Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 8

Mahkota dan Kehampaan: Langkah Pertama Melawan Takdir

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, di bawah gemerlap bintang-bintang yang seolah berjaga seperti saksi bisu dari sebuah kelahiran kembali, Joko Saputra berdiri di tengah reruntuhan perpustakaan terlarang. Mahkota di kepalanya bukan lagi sekadar artefak kuno-ia telah menyatu dengan ubun-ubunnya, menyusup ke dalam relung-relung kesadarannya seperti ular yang melilit mangsanya. Dari mahkota itu, desiran kekosongan berbisik, menciptakan riak-riak yang menggetarkan inti jiwanya. Udara di sekitarnya berubah, menjadi lebih dingin, lebih sunyi, seolah seluruh dunia tengah menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Joko merasakan tubuhnya bergetar. Bukan karena ketakutan, melainkan karena transformasi. Setiap serat dagingnya, setiap tulang di dalam raganya, mulai menyerap energi dari kekosongan yang selama ini ia sembunyikan. Ia ingat saat-saat ketika ia dijuluki 'sampah', ketika murid-murid lain meludah di wajahnya, ketika instruktur menatapnya dengan jijik. Kenangan itu tidak lagi menyakitkan-kini ia melihatnya sebagai bahan bakar, sebagai pijakan yang membawanya ke sini, ke ambang pintu takdirnya.

Tiba-tiba, suara gemuruh mengguncang tanah di bawah kakinya. Dari balik pintu batu kuno yang telah retak, bayangan raksasa mulai merayap keluar. Bukan sekadar entitas-ia adalah pecahan dari kekosongan yang telah lama terperangkap, menunggu pemilik sejati untuk melepaskannya. Joko mengepalkan tangan. Ia bisa merasakan mereka, makhluk-makhluk dari dimensi lain yang haus akan kebebasan. Mereka menari-nari di tepi pikirannya, menawarkan kekuatan yang tak terbatas.

"Jangan cepat percaya pada bisikan itu, anak muda." Sebuah suara dari dalam mahkota berbisik, selembut angin di tengah badai. "Setiap perjanjian dengan kekosongan memiliki harga. Dan kau baru saja membuka pintu yang tak mudah ditutup kembali." Joko tersentak. Suara itu milik Penguasa Kekosongan Pertama? Atau hanya gema dari ingatannya sendiri? Ia tak tahu. Yang ia tahu, di balik pintu itu, ada sesuatu yang lebih besar dari ambisinya.

Namun, sebelum Joko bisa merespons, langkah kaki berat terdengar dari luar reruntuhan. Cahaya obor menyala di kejauhan. "Di sana! Murid terkutuk itu pasti berada di dalam!" Suara keras itu milik Kepala Keamanan Akademi, seorang kultivator level Inti Emas yang dikenal kejam. Joko menoleh. Melalui celah dinding batu, ia melihat bayangan-bayangan bergerak mendekat, dipimpin oleh seorang instruktur yang telah menghinanya berulang kali. Instruktur itu, bernama Zhao Jing, pernah berkata di depan umum bahwa "tubuh kehampaan Joko adalah noda bagi akademi". Kini, kata-kata itu berubah menjadi duri di tenggorokan Joko sendiri.

"Kau telah melanggar aturan akademi, Joko Saputra!" teriak Zhao Jing saat ia dan kawanannya berhasil masuk ke reruntuhan. "Kau menggunakan artefak terlarang, membuka ruang bawah tanah yang dikunci oleh para tetua! Kau akan dihukum mati!" Zhao Jing melangkah maju, energi Qi-nya menggelora seperti api yang siap melumat segalanya. Namun, Joko tidak bergeming. Ia tetap berdiri tegak, mahkota di kepalanya berkilauan dalam kegelapan, menyerap cahaya apapun yang mendekat.

"Hukum mati?" ulang Joko dengan suara tenang. "Kau pikir itu bisa menghentikanku?" Ia mengangkat tangan, dan tiba-tiba, tanah di sekitarnya berguncang. Dari celah-celah batu, bayangan hitam mulai merambat, membentuk lingkaran di sekeliling Zhao Jing dan anak buahnya. Mereka terperangkap dalam domain yang baru saja ia ciptakan-Void Domain versi pertamanya, yang masih mentah namun sudah mematikan. Zhao Jing mencoba mengeluarkan serangan Qi, tapi energi itu lenyap begitu menyentuh lingkaran kegelapan.

"Apa-apaan ini?!" Zhao Jing berteriak panik. "Ini sihir hitam! Ini kutukan!" Joko tersenyum pahit. Mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka selalu melihat kehampaan sebagai kekurangan, sebagai cacat. Tapi sekarang, mereka akan merasakan langsung apa artinya berada dalam cengkraman kekosongan. Namun, di tengah kemarahannya, Joko merasakan sesuatu yang aneh. Mahkota itu berdenyut, memberi isyarat bahwa ia tidak boleh kehilangan kendali. Jika ia menyerah pada amarah, jika ia membiarkan kekosongan mengambil alih, maka ia akan menjadi apa yang mereka takuti-seorang monster yang melahap segalanya.

Joko menarik napas panjang. "Kalian punya pilihan," katanya kepada Zhao Jing dan kelompoknya. "Tinggalkan akademi ini. Jangan pernah kembali. Atau..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dari mahkota, energi hitam mulai mengalir ke tangannya, membentuk pedang panjang yang memancarkan cahaya ungu gelap. Zhao Jing dan anak buahnya gemetar. Mereka yang tadinya perkasa kini hanya menjadi bayangan ketakutan di hadapan seorang yang mereka anggap sampah. "Atau kau akan mati di sini?" sela Zhao Jing, masih mencoba bersikap garang meski suaranya bergetar. Joko menggeleng. "Atau kalian akan melihat dunia yang sebenarnya. Dunia di mana kekuatan bukanlah segalanya. Dunia di mana kehampaan adalah awal dari segalanya."

Malam itu, di reruntuhan perpustakaan terlarang, terjadi pertarungan yang tak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Namun, bukan pertarungan fisik yang terjadi-melainkan pertarungan kehendak. Joko tidak menyerang. Ia hanya membiarkan Void Domain-nya mengembang, menciptakan ruang hampa di mana Qi tidak bisa berfungsi. Zhao Jing dan anak buahnya terperangkap, merasakan tubuh mereka kehilangan kendali atas kekuatan yang selama ini mereka banggakan. Mereka jatuh berlutut, tangan mereka gemetar. Yang terkuat di antara mereka kini tak berdaya.

"Ini baru permulaan," bisik Joko, lebih pada dirinya sendiri daripada pada mereka. Ia merasakan mahkota itu berdesir, memberi sensasi ringan di ubun-ubunnya. Suara entitas dari balik pintu kembali terdengar, kali ini lebih jelas: "Kau telah memilih jalan ini, Joko Saputra. Dan di ujung jalan ini, hanya ada dua pilihan: kau yang mengendalikan kekosongan, atau kekosongan yang mengendalikanmu. Pikirkan baik-baik, karena mulai sekarang, setiap langkahmu akan meninggalkan jejak di kanvas alam semesta-jejak yang tak bisa dihapus." Joko mengerutkan dahi. Ia baru saja merasakan kekuatan luar biasa, namun juga merasakan beban yang begitu berat. Apakah ia siap? Apakah ia benar-benar akan menjadi penguasa kehampaan, atau justru menjadi budak dari kekuatan yang ia kendalikan?

Zhao Jing dan kawanannya akhirnya melarikan diri, meninggalkan reruntuhan dalam kekacauan. Joko berdiri sendirian, mahkota terus menyala di kepalanya. Angin malam berhembus, membawa bau tanah basah dan rerumputan yang terbakar. Joko menatap langit yang mulai memerah di ufuk timur. Fajar akan segera tiba, dan dengan itu, hari baru di Akademi Langit Tengah. Hari di mana 'sampah' yang direndahkan akan mulai menulis ulang sejarah dengan tangannya sendiri. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, pertanyaan tetap menggantung: apakah ia akan menjadi pahlawan yang membawa cahaya, ataukah ia akan menjadi kegelapan yang menelan segalanya? Mahkota di kepalanya bergetar, seolah menjawab dengan teka-teki yang tak terpecahkan.

Joko melangkah keluar dari reruntuhan, meninggalkan pintu batu yang kini tertutup kembali namun dengan celah yang tak pernah bisa diperbaiki. Di belakangnya, bayangan hitam masih merayap, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali. Dan di hadapannya, Akademi Langit Tengah masih sepi, namun tak lagi aman. Tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi esok. Tak ada yang bisa menghentikan roda takdir yang mulai berputar. Joko Saputra-anak yang dibuang, sampah yang direndahkan-kini berdiri di ambang kehancuran dan kebangkitan. Dan ia tidak akan mundur, tidak akan menyerah, tidak akan berhenti, sampai ia menemukan jawaban atas pertanyaan yang membakar jiwanya: apa arti sebenarnya dari kekosongan? Dan apa yang akan terjadi ketika sang penguasa kehampaan benar-benar bangkit?

~ Bab 8 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai