Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Kehampaan: Kebangkitan Sang Penguasa Void

Bab 4

Gema di Dalam Kehampaan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, langit di atas Akademi Langit Tengah seolah terbelah oleh diam yang mencekam. Bulan tergantung seperti mata raksasa yang menatap tanpa berkedip, cahayanya pucat dan dingin menusuk sumsum. Joko Saputra duduk bersila di lantai batu kamar asramanya yang sempit-sebuah ruangan yang lebih pantas disebut gudang peralatan daripada tempat tinggal seorang murid. Dindingnya lembap, retak-retak, dan di sudut tergelincir tikus yang tak peduli pada hiruk-pikuk hierarki manusia. Namun bagi Joko, kamar ini adalah altar. Altar bagi kehampaan yang mulai bernyanyi di dalam darahnya.

Sejak ia menyentuh pecahan giok kuno di reruntuhan perpustakaan terlarang, sesuatu di dalam tubuhnya tidak pernah benar-benar tenang. Pada awalnya hanya desiran halus-seperti angin yang berbisik di telinga saat ia mencoba bermeditasi. Kini, setelah tiga hari penuh bergulat dengan ajaran bisikan Penguasa Kekosongan Pertama, desiran itu telah berubah menjadi gema. Gema yang mengguncang setiap sel, setiap meridian yang dulu dianggap mati dan hampa. Ia merasakan denyutan aneh di ulu hati, seolah ada pusaran kecil yang mulai berputar. Pusaran itu tidak mengeluarkan panas atau dingin-ia hanya ada, menyerap segala sesuatu yang mendekat.

Joko membuka matanya. Di telapak tangan kirinya, ia telah mengumpulkan sedikit sisa energi Qi dari udara malam. Proses yang biasanya memakan waktu berjam-jam bagi murid biasa, kini hanya butuh beberapa tarikan napas. Namun, saat energi itu menyentuh kulitnya, pusaran di ulu hati langsung bereaksi. Qi itu lenyap-tidak mengalir ke meridian, tidak beresonansi dengan elemen apa pun, melainkan ditelan oleh kehampaan di dalam dirinya. Seperti setetes air yang jatuh ke padang pasir tanpa meninggalkan jejak.

"Langkah pertama, katanya," gumam Joko, mengingat bisikan entitas purba itu. "Menelan energi adalah hal paling dasar. Namun, jika kau hanya menelan tanpa mengolah, kau tak lebih dari lubang hitam yang kelaparan selamanya."

Ia menghela napas panjang. Dinding kamar seolah mendekat, menekan pikirannya. Di luar, suara langkah kaki terdengar-beberapa murid kelas atas sedang berjalan pulang dari arena latihan malam. Tawa mereka meledak-ledak, membual tentang teknik baru yang mereka kuasai. Nama-nama besar seperti "Xiao Wei dari Klan Naga Petir" dan "Liu Feng yang Mengendalikan Seribu Bayangan" melambung di antara tawa itu. Joko mengepalkan tangannya. Di masa lalu, nama-nama itu akan membuat dadanya sesak dan pahit. Namun sekarang, ada sesuatu yang lain. Bukan dendam, melainkan kesadaran dingin bahwa ia sedang memulai sesuatu yang tak seorang pun di akademi ini pahami. Sesuatu yang lebih purba dari qi, lebih dalam dari elemen, dan lebih tua dari dewa-dewa yang mereka sembah.

Keesokan paginya, fajar menyingsing dengan sinar keemasan yang menyelinap di antara celah-celah puncak gunung tempat akademi berdiri. Joko berjalan menuju ruang kelas dengan langkah mantap, meskipun hatinya berdebar tak menentu. Setiap pandangan yang ia terima dari murid-murid lain adalah campuran rasa jijik dan iba-pandangan yang sudah ia kenal baik selama berbulan-bulan sejak upacara pembukaan meridian. Namun pagi ini, ada satu tatapan yang berbeda. Tatapan dari seorang gadis berjubah putih bersih yang berdiri di dekat pintu masuk aula utama. Ia tidak menyeringai seperti yang lain. Matanya, hitam legam seperti obsidian, menatap Joko dengan intensitas yang membuat bulu kuduk meremang. Gadis itu tidak bergerak, tidak berbicara. Hanya diam dan menatap. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tidak bisa diartikan-bukan ramah, bukan permusuhan, melainkan sesuatu yang lebih purba. Seperti senyum yang lahir dari pengetahuan rahasia.

"Kenapa kau diam saja?!" bentak seseorang di belakang Joko. Seekor tangan besar mendorong pundaknya hingga ia hampir jatuh tersungkur. Itu adalah Zhao Lei, murid peringkat sepuluh besar yang terkenal dengan kultivasinya di ranah Pembentukan Yin. "Dasar sampah, jangan menghalangi jalan. Atau kau ingin merasakan telapak tanganku lagi?"

Joko menunduk. Bukan karena takut, melainkan karena di dalam kepalanya ia sedang fokus menahan pusaran di ulu hati yang tiba-tiba berdenyut lebih kencang saat Zhao Lei mendekat. Ia bisa merasakan qi lawan-terlalu terang, terlalu menggema, seperti genderang perang di medan tempur. Joko tahu bahwa jika pusaran itu dibiarkan, ia secara otomatis akan menyerap sebagian energi Zhao Lei. Dan itu akan menimbulkan kecurigaan. Dengan susah payah ia menekan refleks itu, membiarkan sikap tak berdaya menyelimuti dirinya.

Zhao Lei mendengus puas lalu melenggang pergi. Namun, saat Joko mengangkat wajah kembali, gadis berjubah putih itu masih ada di sana. Senyumnya melebar sedikit, lalu tanpa suara ia berbalik dan menghilang di kerumunan. Detak jantung Joko berdegup kencang. Siapa dia? Tidak pernah ia lihat sebelumnya-meskipun wajah secantik itu pasti akan dicatat oleh semua murid. Ada keanehan di sekelilingnya, semacam getaran halus yang membuat Joko merasa bahwa ia bukan sekadar murid biasa.

Hari itu berlalu dengan rutinitas kelas yang membosankan-ceramah tentang teori pembentukan inti emas, teknik penyerapan elemen, dan peringatan tentang bahaya Qi sesat. Joko duduk di barisan paling belakang, di samping jendela yang memperlihatkan pepohonan ek tua dengan dedaunan merah kecokelatan. Instruktur, seorang lelaki tua dengan janggut abu-abu bernama Tetua Huang, melirik Joko sekilas lalu mengabaikannya. "Tidak usah kau pusingkan teori itu, Joko," katanya suatu kali dengan nada sinis. "Bahkan jika kau hafal semua buku, tubuhmu tetap tak bisa menggenggam Qi. Lebih baik kau gunakan waktumu untuk menyapu halaman-setidaknya itu masih berguna."

Tawa murid-murid lain pecah. Joko tersenyum tipis. Di dalam dadanya, pusaran kehampaan bergemuruh pelan. Ia membiarkan mereka tertawa. Biarkan mereka mengira dirinya remeh. Semakin dalam ia tenggelam dalam penghinaan, semakin kuat fondasi yang dibangun oleh kehampaan di dalam tubuhnya. Penguasa Kekosongan Pertama pernah berkata-"Kehampaan sejati tidak takut pada ejekan, karena ejekan hanyalah suara yang akan ditelan oleh diam."

Setelah kelas usai, Joko melangkah menuju perpustakaan. Bukan perpustakaan utama yang megah, melainkan sayap timur yang nyaris roboh dan jarang dikunjungi. Di sanalah ia menemukan pecahan giok itu, dan di sanalah ia berharap bisa menemukan lebih banyak petunjuk. Namun, saat ia memasuki ruangan berdebu itu, ia mendapati sesosok telah menunggunya. Gadis berjubah putih itu duduk di atas tumpukan buku-buku usang, kakinya menjuntai santai, matanya menatap Joko dengan sorot jenaka.

"Aku tahu kau akan datang ke sini," katanya. Suaranya lembut, seperti aliran sungai bawah tanah. "Aku bisa merasakan kehampaan di dalammu, Joko Saputra. Hanya sedikit yang bisa. Dan aku salah satunya."

Joko terpaku. Sepanjang hidupnya di akademi ini, tidak ada seorang pun yang pernah menyebut namanya dengan nada seperti itu-bukan ejekan, melainkan pengakuan. Ia maju selangkah, waspada. "Siapa kau?"

Gadis itu melompat turun, mendarat tanpa suara. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti hanya beberapa jengkal dari Joko. Wangi melati bercampur sesuatu yang lebih tua-seperti aroma tanah setelah hujan pertama. "Namaku Ling Yue. Dan aku di sini bukan untuk menjadi temanmu atau lawanmu. Aku hanya menyampaikan pesan: apa yang kau gali, Joko, sudah mulai menggetarkan benang-benang takdir. Ada yang memperhatikan. Ada yang sudah bergerak. Dan mereka tidak akan tinggal diam saat kehampaan mulai bangkit."

Joko merasakan dingin menjalari tulang punggungnya. "Siapa 'mereka'?"

Ling Yue menyeringai. Senyum itu lagi-tidak bisa diartikan. "Kau akan tahu, saat waktunya tiba. Tapi untuk saat ini..." Ia mengulurkan tangan, dan di telapaknya muncul selembar kertas kuning tua yang dipenuhi aksara kuno. "Ini adalah peta. Bukan peta biasa, melainkan peta yang menunjukkan titik-titik kebocoran kehampaan di seluruh kontinen. Di salah satu titik itu, tersembunyi sesuatu yang akan membantumu melatih langkah kedua. Temukan, atau mati dalam kegelapan. Pilihan ada di tanganmu, pewaris Kekosongan."

Setelah berkata demikian, Ling Yue berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi. "Oh, satu hal lagi. Awasilah Zhao Lei. Ia bukan hanya murid sombong biasa. Ada sesuatu di balik matanya yang lebih gelap dari yang kau kira. Dan ia sudah menaruh curiga padamu sejak kau tak bereaksi saat didorong pagi tadi. Orang yang lemah pasti akan menjerit atau menangis. Kau hanya diam. Itu mencurigakan."

Dan ia pergi, lenyap dalam bayang-bayang lorong. Joko berdiri membisu, jantung berdebar seperti mau melompat keluar. Di tangannya, kertas peta itu terasa hangat, dan saat ia membuka lipatannya, sebuah titik merah bersinar redup di tengah lautan pegunungan. Ia menarik napas dalam-dalam. Langit di luar perlahan berubah kelabu, seolah badai akan segera datang-bukan badai di langit, melainkan badai di dalam dirinya.

Malam turun lebih cepat dari biasanya. Joko duduk di kamar lagi, peta terbentang di pangkuannya. Pusaran di ulu hati berdenyut seirama dengan kelelahan. Namun, di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang tumbuh-sebuah keyakinan yang dingin dan tajam. Ia telah mengambil langkah pertama. Kini langkah kedua menjulang di hadapannya: melatih kemampuan untuk tidak hanya menelan energi, tetapi mengubahnya menjadi kekuatan yang bisa ia kendalikan. Penguasa Kekosongan Pertama pernah berbisik tentang "Esensi Kehampaan"-fase di mana seorang pewaris bisa memanifestasikan kehampaan sebagai senjata. Itu adalah tujuan berikutnya.

Joko memejamkan mata. Ia mencoba memanggil pusaran itu, merasakan rotasinya, mengikuti alirannya. Pada awalnya hanya ada kegelapan. Lalu, perlahan, seperti embun yang mengembun di daun, ia mulai melihat titik-titik cahaya redup di dalam kegelapan itu. Bukan cahaya qi, melainkan cahaya yang lahir dari ketiadaan-cahaya kehampaan itu sendiri. Joko tertegun. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya. Cahaya itu berdenyut, bernapas, seolah hidup. Dan saat ia meraihnya, seluruh tubuhnya bergetar. Rasa sakit yang luar biasa menusuk setiap meridian-seperti ribuan jarum es yang menembus sumsum. Ia hampir berteriak, tetapi menahannya. Gigi digertakkan hingga berbunyi. Peluh dingin mengucur deras di dahi.

"Tahan... kau harus tahan..." bisiknya pada diri sendiri.

Seketika, pusaran di ulu hati meledak. Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan persepsi. Joko seolah tersedot ke dalam pusaran itu, tubuhnya terasa ringan dan tak berbobot. Ia melihat segalanya dari sudut pandang yang aneh-dinding kamar menjadi tembus pandang, ia bisa merasakan denyut qi dari seluruh akademi, mendengar bisikan dedaunan, merasakan getaran bumi. Dan di tengah semua itu, ia melihat sosok Ling Yue berdiri di puncak menara lonceng, memandang ke arah kamarnya dengan senyum yang sama. Lalu, di sudut lain pandangannya, ia melihat Zhao Lei-tidak sedang tidur, melainkan berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, berbicara dengan sosok berjubah hitam yang memancarkan aura kegelapan pekat.

"Jadi ini kemampuannya?" gumam Joko dalam keheranan. "Aku bisa merasakan mereka dari jarak... sejauh ini?"

Ia ingin menahan persepsi itu lebih lama, tetapi tubuhnya mulai gemetar kelelahan. Tiba-tiba, sambungan itu putus. Joko tersungkur ke lantai, napasnya tersengal-sengal. Darah mengalir dari hidungnya. Namun, di sudut bibirnya, ia tersenyum. Langkah kedua-ia baru saja menyentuhnya. Dan di luar jendela, dalam potret malam yang tenang, bintang-bintang seolah berkedip lebih terang, seolah ikut menyaksikan kebangkitan yang baru dimulai. Namun, di balik gemerlap itu, Joko merasakan sesuatu yang besar dan gelap mulai bergerak di kedalaman. Sesuatu yang menunggu-entah untuk menyambutnya, atau untuk menghancurkannya. Dan ia tahu, pertempuran sejati baru akan dimulai saat fajar menyingsing esok hari.

~ Bab 4 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai