Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void
Bab 7
Panggilan dari Kekosongan Purba
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam turun di Akademi Langit Tengah bagaikan selubung perak yang ditenun dari kabut tipis dan cahaya bulan purnama. Di bawah lengkungan jembatan batu giok yang melintasi danau buatan, genangan air memantulkan ribuan bintang seolah-olah langit kedua terhampar di permukaan bumi. Namun bagi Joko Saputra, keindahan itu terasa hampa-seperti cermin yang tidak pernah bisa menangkap bayangan jiwanya sendiri. Ia duduk bersila di tepi danau, telapak tangan terbuka menghadap ke atas, mencoba merasakan denyut Qi yang seharusnya mengalir di sekelilingnya. Namun seperti biasa, yang ia terima hanyalah keheningan.
Sejak pertandingan tadi siang, ada sesuatu yang berubah. Bukan dalam dirinya-bukan dalam kemampuannya mengendalikan Void-melainkan dalam cara alam merespons keberadaannya. Angin yang semula berhembus acak kini tampak sedikit menghindar saat melewati tubuhnya. Dedaunan yang jatuh dari pohon willow perak berhenti sejenak di udara sebelum melanjutkan perjalanan, seolah-olah ruang di sekitar Joko memiliki gravitasinya sendiri. Ia tidak bisa menjelaskannya, namun Kehampaan di dadanya bergetar lebih dalam dari sebelumnya, seperti gema dari dasar jurang yang tak berujung.
"Kau telah melangkah terlalu jauh, anak muda."
Suara itu datang tanpa peringatan. Bukan dari arah tertentu-ia seolah lahir di dalam kepala Joko sendiri, merambat di antara sel-sel otaknya seperti akar pohon purba yang menembus tanah. Joko membuka matanya, tubuhnya tegang. Di hadapannya, tidak ada siapa pun. Hanya kabut yang semakin pekat, menggulung di atas permukaan danau seperti naga-naga putih yang saling berkejaran. Namun Kehampaan di dadanya berdenyut kuat, seolah menjawab panggilan yang tidak dapat ditangkap oleh telinga biasa.
"Siapa kau?" bisik Joko, suaranya nyaris tidak terdengar.
Tidak ada jawaban. Namun kabut mulai bergerak dengan pola yang aneh-berputar-putar membentuk pusaran yang semakin lama semakin jelas. Di tengah pusaran itu, muncul secercah cahaya yang bukan cahaya. Warnanya sulit dijelaskan: ia seperti lubang hitam yang memancarkan kecerahan, atau seperti kekosongan yang dipenuhi oleh ribuan warna yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia. Joko merasakan tubuhnya ditarik, bukan secara fisik, melainkan pada level kesadaran. Kehampaan di dalam dirinya menjerit-bukan dalam ketakutan, melainkan dalam pengakuan.
"Kau yang pertama setelah sepuluh ribu tahun." Suara itu kembali, kali lebih jelas, lebih dekat. "Yang mampu menyentuh esensi tanpa dirusak oleh ilusi Dao."
Pusaran itu membesar. Joko merasa dirinya melayang, meskipun tubuhnya masih duduk kaku di tepi danau. Ia melihat-bukan dengan mata, melainkan dengan semacam persepsi keenam-bahwa realitas di sekitarnya mulai terkelupas seperti kulit bawang. Di balik lapisan pertama, ada lapisan lain: sungai Qi yang mengalir, jejaring energi yang membentuk dunia. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih gelap, lebih purba, lebih sunyi. Di sanalah suara itu berasal.
"Selama ribuan tahun, Aku menunggu. Aku mengawasi para kultivator yang katanya hebat, yang berlomba-lomba mengejar Dao yang semu. Mereka mengira bahwa dengan menguasai elemen, mereka telah mencapai puncak. Mereka buta. Mereka tidak pernah melihat apa yang ada di awal mula, sebelum elemen pertama lahir, sebelum langit dan bumi dipisahkan."
Pusaran itu kini berdiameter sepuluh meter, cukup besar untuk menelan seluruh tubuh Joko. Namun anehnya, tidak ada satu pun murid atau instruktur akademi yang tampak menyadari kejadian ini. Mereka berjalan di sekitar danau, bercakap-cakap, tertawa-seolah-olah tidak melihat pusaran raksasa yang berputar di depan hidung mereka. Joko menyadari bahwa ia telah dibawa ke celah antara realitas, sebuah ruang yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki hubungan dengan Kekosongan.
"Aku adalah gema dari Penguasa Pertama," lanjut suara itu, kini terasa penuh dengan rasa sakit dan kebanggaan yang campur aduk. "Aku adalah sisa dari pikiran yang terserak ketika ia dihancurkan oleh para Dewa di Zaman Purba. Mereka mengira telah memusnahkanku sepenuhnya, namun mereka lupa bahwa Kekosongan tidak bisa dimusnahkan-ia hanya berubah bentuk. Dan kini, dalam dirimu, Aku menemukan wadah yang layak."
Joko merasakan dadanya seperti terbakar. Bukan oleh api, melainkan oleh dingin yang absolut, dingin yang lebih tajam dari pisau es seribu tahun. Ia membuka bajunya dan melihat-dengan ngeri-bahwa kulit di atas jantungnya mulai berubah menjadi hitam legam, bukan hitam seperti arang, melainkan hitam seperti ketiadaan, seperti lubang yang menyerap semua cahaya. Di tengah kegelapan itu, muncul sebuah simbol aneh: segitiga terbalik di dalam lingkaran, dengan garis-garis yang berdenyut perlahan.
"Tanda Kehampaan telah muncul. Kau tidak bisa lagi bersembunyi. Dunia ini sekarang akan tahu bahwa Penguasa Kekosongan telah bangkit kembali."
"Tidak!" Joko berteriak, suaranya pecah. "Aku tidak ingin menjadi apa pun! Aku hanya ingin-"
"Hanya ingin apa? Hidup tenang? Membuktikan dirimu?" Suara itu tertawa, dan tawanya terdengar seperti retakan batu di dasar samudra. "Kau pikir kau punya pilihan? Sejak kau menyentuh pecahan giok itu, sejak kau membiarkan Void mengalir dalam darahmu, kau telah terikat. Tugasmu bukanlah untuk memilih-tugasmu adalah untuk menyelesaikan apa yang belum selesai."
Pusaran itu mulai menyusut, namun tidak sebelum meninggalkan sebuah bayangan di hadapan Joko-siluet seorang pria berjubah hitam, wajahnya tersembunyi di balik tudung, namun matanya tampak seperti dua bintang yang mati. Pria itu tidak bergerak, tidak bernapas, namun kehadirannya begitu berat sehingga udara di sekitarnya terasa padat seperti timah.
"Aku adalah utusan pertama," kata bayangan itu, suaranya serak dan berbisik. "Aku telah menunggumu selama tiga ratus tahun, sejak jejak pertamamu terdeteksi di Benua Timur. Klan-klan besar mungkin menganggapmu sampah, namun kami-kami yang tersembunyi di balik tabir-kami melihat apa yang tidak mereka lihat. Kami melihat mahkota di atas kepalamu, meskipun kau sendiri belum menyadarinya."
Joko mencoba berdiri, namun kakinya terasa lumpuh. Kehampaan di dalam dirinya kini bergetar dengan ritme yang aneh, seperti jantung kedua yang berdetak seiring dengan denyut alam semesta. Ia merasakan sesuatu yang mengerikan: bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya sepenuhnya. Ada kekuatan lain di dalam sana, kekuatan yang lebih tua dari seluruh sejarah kultivasi, yang kini mulai membuka matanya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Joko, suaranya bergetar namun berusaha keras tetap tenang.
"Bukan apa yang kami inginkan, melainkan apa yang telah ditakdirkan," jawab utusan itu. "Para Dewa di Zaman Purba telah jatuh. Kekosongan telah menunggu cukup lama. Saatnya tiba bagi tatanan baru untuk lahir-tatanan yang tidak dibangun di atas elemen, melainkan di atas ketiadaan. Dan kau, Joko Saputra, adalah arsiteknya."
Bayangan itu melangkah maju, dan untuk pertama kalinya Joko melihat sesuatu di tangannya: sebuah mahkota yang tidak terbuat dari emas atau giok, melainkan dari kegelapan pekat yang berkilauan seperti ribuan mata bintang. Mahkota itu melayang di atas telapak tangan utusan, berputar perlahan, memancarkan kehampaan yang begitu dalam sehingga Joko merasa jiwanya ingin tersedot ke dalamnya.
"Ini adalah Mahkota Kehampaan," bisik utusan itu. "Pemilik sejatinya adalah kau. Kau yang lahir dengan Tubuh Kehampaan Mutlak, kau yang mampu menelan Qi tanpa batas, kau yang telah membangkitkan Tanda-semua ini bukanlah kebetulan. Ini adalah takdir yang telah ditulis bahkan sebelum alam semesta ini ada."
Joko menatap mahkota itu. Di dalam dadanya, Kehampaan berteriak-bukan dalam ketakutan, melainkan dalam kerinduan yang amat sangat. Ia bisa merasakan bahwa mahkota itu adalah bagian dari dirinya, potongan puzzle yang selama ini hilang. Namun ia juga merasakan bahaya yang mengintai di baliknya: kekuatan yang begitu besar hingga bisa menghancurkan sekaligus membangun, kebebasan yang begitu mutlak hingga bisa menjadi penjara paling kejam.
"Aku tidak siap," kata Joko, air mata nyaris jatuh. "Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya seorang anak yang dibuang oleh klannya sendiri, yang diinjak-injak oleh teman-temannya, yang-"
"Tidak ada yang siap," potong utusan itu dengan tegas. "Bahkan Penguasa Pertama pun tidak siap ketika ia pertama kali menyentuh Kekosongan. Namun ia belajar. Ia beradaptasi. Ia menjadi. Dan kau, Joko Saputra, akan melakukan hal yang sama. Atau kau akan dihancurkan oleh kekuatan yang kau miliki di dalam dirimu. Tidak ada pilihan ketiga."
Mahkota itu melayang mendekat, dan Joko merasakan kehangatan yang aneh-bukan hangatnya api, melainkan hangatnya kekosongan yang menerima. Ia mengulurkan tangannya, perlahan, ragu-ragu. Ujung jari-jarinya menyentuh permukaan mahkota, dan saat itu juga, dunia di sekitarnya runtuh.
Ia tidak lagi berada di tepi danau. Ia melayang di tengah kehampaan mutlak, di antara bintang-bintang yang mati dan galaksi yang belum lahir. Di hadapannya, terbentang sejarah alam semesta dalam bentuk pusaran cahaya dan kegelapan: kelahiran elemen, perang para dewa, kejatuhan peradaban, dan-di ujung segala sesuatu-sebuah singgasana kosong yang menunggu untuk diduduki.
"Ini adalah takdirmu," bisik suara dari segala arah. "Mahkota Kehampaan menunggumu. Apakah kau akan menerimanya?"
Joko berdiri di ambang keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Di satu sisi, ia bisa menolak, kembali ke hidupnya yang hina, menjadi sampah yang terus diinjak-injak, namun setidaknya ia tidak akan berubah menjadi momok yang ditakuti seluruh dunia. Di sisi lain, ia bisa menerima mahkota itu, menjadi Penguasa Kekosongan yang baru, melampaui semua batasan elemen dan Dao, namun harus menanggung beban keabadian yang mengerikan-kesepian yang tak berujung, tanggung jawab yang tak terkira, dan mungkin, kehilangan semua yang ia cintai.
Namun saat ia hendak menjawab, sebuah bayangan lain muncul di kejauhan. Sosok tinggi dengan jubah putih bersih, rambut panjang tergerai seperti air terjun perak, dan mata yang bersinar seperti sinar mentari. Sosok itu familiar-terlalu familiar. Itu adalah tetua tertinggi Akademi Langit Tengah, seorang kultivator di level Dewa Abadi yang konon telah hidup selama seratus ribu tahun. Dan di tangannya, ia membawa sebuah tombak yang terbuat dari cahaya murni, tombak yang memancarkan energi yang begitu kuat sehingga bahkan Kehampaan di dalam dada Joko bergeming.
"Anak Kehampaan," suara tetua itu bergema, dingin dan tanpa ampun. "Kau pikir kau bisa bersembunyi dari pengawasanku? Aku tahu apa yang kau lakukan di bawah akademi ini. Aku tahu siapa yang telah kau bangunkan. Dan Aku tidak akan membiarkan kekacauan purba kembali ke dunia ini."
Utusan pertama berbalik, dan untuk pertama kalinya Joko melihat ekspresi di wajahnya-bukan ketakutan, melainkan kegembiraan yang mengerikan. "Akhirnya, mereka muncul. Aku sudah menunggu saat ini, Tetua Langit Abadi. Saatnya untuk menyelesaikan perang yang tertunda selama sepuluh ribu tahun."
Joko terperangkap di antara dua kekuatan: di satu sisi, mahkota yang menawarkan kekuatan absolut; di sisi lain, tetua yang mengancam untuk memusnahkannya sebelum ia sempat bangkit sepenuhnya. Namun saat ia melihat ke dalam mata tetua itu, ia melihat sesuatu yang lain: ketakutan. Ya, ketakutan. Seorang kultivator level Dewa Abadi, makhluk yang nyaris abadi, takut padanya. Takut pada apa yang mungkin ia menjadi.
Dan dalam sekejap, Joko Saputra mengambil keputusan.
"Aku menerima," bisiknya.
Mahkota itu melesat ke kepalanya, dan dunia berubah menjadi putih.
---
Di luar celah realitas, di tepi danau Akademi Langit Tengah, para murid yang berlalu-lalang tiba-tiba merasakan getaran aneh di bawah kaki mereka. Angin berhenti berhembus. Air danau membeku dalam sekejap. Burung-burung di pohon willow jatuh pingsan. Dan dari tengah-tengah danau, retakan hitam mulai merambat di permukaan es, retakan yang tidak memantulkan cahaya, retakan yang seolah-olah menelan segala sesuatu yang ada di dekatnya.
Di puncak menara pengawas akademi, seorang instruktur kultivasi tingkat-delapan tercengang melihat batu resonansi di depannya bergetar hebat, lalu retak, lalu hancur menjadi debu. Ia menjerit memanggil para tetua, namun sebelum ada yang sempat bereaksi, langit di atas akademi berubah menjadi hitam pekat-bukan hitamnya malam, melainkan hitamnya kekosongan absolut, seolah-olah bintang-bintang telah mati dan bulan telah lenyap.
Dan di tengah kegelapan itu, sesosok bayangan mulai terbentuk: seorang pemuda dengan mahkota hitam di kepala, mata bersinar seperti dua lubang hitam, dan tubuh yang dikelilingi oleh pusaran energi yang tidak bisa dikenali oleh para kultivator-energi yang bukan Qi, bukan elemen, bukan Dao. Energi yang lebih tua dari semuanya.
"Aku sudah bangkit," suara Joko bergema di seluruh akademi, membuat setiap murid dan instruktur merasakan getaran di sumsum tulang mereka. "Dan dunia ini tidak akan pernah sama lagi."
Di kejauhan, di markas rahasia Klan Joko, seorang tetua tua yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya dengan liar. Ia merasakan sesuatu-sesuatu yang telah lama hilang, sesuatu yang ia kira telah mati selamanya. Ia berbisik pada dirinya sendiri, suaranya bergetar antara kegembiraan dan ketakutan: "Dia... dia akhirnya menjadi apa yang seharusnya. Bintang Tunggal Generasi Baru... bukan, bukan bintang. Ia adalah kegelapan yang melahap bintang-bintang."
Dan di lorong-lorong bawah tanah akademi, di mana hanya sedikit yang tahu keberadaannya, sebuah pintu batu kuno yang telah terkunci selama sepuluh ribu tahun mulai retak. Dari balik pintu itu, terdengar suara yang mirip dengan nafas panjang makhluk raksasa-makhluk yang telah tertidur menunggu saat ini. Saat ketika Penguasa Kekosongan bangkit kembali, dan rantai yang mengikat mereka mulai longgar.
Malam itu, di Akademi Langit Tengah, takdir baru mulai ditulis. Dan di tengah semua kekacauan, Joko Saputra-sampah yang direndahkan, anak yang dibuang, penguasa kehampaan-berdiri dengan mahkota di kepalanya, matanya menatap ke depan, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, tersembunyi satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mahkota mana pun: apakah ia telah membuat pilihan yang benar, ataukah ia baru saja membuka pintu menuju kehancuran total?
~ Bab 7 Selesai ~