Pewaris Dua Dewa — Kebangkitan Semar
Bab 4
Bab 4: Remuknya Soko Guru Langit
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Keheningan yang merambat setelah gema kata 'Bangun' itu bukanlah kesunyian biasa. Ia adalah kekosongan yang melumat, sebuah vakum absolut yang menyedot seluruh suara metropolis Jakarta, menyisakan desau angin malam yang mendadak sedingin es kutub. Di atas puing-puing beton pencakar langit yang runtuh setengah bagian, debu-debu pertempuran seolah membeku di udara, menolak untuk jatuh. Rona ungu dari langit yang robek tidak lagi sekadar warna; itu adalah radiasi purba yang menembus kulit, membuat bulu kuduk berdiri, dan memaksa setiap sel dalam tubuh manusia untuk tunduk pada kehendak yang jauh lebih tua dari bumi itu sendiri.
Arga bertumpu pada satu lututnya. Pelindung dada Basunanda-baja ilahi warisan Gatotkaca yang biasanya memancarkan aura keemasan memukau-kini meredup redup, menyisakan kilau kelabu yang seolah sedang sekarat. Dada Arga naik-turun dengan berat, setiap napas terasa seperti menarik batu ke dalam paru-parunya. Kepalan tangannya yang dilapisi sarung tangan legendaris Brajamusti terasa seperti bongkahan besi dingin yang tak bernyawa. Kekuatan dahsyat yang beberapa menit lalu sanggup meremukkan pertahanan seorang pewaris dewa sejati, kini terasa tak lebih dari sekadar percikan korek api di tengah badai samudra kosmik. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantamnya-bukan karena kehabisan energi fisik semata, melainkan karena jiwanya dipaksa menelan kenyataan bulat bahwa eksistensinya yang sekuat baja dan sehebat petir ternyata sangatlah rapuh, sangatlah kecil, sangatlah insignifikan di hadapan sesuatu yang memiliki bobot kesadaran purba.
Di seberang reruntuhan beton yang mencuat berantakan, Valerius-sang pemuda jangkung pembawa warisan Romawi dengan garis keturunan dewa perang-tidak berada dalam kondisi yang lebih baik. Pria yang beberapa saat lalu berdiri dengan keangkuhan seorang kaisar dan memegang kendali atas petir merah itu kini terduduk di atas puing pembesian yang tajam dan mencuat. Tombak pendeknya yang berlapis emas tergeletak begitu saja di tanah, memancarkan dengungan panik yang tak menentu, seolah senjata ajaib itu pun merasakan ketakutan. Mata Valerius yang biasanya tajam dan sedingin es kini melebar, memantulkan robekan langit ungu di atas mereka-sebuah cerminan dari ketakutan primordial yang tidak bisa disembunyikan di balik topeng kebanggaan bangsawan. Bibirnya bergetar tanpa kata, dan untuk pertama kalinya dalam sebuah kehidupan yang penuh dengan kemenangan dan dominasi, Arga melihat ketakutan murni dan tanpa kepura-puraan di wajah seorang pewaris dewa adidaya.
"Ini... ini tidak masuk akal," bisik Valerius, suaranya parau dan bergetar hebat dengan nada yang hampir berakhir dalam tangis. Ia mencengkeram dadanya sendiri, di mana simbol dewa pelindungnya terukir di bawah kulit dalam pola geometris yang rumit. "Sistem pemeringkatan global... sensor energi taktis milik PBB... semuanya lumpuh dalam sekejap. Kekuatan ini tidak memiliki indeks. Ini bukan frekuensi ilahi yang kami kenal dalam tiga ratus tahun terakhir. Arga... apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan di tanah ini? Apa yang kalian berikan kesempatan untuk terbangun?"
Arga tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Bagaimana bisa ia menjelaskan sesuatu yang ia sendiri baru mulai mengerti? Bagaimana bisa ia mengucapkan pengakuan bahwa ia tidak mengetahui rahasia penuh dari warisan yang tersembunyi dalam urat nadi spiritualnya? Di dalam relung jiwanya yang terdalam, jauh di balik benteng energi Gatotkaca yang kini retak-retak seperti es di musim semi, esensi Semar mulai menggeliat dengan ritme yang berbeda. Itu bukan kebangkitan yang meledak-ledak seperti letusan gunung berapi yang menghancurkan, melainkan seperti kabut subuh yang perlahan-lahan menyelimuti lembah sunyi, mengalir diam-diam namun tak terhentikan ke setiap sudut kesadaran.
Kehadiran Semar di dalam dirinya terasa hangat dengan kehangatan yang bukan berasal dari energi ilahi, melainkan kehangatan tanah basah setelah hujan pertama-kehangatan yang berbau lembab, berbau akar, berbau usia. Dan kehadiran itu dipenuhi oleh kesedihan yang amat mendalam, kesedihan yang seolah telah mengendap selama ribuan tahun. Rasa sedih itu begitu kuat hingga Arga dapat merasakan air mata dingin mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesiu dan darah kering dari pertempuran yang telah berlalu.
"Ngger, bocah bagus..." sebuah bisikan bergema di rongga kepala Arga, tidak masuk melalui telinganya tetapi langsung tertanam dalam substansi pikiran. Suara itu begitu dekat, seolah-olah ada seorang tua yang sedang berbisik tepat di samping telinganya sembari menepuk pundaknya dengan lembut-sentuhan yang bisa dirasakan namun tidak terlihat. "Sorenda yang kaulihat di atas sana... itu bukan cahaya dan bukan kegelapan. Itu adalah sisa-sisa kelambu kuno yang robek, penutup plastik yang telah tua dan akhirnya pecah. Mereka yang tidur di bawah dasar samudra waktu, di bawah lempeng benua kesadaran, kini mendengar ketukan pintu yang tidak boleh dibuka. Dan ketukan itu... berasal dari kesombongan anak-manusia yang bermain-main dengan mainan para dewa, berulang-ulang, sampai tali pengikat mainan itu terputus."
"Kakek..." Arga membatin dalam bahasa yang tidak memiliki kata, berkomunikasi dengan kesadaran Semar melalui resonansi jiwa. "Benda apa yang ada di balik langit itu? Mengapa benda itu memiliki kehadiran yang membuatku merasa seperti semut di hadapan raksasa? Kenapa kekuatanku sebagai Gatotkaca terasa lumpuh, terbaring di tanah seperti lilitan ular raksasa?"
"Gatotkaca adalah ksatria tanah Jawa yang gagah berani, dilahirkan dari rahim Tara dengan tekad membela dharma," suara Semar beresonansi dengan kedalaman yang seolah menggetarkan fondasi bumi di bawah mereka. *"Dia dilahirkan dari kawah Candradimuka untuk bertempur di bawah aturan semesta yang tertata, di bawah hukum yang telah disepakati oleh dewan dewa-dewa. Namun, apa yang mendekat dari balik robekan itu... adalah kedahsyatan yang ada sebelum dunia ini diberi nama, sebelum hukum ditulis, sebelum pejal dan cair dibedakan. Mereka adalah angin yang tak berbentuk, kegelapan yang tak berpangkal, kesadaran yang tidak memerlukan tubuh. Senjata terbaik manusia, bahkan senjata terbaik para dewa yang paling kuat sekalipun, tidak akan sanggup melukai lebih dari bayangan kasar mereka. Bayangkan mencoba menebas kabut dengan pedang, Ngger. Berapa ribu kali kaubisa menebas sebelum menyadari kabut itu tidak akan pernah terpotong?"
"Sembunyikan cahayamu," Semar melanjutkan dengan urgensi yang meningkat, seperti mereka yang mengobrol di tepi jurang dan salah satu sudah mulai kehilangan keseimbangan. "Jangan biarkan mata kuno itu melihat kilau sayap Gatotkaca-mu, atau kau akan tersapu sebelum perang yang sesungguhnya dimulai. Kegelapan adalah sahabatmu sekarang, anak tersayang. Keheningan adalah tempat persembunyian terbaik. Jangan bersinar dalam malam sebagai mercusuar, atau semua kapal yang tenggelam akan tertarik ke batu karang terakhir."
Nasihat Semar mengalir bagaikan air sejuk yang memadamkan bara api dalam darah Arga, menenangkan denyut nadi yang berdetak liar seperti dendang perang. Dengan perlahan, dengan sengaja, Arga menarik napas dalam-dalam-napas yang terasa seperti menarik seluruh langit malam ke dalam dada. Dengan sengaja meredam sisa-sisa aura emas Gatotkaca yang menyelimuti tubuhnya, ia menyedot cahaya itu kembali ke dalam, menyamarkan kilau yang telah menarik perhatian benda-benda yang seharusnya tetap tertidur. Perlahan tapi pasti, baju zirah bajunya-baja ilahi yang bersinar seperti matahari pagi-melebur kembali ke dalam aliran darahnya, meresap ke dalam urat nadi spiritualnya, tersimpan di tempat yang gelap dan dalam.
Dengan perubahan itu, Arga menyisakan dirinya dalam pakaian kasual yang compang-camping dan penuh noda hitam, menyisakan dirinya sebagai pemuda biasa dengan luka dan kelelahan. Penurunan aura yang drastis ini membuat Valerius menoleh dengan cepat, matanya membelalak tak percaya, seolah saja menyaksikan dewa berubah menjadi manusia dalam sekejap mata.
"Kau... kau menyerahkan kekuatanmu?" tanya Valerius dengan nada setengah berteriak di tengah desau angin yang aneh dan mengerikan. "Di saat seperti ini, kau memilih menjadi manusia biasa? Apakah kau sudah gila, pewaris Gatotkaca?! Tanpa pelindung dewa, tekanan atmosferik dari robekan langit ini bisa menghancurkan paru-parumu! Kau akan mati dalam hitungan menit!"
Arga tidak menanggapi kecaman itu dengan amarah atau pertahanan diri. Ia hanya menatap Valerius dengan pandangan mata yang tenang-ketenangan yang dipinjamnya dari keheningan Semar yang tak terbatas, keheningan yang melampaui setiap kata. "Jika kekuatan luar biasa kita yang menyulut api ini, Valerius, maka menambah kekuatan hanya akan membuat apinya semakin besar, semakin terlihat oleh mata-mata yang seharusnya tidak kita undang. Lihatlah ke atas. Langit itu tidak robek karena kita lemah. Langit itu robek karena kita terlalu sombong menampilkan kekuatan kita, berdiri di tengah kota ini seperti dua lampu sorot yang mengundang semua hal untuk datang dan memakan kita."
Valerius terbungkam. Kata-kata Arga menghantamnya lebih telak daripada pukulan Brajamusti sebelumnya, menembus pertahanan logika yang telah ia bangun dalam hidupnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar, melihat sisa-sisa cahaya merah petir yang masih berkelingan di antara jari-jarinya. Perlahan, dengan enggan yang teramat sangat, dengan kerendahan hati yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Valerius juga menurunkan intensitas sinarnya. Petir merah yang melilit lengannya memudar seperti lilin yang sedang padam, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara mereka berdua di atas menara yang sekarat itu, seperti dua manusia yang telah mencapai perjanjian senyap dalam menghadapi kematian.
Di bawah mereka, kota Jakarta yang biasanya tidak pernah tidur-kota yang selalu bergemuruh dengan riuh kehidupan-kini tampak seperti kota mati yang dihantui oleh roh-roh zaman dulu. Lampu-lampu jalanan padam dalam pola yang tidak beraturan, menciptakan zona gelap yang semakin meluas setiap detik. Gedung-gedung pencakar langit lainnya gelap gulita karena jaringan listrik nasional runtuh seketika akibat kejutan elektromagnetik spiritual dari langit-sebuah ledakan energi yang bukan dari teknologi tetapi dari bidang nyata yang lebih dalam. Jutaan orang mungkin sedang menatap ke atas dari balik jendela apartemen atau di tengah jalan raya yang macet total, menyaksikan takdir dunia mereka sedang ditulis ulang oleh tinta ungu di langit malam, oleh sesuatu yang tidak mereka mengerti dan tidak pernah mereka antisipasi.
Dari celah robekan langit yang semakin melebar itu-semakin membesar seperti luka yang semakin dalam, seperti mulut yang terbuka lebar untuk mengatakan sesuatu yang amat penting-sesuatu mulai termanifestasi di alam fisik. Bukan berupa monster bersayap atau manifestasi dewa raksasa seperti dalam legenda-legenda populer yang diceritakan di sekitar api unggun, melainkan sebuah struktur geometris yang meliuk-liuk, tidak masuk akal bagi mata manusia biasa, menyiksa persepsi dan meruntuhkan logika. Bentuknya terus berubah-kadang menyerupai jaring laba-laba raksasa yang tak pernah selesai ditenun, kadang menyerupai lingkaran konsentris yang berputar lambat seperti mesin kuno yang baru saja dihidupkan kembali, memancarkan suara berdengung rendah yang menggetarkan tulang dada hingga terasa ngilu seperti gigi yang berlubang.
Keberadaan objek tersebut seolah menegaskan dengan jelas bahwa hukum fisika telah dikesampingkan dengan kasar, bahwa realitas itu sendiri sedang dinegosiasikan ulang di hadapan jutaan jiwa yang tidak berdaya.
"Waktunya hampir habis, Ngger," suara Semar kembali berbisik, kali ini dengan nada yang lebih mendesak namun tetap terjaga wibawanya, seperti guru tua yang mengingatkan murid bahwa ujian akan segera dimulai dan belum ada satupun yang siap. *"Robekan itu adalah jalan pintas bagi para 'Mula'-mereka yang ada sebelum yang pertama, mereka yang menunggu di luar dinding semesta. Mereka mencari pemegang kunci, pencari arah, pembuka pintu. Jika mereka menemukanmu dengan dua tanda dewa dalam satu jiwa, keseimbangan jagat kasar dan halus akan runtuh seketika seperti istana kartu yang ditiup angin."
"Kau harus pergi dari tempat ini," Semar melanjutkan dengan urgency yang meningkat. "Bawa pewaris asing itu bersamamu. Dia adalah saksi, tapi juga bisa menjadi sekutu yang tak terduga jika hatinya bisa dibersihkan dari karat kesombongan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Dia adalah orang yang tepat di waktu yang tepat, atau mungkin kesalahan yang indah. Kita akan tahu nanti."
Arga memandang Valerius yang masih tampak linglung, seolah membangun kembali pemahaman tentang realitas yang baru saja hancur. Pemuda Romawi itu kini kehilangan seluruh wibawa bangsawannya, terduduk lesu dengan napas yang memburu seperti binatang buruan yang baru saja lepas dari jerat. Arga melangkah mendekatinya dengan langkah yang hati-hati, langkah kakinya terdengar nyaring di atas reruntuhan beton yang sunyi, gema setiap langkah terdengar seperti detak jam yang memperlihatkan waktu yang terus berkurang.
"Berdiri," kata Arga singkat dengan nada yang lembut namun tegas, mengulurkan tangan kanannya yang kini bersih dari zirah emas, menyisakan kulit manusia biasa dengan beberapa luka gores dan noda darah. Tangan itu terlihat seperti tangan pemuda biasa, lemah, dan rentan. Namun di balik kulit itu, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menunggu.
Valerius menatap tangan Arga dengan ragu yang mendalam, seolah-olah tangan itu adalah jebakan atau pengujian akhir. Ada perabaan ego yang terluka di dalam matanya-ego seorang pewaris dewa yang tidak pernah diajak turun dari mahkota kesombongannya-namun ketakutan akan hal yang tidak diketahui di atas mereka jauh lebih besar daripada rasa gengsi atau kebanggaan bangsa. Akhirnya, dengan tangan yang masih gemetar seperti daun di angin musim gugur, Valerius menyambut uluran tangan Arga.
Ketika kulit mereka bersentuhan, sebuah kehangatan aneh menjalar dari tubuh Arga ke tubuh Valerius-bukan kehangatan api yang membakar, melainkan kehangatan yang menenangkan, kehangatan yang mengingatkan pada kehangatan ibu yang sudah lama meninggal. Membuat pemuda asing itu terkesiap karena rasa sesak di dadanya mendadak hilang, digantikan oleh perasaan enteng yang belum pernah ia rasakan sejak pertempuran dimulai.
"Energi apa ini..." Valerius bergumam lirih, menatap Arga dengan pandangan yang sarat akan tanda tanya baru yang terus bersemi. "Ini bukan energi Gatotkaca. Energi Gatotkaca itu terang, membakari, mematikan. Ini terlalu... tenang. Seperti... seperti tidak ada apa-apanya, tapi juga semuanya ada. Seperti vaakum yang penuh."
"Kita harus pergi dari sini sekarang," potong Arga tanpa memberikan penjelasan yang mungkin belum bisa dipahami. Ia menarik Valerius berdiri dengan lembut. "Tempat ini akan menjadi pusat perhatian dari apa pun yang ada di atas sana. Jika kita tetap di sini, kita hanya akan menjadi mangsa pertama, korban percobaan pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar."
Saat mereka bersiap untuk melompat turun menuju kegelapan jalanan Jakarta di bawah-melompat dengan keyakinan bahwa ruang kosong di bawah akan menangkap mereka atau membunuh mereka, salah satu dari dua kemungkinan-sebuah dentuman sunyi tiba-tiba meledak dari langit yang robek. Bukan suara, melainkan absensi suara, kehadiran dari ketiadaan-sebuah gelombang kejut yang tidak bersuara, gelombang yang merontokkan kaca-kaca gedung di sekitar mereka dengan presisi yang menakutkan, menciptakan hujan kaca yang berkilau di udara malam seperti bintang-bintang yang jatuh dari langit.
Arga mencengkeram lengan Valerius dengan kuat, bersiap untuk apa pun yang akan datang, bersiap untuk kemungkinan terburuk atau kemungkinan yang bahkan lebih buruk dari itu.
Di atas mereka, di tengah pusaran ungu yang mengerikan dan terus mengalami metamorfosis, sebuah mata tak kasat mata seolah terbuka lama, mata yang tidak terletak di mana saja tetapi di mana-mana, memindai bumi dengan perhatian yang mencolok, mencari sesuatu yang hilang ribuan tahun yang lalu. Dan jauh di dalam dada Arga, rahasia besar yang ia jaga dengan taruhan nyawanya kini mulai berdenyut kencang dengan ritme yang semakin cepat, memanggil balik ke arah langit dengan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh keheningan, oleh kesadaran tertua dunia, oleh Semar yang telah menunggu saat ini datang sejak sebelum Indonesia diberi nama oleh geografi.
~ Bab 4 Selesai ~