Pewaris Dua Dewa — Kebangkitan Semar
Bab 1
Bayang-bayang di Antara Dua Takhta
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Langit Jakarta pada petang itu berwarna jingga keemasan, seolah-olah para dewa dari masa lalu menumpahkan sisa-sisa amarah mereka ke kanvas langit. Namun Arga tidak melihat keindahan itu. Baginya, warna senja hanya mengingatkan pada kebakaran hutan di Sumatera yang berkobar seminggu lalu, sebuah peristiwa kecil yang bahkan tidak sebanding dengan guncangan yang kini melanda setiap sudut dunia.
Tiga tahun sudah Era Kebangkitan Dewa mengubah paradigma kehidupan manusia. Tiga tahun sejak Kekaisaran Romawi dikejutkan oleh kemunculan seorang pemuda yang mengaku sebagai Pewaris Mars, tiga tahun sejak India gempar dengan kebangkitan para Dewa mereka yang turun ke bumi dalam wujud manusia-manusia biasa yang mendadak sakti. Arga masih ingat betul hari ketika berita itu menyebar seperti wabah: seorang nelayan di Madura tiba-tiba mampu menjinakkan ombak setinggi gedung pencakar langit, dan seorang gadis kecil di Yogyakarta berbicara dalam bahasa Jawa kuno yang bahkan para ahli tidak pahami, memberitakan tentang kedatangan "yang ditunggu".
Dunia berubah terlalu cepat. Namun bagi Arga, perubahan itu terjadi lebih cepat lagi, tepat ketika ia merasakan denyut pertama kekuatan Gatotkaca mengalir dalam nadinya dua tahun lalu.
Ia duduk di tepi atap rumah kosnya di kawasan Menteng, menatap gedung-gedung pencakar langit yang kini dihiasi oleh patung-patung dewa dari berbagai peradaban. Di kejauhan, ia bisa melihat Monas yang dikelilingi oleh semacam medan energi kebiruan, bekas dari pertempuran kecil antara Pewaris Dewa Perang dari Prancis dan Pewaris Barong dari Bali yang terjadi sepekan lalu. Pemerintah Indonesia sudah berusaha menutupi insiden itu, tetapi jejak-jejak kekuatan ilahi tidak semudah itu dihapus. Arga tahu itu. Ia juga tahu bahwa kekuatannya sendiri menyisakan bekas yang tidak terlihat oleh mata telanjang, sebuah jejak halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi mendalam dengan dunia para dewa.
Dia mengepalkan tangannya, merasakan otot-ototnya menegang dengan kekuatan yang tidak manusiawi. Di bawah kulitnya yang kecoklatan, ia bisa merasakan aliran energi Gatotkaca-kekuatan yang membuatnya mampu melompat melintasi setengah pulau Jawa dalam sekejap, yang memberinya tubuh sekokoh baja dan kecepatan yang membuat angin pun kalah cepat. Namun di samping itu, seperti sungai bawah tanah yang mengalir dalam kegelapan, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua. Lebih sunyi. Lebih menakutkan.
"Kau memikirkannya lagi," bisik sebuah suara di kepalanya. Suara itu berat, tua, dan terasa seperti gema dari zaman yang bahkan sebelum manusia mengenal tulisan. "Aku bisa merasakan gejolak dalam jiwamu, Arga. Seperti ombak yang hendak menerjang pantai."
Arga menghela napas. Semar. Dewa yang tidak terdeteksi, yang tidak tercatat dalam sistem pengukuran kekuatan, yang bahkan tidak memiliki wujud fisik yang bisa dilihat oleh Pewaris Dewa lain. Hanya Arga yang bisa mendengarnya, hanya Arga yang merasakan kehadirannya yang seperti bayangan yang selalu melekat di belakang kesadarannya.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, Semar," jawab Arga dalam hati, menjaga agar suara batinnya tidak terlalu keras. Di sekitarnya, Jakarta tetap ramai dengan lalu lintas dan suara klakson yang nyaris tidak berubah sejak zaman sebelum kebangkitan dewa. Ironi, pikirnya. Manusia masih sibuk dengan kemacetan dan pekerjaan kantor, sementara di antara mereka, para pewaris dewa berjalan diam-diam, memegang kekuatan yang mampu menghancurkan seluruh kota dalam satu gerakan. "Setiap kali aku menggunakan kekuatan Gatotkaca, aku merasakan sesuatu di dalam diriku berdesir. Seperti ada gerbang yang hendak terbuka. Dan aku tidak tahu apakah aku mampu menutupnya jika itu terjadi."
Semar tidak menjawab segera. Keheningannya terkadang lebih berbobot daripada seribu kata. Arga sudah terbiasa dengan itu, tetapi tetap saja ada perasaan tidak nyaman setiap kali Semar memilih untuk diam. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang bahkan Semar sendiri tidak ingin diungkapkan.
"Kau tahu kenapa kau dipilih, Arga?" akhirnya Semar bertanya. Suaranya kali ini lebih lembut, tetapi tetap membawa nada berat yang menggetarkan relung jiwa Arga. "Bukan karena kau yang terkuat. Bukan karena kau yang paling berani. Tapi karena kau adalah satu-satunya yang mampu menyimpan dua dunia dalam satu hati. Kau adalah penjaga keseimbangan antara apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi. Dan itu adalah beban yang tidak pernah kuminta siapapun untuk memikulnya, namun kau terpilih karena hatimu yang tidak pernah goyah dalam memilih jalan yang benar."
Arga tersenyum pahit. Ia teringat pada ibunya, seorang wanita sederhana yang menjual gado-gado di pinggir jalan dekat pasar tradisional. Ibunya tidak tahu bahwa putranya kini adalah seorang Pewaris Dewa. Arga menjaga itu sebagai rahasia, sama seperti ia menjaga rahasia tentang kekuatan kedua yang mengalir dalam darahnya. Setiap kali ia pulang ke rumah dan melihat ibunya tersenyum lelah di balik lapaknya, ia merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Bagaimana ia bisa memberi tahu ibunya bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebuah ilusi? Bahwa di balik realitas yang tampak normal, para dewa dan pewaris mereka sedang bermain catur dengan nasib umat manusia sebagai pionnya?
"Aku hanya ingin melindungi mereka, Semar," bisik Arga. "Ibuku, teman-temanku, semua orang yang tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Mereka hidup dalam ketidakpedulian yang indah, dan aku tidak ingin menghancurkan itu."
Dari sudut matanya, Arga melihat sebuah bayangan melintas di atap gedung seberang. Sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk manusia biasa, tetapi bagi matanya yang telah diperkaya oleh kekuatan Gatotkaca, itu adalah sosok yang jelas-seorang pewaris dewa asing. Arga tidak bisa memastikan dari peradaban mana, tetapi ada aura kekuatan yang menyengat, bau ozon dan logam yang terbakar yang selalu menyertai para pewaris yang datang dari Eropa. Mereka semakin sering muncul di Jakarta akhir-akhir ini. Dan itu bukan pertanda baik.
"Mereka sudah mulai bergerak," gumam Arga, matanya mengikuti bayangan itu hingga lenyap di balik deretan gedung. "Aku mendengar bahwa ada pertemuan rahasia antara pewaris Dewa Perang dari Romawi dan beberapa faksi dari India. Mereka ingin membahas tentang "peninggalan Nusantara". Mereka mencurigai ada sesuatu di sini, Semar. Mereka mencurigai Indonesia memiliki lebih dari sekadar pewaris Gatotkaca."
Semar tertawa kecil. Suaranya terdengar seperti gemerisik daun kering yang tertiup angin, tua namun penuh teka-teki. "Biarkan mereka mencurigai. Biarkan mereka mencari. Tidak ada yang akan menemukan apa pun karena mereka tidak tahu apa yang harus dicari. Kekuatan Semar tidak terdeteksi, Arga. Itulah keindahan dan kutukannya. Kau adalah hantu bagi mereka, bayangan di antara cahaya, misteri yang tidak terpecahkan. Namun ingatlah, semakin lama kau menyembunyikan dirimu, semakin besar pula kegelapan yang akan mengejarmu."
Arga berdiri, merasakan angin petang menyapu rambutnya yang sedikit panjang. Dari atas gedung ini, ia bisa melihat seluruh cakrawala Jakarta. Namun di balik gemerlap lampu kota, ia bisa merasakan denyutan kekuatan-kekuatan lain yang tersebar di seluruh penjuru negeri: di Bali, ada seseorang yang mewarisi kekuatan Barong; di Sumatera, seorang pendekar yang mendapatkan warisan dari datuk-datuknya; dan di Jawa Timur, seorang gadis yang konon bisa berbicara dengan roh-roh leluhur. Semua itu adalah bagian dari kebangkitan yang sama, sebuah fenomena yang menyelimuti seluruh dunia seperti selubung tak terlihat.
Dan di tengah semua itu, Arga berdiri sendirian dengan dua kekuatan yang tidak pernah ia inginkan.
"Apa yang terjadi jika aku menggunakan kekuatan Semar, Semar?" tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu telah mengendap di hatinya berbulan-bulan, sebuah bisikan yang selalu ia tepis dengan alasan bahwa ia tidak siap. Tapi malam ini, dengan bayangan pewaris dewa asing yang masih membekas di pandangan matanya, Arga merasa ia tidak bisa lagi menunda. "Apa yang sebenarnya terjadi jika aku melepas segelnya?"
Keheningan yang panjang menyusul. Arga hampir berpikir bahwa Semar memilih untuk tidak menjawab, seperti biasanya. Namun kemudian, suara itu kembali, kali ini dengan nada yang berbeda-lebih dalam, lebih berat, seolah-olah berasal dari pusat bumi itu sendiri.
"Jika kau melepas segelku, Arga, dunia para dewa akan berguncang. Mereka akan merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ketakutan. Sebab di antara semua dewa yang pernah muncul dalam sejarah manusia, aku adalah satu-satunya yang tidak terikat oleh aturan yang mereka buat. Aku bukan dewa perang, bukan dewa kematian, bukan dewa pencipta. Aku adalah penjaga. Penjaga yang menjaga keseimbangan antara terang dan gelap, antara kehidupan dan akhir. Dan jika aku bangkit sepenuhnya, keseimbangan itu akan berubah. Ada hal-hal yang telah kutahan selama ribuan tahun, Arga, yang jika dilepaskan..."
Semar berhenti. Dan dalam keheningan itu, Arga merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah getaran halus yang merambat dari tulang punggungnya ke ubun-ubun kepalanya. Seperti ada sesuatu yang terbangun di dalam dirinya. Seperti gerbang besar yang berderit perlahan terbuka.
"Ada apa, Semar?" tanya Arga dengan suara bergetar. "Aku merasakan sesuatu. Ada yang berubah."
Semar tidak menjawab. Namun di depan mata Arga, langit jingga perlahan berubah menjadi ungu tua. Dan di kejauhan, dari arah laut, ia melihat sebuah cahaya terang membelah cakrawala, seperti matahari terbit di tengah malam. Itu bukan cahaya biasa-itu adalah aura kekuatan yang luar biasa besar, kekuatan yang membuat seluruh rambut di tubuh Arga merinding.
"Mereka telah tiba," bisik Semar, suaranya kini terdengar seperti desahan angin yang membawa peringatan. "Para Pewaris Dewa dari daratan Eropa dan Asia telah berkumpul di lepas pantai. Mereka mencari sesuatu. Dan mereka tahu bahwa Indonesia menyembunyikan rahasia yang tidak boleh mereka temukan."
Arga mengepalkan tinjunya. Di dalam dadanya, dua kekuatan mulai berdesakan, masing-masing menuntut untuk dilepaskan. Gatotkaca mendorongnya untuk bertindak, untuk melindungi negerinya dengan kekuatan yang telah dikenal dunia. Namun Semar... Semar berbisik dengan nada yang berbeda, sebuah bisikan yang membuat Arga teringat pada cerita-cerita lama dari neneknya tentang Semar yang bijaksana namun juga penuh misteri, tentang dewa yang selalu muncul di saat-saat genting dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Arga dengan suara yang hampir berbisik.
Semar diam sejenak. Lalu, dengan suara yang terdengar seperti gema dari ribuan tahun yang lalu, ia berkata, "Kau harus pergi ke pertemuan itu. Tapi jangan tunjukkan kekuatan Gatotkaca, dan jangan sekali-kali membuka segel Semar. Cukup lihat, dengar, dan pahami. Karena pertempuran sesungguhnya dimulai bukan ketika senjata diayunkan, tetapi ketika pengetahuan mulai terbuka. Dan kau, Arga, adalah satu-satunya yang memiliki akses ke kebenaran yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun."
Arga mengangguk, meskipun ia tidak yakin Semar bisa melihatnya. Di kejauhan, cahaya di atas laut semakin terang, dan ia bisa merasakan gelombang kekuatan yang menghantam garis pantai seperti badai tak kasat mata. Jakarta yang tenang mulai bergolak; lampu-lampu kota berkelap-kelip sejenak, dan Arga mendengar suara sirine di kejauhan. Dunia sedang bersiap untuk sesuatu yang besar. Dan Arga, pemuda yang sama sekali tidak pernah memimpikan menjadi pahlawan, kini berdiri di ambang pintu yang akan menentukan segalanya.
"Aku akan pergi," katanya akhirnya, suaranya mantap meskipun hatinya berdebar kencang. "Tapi Semar... suatu hari nanti, aku harus tahu semua yang kau sembunyikan. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, dalam ketidaktahuan yang kau pilih untuk membuatku terperangkap."
Semar tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, Arga merasakan sebuah kedipan hangat yang datang dari kekuatan kedua itu, seperti sebuah janji atau mungkin sebuah peringatan. Cahaya di atas laut semakin membesar, dan Arga tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang akan mengubah segalanya.
Dengan satu lompatan, tubuhnya melesat dari atap gedung, meluncur di antara celah-celah gedung pencakar langit seperti seberkas bayangan. Angin malam menerpa wajahnya, tetapi ia tidak merasakan dingin. Yang ia rasakan hanyalah desiran darah yang mendidih, bisikan dua kekuatan yang saling beradu di dalam jiwanya, dan beban pengetahuan bahwa dirinya adalah satu-satunya yang berdiri di antara dua dunia.
Di bawah, Jakarta terus bergerak dengan segala hiruk-pikuknya, tidak menyadari bahwa di atas mereka, seorang pemuda dengan dua kekuatan dewa sedang melesat menuju takdir yang akan mengguncang fondasi dunia yang telah dikenal selama ribuan tahun. Arga tidak tahu apa yang akan ia temui di ujung perjalanan malam ini. Tapi satu hal yang ia tahu: tidak ada yang bisa kembali setelah ia memutuskan untuk melangkah ke dalam badai.
Dan badai itu kini telah tiba, dengan cahaya aneh yang membelah langit malam, membawa pertanda bahwa Era Para Dewa tidak akan pernah sama lagi.
Saat Arga mendarat di puncak sebuah menara tua di kawasan pelabuhan, ia melihatnya. Sebuah kapal besar yang tidak terlihat oleh radar manusia, dikelilingi oleh aura kekuatan yang menyilaukan, berlabuh di perairan Teluk Jakarta. Di atas geladak kapal itu, ia bisa melihat siluet-siluet yang berdiri dengan penuh wibawa, masing-masing membawa cahaya kekuatan yang berbeda-merah, biru, emas, dan ungu. Mereka adalah para pewaris dewa dari berbagai penjuru dunia, berkumpul dalam satu tempat, dan Arga bisa merasakan tatapan mereka yang tajam meskipun jarak memisahkan.
Mereka mencari sesuatu. Dan Arga tahu bahwa apa yang mereka cari tidak lain adalah kekuatan yang selama ini ia sembunyikan dalam rahasia paling dalam di hatinya.
"Aku di sini, Semar," bisiknya, merasa dadanya sesak. "Aku di sini, dan mereka sudah menunggu."
Dari dalam dirinya, sebuah suara tua bergema, setenang danau di malam hari namun sekuat arus yang menghantam karang: "Maka berdirilah, Arga. Berdiri dan saksikanlah apa yang akan terjadi. Karena malam ini, kau bukan hanya menyaksikan. Kau adalah pusat dari segalanya."
Arga menegakkan tubuhnya, menatap kapal itu dengan mata yang tidak berkedip. Di dalam dirinya, dua kekuatan berdenyut. Satu terang, satu gelap. Dan di antara keduanya, Arga berdiri sebagai penjaga yang tidak pernah dipilih untuk menjadi pahlawan, namun terpaksa menjadi satu-satunya harapan yang tidak diketahui dunia.
Langit di atas Teluk Jakarta mulai retak dengan cahaya-cahaya aneh. Dan Era Para Dewa yang baru akan segera dimulai.
~ Bab 1 Selesai ~