Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 5

Ketika Kehampaan Berbisik

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Fajar menyingsing di atas Akademi Langit Tengah dengan pancaran yang terasa berat. Bukan semburat merah keemasan seperti biasa, melainkan warna kelabu pucat yang membungkus puncak-puncak menara batu giok seolah kabut enggan pergi. Joko Saputra duduk di ambang jendela asramanya yang sempit, kedua tangannya masih gemetar mengingat kejadian semalam. Darah di hidungnya telah mengering, membentuk garis hitam di atas bibir yang pecah-pecah. Ia menatap telapak tangannya sendiri-gurat-gurat merah halus terlihat seperti sungai kecil yang mengalir di bawah kulit. Sejak ia berhasil memperluas persepsi hingga sejauh itu, sesuatu terasa berubah. Ada denyutan aneh di dasar kesadarannya, seperti jantung raksasa yang berdetak di kedalaman lautan.

Di luar, suara lonceng akademi berbunyi tiga kali, menandakan dimulainya sesi latihan pagi. Namun Joko tidak bergerak. Matanya terpaku pada titik kosong di udara, tempat debu-debu kecil melayang dalam gerakan lambat. Ia bisa merasakan getaran Qi di sekelilingnya-murid-murid yang berlarian, instruktur yang melayang di atas platform batu, bahkan kicau burung hantu kayu yang menjadi penjaga perpustakaan. Semua itu kini terasa seperti benang-benang cahaya yang berdenyut di luar jangkauannya. Namun di antara semua itu, ada satu kehadiran yang paling mencolok: sebuah keheningan yang justru berteriak. Sesuatu yang tidak memancarkan Qi, tidak memantulkan cahaya, melainkan menyerap semuanya ke dalam lubang hitam tak kasat mata di bawah halaman barat akademi.

"Kau juga merasakannya, 'kan?" bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak akibat kelelahan semalam. Ia tahu bahwa pertempuran sejati baru akan dimulai saat fajar, namun yang datang bukanlah lawan berwujud, melainkan panggilan dari sesuatu yang lebih purba. Dengan susah payah ia bangkit, tulang-tulangnya berbunyi retak seperti ranting kering. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya-memperluas persepsi hingga sejauh itu telah menguras cadangan energi yang bahkan ia sendiri tidak sadari miliki. Namun panggilan itu semakin kuat, menekan dadanya seperti batu nisan.

Saat kakinya melangkah keluar asrama, udara pagi menyambutnya dengan dingin yang menusuk sumsum. Beberapa murid yang lewat meliriknya sejenak, lalu berbisik-bisik dengan seringai menghina. "Lihat, si jenius palsu masih hidup," ledek seorang murid muda berjubah putih bersih, Qi-nya berkilauan di sekujur tubuh. Joko tidak menoleh. Fokusnya hanya pada satu arah-halaman barat, tempat reruntuhan paviliun kuno yang dulu menjadi gudang artefak usang. Tak ada seorang pun yang peduli pada bangunan itu, sebab Qi di sekitarnya sangat lemah dan tidak berguna untuk kultivasi. Namun bagi Joko, tempat itu berdenyut seperti jantung yang baru saja terbangun dari tidur ribuan tahun.

Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti berjalan di atas kaca yang siap pecah. Semakin dekat ke halaman barat, semakin sunyi dunia di sekelilingnya. Murid-murid menghilang, suara lonceng meredup, bahkan aroma tanah dan rumput seolah lenyap digantikan oleh kehampaan yang kering dan tajam. Di ambang pintu paviliun tua yang sebagian atapnya runtuh, Joko berhenti. Di dalam kegelapan ruangan, ia melihat sesuatu-bukan bentuk fisik, melainkan ketiadaan yang berbicara. Bayangan hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya, justru menelan sinar matahari yang mencoba masuk.

"Joko Saputra..." suara itu muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya. Berat, dalam, seperti bisikan seribu jiwa yang terperangkap di dasar sumur. "Kau datang." Joko tersentak, tubuhnya menegang. Ia merasakan sesuatu merayap di dalam pembuluh darahnya-bukan Qi, bukan elemen, melainkan Kekosongan yang mulai sadar. "Siapa kau?" tanyanya, suaranya bergetar namun tidak menunjukkan rasa takut. Setelah berbulan-bulan dihina, direndahkan, dan diinjak, rasa takut telah menjadi barang mewah yang tidak lagi ia miliki. Yang tersisa hanyalah kemarahan murni dan rasa ingin tahu yang membara.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Kemudian, bayangan hitam itu bergerak-memanjang, membentuk sosok samar tanpa wajah, seperti patung yang terbuat dari kegelapan pekat. "Aku adalah apa yang kau bawa sejak lahir. Yang membuat tubuhmu menolak Qi, yang membuat batu resonansi klanmu hancur. Aku adalah Kehampaan yang menanti untuk diisi." Suara itu berdenyut di setiap sudut ruangan, membuat dinding-dinding paviliun bergetar. Retakan halus mulai merambat di lantai batu, dan debu-debu beterbangan tanpa arah, seolah gravitasi kehilangan cengkeramannya.

Joko mundur setengah langkah, namun ia tetap bertahan. "Kau yang membuatku dijuluki sampah?" tanyanya, nada pahit mengerak di lidahnya. Bayangan itu tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia melayang mendekat, menyelimuti Joko dalam lingkaran kabut hitam. Udara di sekitar menjadi dingin yang aneh-bukan dingin seperti salju, melainkan dingin yang membuat atom-atom berhenti bergetar, dingin yang mendahului kelahiran api pertama alam semesta. "Bukan. Aku yang memberimu potensi untuk melampaui semua kultivator. Namun kau terlalu lemah untuk menerimanya. Hingga kini."

Joko merasakan amarah membuncah di dadanya. "Lalu apa yang harus kulakukan?" desisnya. Bayangan itu terdiam, lalu perlahan, sesuatu mulai terbentuk di hadapannya-sebuah pusaran kecil berwarna hitam kelam, berputar lambat seperti mata angkasa raksasa dalam bentuk mini. Dari dalam pusaran itu, Joko bisa melihat gambaran-gambaran aneh: reruntuhan istana di atas awan, sungai yang mengalir ke atas, dan sosok-sosok raksasa yang duduk di atas singgasana dari tulang. "Pertempuran sejati telah dimulai, Joko Saputra. Namun bukan di arena akademi. Bukan melawan murid-murid yang menginjak harga dirimu. Pertempuran sejati ada di dalam dirimu-antara kemanusiaan yang lemah dan Kehampaan yang tak terbatas. Jika kau menang, kau akan menjadi yang pertama dalam ribuan tahun yang mampu mengendalikan Kekosongan. Jika kalah..." suara itu menghilang, meninggalkan keheningan yang mengerikan.

Pusaran hitam itu tiba-tiba membesar, menyedot batu-batu kecil di lantai, potongan kayu, dan pecahan giok yang berserakan. Joko terhuyung, lengah, namun ia tidak melawan. Sebaliknya, ia membiarkan dirinya ditarik ke dalam pusaran-rasa penasaran dan dendam yang selama ini dipendam mengalahkan naluri mempertahankan diri. Namun saat tubuhnya mulai tersedot, tiba-tiba tangan kekar mencengkeram bahunya dari belakang, menariknya keluar. "Berhenti, Dasar Bodoh!" suara lantang dan keras mengguncang ruangan. Joko terpental ke samping, menabrak tiang kayu yang sudah lapuk. Ia mendongak dan melihat sesosok pemuda bertubuh kekar dengan alis tebal dan sorot mata tajam-Zhao Wei, murid tingkat dua yang terkenal sebagai pengganggu paling sadis di akademi.

"Kau tahu tempat ini terlarang?" bentak Zhao Wei, jubah kultivasinya berkibar-kibar karena Qi yang meluap. Di belakangnya, beberapa murid lain muncul, mulut mereka melengkung sinis. "Dasar sampah, kau pikir kau bisa sembunyi di sini dan menghindari latihan? Atau kau sedang bermain-main dengan hantu?" ledeknya sambil tertawa. Joko tidak menjawab. Ia masih terpaku pada pusaran hitam yang kini mulai mengecil, seolah enggan meninggalkan dunianya. Namun sebelum benar-benar lenyap, Joko mendengar satu bisikan terakhir yang hanya bisa ditangkap oleh kesadarannya: "Langkah ketiga telah menanti, Joko. Tapi kau harus melewati langkah kedua terlebih dahulu. Kalahkan mereka, dan buktikan bahwa kehampaan tidak pernah kalah."

Detik berikutnya, pusaran itu lenyap sama sekali. Paviliun kembali sunyi, hanya suara angin yang bersiul di antara celah-celah atap yang runtuh. Zhao Wei melangkah maju, tangannya sudah bersiap melemparkan segumpal Qi yang berkilau hijau. "Sepertinya kau butuh pelajaran, Sampah. Aku akan mengajarkanmu tempatmu di akademi ini." Murid-murid di belakangnya bersorak, menantikan pertunjukan yang sudah biasa: seorang genius menghajar si tak berbakat hingga babak belur.

Namun Joko tersenyum. Sebuah senyuman yang tidak ia rencanakan-muncul begitu saja dari bibir yang kering dan berdarah. Tubuhnya lelah, hampir runtuh, namun di dalam kesadarannya, sesuatu mulai mengalir. Bukan Qi, bukan energi, melainkan Kehampaan murni yang kini mulai menjawab panggilannya. Ia bisa merasakan getaran Zhao Wei, setiap gerakan Qi di tubuh lawan, setiap titik kelemahan yang tidak bisa dilihat oleh kultivator biasa. "Kau yakin ingin bertarung denganku?" tanya Joko, suaranya tiba-tiba tenang seperti permukaan danau beku. "Karena aku tidak akan menahan diri kali ini."

Zhao Wei tertawa terbahak-bahak. "Dengar, dasar sialan! Kau bahkan tidak bisa menumbuhkan satu jengkal Qi pun! Aku bisa menghancurkanmu hanya dengan napasku!" Ia kemudian melompat, tangannya terkepal, Qi hijau berubah menjadi cakar harimau yang siap mencabik. Namun saat tinju itu hendak mendarat di dada Joko, sesuatu yang aneh terjadi. Joko tidak bergerak, tidak menghindar. Ia hanya mengangkat telapak tangannya-dan tiba-tiba, tinju Zhao Wei berhenti di udara, seolah menabrak tembok tak kasat mata. Qi hijau itu mengerut, berhamburan, lalu disedot masuk ke dalam telapak tangan Joko seperti air yang mengalir ke saluran pembuangan.

"Apa-?!" teriak Zhao Wei, matanya membelalak. Ia mencoba menarik tangannya, namun kekuatan yang mengikatnya begitu besar. Joko menatapnya dengan mata yang mulai berubah-hitam pekat tanpa batas, tanpa pantulan, seperti lubang yang menatap ke arah yang lebih dalam. "Kau bilang aku tidak punya Qi?" bisik Joko, suaranya bergema aneh. "Benar. Aku tidak punya. Karena aku tidak membutuhkannya. Aku menyerap segalanya, dan mengubahnya menjadi milikku."

Dalam sekejap, Joko mendorong telapak tangannya ke depan. Zhao Wei terpental ke belakang, tubuhnya menghantam tembok bata yang retak. Murid-murid yang lain terlonjak kaget, wajah mereka pucat pasi. Namun Joko tidak memberi mereka waktu untuk bereaksi. Ia mengangkat kedua tangannya, dan dari dalam tubuhnya, kegelapan mulai merembes-bukan asap, bukan bayangan, melainkan kekosongan itu sendiri yang merayap di sepanjang lantai, menelan debu, menelan cahaya, menelan segalanya. "Kalian ingin melihat seberapa kuat aku?" tanyanya, nadanya dingin menusuk. "Aku akan menunjukkan kepadamu mengapa Kehampaan adalah awal dari segalanya."

Namun sebelum kegelapan itu menyentuh murid-murid lainnya, tiba-tiba lonceng akademi berbunyi lebih keras dari biasanya-bukan tiga kali, melainkan tujuh kali berturut-turut, menandakan keadaan darurat. Langit di atas akademi mendadak gelap, dan dari kejauhan, suara gemuruh mengguncang bumi. Semua orang menengadah, termasuk Joko. Di cakrawala timur, sebuah retakan hitam raksasa terbuka di angkasa, seperti luka di tubuh langit. Dari celah itu, sosok-sosok bayangan mulai berjatuhan, membawa aura yang begitu jahat sehingga Qi di seluruh akademi bergetar ketakutan.

"Serangan!" teriak seseorang dari kejauhan. "Sekte Kegelapan Abadi menyerbu!" Kekacauan meledak di halaman. Murid-murid berlarian, instruktur berteriak memberi perintah, dan lonceng terus berdentang tanpa henti. Zhao Wei dan teman-temannya pun melupakan pertarungan, bergegas bergabung dengan arus pertahanan. Namun Joko tetap berdiri di ambang paviliun, menatap retakan hitam di langit dengan ekspresi tak terbaca.

Di dalam dadanya, bisikan itu kembali terdengar, lebih jelas dari sebelumnya: "Lihat, Joko Saputra. Dunia sedang bergerak menuju kehancuran. Dan hanya mereka yang menguasai Kehampaan yang bisa berdiri di atas reruntuhan. Pilihan ada di tanganmu. Kau akan menjadi korban, atau penguasa?" Joko mengepalkan tinjunya, kuku-kukunya menembus kulit telapak tangan, meneteskan darah hitam pekat. Ia tersenyum lagi-senyuman yang tidak lagi polos, melainkan penuh tekad yang mengerikan. "Langkah ketiga, katamu?" gumamnya sambil melangkah maju menuju medan pertempuran. "Maka biarlah langkah itu kuyakini dengan darah musuhku." Dan di atas langit yang retak, kegelapan mulai menari dalam irama yang hanya bisa didengar oleh satu orang-anak yang lahir dari Kehampaan, yang kini siap menjawab panggilan takdirnya.

~ Bab 5 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai