Pewaris Dua Dewa — Kebangkitan Semar
Bab 2
Cahaya yang Memecah Kesunyian
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Langit Teluk Jakarta tidak lagi milik manusia.
Arga merasakan perubahan itu sebelum cahayanya menyentuh kulit. Udara di sekitarnya bergetar seperti senar gitar yang dipetik oleh tangan yang tidak terlihat. Setiap napas yang ia tarik terasa lebih berat, lebih tebal, seolah-olah jagat raya sendiri sedang menggenggam dadanya dan tidak ingin melepaskan. Di atas, konstelasi bintang yang biasanya diam kini bergerak dengan pola yang tidak natural, membentuk lingkaran dan garis-garis cahaya yang hanya bisa dipahami oleh makhluk-makhluk ilahi yang telah mengenal ritme alam semesta jauh lebih lama dari peradaban manusia.
Dari kapal yang menembus lautan gelap seperti jarum besar membobol kulit bumi, cahaya-cahaya itu meluncur ke arah pantai. Merah seperti darah dewa, biru seperti lautan yang telah menjadi kesadaran sendiri, emas seperti matahari yang telah belajar berbicara, dan ungu seperti senja yang belum pernah tenggelam. Mereka tidak bergerak seperti cahaya biasa. Setiap berkas cahaya itu membawa bobot kehadiran yang terasa seperti telapak tangan raksasa menekan dada Arga, mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah sekejap dalam pandangan mereka-manusia yang tertimpa rahmat kebetulan untuk menjadi wadah kekuatan yang jauh melampaui komprehensi daging dan tulang.
Arga berdiri di atap gedung hotel tertinggi di Pantai Utut, Jakarta. Tempat ini bukan pilihan yang diperhitungkan. Sebaliknya, tubuhnya telah bergerak ke sini dengan sendirinya, seolah-olah setiap sel dan otot dalam tubuhnya mendengarkan perintah dari suara yang lebih tua dari bahasa Indonesia sendiri. Suara itu-suara Semar-tidak perlu berkata banyak lagi. Kehadirannya dalam kesadaran Arga sudah menjadi peta yang jelas: turun ke mari, tunjukkan dirimu, atau biarkan orang-orang yang kau cintai menjadi barisan pertama dalam perang yang akan mengubah bentuk benua.
Tangannya mengepal.
Kuku-kukunya menggali telapak tangan hingga tetes darah merah kehitaman mengalir dan menetes ke perut bangunan berombongan tinggi itu. Darah itu tidak jatuh seperti darah manusia biasa. Ia melintir di udara, berputar, sebelum menghilang dalam cahaya putih lembut yang hanya bisa terlihat oleh mata yang telah melihat lebih banyak dari mimpi.
"Mereka sudah tahu," Arga berbisik, suaranya serak seperti orang yang telah berteriak sejak fajar. "Mereka tahu aku di sini. Aku bisa merasakan mata mereka."
Dari dalam sumur gelap yang ada di paling dalam kesadaran Arga, suara Semar bergema. Bukan suara yang datang dari luar, bukan suara yang masuk ke telinga dan diproses oleh gendang telinga. Ini adalah suara yang lahir dari inti atom setiap sel, suara yang menjadi bagian dari ritme jantung Arga sendiri, suara dari apa yang mungkin desa-desa tua di Jawa Tengah kenal sebagai nur-cahaya ilahi yang bukan cahaya, tetapi kesadaran yang telah menjadi cahaya.
"Mereka tahu karena kau memperbolehkan mereka tahu," suara itu berkata, dan di setiap kata-kata itu terdapat tawa yang sangat dalam, seperti tawa yang dilahirkan ketika dunia masih berbentuk lumpur. "Ketakutanmu telah menjadi beacon. Pelita yang menyala untuk menuntun para pemburu. Dan kau berdiri seperti rusa di terang bulan, menunggu untuk ditembak."
Arga tertawa. Itu bukan tertawa yang lahir dari kegembiraan atau kepuasan. Tertawa itu datang dari sebuah tempat di dalam dirinya yang telah kehilangan pilihan lama waktu yang lalu. Tempat di mana seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang hanya ingin menjalani hidup seperti teman-temannya-bekerja, jatuh cinta, mengkhawatirkan hal-hal remeh seperti gaji dan cicilan rumah-tiba-tiba menemukan bahwa dunia tidak pernah menawarkan pilihan yang sebenarnya. Dunia hanya menawarkan satu jalan, dan jalan itu tertanam dalam darah, dalam DNA, dalam setiap nuansa memori yang ia tidak ingat dia miliki.
"Jika aku bukan beacon, apa bedanya?" Arga berkata sambil berjalan menuju tepi atap. Hembusan angin malam melambung dari teluk, membawa aroma garam dan bau-bau kota yang tidak pernah benar-benar tertidur. "Mereka akan datang entah bagaimana. Mereka mencari kekuatan. Dan kekuatan yang mereka cari adalah aku. Atau lebih tepatnya, adalah kamu."
Suara Semar kali ini tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, Arga merasakan hangat di dada-hangat yang bukan hangat tubuh, tetapi hangat yang terasa seperti matahari terbit di dalam organ-organnya, menyentuh setiap pembuluh darah dan membangkitkan ingatan-ingatan yang bukan miliknya. Ia melihat: tanah Jawa yang masih menjadi hutan rimba, langit yang berbintang lebih banyak dari pasir pantai, dan sosok mirip panggung wayang dengan boneka-boneka yang bergerak bukan karena dalang, tetapi karena kehendak mereka sendiri. Dan di antara semua itu, ada sebuah tawa-tawa yang kenal Arga meskipun ini pertama kalinya ia mendengarnya dengan cara yang sedemikian hidup.
"Kau adalah pewaris, Arga," suara itu berbisik lagi, dan kali ini nada itu berbeda. Bukan lagi suara tua, tetapi suara yang terdengar seperti seorang ayah yang telah menunggu putranya untuk memahami sesuatu yang sangat sederhana. "Pewaris berarti kau memiliki tanggung jawab untuk mengambil. Tidak hanya untuk menerima, tetapi untuk mengambil apa yang adalah hakmu. Dan malam ini adalah waktu pengambilan dimulai."
Arga menutup matanya. Di saat bersamaan, cahaya dari kapal di teluk meledak-bukan ledakan yang membuat suara atau meninggalkan puing, tetapi ledakan makna. Tiba-tiba, setiap sudut Jakarta dipenuhi dengan kehadiran. Bukan kehadiran manusia dengan tubuh dan bentuk, tetapi kehadiran yang lebih murni. Kehadiran yang adalah keinginan, ambisi, kekuatan, dan sesuatu yang Arga belum punya kata untuk menyebutnya. Ini adalah kehadiran para pewaris dewa.
Arga bisa menghitungnya. Lima. Ada lima dari mereka.
Satu di utara, energi yang terasa seperti besi dan perang-kemungkinan besar pewaris dari Romawi atau sesuatu yang berasal dari Eropa. Satu di barat, energi yang bergerak seperti air dan keindahan yang mematikan-dari India, mungkin pewaris Durga atau Kali. Satu di timur, energi yang terasa seperti keseimbangan yang tipis antara kehidupan dan mati-dari Tiongkok, pasti. Satu di selatan, energi yang berdenyut seperti jantung hewan liar-tidak jelas, mungkin dari Afrika atau Australia. Dan satu lagi, yang paling dekat, yang paling berbahaya, yang energinya terasa seperti mata yang terbuka di kegelapan melihat Arga dengan rasa penasaran yang tidak sehat.
Yang terakhir itu berada di barat daya, di suatu tempat di Kepulauan Seribu. Arga bisa merasakan mata itu menatapnya dengan presisi yang membuat kulitnya bergerak. Sosok itu menunggu. Menunggu untuk melihat apakah Arga akan mencoba lari atau mencoba melawan.
"Mereka bermain dengan kita, ya?" Arga berkata, mata masih tertutup. "Mereka ingin melihat apa yang akan aku lakukan. Mereka ingin tahu berapa lama aku bisa bertahan sebelum mengungkapkan rahasia yang tidak seharusnya pernah aku ketahui."
"Bukan permainan," Semar menjawab, dan ada sesuatu dalam nada itu yang membuat Arga membuka mata dengan cepat. "Ini adalah pengujian. Pengujian terhadap dunia. Karena ketika mereka mengetahui apa yang ada di dalammu, ketika cahaya Semar akhirnya menyingsing seperti matahari pagi yang tidak bisa disembunyikan lagi, maka tidak ada yang akan sama. Struktur kekuatan yang telah mereka bangun selama ribu tahun akan goyah. Hierarki yang mereka yakini akan pecah."
Arga membuka matanya dan menatap langit. Bintang-bintang itu berkilau dengan cara yang baru, seolah-olah mereka juga menunggu. Menunggu untuk melihat apakah pemuda Indonesia yang tidak pernah meminta untuk menjadi istimewa, tidak pernah meminta untuk menjadi pembawa rahasia, akan memilih untuk berdiri atau akan memilih untuk berlutut di hadapan dunia.
Bagian dari Arga yang masih manusia-yang masih mengingat hidup normal sebelum Gatotkaca memilih dirinya, sebelum Semar membisikkan nama aslinya di dalam tidur-ingin berlutut. Ingin menyatakan kekalahan. Ingin mengatakan kepada para pewaris dewa yang menunggu di luar sana bahwa ia adalah pemuda biasa yang telah tertimpa takdir yang tidak adil, dan mohonlah kepada mereka untuk mengambil kembali apa yang telah mereka berikan, karena ia tidak bisa membawa beban ini lebih lama.
Tapi bagian lain dari Arga-bagian yang terbentuk dari sesuatu yang jauh lebih tua, bagian yang adalah warisan Gatotkaca yang kuat dan perhitungan Semar yang tak terukur-mengetahui bahwa ada titik di mana seseorang harus berhenti menjadi korban dari takdir dan mulai menjadi penulis dari masa depannya sendiri.
Arga melangkah ke tepi atap. Angin malam mengguncang rambutnya, membawa dengan sendirinya bau dari lautan dan bau dari kota yang tidak pernah benar-benar istirahat. Di bawah, Jakarta melanjutkan hidupnya. Jutaan orang tidur, bermimpi tentang hal-hal sederhana dan indah yang tidak tahu bahwa di atas mereka, di rooftop tertinggi di pantai, sesuatu sedang bergeser. Sesuatu sedang berpindah dari bayang-bayang menuju cahaya.
"Aku tidak akan berlari," Arga berkata, dan dalam kata-kata itu ada ketenangan yang tidak diharapkannya sendiri. "Aku tidak akan berlutut. Dan aku tidak akan menyembunyikan diri lagi. Jika mereka ingin tahu siapa aku, jika mereka ingin tahu apa yang bersemayam dalam tubuh ini, maka biarkan mereka tahu."
Dari dalam dirinya, suara Semar bergema dengan tawa yang terdengar seperti ribuan generasi yang telah menunggu untuk mendengar kata-kata itu. "Akhirnya," suara itu berkata. "Akhirnya, Arga, kau mulai mengerti. Kau bukan hanya pewaris. Kau adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari semua kita. Dan malam ini, semua akan berubah."
Cahaya dari kapal melompat ke langit. Cahaya itu tidak lagi berwarna-warni, tetapi bersatu menjadi satu cahaya putih yang begitu terang sehingga siang hari terbit di tengah malam. Dan di tengah cahaya itu, Arga bisa melihat mereka dengan jelas untuk pertama kalinya-lima pewaris dewa yang telah datang untuk mencari apa yang disembunyikan Indonesia, tidak menyadari bahwa apa yang mereka cari sedang berdiri di atap, dengan tubuh yang bergerak lambat ke arah tepi, siap untuk terjun ke dalam perang yang akan mengubah wajah dunia selamanya.
Arga tersenyum. Dan dalam senyum itu ada kesadaran yang menyayat: tidak ada jalan kembali lagi. Mulai dari detik ini, hidupnya-hidup Arga yang dulu-sudah berakhir. Yang dimulai sekarang adalah era baru. Era Arga sebagai Pewaris Dua Dewa. Era di mana Gatotkaca tidak lagi cukup, dan Semar-Semar yang penuh dengan rahasia, Semar yang tidak bisa dideteksi, Semar yang adalah bahkan para dewa ketakutan-akan bangkit ke dunia dengan segala konsekuensi yang tidak bisa dibayangkan.
~ Bab 2 Selesai ~