratur, seperti kode kuno yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah melihat tabir realitas. Dan di ujung jalan setapak, di antara dua batu besar yang diukir dengan simbol-simbol aneh, ia melihatnya: sebuah gerbang yang terbuat dari kegelapan yang lebih pekat dari malam.

Gerbang itu tidak memiliki daun, tidak memiliki ambang, tidak memiliki apa pun yang bisa dikenali sebagai struktur. Ia hanya sebuah lingkaran hitam sempurna yang menggantung di udara, berdenyut lemah seperti jantung raksasa yang tertidur. Dari dalam lingkaran itu, angin tipis bertiup, membawa bisikan yang tidak bisa diartikan dengan indera biasa. Joko merasakan getaran di tulang-tulangnya, resonansi yang dalam dan purba, seolah gerbang itu memanggil sesuatu yang selama ini terpendam di dalam dirinya.

"Kau telah menemukannya," bisik bayangan itu dengan nada puas, hampir penuh kasih sayang. "Gerbang Kegelapan Pertama. Di baliknya, terdapat fragmen kekosongan yang ditinggalkan oleh Penguasa Kekosongan Pertama sebelum ia lenyap. Ambillah, dan kau akan memahami bagian pertama dari warisanmu."

Namun Joko tidak melangkah maju. Ia berdiri di depan gerbang, kaki terpaku di tanah. Di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia tahan mulai muncul ke permukaan. Apakah ini benar-benar jalannya? Apakah dengan menyerap fragmen kegelapan, ia akan menjadi lebih kuat-atau justru kehilangan sisa kemanusiaannya? Bayangan itu, entitas dari pecahan giok, telah membimbingnya sejauh ini, tapi Joko tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ia hanyalah alat, boneka yang dimanipulasi untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

"Kau meragukanku," bayangan itu berkata, nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Setelah semua yang kulakukan untukmu? Setelah membuka matamu terhadap kebenaran yang selama ini tersembunyi?"

"Aku meragukan segalanya," jawab Joko, suaranya serak namun mantap. "Kau mengajariku bahwa dalam Kehampaan, tidak ada yang mutlak. Bahkan kebenaran sekalipun bisa hancur menjadi debu. Jadi bagaimana aku bisa percaya bahwa kau tidak berbohong?"

Keheningan menggantung di antara mereka. Gerbang hitam berdenyut lebih cepat, seolah marah, seolah lapar. Angin dari dalamnya semakin kencang, menerpa wajah Joko, membuat jubahnya yang lusuh berkibar seperti bendera yang putus asa. Bayangan itu tidak menjawab. Atau mungkin ia menjawab dengan cara lain.

Dari dalam gerbang, suara langkah kaki mulai terdengar. Perlahan, berirama, seperti seseorang yang berjalan di permukaan air. Joko menajamkan pandangannya, mencoba menembus kegelapan. Sosok mulai muncul-samar-samar, tembus pandang, seperti fatamorgana yang tercipta dari asap hitam. Sosok itu semakin jelas, dan Joko merasa darahnya berdesir ketika ia menyadari bahwa sosok itu adalah dirinya sendiri. Versi lain dari Joko Saputra, dengan mata yang hitam pekat tanpa putih, dengan senyum yang dingin dan mengenaskan.

"Aku adalah apa yang akan kau jadi jika kau menolak takdirmu," kata sosok itu, suaranya persis sama, namun tanpa emosi. "Lemah. Tersesat. Hancur. Kau akan kembali ke akademi, menanggung hinaan, hidup dalam bayang-bayang mereka yang lebih kuat. Sampai suatu hari, tubuhmu akan menyerah, dan Kehampaan di dalam dirimu akan melahap jiwamu dari dalam. Tidak ada yang akan mengingatmu. Tidak ada yang akan meratapimu. Kau hanyalah sebuah catatan kaki dalam sejarah klan yang pernah kau cemarkan."

Joko menggenggam tinjunya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan, namun ia tidak merasakan sakit. Atau mungkin ia merasakannya, tapi ia telah belajar untuk mengabaikan rasa sakit sejak lama. Ia mengingat kembali semua penghinaan: ejekan murid-murid berbakat di Akademi Langit Tengah, tatapan iba dari para tetua, kekecewaan yang diam-diam disembunyikan oleh keluarganya. Ia ingat hari ketika Batu Resonansi Klan hancur menjadi debu, dan ia ingat bisikan bahwa ia adalah aib yang harus dibuang.

"Aku tidak akan menjadi dirimu," kata Joko, suaranya kini bergetar dengan amarah yang lama terpendam. "Aku tidak akan menjadi bayangan yang lemah yang menyerah pada kegelapan."

Ia melangkah maju. Bukan ke arah gerbang, melainkan ke arah sosok itu. Dengan tangan gemetar, ia mengulurkan telapak tangan kanannya dan merasakan Kehampaan di dalam dirinya merespon. Bukan untuk menyerap, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memahami. Ia mengingat pelajaran pertama dari bayangan giok: "Kehampaan bukan musuh. Kehampaan adalah kanvas. Dan kau adalah pelukisnya."

Dari telapak tangannya, kegelapan mulai menyebar-bukan kegelapan yang menakutkan, melainkan kegelapan yang melingkupi seperti kabut tipis. Kabut itu menyentuh sosok bayangan itu, dan seketika sosok itu bergetar, mulai pecah seperti kaca yang retak. Sosok itu menjerit, suara menusuk yang membuat dedaunan di sekitar berguguran. Tapi Joko tidak mundur. Ia terus mendorong Kehampaan dari dalam dirinya, membiarkannya mengalir seperti sungai yang meluap, membasahi kegelapan dengan kegelapan yang lebih dalam lagi.

Sosok itu lenyap. Gerbang hitam berdenyut satu kali, lalu diam. Angin berhenti. Keheningan total menyelimuti puncak gunung. Joko berdiri di sana, napasnya tersengal-sengal, keringat bercampur darah mengalir di pelipisnya. Di dalam dirinya, ia merasakan sesuatu yang baru-sebuah kehangatan yang aneh di tengah dinginnya Kehampaan. Seolah ia telah memenangkan pertempuran pertama melawan dirinya sendiri.

"Kau... kau melampaui ekspektasiku." Suara bayangan itu terdengar, kini dengan nada yang berbeda-ada keheranan, ada rasa hormat. "Kau tidak menyerah pada godaan untuk langsung menerima kekuatan. Kau memilih untuk menghadapi ketakutanmu terlebih dahulu. Baru sekarang kau layak untuk melangkah melewati gerbang."

Joko menunduk, menatap telapak tangannya yang masih bergetar. Di permukaan kulitnya, garis-garis hitam tipis mulai muncul, seperti urat daun yang membentuk pola rumit. Pola itu tidak permanen-ia bisa merasakannya memudar perlahan-namun jejaknya meninggalkan sensasi yang tak terlupakan. Ia telah menyentuh sesuatu yang murni, sesuatu yang primitif, dan ia selamat.

Ia menengadah ke arah gerbang. Kini lingkaran hitam itu tampak lebih tenang, berdenyut lembut seperti lautan yang tenang. Dari dalamnya, tercium aroma yang asing namun akrab-aroma tanah setelah hujan pertama, aroma kekosongan yang telah menunggu selama jutaan tahun.

"Langkah selanjutnya," bisik bayangan itu. "Kau harus masuk."

Joko mengangguk, meski rasa takut masih menggerogoti hatinya. Ia tahu bahwa di balik gerbang itu, tidak ada yang bisa menjamin keamanannya. Ia mungkin akan menemukan fragmen kekuatan, atau ia mungkin akan kehilangan jiwanya untuk selamanya. Tapi ia juga tahu bahwa mundur bukanlah pilihan. Dunia kultivasi tidak pernah mengenal kata menyerah, dan seorang Penguasa Kehampaan tidak boleh gentar pada kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Dengan langkah mantap, Joko Saputra melangkahkan kaki kanannya melewati batas lingkaran hitam. Kegelapan menyambutnya, melingkupi tubuhnya seperti jutaan tangan yang lembut namun tak terhindarkan. Ia merasakan kehampaan meresap ke dalam pori-porinya, merambat di sepanjang meridian yang selama ini kosong, dan sesuatu di dalam dadanya berdetak lebih kencang. Detak itu bukan detak jantung-bukan detak yang ia kenal. Detak itu adalah denyut dari sesuatu yang telah bangkit setelah lama tertidur.

Dan di saat yang sama, di salah satu menara tertinggi Akademi Langit Tengah, seorang lelaki tua dengan jubah putih yang menyelimuti tubuh keriputnya membuka mata. Di tangannya, sebuah kompas giok berputar liar tanpa kendali. Lelaki itu menatap ke arah Gunung Xuanwu, lalu tersenyum tipis. "Akhirnya... seseorang berhasil menyentuh ambang gerbang. Ini baru permulaan, anak muda. Dan permulaan ini akan mengguncang dunia."

~ Bab 10 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai