Pewaris Dua Dewa — Kebangkitan Semar
Bab 5
Bab 5: Panggilan dari Kedalaman Waktu
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Dunia bergetar.
Bukan tremor biasa yang datang dari bumi, bukan guncakan yang merayap melalui fondasi gedung-gedung pencakar langit Jakarta dengan irama yang dapat diprediksi. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih primordial-sebuah getaran yang seolah muncul dari dalam sel-sel tubuh Arga sendiri, dari dalam setiap atom yang menyusun keberadaannya, seolah seluruh dunia fisik hanyalah permukaan yang tipis dari sebuah realitas yang jauh lebih besar dan jauh lebih tua.
Hujan kaca yang turun malam itu tidak membawa bunyi. Ribuan kepingan kristal tajam berkilau di bawah temaram lampu kota yang sekarat, meluncur jatuh seperti gerimis air mata para dewa yang membeku. Setiap potongan kaca seharusnya berbunyi ketika menghantam aspal-namun jagat seperti sedang menahan napasnya, merunduk di bawah kehendak sebuah entitas yang tak terkatakan, yang melangkahi hukum fisika bumi dengan keanggunan yang mengerikan.
Arga jatuh berlutut.
Bukan karena serangan fisik. Tubuhnya yang diperkuat oleh warisan Gatotkaca masih utuh, masih kuat, masih mampu menahan tekanan gravitasi seberat apapun. Tetapi sesuatu yang lain-sesuatu yang tidak memiliki berat tetapi memiliki bobot yang tak terhingga-merambat melalui kesadarannya seperti ombak panjang yang menggenangi pantai. Valerius menangkap lengannya dengan kepanikan, mencoba menyeimbangkan tubuh pemuda Indonesia itu, namun bahkan pewaris Dewa Romawi tersebut terpukul mundur beberapa langkah, mukanya pucat seperti mayat, mata birunya membesar dengan ketakutan yang belum pernah Arga lihat sebelumnya.
Di bawah telapak tangan Arga, otot-otot Valerius bergetar hebat. Itu bukan getaran ketakutan fisik biasa, melainkan reaksi penolakan dari percikan ilahi di dalam darahnya terhadap sesuatu yang asing-sesuatu yang jauh lebih tua dari seluruh kuil kuno di Roma. Arga bisa merasakan denies energi Valerius yang melonjak tak beraturan, mencoba membentengi dirinya dari tatapan tak kasat mata yang terpancar dari kedalaman lubang langit tersebut.
"Apa yang terjadi?" suara Valerius terasa jauh, seperti bergema dari ujung terowongan yang sangat dalam. "Arga, apa yang-"
Tapi Arga tidak bisa menjawab. Suaranya tercekat di tenggorokannya, terperangkap oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya, oleh sesuatu yang seolah menulis jawabannya pada dinding-dinding pikiran sebelum ia sempat merumuskan kata-kata. Dan dalam kesunyian itu, dalam ketiadaan suara yang sempurna, sebuah bisikan muncul.
Bukan suara.
Tidak juga gelombang kejut atau getaran fisik. Ini adalah sesuatu yang memiliki tekstur kesadaran, warna pikiran, rasa memori. Sesuatu yang berbicara bukan melalui telinga tetapi melalui setiap sudut keberadaan Arga, melalui lapisan-lapisan kesadaran yang paling dalam, menembus masuk ke ruang-ruang yang bahkan Arga sendiri belum pernah menyadari keberadaannya.
Dalam benak Arga, sebuah ruang tanpa batas tiba-tiba membentang. Di sana, di tengah kegelapan yang terasa begitu hangat dan akrab, sesosok bayangan bertubuh bulat dengan senyum yang teramat teduh sedang bersila. Tokoh itu tidak memancarkan cahaya adiwarna, tidak pula memakai baju zirah berkilau seperti Gatotkaca atau para dewa yang kini disembah dunia modern. Ia hanya mengenakan kain jarik lusuh, namun di setiap lipatan kainnya seolah tersimpan sejarah penciptaan bumi yang belum sempat ditulis oleh manusia.
Semar.
Nama itu sendiri memiliki berat, memiliki gravitasi, memiliki arti yang melampaui sekadar kombinasi huruf. Nama itu adalah suara ketika langit masih muda, adalah warna ketika dunia baru mengerti apa itu cahaya, adalah rasa dari sesuatu yang sudah tua sebelum waktu memiliki arah.
Suara Semar mengalun pelan di dalam kesadaran Arga, begitu tenang hingga mampu meredakan badai kepanikan yang sempat merayap di benak sang pemuda. Namun, intonasi itu terasa seperti banyak orang yang berbicara serentak namun tetap harmonis, seperti orkestra yang dimainkan oleh entitas-entitas yang tidak memiliki bentuk.
"Leremno atimu, Le," bisik Semar dengan kelembutan yang menyeramkan. "Tenanglah. Langit di atas sana hanya sedang mencari bayangan yang ia takuti. Jika kau goyah, mereka akan tahu bahwa yang mereka cari ada di dalam dirimu. Waktu telah datang untuk membongkar tabir pertama."
Arga menarik napas sedalam-dalamnya, memaksa paru-parunya bekerja di bawah tekanan atmosfer yang semakin mematikan. Ia tahu apa yang dipertaruhkan. Jika dunia mengetahui bahwa ia adalah pemegang dua warisan ilahi, dan salah satunya adalah kekuatan purba yang tidak terdeteksi oleh sistem pengukuran energi modern, maka Indonesia akan menjadi episentrum perburuan global. Faksi-faksi besar dari belahan bumi barat dan timur tidak akan ragu untuk meratakan negeri ini demi memusnahkan ancaman yang tidak mereka pahami.
Arga tidak bisa bergerak sepenuhnya. Tubuhnya masih dalam kendali dirinya sendiri, tetapi pikirannya-pikirannya melayang jauh, jauh ke belakang, menembus lapisan-lapisan sejarah yang tidak tercatat dalam buku-buku manusia. Ia melihat Indonesia dalam bentuk yang lain, dalam waktu yang lain. Ia melihat pulau-pulau itu ketika masih menjadi bagian dari daratan yang lebih besar, ketika langit masih berisi kekuatan-kekuatan yang berbeda. Ia melihat Semar-bukan sebagai dewa mitologi, bukan sebagai figur dari wayang kulit yang dipertunjukkan di atas layar-tetapi sebagai sesuatu yang jauh lebih awal, jauh lebih fundamental.
Semar adalah titik sambung.
Semar adalah tempat di mana berbagai aliran waktu, berbagai dimensi kesadaran, berbagai lapisan realitas bertemu dalam satu titik. Semar adalah jembatan antara era-era, penjaga pintu yang tidak boleh dibuka, penjaga rahasia yang tidak boleh diungkap. Kekuatannya tidak memancarkan aura yang dapat dideteksi. Ia tidak tertulis dalam sistem pengukuran kekuatan yang telah dikembangkan para pewaris dewa selama berabad-abad. Bahkan para dewa lain tidak mampu mengetahui bahwa warisannya telah bangkit.
Dengan mengatupkan rahangnya kuat-kuat, Arga memanggil kembali ingatan tentang hembusan angin di puncak gunung, tentang gemuruh bumi pertiwi yang menyokong kakinya, dan tentang tekad luhur Gatotkaca untuk menjadi tameng pelindung bagi yang lemah. Untuk mengelabui mata niskala yang sedang memindai kota dari balik pusaran ungu, Arga sengaja melepaskan penghalang aura Gatotka-nya dengan paksa.
Ia tidak lagi menyembunyikan kekuatannya; sebaliknya, ia membiarkan energi sang ksatria Pringgandani itu meledak keluar dari pori-pori kulitnya seperti magma yang menembus kerak bumi. Cahaya keemasan yang menyilaukan berhamburan dari tubuh Arga, mengusir kegelapan malam dan memecahkan keheningan absolut yang sempat tercipta. Suara gemuruh seperti benturan lempeng tektonik kembali terdengar, menggantikan sunyi yang mencekam.
"Arga! Apa yang kau lakukan?!" teriak Valerius, suaranya parau karena terkejut melihat luapan energi yang begitu masif. Pewaris Romawi itu terdorong mundur beberapa langkah, melindungi wajahnya dengan lengan ketika angin kencang yang dihasilkan oleh aura Arga menyapu jalanan. Valerius mengira Arga sedang bersiap untuk menyerang pusaran di langit secara langsung, tindakan nekat yang bisa memicu kehancuran total seluruh distrik kota itu.
Namun, ia tidak tahu bahwa ledakan energi Gatotkaca ini hanyalah sebuah tabir asap-sebuah topeng megah yang dirancang untuk menutupi riak sekecil apa pun dari kekuatan Semar yang sedang meronta di dalam diri Arga.
Arga tidak menjawab. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya untuk membagi kesadarannya ke dalam dua kutub yang bertolak belakang. Tangan kanannya terkepal, dialiri listrik murni dan kekerasan logam Brajamusti yang sanggup meremukkan gunung, sementara di bagian terdalam jiwanya, ia terus merapalkan doa-doa kuno untuk menidurkan kembali sang pamomong agung yang mulai terjaga. Setiap detik terasa seperti siksaan yang meremukkan sendi-sendi tubuhnya. Keringat dingin bercampur dengan sisa-sisa debu kehancuran mengalir di pelipisnya.
Dalam pandangan batin Arga, ia bisa melihat mata di langit itu mulai memusatkan perhatiannya pada dirinya. Pusaran ungu itu berputar lebih cepat, memancarkan untaian cahaya kelam yang mencoba mengulik dan menganalisis frekuensi energi yang baru saja meledak. Selama beberapa saat yang terasa seperti keabadian, takdir dunia tergantung pada sehelai benang tipis.
Mata raksasa di angkasa luar itu menyelidiki aura keemasan Gatotkaca, mencoba menemukan anomali yang sempat memicu radar kosmiknya beberapa saat lalu. Namun, berkat bimbingan Semar dan kendali diri Arga yang luar biasa, energi yang terdeteksi hanyalah kekuatan fisik murni milik sang ksatria otot kawat balung wesi. Itu adalah jenis kekuatan yang besar dan mengagumkan, namun masih berada dalam batas-batas yang dapat dipahami oleh sistem para dewa kuno lainnya.
Tidak ada jejak keheningan mutlak. Tidak ada sisa-sisa kekosongan primordial yang ditakuti oleh langit. Tidak ada tanda-tanda dari sesuatu yang jauh lebih lama, lebih dalam, lebih fundamental dari semua kekuatan yang pernah dikenal oleh para pewaris dewa.
Secara perlahan, seolah kecewa karena tidak menemukan apa yang dicarinya, pusaran ungu di langit mulai menyusut. Tarikan gravitasi abnormal yang sempat membuat kaca-kaca gedung pecah perlahan-lahan mereda, menyisakan langit malam Jakarta yang kembali ke warna kelabu pekatnya yang biasa. Angin malam yang dingin bertiup sekali lagi, membawa bau hangus dan aroma ozon yang menyengat akibat gesekan energi ilahi.
Arga berlutut di atas aspal yang hancur, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, sementara sisa-sisa cahaya emas Gatotkaca memudar perlahan, masuk kembali ke dalam pembuluh darahnya. Pada saat bersamaan, di dalam rongga dadanya yang telah ditempa oleh warisan Gatotkaca, segel kuno yang membungkus kekuatan Semar mulai bergerak. Itu adalah debar yang berat, pelan, namun beresonansi dengan keheningan yang menyelimuti kota. Arga merasakan retakan pertama pada segel itu-retakan yang tidak lagi bisa diperbaiki.
Valerius mendekat dengan langkah ragu-ragu, matanya tidak lepas dari sosok Arga yang tampak kelelahan. Sebagai salah satu pewaris terkuat dari belahan bumi barat, ia terbiasa melihat pertarungan kekuatan yang megah dan penuh dengan kepongahan. Namun, apa yang baru saja disaksikannya melampaui pemahamannya tentang pertempuran. Ada sesuatu yang salah dengan cara langit bereaksi tadi, dan instingnya mengatakan bahwa pemuda di hadapannya ini menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kepalan tangan yang bisa memecahkan baja.
"Itu tadi... bukan sekadar serangan tanggapan dari langit terhadap kotamu, kan?" tanya Valerius dengan nada menyelidik, matanya menyipit curiga.
Arga mendongak, menyeka sisa keringat di dahinya dengan lengan baju yang robek. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa di dalam kepalanya. "Mereka sudah menyadari," kata Arga, dan kata-kata itu bukan pilihannya sendiri tetapi perkataan yang datang dari lapisan yang lebih dalam. "Para pewaris dewa dari empat penjuru dunia, para pembawa kekuatan ilahi-mereka sudah merasakan getaran dari kebangkitan. Mereka tahu bahwa sesuatu yang lama telah terbangun. Mereka tidak tahu apa, tetapi mereka tahu bahwa takdir dunia akan berubah selamanya."
Valerius menarik napas dengan cepat, tubuhnya mengeras, tanda-tanda kekuatan Dewa Romawi mulai bersinar di kulitnya-goresan cahaya emas yang melilit tangannya seperti rantai cinta yang gawat. "Jika para pewaris lainnya mengetahui bahwa Semar telah-"
"Mereka tidak akan mengetahui," kata Arga dengan kepastian yang tidak bisa digoyahkan. "Semar telah tidur begitu lama sehingga dunia lupa bagaimana cara merasakan kehadirannya. Bahkan para dewa lain tidak memiliki bahasa untuk memahami kekuatan yang tidak memiliki aura, yang tidak memiliki bentuk, yang tidak tertulis dalam sistem-sistem mereka. Yang mereka rasakan hanyalah ketakutan, hanyalah ketidakseimbangan, tetapi mereka tidak akan tahu dari mana asalnya. Yang mereka deteksi hanyalah Gatotkaca, kekuatan fisik yang dikenal dan telah dicatat dalam sejarah para dewa sejak ribuan tahun lalu."
Arga bangkit dari lutut dengan gerakan yang tiba-tiba, dan Valerius secara refleks mundur selangkah. Ada sesuatu yang berbeda pada cara Arga bergerak kini-bukan lagi gerakan seorang pemuda biasa, bahkan bukan lagi gerakan seorang pewaris Gatotkaca yang penuh kekuatan fisik. Ini adalah gerakan yang memiliki bobot metafisik, gerakan yang seolah mengesampingkan gravitasi bukan karena melawannya tetapi karena memahaminya pada level yang lebih mendalam.
Ada kedalaman baru di matanya, ada pencahayaan yang berbeda, ada dimensi lain yang terlihat melalui kedua iris itu. Ketika ia berbicara, suaranya sendiri, tetapi dengan resonansi yang aneh, seperti dua suara yang dilapiskan, seperti echo dari sesuatu yang jauh lebih besar berbicara melalui instrumen yang jauh lebih kecil.
"Di dunia yang sudah berubah ini, Valerius, langit tidak pernah menyukai mereka yang mencoba berdiri terlalu tegak," kata Arga dengan nada yang melampaui usia mudanya. "Kekuatan Gatotkaca mungkin cukup untuk melindungi tanah ini dari ancaman fisik, tapi untuk hal-hal yang datang dari kegelapan di luar sana... kita semua hanya sedang menunggu giliran. Petualangan sejati baru dimulai. Bukan untuk melindungi Indonesia saja, bukan hanya untuk mengalahkan para pewaris dewa lainnya. Semuanya jauh lebih kompleks, jauh lebih dalam dari itu."
Jauh di atas mereka, pusaran ungu di langit telah hilang sepenuhnya, meninggalkan langit malam yang kosong dan netral. Namun, kesunyian yang tersisa berbeda dari sebelumnya. Ini bukan kesunyian yang dipaksakan oleh ancaman kosmik. Ini adalah kesunyian dari badai yang sedang bersiap untuk fase berikutnya, kesunyian yang penuh dengan antisipasi dan ketakutan akan hal-hal yang belum terbayangkan.
Valerius tetap diam untuk waktu yang lama, memprosses apa yang baru saja terjadi. Ia adalah pewaris kekuatan yang sudah dikenal ribuan tahun, kekuatan yang tercatat dalam mitos, dalam sejarah, dalam memori kolektif peradaban. Tetapi di hadapan sesuatu yang telah disembunyikan bahkan dari para dewa sendiri, bahkan pengetahuan kuno itu terasa seperti batu loncatan di atas samudra yang tidak memiliki dasar.
"Aku akan tetap bersama dengan Anda," kata Valerius akhirnya, dan suaranya kembali ke nada manusia, kembali ke tingkat kesadaran yang lebih mudah dipahami. "Apapun yang akan terjadi, apapun yang Semar rencanakan, apapun yang menunggu kita di depan-aku akan berdiri di samping Anda. Karena saya mulai mengerti bahwa ini bukan lagi tentang perbandingan kekuatan dewa. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar, sesuatu yang mengubah aturan permainan selamanya."
Arga mengangguk, dan untuk sejenak, hanya untuk sejenak, ekspresinya kembali menjadi ekspresi Arga yang pemuda, yang masih ragu, yang masih takut. Ia melihat Valerius dengan mata yang lebih lembut sekarang, mata yang berterima kasih atas kesetiaan yang tidak perlu, namun sangat berharga. "Maka kita harus pergi. Kita harus ke tempat yang aman, tempat di mana aku bisa memahami lebih dalam apa yang Semar coba katakan. Karena jika para pewaris dewa lainnya mulai mengumpulkan kekuatan mereka, jika mereka mulai berpikir bahwa Indonesia adalah ancaman-"
"Perang tidak akan lagi hanya terbatas pada pertempuran di lapangan," Valerius menyelesaikan kalimatnya, dan nada suaranya menunjukkan bahwa ia mulai memahami skala dari apa yang akan datang. "Perang akan menjadi sesuatu yang mengguncang fondasi realitas itu sendiri."
Mereka bergerak menuju jendela yang masih utuh, meninggalkan reruntuhan kantor yang perlahan-lahan ditelangi oleh kegelapan malam Jakarta. Di belakang mereka, di dalam ruangan yang sepi, bisikan Semar masih terdengar, masih berbicara dalam bahasa yang tidak memiliki kata, dalam ritme yang tidak memiliki waktu. Tawa kecil nan lembut bergema di dalam kesadaran Arga, sebuah pengingat bahwa babak pertama dari perang rahasia ini baru saja dimulai, dan segel yang menutupi kekuatan Semar kini telah memiliki retakan pertama yang tak lagi bisa diperbaiki.
Arga berdiri di tepi jendela, menatap reruntuhan di sekelilingnya dan langit malam bebas awan yang kini tampak begitu sepi. Di dalam lubuk hatinya, ia menyadari bahwa dunia telah memasuki fase baru. Tidak hanya untuk Indonesia, tidak hanya untuk para pewaris dewa yang berkeliling di berbagai benua, tetapi untuk setiap makhluk hidup di bumi.
Suatu yang telah tertidur selama ribuan tahun kini mulai terbangun. Suatu yang bahkan para dewa dari berbagai peradaban tidak mampu lawan sendirian. Suatu yang bernama Semar, dan Arga adalah satu-satunya manusia yang memahami kehadiran tunggal itu.
Jangan jika mereka mengetahui kebenaran. Jangan jika dunia menyadari bahwa Indonesia tidak hanya memiliki seorang pewaris Gatotkaca. Karena ketika saat itu tiba, ketika tabir terakhir terbuka sepenuhnya, tidak ada yang tahu apakah Arga akan menjadi penyelamat umat manusia atau menjadi sosok yang akan menentukan akhir dari Era Para Dewa.
~ Bab 5 Selesai ~