Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 6

Tarian Void di Ambang Kehancuran

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Medan pertempuran itu terbentang bagai luka menganga di muka bumi-sebuah lingkaran raksasa dari lempengan batu giok hitam yang dipoles ribuan tahun oleh energi para kultivator, kini berkilat-kilat di bawah sinar matahari senja yang murung. Udara bergetar oleh riuh rendah ribuan penonton yang memadati tribun melingkar, wajah-wajah mereka bercampur antara hasrat, gairah, dan dahaga akan darah. Di tengah pusaran suara itu, Joko Saputra berdiri sendiri, sosoknya yang kurus dan lusuh bagai bayangan yang tersesat di antara para raksasa. Jubah hitamnya yang compang-camping berkibar lemah ditiup angin, namun di balik kain usang itu, denyut nadi Kehampaan berdetak dalam irama yang tidak dikenal oleh dunia.

Di seberangnya, berdiri Arka Wiratama-pemuda tampan berambut perak dengan aura yang membara seperti api ungu. Ia adalah murid papan atas Akademi Langit Tengah, pewaris langsung Klan Api Kegelapan, dan lebih dari itu, ia adalah orang yang pernah meludahi wajah Joko di hari pertama orientasi, meninggalkan jejak air liur yang bercampur dengan ejekan: "Sampah bermartabat palsu, lebih baik kau merangkak kembali ke rahim ibumu." Kenangan itu kini menggeliat dalam hati Joko, bukan lagi sebagai luka, melainkan sebagai bahan bakar yang membara di dalam kehampaan. Arka tersenyum sinis, matanya menyipit penuh penghinaan. "Lihat, lihat, si mayat hidup masih berani melangkah ke sini. Apa kau kira turnamen ini akan menjadi tontonan lucu? Aku akan membuatmu menangis seperti bayi, Joko Sampah."

Joko tidak menjawab. Bibirnya terkunci rapat, namun matanya-matanya yang hitam pekat seperti lubang tak berdasar-berbicara dalam bahasa yang tidak bisa dipahami oleh siapa pun kecuali Kehampaan itu sendiri. Di dalam dadanya, bisikan itu kembali menggema, halus namun menusuk sumsum: "Biarkan dia bicara. Kata-kata hanyalah getaran di udara. Tapi kekosongan? Kekosongan adalah keheningan sebelum penciptaan. Biarkan tangannya bergerak. Biarkan tubuhnya menari. Dan ketika ia lelah, kau akan menelannya." Joko menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang masuk ke paru-parunya seperti pasir yang mengalir ke dalam kekosongan-setiap partikel Qi di sekitarnya seolah mati saat menyentuh kulitnya.

Sang wasit-seorang tetua berjubah putih dengan janggut panjang yang menjuntai hingga ke pusar-mengangkat tangan kanannya. Suaranya bergema melalui formasi suara di seluruh arena: "Pertarungan babak pertama: Joko Saputra melawan Arka Wiratama. Aturan sederhana: tidak ada aturan. Hanya satu yang boleh meninggalkan medan ini hidup-hidup, atau mati. Mulai!" Tepuk tangan dan sorak-sorai meledak bagai badai. Arka segera mengaktifkan tekniknya, api ungu menjilat-jilat di sekeliling tubuhnya, membentuk cakar-cakar raksasa yang siap mencabik-cabik. Ia melompat maju, kecepatannya bagai kilat meninggalkan bayangan ungu di udara. Tinju berlapis api mendarat tepat di dada Joko-namun saat tinju itu menyentuh, tidak ada ledakan, tidak ada hantaman, tidak ada rasa sakit. Tinju itu... lenyap. Api ungu yang seharusnya membakar daging justru tersedot ke dalam tubuh Joko seperti air yang dituang ke padang pasir.

Arka terbelalak. Matanya melebar penuh ketidakpercayaan. "Apa... apa yang kau lakukan?" desisnya, suaranya bergetar. Joko hanya tersenyum-senyuman tipis yang anehnya justru membuat bulu kuduk Arka merinding. "Aku hanya menerima hadiahmu," jawab Joko pelan. "Terima kasih untuk apinya. Aku akan menggunakannya nanti." Di dalam tubuh Joko, api ungu itu berputar-putar dalam pusaran Kehampaan, tidak padam, tidak hilang, melainkan dianalisis, dicerna, diubah menjadi sesuatu yang baru-energi yang lebih gelap, lebih primitif, lebih dahsyat. Bisikan di dadanya tertawa kecil: "Bagus. Dia baru memberikan setetes. Ajak dia memberi lebih banyak."

Arka mundur dua langkah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tekniknya tidak pernah gagal. Api Kegelapan adalah salah satu elemen paling langka dan paling mematikan di Kontinen Langit Sembilan. Tapi di hadapan pemuda ini, apinya seperti mainan anak-anak. "Kau curang!" teriak Arka, suaranya pecah oleh kemarahan dan ketakutan. "Pasti kau menggunakan artefak terlarang!" Joko tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, langkahnya ringan bagai dedaunan yang ditiup angin, namun setiap langkah meninggalkan jejak hitam di lempengan giok hitam-jejak yang tidak memantulkan cahaya, seolah-olah realitas itu sendiri menyerap di sekitarnya. Penonton mulai diam. Beberapa tetua di tribun khusus saling berpandangan, alis mereka berkerut. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak wajar. Tapi tidak ada yang bisa menyebutkan apa.

"Baik," geram Arka sambil mengatupkan giginya. Ia merapatkan kedua telapak tangannya, dan dari celah di antara jari-jarinya, api ungu berubah menjadi hitam pekat-Api Kegelapan Tingkat Kedelapan, teknik rahasia yang hanya diajarkan kepada pewaris utama Klan Api Kegelapan. Nyala api hitam itu tidak panas, justru dingin membekukan udara di sekitarnya, membentuk kristal es hitam di tanah. "Ini akan menjadi ujian terakhirmu, Joko!" Arka melepaskan serangan, gelombang api hitam melesat bagai naga yang mengamuk, rahangnya terbuka lebar siap menelan. Seluruh arena berguncang. Beberapa murid di tribun pingsan karena tekanan energi yang luar biasa. Para tetua berdiri, beberapa mulai membentuk segel pelindung.

Namun Joko tetap diam. Ia membuka kedua lengannya, seperti orang yang menyambut pelukan. Api hitam itu menghantam tubuhnya, dan untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Lalu-api hitam itu tidak meledak. Tidak membakar. Tidak melukai. Ia justru melingkar di sekeliling Joko, berputar-putar seperti pusaran air yang masuk ke lubang got, dan perlahan-lahan, ia terserap ke dalam pori-pori kulitnya, ke dalam meridiannya yang kosong, ke dalam inti Kehampaan yang tak berdasar. Tubuh Joko bersinar redup, bukan dengan cahaya, melainkan dengan ketiadaan cahaya-sebuah kegelapan yang justru membuat segala sesuatu di sekitarnya tampak lebih terang.

Arka terjatuh berlutut. Napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat pasi. "Tidak... tidak mungkin..." gumamnya, matanya kosong menatap kehampaan. Ia baru saja mengeluarkan sembilan puluh persen energinya, dan pemuda sampah di depannya masih berdiri tegak, bahkan tidak berkeringat. Joko menunduk menatap Arka, dan untuk pertama kalinya, suaranya keluar-bukan suara manusia biasa, melainkan suara yang bergema dari jauh, seolah-olah berasal dari dasar jurang waktu: "Kau bilang aku mayat hidup. Kau bilang aku sampah. Tapi sekarang, di hadapanmu, aku adalah kehampaan yang menelan segalanya. Apimu? Itu hanya mainan. Teknikmu? Hanya goresan di permukaan. Kekuatanmu? Hanyalah pinjaman dari alam. Tapi kekuatanku? Ia adalah alam itu sendiri sebelum ia lahir."

Joko mengulurkan tangan kanannya, telapak tangannya menghadap ke atas. Dari tengah telapak itu, api hitam yang baru saja ditelannya keluar kembali-namun dalam bentuk yang berbeda. Bukan api lagi, melainkan sebuah bola kegelapan murni yang berdenyut seperti jantung yang hidup. Bola itu tidak memancarkan panas atau dingin, ia hanya ada, dan kehadirannya membuat ruang di sekitarnya melengkung, seolah-olah gravitasi sendiri berubah. "Ini adalah hadiah kembali," bisik Joko. Ia melemparkan bola itu ke tanah di depan Arka. Bola itu menyentuh lempengan giok hitam, dan dalam sekejap, seluruh area seluas sepuluh meter di sekitarnya lenyap-bukan hancur, bukan terbakar, benar-benar lenyap, meninggalkan lubang kehampaan yang tidak bisa diisi oleh apa pun. Udara, cahaya, suara, semuanya tersedot ke dalam lubang itu, dan yang tersisa hanyalah keheningan kosmik yang membuat jantung berhenti berdetak.

Arka menjerit. Jeritan yang memecah keheningan. Ia merangkak mundur, matanya dipenuhi teror mutlak. "Setan! Kau setan!" teriaknya. Tapi Joko sudah tidak peduli lagi. Ia menoleh ke arah para tetua di tribun, dan di sana, ia melihat bahwa beberapa dari mereka-termasuk Kepala Akademi sendiri-telah berdiri, wajah mereka campuran antara takjub, curiga, dan ketakutan. Khususnya, Instruktur Liang, yang dulu selalu mengejek Joko di depan kelas, kini menggenggam tongkatnya erat-erat, urat di lehernya menonjol. Ia mungkin mulai menyadari bahwa murid yang ia anggap sampah telah menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.

Tapi Joko tidak punya waktu untuk memikirkan mereka. Di dalam dadanya, bisikan itu kembali: "Langkah ketiga telah diambil. Tapi ini baru permulaan. Kau telah menunjukkan secuil kekuatan. Sekarang, mereka semua akan mengincarmu. Para tetua, klan-klan besar, bahkan mungkin Sekte Suci akan datang untuk menyelidiki. Kau harus bersiap untuk lebih dari sekadar pertarungan. Kau harus bersiap untuk perang." Joko mengepalkan tinjunya, dan di balik kelopak matanya, ia melihat sekilas masa depan-sebuah visi di mana langit pecah, bumi terbelah, dan di tengah kehancuran itu, seorang sosok berdiri sendirian, mengenakan mahkota dari kegelapan yang tidak pernah padam. Mahkota Kehampaan.

Suara wasit bergema dari kejauhan, seolah-olah berasal dari dunia lain: "Pemenang: Joko Saputra!" Tapi tidak ada sorakan. Hanya kesunyian yang mencekam. Semua mata tertuju padanya-pemuda yang telah bangkit dari debu, yang telah menelan api, yang telah berbicara dengan kekosongan. Dan Joko, dengan langkah tenang, berjalan meninggalkan medan pertempuran, meninggalkan lubang kehampaan yang masih menganga seperti monumen bisu dari kekuatan yang baru lahir. Di tangannya, ia membawa bukan hanya kemenangan, melainkan juga benih dari sesuatu yang lebih gelap-sebuah takdir yang tidak bisa dihindari, sebuah perjalanan yang akan mengguncang fondasi dunia.

Di langit, awan-awan mulai berkumpul, membentuk spiral raksasa yang berpusat tepat di atas arena. Seolah-olah alam sendiri mencatat peristiwa ini, memberi pertanda bahwa sesuatu yang melampaui hukum Dao telah lahir di dunia fana. Dan di antara kerumunan, di tribun paling belakang, seorang pria berjubah hitam dengan topeng putih tanpa ekspresi memperhatikan dengan saksama. Matanya-satu-satunya bagian yang terlihat-berkilat aneh saat ia membisikkan sesuatu ke dalam kristal komunikasi di tangannya: "Master, tanda itu telah muncul. Anak Kehampaan telah mulai bergerak. Kami siap menjemputnya."

Joko tidak mendengar bisikan itu. Namun ketika ia melangkah keluar dari arena, ia merasakan sesuatu yang asing-sepasang mata yang mengawasi dari bayang-bayang, sebuah kehadiran yang tidak seperti kultivator biasa. Ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang, namun hanya melihat kerumunan yang mulai bubar. Namun di dalam dadanya, Kehampaan bergetar, memberikan peringatan yang tidak jelas. Ada sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang lebih besar dari turnamen ini. Sesuatu yang telah menunggu sejak awal mula waktu-dan kini, setelah ribuan tahun, ia akhirnya menemukan tuan yang layak.

~ Bab 6 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai