Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 9

Sang Bayangan Menari di Antara Cahaya

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, bintang-bintang di Langit Sembilan seolah enggan bersinar. Langit hitam pekat menggantung seperti selubung duka yang tak terucapkan, hanya diterangi oleh secercah cahaya bulan sabit yang nyaris tenggelam dalam kabut tipis. Joko Saputra berdiri di tepi danau buatan Akademi Langit Tengah, tempat di mana airnya jernih bagai kristal namun tak pernah memantulkan apa pun dengan sempurna. Di permukaan air yang tenang, ia melihat bayangannya sendiri-wajah lelah dengan mata yang menyala dalam diam, bukan karena Qi atau api elemen, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, lebih purba. Kekosongan di dalam dirinya mulai bergerak, merayap seperti naga yang terbangun dari tidur ribuan tahun.

Pecahan giok kuno yang ia temukan di reruntuhan perpustakaan terlarang kini tersimpan rapat di saku dalam jubahnya. Meski hanya sebesar ibu jari, benda itu terasa berat-bukan berat fisik, melainkan berat takdir. Setiap kali ia menyentuhnya, ia mendengar bisikan: suara entitas yang menyebut dirinya Penguasa Kekosongan Pertama. "Kau bukan sampah, Joko Saputra. Kau adalah wadah yang telah lama ditunggu," bisik itu berulang kali, seperti mantra yang mengukir dirinya ke dalam tulang sumsum. Namun malam ini, bisikan itu terasa lebih nyata, lebih mendesak. Seolah ada sesuatu yang mendekat.

Angin berhembus pelan, membawa aroma anyir darah dan tanah basah dari arah hutan barat. Joko menoleh. Di antara pepohonan gelap, ia melihat dua titik cahaya merah-sepasang mata yang menatapnya tanpa berkedip. Bayangan hitam yang sejak tadi mengikutinya sejak ia meninggalkan reruntuhan kini muncul kembali, tak lagi sebagai sekadar bayangan, melainkan sebagai bentuk yang lebih padat: sesosok manusia berjubah compang-camping dengan rambut panjang kusut yang menjuntai hingga ke pinggang. Wajahnya tak jelas, hanya siluet gelap yang menyerap cahaya bulan. Namun Joko tahu siapa itu-atau setidaknya, apa itu. Itu adalah manifestasi dari Kehampaan yang belum sepenuhnya terbentuk, entitas yang lahir dari kegelapan dalam dirinya sendiri.

"Kau sudah bangun," kata Joko, suaranya datar namun bergetar di ujung kata. Ia tidak takut-atau setidaknya, ia berusaha tidak takut. Selama berbulan-bulan ia hidup dengan ejekan, pukulan, dan pengkhianatan. Rasa takut telah menjadi teman lama yang tak lagi ia hormati. Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Bayangan itu tidak datang untuk menyerang, tidak seperti sebelumnya. Ia berdiri diam, seperti patung yang menunggu perintah.

Suara serak keluar dari bayangan itu, seperti gesekan batu karang yang bergesekan di dasar laut: "Aku adalah cerminmu, Joko Saputra. Aku adalah bagian dari dirimu yang kau sembunyikan. Kau pikir kau bisa mengendalikan Kehampaan? Tidak. Kehampaan yang akan mengendalikanmu, kecuali kau memahami sifat sejatiku." Bayangan itu melangkah maju, dan setiap langkah meninggalkan jejak hitam yang membekas di tanah, membara sejenak lalu menghilang. "Turnamen Agung semakin dekat. Mereka yang merendahkanmu akan berkumpul, menunggu untuk melihatmu jatuh. Tapi-kau tidak akan jatuh, bukan? Kau akan menunjukkan kepada mereka apa arti sebenarnya dari kekosongan."

Joko mengepalkan tangannya. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia ingat bagaimana bayangan ini pertama kali muncul-saat ia nyaris mati diracuni oleh murid senior, saat tubuhnya limbung dan jiwanya hampir padam, tiba-tiba kekuatan asing meledak dari dalam dirinya, dan bayangan hitam keluar, menghancurkan para penyerangnya dalam sekejap. Sejak itu, bayangan ini selalu ada, menunggu di sudut gelap kesadarannya, sesekali muncul saat emosi Joko memuncak. Namun kali ini, ia muncul atas kemauannya sendiri. Itu pertanda buruk.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Joko, suaranya lebih keras sekarang. Ia harus tegas. Ia tidak bisa membiarkan entitas ini mengendalikannya.

Bayangan itu tertawa-suara aneh seperti gemuruh petir dari kejauhan. "Aku tidak ingin apa-apa. Aku adalah alatmu, atau kau adalah alatku. Itu yang harus kau putuskan. Tapi ingat, Joko Saputra: Kehampaan tidak pernah meminta izin. Ia mengambil. Ia menghancurkan. Ia membangun kembali dalam bentuk yang tak terbayangkan. Kau bisa menolakku, tapi itu berarti kau menolak dirimu sendiri." Bayangan itu melangkah lagi, kini hanya beberapa meter di depan Joko. Cakar hitam menjulur dari ujung jubahnya, siap meraih.

Joko memejamkan mata. Nafasnya dalam-dalam. Ia mencoba merasakan aliran di dalam tubuhnya-bukan Qi, bukan elemen, melainkan denyut kosong yang berputar di sekitar meridiannya. Seperti pusaran air yang tak terlihat, Kehampaan di dalam dirinya berputar semakin cepat sejak ia menyentuh pecahan giok. Dan kini, saat ia membuka mata, ia melihat dunia dengan cara yang berbeda. Garis-garis energi tipis menghubungkan segala sesuatu-pohon, batu, air, bahkan bayangan itu sendiri. Ia bisa melihat simpul-simpul takdir yang terjalin rumit, dan di tengahnya, dirinya sendiri sebagai titik hitam yang menyerap semua cahaya.

"Aku tidak akan menjadi alat siapa pun," bisik Joko, suaranya hampir tak terdengar. "Aku adalah penguasa atas diriku sendiri." Ia mengangkat tangan kanannya, dan dari telapak tangannya, kegelapan murni mulai meleleh-bukan seperti asap, melainkan seperti cairan hitam pekat yang memantulkan ketiadaan. Cairan itu membentuk bola kecil, berputar, dan tiba-tiba melesat ke arah bayangan. Bayangan itu terkejut, mencoba menghindar, tapi bola hitam itu terlalu cepat. Ia menyentuh dada bayangan, dan seketika sosok itu bergetar hebat, seolah akan tercabik-cabik.

"Apa... apa yang kau lakukan?!" teriak bayangan itu, suaranya berubah menjadi raungan marah.

"Aku menunjukkan bahwa aku bukan budakmu," jawab Joko, matanya menyala dalam kegelapan. "Kehampaan di dalam diriku adalah milikku. Bukan milik entitas purba yang hanya ingin menggunakan tubuhku."

Bayangan itu mundur, langkahnya limbung. Dari dadanya, bola hitam terus menggerogoti, mengubah bayangan menjadi kabut tipis yang mulai menyebar. "Kau... kau gila! Kau tidak mengerti apa yang kau lakukan! Kehampaan sejati tidak bisa dikendalikan oleh kehendak lemah seperti dirimu!"

Tapi Joko sudah tidak peduli. Ia merasakan sesuatu yang aneh-setiap kali ia menggunakan kekosongan, tubuhnya terasa ringan, namun sekaligus seperti tenggelam dalam samudra tanpa dasar. Ada keindahan yang mengerikan dalam sensasi itu. Seperti menari di ujung tebing sambil tersenyum pada kematian. Ia melangkah maju, kini mendekati bayangan yang mulai runtuh.

"Katakan siapa sebenarnya dirimu," desak Joko. "Katakan apa yang disembunyikan Penguasa Kekosongan Pertama dariku."

Bayangan itu bergemetar. Wajahnya yang samar mulai menampakkan bentuk-sepasang mata merah menyala, bibir tipis dengan senyum sinis. "Aku adalah bagian dari warisan yang kau gali dari reruntuhan itu. Tapi bukan aku yang utama. Ada yang lebih tua, lebih gelap, lebih kuat dari aku. Pecahan giok itu hanyalah kunci. Saat kau benar-benar membuka pintu Kehampaan, kau akan menghadapi Penguasa Kekosongan Pertama yang sebenarnya-bukan sekadar bisikan, melainkan entitas yang telah menunggu selama zaman kekacauan pertama. Dan percayalah, Joko Saputra, ia tidak akan ramah."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Kuat. Kau harus menjadi cukup kuat untuk menolaknya. Atau menerimanya. Tapi pilihan itu hanya bisa kau buat setelah kau menguasai Void Domain sepenuhnya. Dan untuk itu, kau harus belajar melampaui semua batas yang diajarkan di akademi ini. Sistem kultivasi mereka hanyalah mainan anak-anak dibandingkan dengan apa yang menantimu."

Bayangan itu runtuh menjadi genangan hitam yang perlahan menguap ke udara malam. Sebelum benar-benar hilang, ia meninggalkan satu pesan terakhir, berbisik langsung ke dalam pikiran Joko: "Carilah Naga Tidur di puncak barat. Ia akan mengajarimu langkah pertama."

Danau kembali sunyi. Bulan sabit muncul dari balik kabut, menerangi permukaan air yang kini tenang. Joko berdiri diam, jantungnya berdetak kencang. Ia mengepalkan tangan, merasakan kekosongan di dalam dirinya berputar dengan ritme baru-lebih stabil, lebih terarah. Namun kegelisahan tetap menghinggapi. Siapa Naga Tidur itu? Apa yang akan ia temukan di puncak barat? Dan yang paling penting: berapa lama ia bisa menahan pengaruh Kehampaan sebelum benar-benar kehilangan dirinya sendiri?

Keesokan paginya, mentari menyinari Akademi Langit Tengah dengan sinar keemasan yang menipu-terang, indah, namun menyembunyikan ribuan intrik dan permusuhan. Joko berjalan melewati koridor utama, melewati murid-murid yang berbisik, menunjuk, dan tertawa. "Lihat, si sampah bermartabat palsu masih hidup. Kudengar ia gagal total di ujian kultivasi kemarin. Dasar beban!" kata seorang murid dengan jubah biru tua, lencana perak di dada menandakan ia berada di peringkat Inti Surgawi, jauh di atas Joko yang bahkan tidak memiliki peringkat sama sekali. Murid itu bernama Liang Chen, mantan calon bintang yang pernah menyukai Joko di masa lalu, namun kini menjadi salah satu penghinanya yang paling keras.

Joko tidak menoleh. Ia hanya berjalan terus, setiap langkahnya mantap. Kekosongan di dalam dirinya mendorongnya untuk tidak peduli, untuk fokus pada tujuan yang lebih besar. Namun di sudut hatinya, rasa sakit tetap ada. Dulu ia pernah dekat dengan Liang Chen-mereka berlatih bersama, berbagi mimpi, bahkan berjanji akan mendaki puncak kultivasi tertinggi bersama. Kini, semua itu hanyalah kenangan pahit yang diinjak-injak oleh ejekan.

"Joko!" suara itu membuatnya berhenti. Liang Chen melangkah mendekat, wajahnya mencibir. "Kudengar kau ditemukan di reruntuhan perpustakaan terlarang semalam. Apa kau mencari teknik terlarang? Percuma. Bahkan jika kau temukan, kau tak bisa menggunakannya. Tubuhmu hanya sampah, Joko. Kau hanya membuang-buang waktu."

Joko menatap Liang Chen langsung ke mata. Dan untuk pertama kalinya, Liang Chen melihat sesuatu yang membuatnya terdiam-bukan ketakutan, bukan kepasrahan, melainkan keyakinan yang dingin dan tak tergoyahkan. "Waktu," kata Joko perlahan, "tidak pernah terbuang jika digunakan untuk belajar. Dan aku belajar banyak hal akhir-akhir ini." Ia tersenyum tipis-senyum yang membuat Liang Chen merinding.

"Apa maksudmu?" tanya Liang Chen curiga.

"Kau akan lihat. Di turnamen nanti."

Joko berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan utama. Ia harus mencari informasi tentang Naga Tidur. Puncak barat-mungkin merujuk pada Gunung Xuanwu di ujung barat akademi, tempat yang dianggap angker bahkan oleh instruktur. Konon di sana bersemayam roh binatang purba yang tak pernah terbangun. Atau mungkin itu hanya legenda. Tapi bayangan itu tidak akan memberinya petunjuk palsu. Ada sesuatu yang nyata di sana.

Di perpustakaan, ia menyusuri rak-rak yang berdebu, buku-buku kuno dalam bahasa kultivasi kuno berserakan. Seorang pustakawan tua dengan jubah abu-abu duduk di sudut, matanya setengah tertutup, namun tetap mengawasi setiap gerakan Joko. Pustakawan itu dikenal sebagai Guru Chen, seorang kultivator pensiunan yang diyakini telah mencapai level setengah dewa namun memilih hidup sederhana. Selama ini ia tidak pernah peduli pada Joko, seperti semua orang. Tapi hari ini, saat Joko melewati mejanya, Guru Chen membuka mata dan berkata pelan: "Kau mencari yang terlarang, anak muda. Hati-hati, karena jalan Kehampaan tidak pernah kembali."

Joko terkejut. "Anda tahu?"

"Aku tahu lebih dari yang kau kira. Naga Tidur menunggumu di puncak barat, tapi sebelum kau pergi, ingat satu hal: Kehampaan adalah cermin. Apa yang kau lihat di dalamnya adalah dirimu sendiri-dan musuhmu. Jangan biarkan cermin itu memakanmu."

Joko mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti. Ia mengambil sebuah gulungan kulit naga yang bertuliskan legenda Gunung Xuanwu, lalu duduk di sudut gelap untuk membaca. Isinya mengerikan: dikatakan bahwa di puncak barat, seorang kultivator tingkat Dewa pernah mengasingkan diri, berusaha mencapai Kehampaan murni. Ia gagal, dan rohnya terperangkap di antara alam hidup dan mati, berubah menjadi entitas yang disebut Naga Tidur-setengah bangun, setengah bermimpi. Siapa pun yang menemuinya harus menjawab teka-teki sang naga, atau jiwanya akan tersedot ke dalam mimpi abadi. Tidak ada yang pernah kembali setelah gagal.

Detak jantung Joko semakin cepat. Jadi ini ujian selanjutnya. Dan ia harus menghadapinya sendirian. Tanpa Qi, tanpa elemen, hanya dengan Kehampaan yang mulai ia pahami. Namun apakah pemahamannya cukup? Atau ia akan menjadi korban berikutnya dari kegilaan puncak barat?

Malam itu, saat akademi terlelap, Joko mengambil jalan setapak yang jarang dilalui menuju kaki Gunung Xuanwu. Di belakangnya, ia merasakan tatapan bayangan yang melayang di udara-entitas dari pecahan giok yang setengah hancur namun tidak pernah benar-benar mati. Bayangan itu berbisik: "Langkah pertama dimulai sekarang. Jangan mengecewakanku, Joko Saputra. Atau kita akan binasa bersama."

Joko tidak menjawab. Ia hanya melangkah ke dalam kegelapan hutan, menuju puncak yang menjulang seperti mahkota hitam di bawah langit tanpa bintang. Di atas sana, sesuatu menunggu. Sesuatu yang akan membantunya bangkit-atau menghancurkannya selamanya.

~ Bab 9 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai