Pewaris Dua Dewa — Kebangkitan Semar
Bab 9
Bab 9: Tari Dewa di Atas Abu dan Kilat
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Ledakan pertama datang seperti pukulan dari langit yang telah lama menunggu untuk jatuh. Trisula energi Mercellus meluncur membelah udara, meninggalkan jejak cahaya ungu yang membakar retina. Petir Kavi Devendra menyambar bersamaan, menciptakan harmoni destruktif yang mengguncang bumi di bawah mereka. Badai es Yuki Tanaka membentuk spiral yang dingin, menciptakan zona pembekuan yang menyebar dengan kecepatan yang menakutkan.
Arga merasakan semuanya itu-setiap detik, setiap molekul energi yang bergerak menuju tubuhnya-dalam kejelasan yang luar biasa. Gatotkaca sudah bangun sepenuhnya sekarang, dan dengan bangunnya itu datanglah pemahaman yang begitu jernih tentang setiap gerakan musuh. Tubuhnya bergerak, bukan karena pikiran sadar memesannya, melainkan karena naluri kuno yang telah mengamati perang selama ribuan tahun.
Dia melompat ke atas, bukan dengan lompatan biasa, melainkan dengan terbangan yang merobek ruang hampa. Sayap energi Gatotkaca tergulung di punggungnya-bukan sayap fisik, tetapi manifestasi dari kekuatan kosmik yang mengubah udara menjadi media untuk penggerakannya. Trisula Mercellus melewatinya, dan dalam sekejap, Arga sudah mengubah arah, menendang ke arah kilatan Devendra dengan kecepatan yang membuat udara mengeluarkan jeritan histeris.
Petir itu menyerbu ke tubuhnya, dan Arga merasakan nyeri yang tajam seperti jutaan jarum menusuk sekaligus. Namun tubuh Gatotkaca-yang sekuat baja, yang telah diuji dalam pertempuran dewa ribuan tahun yang lalu-menyerap serangan itu, mengubah energi merusak menjadi daya gerak. Arga berputar di udara, membiarkan nyeri itu mengalir melaluinya seperti air yang mengalir di sungai.
Yuki mengeluarkan teriakan yang tajam. Badai esnya telah mencapai zona di mana Arga berada, dan suhu turun hingga angka yang tidak mungkin bagi manusia biasa. Kristal-kristal es terbentuk di udara, menciptakan labirin beku yang bergerak mengikuti kehendaknya. Arga merasakan kulit di lengannya mulai membeku, sel-sel di ujung jari mulai membentuk kristal kecil.
Ini berbeda dari apa yang pernah dia hadapi sebelumnya. Ketiga pewaris dewa itu bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna, seolah-olah telah merencanakan strategi ini selama berbulan-bulan. Mercellus menyerang dari depan, dengan gerakan yang powerful dan langsung. Devendra memberikan dukungan dari samping, membiarkan petirnya menciptakan gangguan yang membuat penggeseran posisi menjadi sulit. Yuki mengikat segalanya dengan es, menciptakan lapisan pertahanan yang tidak hanya dingin secara fisik, tetapi juga membatasi ruang gerak.
Arga menghindari serangan Mercellus dengan cara yang tidak biasa-dia tidak melompat mundur, melainkan bergerak miring sambil memutar tubuhnya, membiarkan trisula itu melewati dengan perbedaan hanya beberapa sentimeter. Suara letupan energi terdengar di belakangnya saat trisula itu menghantam batuan raksasa dan menyapu separuh dari batuan itu menjadi debu.
Diapun bereaksi. Tinju Arga melesat, namun bukan menuju Mercellus. Sebaliknya, dia menargetkan udara di antara dirinya dan Mercellus, menciptakan gelombang tekanan yang mengusir kombinasi energi mereka. Petir Devendra tersebar, badai es Yuki terpecah menjadi serpihan yang berserakan. Dalam sekejap, momentum mereka terganggu.
Namun Arga tahu ini hanya permulaan. Ketiga pewaris itu bukanlah orang-orang yang dapat ditarik lemah dengan serangan tunggal. Mercellus sudah memulai kombinasi serangan baru, menggunakan trisula energinya untuk menciptakan pola yang kompleks. Setiap pukulan, setiap lecutan energi, setiap ayunan trisula-semuanya dirancang bukan hanya untuk menyerang, tetapi juga untuk membatasi ruang gerak Arga, membuat dia semakin terjepit dalam jaring pertahanan ketiga dewa itu.
Dan dalam pertempuran yang makin sengit itu, Arga mulai merasakan sesuatu.
Sebuah bisikan.
Tidak seperti sebelumnya. Kali ini bisikan itu tidak lembut. Kali ini bisikan itu penuh dengan urgency, dengan sesuatu yang terasa seperti kehausan dan kelaparan yang telah ditahan selama ribuan tahun. Semar sedang mendesak untuk dilepaskan.
Arga menggigit bibirnya, mencoba untuk tetap terfokus pada pertempuran. Gatotkaca masih memiliki banyak yang harus ditunjukkan. Masih banyak gerakan, masih banyak strategi, masih banyak cara untuk mengalahkan ketiga pewaris itu tanpa harus membuka segel yang kedua.
Namun ketika badai es Yuki menciptakan zona pembekuan yang mengunci kaki Arga, ketika petir Devendra mulai merayap menuju jantungnya, ketika trisula Mercellus bersiap untuk menembus dari arah yang tidak terduga-Arga menyadari bahwa ini adalah titik balik.
Gatotkaca berusaha. Tubuhnya bergerak, melepaskan diri dari es yang membekunya dengan dorongan kekuatan murni. Tubuhnya bergerak cepat, menghindari rangkaian serangan yang dikoordinasikan dengan sempurna. Namun kecepatan itu tidak cukup. Kekuatan itu tidak cukup. Ketajaman instingnya yang disediakan Gatotkaca tidak cukup menghadapi tiga pewaris yang bekerja sama dengan harmoni yang sempurna.
Sebuah kesalahan kecil. Hanya satu. Sebuah momen ketika Arga berusaha menghindari kombinasi serangan dari Mercellus dan Devendra secara bersamaan, dan dalam upaya itu, dia tidak menyadari bahwa Yuki telah menyiapkan perangkap-badai es yang tidak hanya berusaha membekukan, tetapi juga menarik kesadaran menjauh dari bahaya yang sebenarnya.
Trisula energi Mercellus mengenai bahu Arga.
Rasa sakitnya tidak sama dengan sebelumnya. Ini adalah rasa sakit yang mendalam, yang menembus lapisan pertahanan Gatotkaca, yang menyentuh sesuatu di dalam-sesuatu yang lebih dalam dari tubuh fisik. Arga terjatuh, dan dalam jatuhnya itu, dia merasakan momentum mereka berubah. Ketiga pewaris itu sudah mengikuti, sudah menyiapkan serangan final, sudah mencapai titik di mana mereka yakin pertempuran sudah selesai.
Dan dalam momen itu, ketika kesadaran Arga melayang di tepi kegelapan, ketika tubuhnya sudah tidak mampu lagi mengikuti kecepatan pertempuran, ketika Gatotkaca sendiri mulai kehabisan energi-Semar bangkit.
Tidak ada transisi. Tidak ada persiapan. Tidak ada peringatan.
Semar hanya ada.
Pada detik yang sama, pada titik yang sama di mana Arga jatuh, terjadi perubahan. Bukan transformasi fisik, karena tubuh Arga tetap sama. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia berdiri, dalam cara dia menghirup napas, dalam cara dia memandang ketiga pewaris yang sudah hampir mencapai kemenangan mereka.
Mercellus berhenti bergerak. Trisula energinya berhenti di udara, dengan ujungnya hanya beberapa sentimeter dari kepala Arga. Petir Devendra mulai berkurang intensitasnya, kilatan cahaya biru itu berubah menjadi oranye yang ketakutan. Badai es Yuki secara perlahan berhenti berputar, serpihan-serpihan es di udara mulai jatuh seperti salju yang sangat perlahan.
Karena mereka merasakan sesuatu.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia.
Sesuatu yang melampaui konsep kekuatan yang mereka pahami. Sesuatu yang tidak memiliki aura, tidak memiliki energi yang terdeteksi, namun hadir dengan kehadiran yang sangat nyata-seperti kehadiran void itu sendiri, seperti kehadiran kegelapan yang mengkonsumsi cahaya.
Arga berdiri. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang menggunakan tubuh Arga berdiri. Matanya masih sama, namun di dalamnya ada cahaya yang berbeda. Bukan cahaya yang bersinar, melainkan cahaya yang menyerap-cahaya yang menarik pandangan mereka ke dalamnya seperti gravitasi.
"Mundur," kata Arga. Tapi suara itu bukan suara Arga. Ini adalah suara yang terdengar seperti gemuruh yang sangat jauh, seperti semua suara yang pernah ada di alam semesta dikombinasikan menjadi satu nada yang dalam dan misterius.
Mercellus mundur. Bukan karena dia takut-atau setidaknya, bukan semata karena ketakutan dalam makna tradisional. Dia mundur karena setiap naluri, setiap instingnya yang dikembangkan selama puluhan tahun sebagai pewaris Dewa Perang, sedang berteriak bahwa dia menghadapi sesuatu yang tidak bisa dilawan.
Devendra mundur juga. Petirnya yang sekuat itu menjadi tidak relevan, seperti menyalakan lilin di hadapan matahari-kecuali matahari itu bukanlah cahaya, melainkan kekosongan.
Yuki turun dari langit, badai esnya menghilang sepenuhnya. Tangannya gemetar-bukan dari dingin, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat setiap sel dalam tubuhnya ingin kabur ke dimensi lain.
Dan dalam keheningan itu, dalam kekosongan yang tercipta oleh kehadiran Semar, Arga kembali.
Bukan Gatotkaca. Bukan Semar.
Hanya Arga, dengan kesadaran yang penuh, dengan pemahaman yang baru saja diakuisisinya dalam sekejap waktu yang tidak tergambarkan. Dia jatuh ke lutut, bernapas berat, merasakan kedua kekuatan itu di dalam tubuhnya-Gatotkaca yang menggebu-gebu, Semar yang dingin dan dalam seperti malam yang tidak akan pernah berakhir.
Mercellus, Devendra, dan Yuki masih berdiri di tempat mereka, dengan ekspresi yang identik: ketakutan murni, disertai dengan sesuatu yang lebih mendalam-pengakuan.
Pengakuan bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak semestinya ada, sesuatu yang semestinya tetap tertidur, sesuatu yang mengubah semua pemahaman mereka tentang dunia, tentang dewa, tentang takdir umat manusia.
Dan di langit yang mulai bersinar dengan cahaya fajar yang datang, awan-awan mulai berkumpul. Bukan karena badai yang diciptakan pejuang dewa, melainkan karena ada sesuatu di bawah ini yang tidak ingin diketahui oleh dunia.
Ada sesuatu di bawah sini yang baru saja terbangun.
Semar telah berbicara, dan dalam bicaranya itu, ribuan tahun keheningan telah terpecah.
Ar–ga berusaha bangkit, namun tubuhnya tidak mematuhi. Gatotkaca dan Semar masih berbicara satu sama lain di dalam dirinya, masih berbagi pengalaman pertempuran itu melalui medium kesadarannya. Dan ketika dia akhirnya bisa membuka mata sepenuhnya, dia melihat sesuatu di wajah ketiga pewaris dewa itu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Mereka tidak lagi melihat Arga sebagai lawan yang harus dikalahkan.
Mereka melihat Arga sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.
Mereka melihat Arga sebagai varian yang belum pernah terdaftar dalam buku mitologi mereka.
Mereka melihat Arga sebagai sesuatu yang, bagi pertama kalinya dalam sejarah kebangkitan dewa, membuat para dewa itu merasa seperti manusia biasa.
~ Bab 9 Selesai ~